Cairan bening melimpah ruah dari sudut mata coklat itu. Zian menangis seraya menundukkan kepalanya. Kiku mengangkat kepala agar bisa menatap Zian, turut menangis karena suasana melankolis ini.
Hening lagi. Mereka menangis sambil berpegangan tangan. Entah sampai kapan mereka bertahan di posisi itu.
Lima menit kemudian, mereka berhenti menangis. Zian mengelap sisa-sisa air mata dengan lengan kanannya. Sedangkan Kiku tersenyum turut menghapus air matanya.
"Kamu sudah lega sekarang, Zian?"
"Ya, Kiku. Aku sudah tahu tentang jati diriku yang sebenarnya. Ternyata kedua orang tuaku adalah penyihir. Lalu Ayahku sudah memberikan pedang Sied Genesia padaku dan berharap aku bisa mengalahkan Gibraltar."
"Hm. Akhirnya kebenaran terungkap. Kamu adalah penyihir. Kabar bagus ini pasti akan mengejutkan semua orang."
"Iya. Aku tidak akan diremehkan dan di-bully lagi."
"Benar."
Senyum hangat hadir di dua wajah itu. Perasaan senang menyelimuti hati mereka. Dini hari yang dingin, sungguh menusuk kulit.
"Terima kasih karena kamu sudah memberitahukan aku, Kiku."
"Iya. Sama-sama. Sebelum itu, aku harus membuka segel yang ada di punggungmu."
"Hah? Segel apa?"
"Segel yang mengunci kekuatan sihirmu. Karena itu, kamu tidak bisa menggunakan kekuatan sihir. Aku tahu ini setelah diberitahu oleh Kaisar Frinkyn."
"Oh, begitu, ya."
"Sekarang buka bajumu."
"Apa?"
Zian melotot. Mulutnya ternganga. Kiku berwajah sewot sembari berkacak pinggang.
"Jangan melotot begitu! Ayo, cepat buka!"
"Iya."
Zian bergegas membuka bajunya. Yang tertinggal hanyalah celana panjang dan sepatunya. Kiku langsung mengucapkan sebuah mantra yang bisa membuka segel. Telapak tangannya menempel kuat di punggung Zian.
Muncul cahaya putih yang membentuk simbol tertentu di punggung Zian hingga memenuhi seluruh tubuhnya. Proses membuka segel itu berlangsung selama dua detik. Cahaya putih menghilang setelah Kiku menjauhkan tangannya dari punggung Zian.
"Sudah selesai," ucap Kiku dengan nada yang datar, "mulai sekarang, kamu sudah bebas menggunakan sihir, Zian."
Zian buru-buru memakai bajunya lagi. "Syukurlah. Aku senang sekali."
"Ya. Kalau begitu, aku permisi dulu. Sampai nanti, Zian."
Kiku berbalik. Ia berjalan memunggungi Zian. Laki-laki itu ternganga dan berteriak, "Kiku, terima kasih! Kamu memang guruku yang hebat!"
Kiku menghentikan langkahnya. Ia menilik Zian. Sumringah lembut terpatri di wajahnya. "Ya. Sama-sama."
Setelah itu, Kiku beranjak pergi ke gedung asrama murid perempuan. Zian yang ditinggalkan, tersenyum bahagia.
***
Hari yang indah untuk mengawali aktifitas. Zian sangat bersemangat mulai dari bangun tidur hingga istirahat siang tiba.
Di kantin berbentuk kubah ini, bernuansa futuristik yang didominasi warna putih, menjadi tempat utama bagi murid-murid yang usai belajar selama empat jam. Otak yang lelah karena harus berputar untuk mencerna setiap materi pelajaran, harus disegarkan kembali melalui mengisi perut yang keroncongan.
Menu yang ditawarkan di kantin ini sama di dunia Zian. Ada pizza, hotdog, spagheti, kebab, dan berbagai makanan khas luar negeri. Bahkan makanan khas Indonesia juga ada di sini yaitu sate kerang.
Zian tercengang saat sate kerang itu tersaji di meja. Kiku heran, tidak jadi memasukkan sate kerang itu ke mulutnya.
"Kenapa?" tanya Kiku, "kamu tidak suka dengan makanannya ya?"
"Makanan ini ... juga ada di duniaku lho," jawab Zian.
"Oh. Makanan ini sudah ada sejak zaman dahulu, sebelum dunia sihir ini memasuki zaman mesin. Meskipun sekarang serba canggih, tapi kami lebih suka memakan makanan yang alami dibanding makanan sintesis."
"Begitu, ya."
"Ya. Ayo, makan!"
"Iya."
Zian mengangguk cepat. Ia tertawa lebar, sedangkan Kiku tersenyum. Mereka makan siang bersama dalam suasana hangat yang menarik perhatian semua orang di sana.
Betapa tidak, untuk pertama kalinya, Kiku mengajak Zian makan siang di kantin. Biasanya, Kiku akan membuatkan bekal untuknya dan Zian serta makan siang bersama di kelas saja. Namun, sejak perasaan cinta bersarang di hati gadis berambut putih itu, menuntunnya untuk memberikan kebahagiaan buat Zian.
Zian yang kini berubah seratus persen, tidak sama seperti dirinya yang dulu. Ia sudah menjadi penyihir yang sama seperti yang lain. Dikategorikan sebagai penyihir tingkat tinggi.
Kenyataan itu, membuat Zian bahagia. Tidak ada yang ditakutinya lagi. Ia bisa menghadapi apapun dengan kekuatannya sendiri. Karena itu, Kiku tidak berhenti menatapnya. Selagi makan, si gadis tersenyum. Membuat Zian berhenti makan.
"Hm, Kiku. Kenapa kamu menatapku lama sekali?"
Kiku tersentak lalu buru-buru melihat ke arah yang lain. "Ah, ti ... tidak ada apa-apa."
Untuk pertama kalinya, Kiku bersikap gugup seperti itu. Ia pun berusaha menguasai dirinya agar bersikap seperti biasa. Sehingga membuat Zian mengerutkan kening karena heran.
Kesenyapan datang menerpa mereka. Ada beberapa orang yang memperhatikan mereka sejak tadi. Salah satunya merasa cemburu, dan mematahkan sendok yang dipakainya.
Sanna menyadari Tolya yang menggeram kesal. "Uhm, ada apa, Tolya?"
Tolya menjatuhkan sendok yang barusan dipatahkannya itu. "Tidak ada apa-apa."
"Ngomong-ngomong, mereka berdua semakin akrab saja, ya," kata Azlea yang asyik mengunyah.
"Hm," sahut Aiyin yang mengangguk.
"Kudengar, kemarin Zian ditangkap Yupiter Alliance. Lalu Kiku pergi menyelamatkannya," ucap Kokio.
Semua mata tertuju pada Kokio. Laki-laki berambut hijau itu menghentikan kegiatan makan.
"Kamu tahu dari mana Zian ditangkap Yupiter Alliance?" tanya Sanna.
"Aku tahu dari pembicaraan Ibu Rosean dan Kiku tadi pagi," jawab Kokio.
"Oh." Semuanya membulatkan mulut seperti huruf kecuali Tolya.
Mereka pun sibuk mengobrol tentang Zian dan Kiku. Sesekali Tolya mengamati Kiku yang juga sedang berbicara dengan Zian. Diam-diam, Tolya menaruh hati terhadap Kiku.
Dari tadi, Kiku menatap Zian lama sekali. Sepertinya ada sinar cinta di matanya itu.
Tolya membatin dengan kedua tangan yang meremas kesal. Ia ingin memberikan pelajaran yang berharga kepada Zian.
Tak lama kemudian, acara makan siang selesai. Zian dan Kiku berjalan beriringan di lorong yang sepi. Mereka terdiam sejak dari kantin.
Ketika tiba di depan pintu kelas, Zian menghentikan langkah. Ia berhadapan dengan Kiku.
"Oh iya, Kiku, aku harus mengambil sesuatu yang tertinggal di kamar asrama."
"Ah, apa itu?"
"Nanti kamu sendiri. Sudah ya, aku pergi dulu."
Zian segera berjalan cepat meninggalkan Kiku. Gadis itu mengangguk cepat seraya memandang kepergian Zian. Senyuman manis terpatri di wajahnya yang cerah.
Kemudian Kiku pergi masuk ke kelas. Di sana, ia menunggu Zian datang lagi untuk menemuinya.
Di tengah perjalanan di lorong hening itu, Zian dicegah oleh Tolya. Laki-laki berambut pirang itu sendirian tanpa ditemani teman-temannya.
"Tolya?" Zian terkesiap. "Ada apa ini?"
Tolya yang berdiri di kejauhan sana, melangkah untuk menghampiri Zian. Ia juga mengeluarkan sihir api dari tangannya.
"Aku datang untuk menghabisimu, manusia biasa! Fireball!"
Tolya menembakkan bola-bola api dari dua tangannya seperti meriam. Zian terkesiap. Matanya membulat sempurna.
Refleks, Zian dengan gesit menghindari serangan bola-bola api. Tolya terkejut.
"Apa? Dia bisa menghindari seranganku itu?" Tolya berhenti sesaat.
Bola-bola api yang berhasil dilewati Zian, terbang melesat hingga ke ujung lorong. Menabrak tembok besi hingga menimbulkan ledakan besar. Mengakibatkan semua orang terkesiap karena mendengar suara ledakan itu. Mereka panik.
"Apa itu?"
"Itu suara ledakan."
"Asalnya dari lantai dua."
"Ayo, kita cek ke sana!"
Komentar-komentar terus berdatangan dari mulut setiap orang. Mereka yang penasaran dengan apa yang terjadi, bergegas pergi ke lokasi pertarungan.