BAB 9 Cerita Kaum Sufi

2880 Kata
“Elmo, ini benar dengan Elmo?”             “Ya, ini siapa ya?”             Gadis itu terdiam sesaat, apa dia harus mengatakan nama sebenarnya? Atau memakai nama palsu? Ah, mungkin lebih baik jika memakai nama palsu saja, pikirnya begitu.             “Kenalkan, namaku Pelangi.”             “Pelangi, nama yang lucu tapi cantik.”             Asmirandah tersipu malu, “Terima kasih. Aku tahu namamu dari ini, yah...aku tak sengaja menemuka kartu rencana studimu semester lalu.”             “Hah? Terus?”             “Yah, kau tahu sendiri aku tertarik mengenalmu ya...ya dari namamu yang unik juga. Elmo.”             Terdengar suara gelak tawa yang membuat hati gadis itu semakin kebat-kebit tak keruan. Senang rasanya mendapat teman baru walau ia tak terlihat nyata. Tapi, mendengar suaranya saja sudah membuat hati nyaman.             “Hahaha, kamu jurusan apa, Pelangi? Terus angkatan tahun berapa?”             “Manajemen Pemasaran.”             “Oh..”             Pembicaraan terus berlangsung hingga tiba-tiba Asmirandah ingin mendengar cerita dari sosok lelaki itu tentang pendalaman agama.             “Kamu tahu nggak, El?”             “Apa?”             “Kamu agama apa?”             “Islam, kenapa?”             “Alhamdulillah, untungnya kita sama.”             “Memangnya kenapa?”             “Ibuku bilang kalau untuk pertama kali berkenalan dengan lelaki harus menanyakan agamanya, sebelum nanti terjadi sesuatu.”             “Bagus itu, hahaha..., kamu ada-ada saja.”             “El...”             “Ya...?”             “Aku pengen kamu bercerita tentang kisah orang sufi, kamu tahu nggak tentang itu?”             “Kisah sufi? Memangnya buat apa?”             Asmirandah terdiam, mencoba untuk terus berpikir dan berpikir sampai tahu apa yang akan ia katakan. “A...aku, baru ikut kegiatan kerohanian Islam, terus aku diminta sama temanku buat nyari artikel tentang kisah orang sufi, kira-kira apa ya? Kamu punya bukunya, nggak? Kalau ada, boleh aku pinjam?”             Tiba-tiba hening, entah kenapa. Gadis itu merasa takut kalau-kalau arah pembicaraannya salah dan membuat ilfeel lelaki itu. Tidak! Apakah aku telah salah? Tanyanya gemetar.             “Hai, maaf.., Pelangi. Aku, baru memikirkan kisah itu. Ehm, jadi kamu anggota UKKI? Benar nggak bohong?”             “Iya, kenapa?”             “Baiklah, aku akan menceritakan padamu saja. Aku tidak punya bukunya, tapi aku bisa bercerita dari awal sampai habis. Kalau kau tidak mengantuk mendengarkanku, aku sih, mau-mau saja.” Sahutnya. Asmirandah segera merekam pembicaraan itu dari ponselnya.             “Sudah, kau boleh bercerita.”             “Ini tentang kematian. Pada zaman dahulu ada seorang lelaki yang suka menipu. Gonta-ganti nama, sudah menjadi kebiasaan dalam hidupnya. Semua penduduk kampung memberinya julukan: Fulanut-Thirar alias Fulan yang licik. Pekerjaan sehari-harinya menipu di pasar. Yang menjadi sasaran prakteknya adalah orang kampung yang datang ke kota. Pada suatu hari, di tengah pasar dia bertemu dengan seorang lelaki kampung. Dengan lincah dia memerankan diri, menyampaikan salam sambil menyapa: “Saudara, engkau adalah teman bapakku kan? Hari ini aku mengundangmu ke rumahku.” Lelaki kampung itu menjawab: “Aku tidak mengenal ayahmu.” Jurus berikutnya si Licik bicara: “Ah, barangkali engkau lupa. Aku sama sekali tidak melupakan wajahmu.” Lalu si Licik mengajak sang lelaki kampung masuk ke restoran. Dia memesan segala macam makanan dan minuman yang disukai. Sudah menjadi tradisi, dinegeri itu bila memesan makanan di restoran bayar belakangan. Setelah makanan tersaji, dinikmatinya hingga lahap. Ketika tinggal sedikit, si Licik pura-pura keluar ke kamar kecil, lalu pergi meninggalkan restoran. Selesai makan, si pemilik restoran minta bayaran kepada lelaki kampung yang tidak tahu apa-apa. Tahunya, dia diajak makan oleh kenalan barunya. “Aku adalah tamu dari lelaki yang keluar tadi,” kata lelaki kampung lugu. Dia sadar terkena tipu. Mau tidak mau, dia harus membayar seluruh makanan yang dipesan si Licik.             Perbuatan menipu dilakukan si Licik setiap hari sepanjang hidupnya. Suatu ketika dia sakit. Pada saat sakaratul maut, dia memberikan uang dalam jumlah banyak kepada dua orang lelaki, dengan pesan: Bila dia mati, dua orang bayaran ini agar mengiring jenazahnya sambil mengatakan: “Sebaik-baik mayit adalah mayit lelaki shalih ini.” Merasa mendapat bayaran besar, pesan itu dilakukan hingga akhir pemakaman. Ketika orang-orang yang berta’ziyah pulang meninggalkan pekuburan, datanglah ke kuburnya dua malaikat untuk mengajukan pertanyaan kubur. Tapi pada saat malaikat hendak mengajukan pertanyaan kepadanya, datang suara memanggil: “Hai malaikat-Ku, tinggalkanlah hamba ini. Sebab semasa hidupnya dia selalu melakukan hal aneh. Akan meninggalpun masih melakukan hal yang aneh pula. Dia membayar dua orang lelaki agar mengiring jenazahnya sambil mengatakan bahwa dirinya adalah mayit yang baik. Karena itu, Aku telah mengampuni dosa-dosanya lantaran kesaksian dua orang yang mengatakan bahwa dia adalah mayit yang baik, sekalipun dua saksi itu saksi bayaran. “Demikian, dengan kelicikannya dia dapat menyiasati Allah subhanahu wa ta’ala.” Lelaki itu mengakhiri ceritanya dengan menyebut nama Allah.             Tak ada suara balasan dari Asmirandah. Ia hanya diam membisu terpaku mendengarkan suara dan cerita darinya. Sampai ia tak sadar bahwa cerita telah usai, masih termenung sambil berpikir akan sesuatu, yang membuatnya tiba-tiba bertanya sesuatu di luar dugaannya sendiri. “Ah, bagaimana dengan suami istri yang menikah tapi masih terjalin hubungan darah sebagai saudara sesusu? Kemudian mereka mati bersama, apakah Allah akan memberikan hukuman di alam kubur dan memberikan pertanyaan pada keduanya, tentang kenapa mereka melanggar hukum?”             “Hah?” * Sebuah Kisah Surat,             Kekasihku, pada setiap detik napasmu aku menangis. Menderita secara lebih dari meluapkan rasa gembira itu sendiri. Dalam sepi apakah kau tahu dunia kita ini sama?  Pada setiap apakah cinta itu akan terbentuk, seperti gumpalan-gumpalan awan yang nantinya menguap dan berubah menjadi air hujan? Kau basah oleh airku, kau cantik laksana wajah malaikat perempuan yang selalu kuimpikan dalam tidurku.             Kekasihku, jika memang dunia tak ingin kita bersatu. Pada Tuhan yang menciptakan takdir kita. Salahkah jika aku dan engkau memutuskan untuk menjauh dari kebisingan-kebisingan suara yang semakin membuat sesak di d**a? Pada setiap jutaan helaan napasmu yang kuhirup. Pada setiap desahan napasmu ketika bibirku merengkuh bibirmu, pada setiap pelukan yang kurasakan begitu menggairahkan?             Haruskah aku meninggalkanmu? Sampai detik malaikat maut akan mengambil ruhku, aku tetap akan mencintaimu. Rabiah... Salam penuh cinta,   Husain bin Fuadi             Balasan surat cinta itu pun lekas dibalas bersambut oleh Rabiah.             Sayangku Husain, cinta memang membutakanku dari yang namanya kehidupan. Cinta membuat hatiku gelap melihat kenyataan, atas perbedaan ini. Dari suatu sesal dan waktu, kadang aku meratapi akan nasib yang harusnya tak seperti ini. Seharusnya, kita tak pernah bertemu dan menjalin kasih. Jika kita harus dipisahkan. Dan aku terpisah dalam kondisi hamil. Aku sedih. Ingin rasanya aku mati jauh lebih cepat dari semua ini, bahwa Tuhan memang tak menghendaki semua ini terjadi.             Sayangku, sampai maut memisahkan kita berdua. Kita harus tetap bersama. Jika kau mati, aku pun akan mati. Karena dunia telah melaknat hubungan cinta terlarang ini. Aku tak sanggup hidup tanpamu dan sendiri. Salam penuh kasih,   Rabiah binti Sulaiman * Masa-masa mengandung, Bulan pertama, dalam lautan kegembiraan, sejak aku merasakan keanehan-keanehan yang terjadi ketika terlambat mengalami datang bulan untuk yang pertama kalinya. Dan keterlambatan selama dua minggu dan perutku merasakan mual-mual yang tak kunjung ada habisnya. Semua terjadi begitu saja, hingga aku memutuskan untuk pergi ke dokter bersama dengan Mas Husain. Di sanalah aku baru tahu bahwa keterlambatan itu terjadi karena ada janin berusia 1 bulan di dalam rahimku. Betapa bahagianya aku saat itu, air mata takkan mampu untuk mengukur rasa kegembiraan seorang wanita yang akan menjadi calon ibu untuk si jabang bayi yang sekarang kukandung dan kulahirkan dari rahim sekecil ini. Hanya saja, setelah itu..., aku meratapi nasibku sendiri. =================== Bulan kedua, aku mulai merasa was-was. Suamiku tak memperbolehkanku melakukan pekerjaan rumah tangga yang sekiranya berat. Berpindah jauh dari lingkungan keluarga mengharuskanku untuk belajar mandiri. Dan tidak bergantung pada siapapun, kecuali suamiku sendiri. Walau aku harus menunggunya sampai larut malam, saat ia berangkat pagi dan kembali kala mataku terkantuk-kantuk. Hanya lembaran kertas inilah yang menjadi teman dan sahabatku, tak ada yang lain. Karena aku pun tak pernah mau berkumpul dengan para tetangga-tetangga baru yang nantiya jika mereka tahu tentang kehidupan pribadiku dan perjalanan kisah cinta yang terlarang. Tak ada lagi tempat di mana aku masih bisa berpijak dan melihat bayi kecilku terlahir ke dunia. Aku berharap, ia terlahir perempuan. Hanya saja, setelah itu.., aku merasa takut jika ia tumbuh dewasa nanti dan tahu bagaimana kejamnya dunia. Aku takut, jika jiwanya tidak kuat. ==================== Bulan ketiga, aku bermimpi sesuatu yang buruk. Aku melihat sepintas berada di dalam jurang neraka, dan suamiku tengah tersiksa dengan cambukan api yang tiada habisnya melukai tubuh Husain. Ia seakan-akan mendapati hukuman yang berat. Aku tahu bahwa itu hanyalah sebuah mimpi, tapi aku resah. Penggambaran itu tampaklah seperti nyata. Dan sepertinya, Tuhan tak pernah memaafkan kami berdua. Mungkin pula dengan nasib bayiku ini. Hanya saja, setelah itu..., aku merasa takut jika suatu hari nanti Tuhan tak mengijinkanku melihat bayiku yang tumbuh dewasa. Aku merasa, Dia sedang ...mengawasiku. ====================== Bulan keempat, aku menyendiri dalam sepi menanti kedatangan suamiku yang masih harus kutunggu selama lima jam ke depan. Aku berinteraksi lewat dunia maya dengan seorang ustadz perihal tentang masalah pertentangan ini. Dan memang, semua selalu menyalahkan. Di balik pemvonisan bahwa aku bersalah, ia memintaku untuk lekas bertobat. Karena tak ada manusia yang tak pernah melakukan kesalahan, dan hanya orang munafiklah yang selalu menganggap dirinya benar dan tak pernah merasa berdosa. Inilah saat, ketika bayiku sudah tertanam ruh dan kehidupan yang sudah tertulis oleh pena qalam. Mempelajari arti agama yang sebenarnya, dan pesan ustadz tersebut selalu terngiang-ngiang di dalam otakku. Dan mengatakan bahwa ‘sesungguhnya Allah adalah teman setiamu yang selalu menyertaimu kemana pun kamu berada, baik ketika di rumah maupun pada saat bepergian, sewaktu tertidur juga terbangun’. Inilah satu hal yang membuatku ketakutan. Tapi juga hanya Dia-lah yang menemaniku disaat hatiku terluka dan bersedih karena menyesali kesalahan. Dan mulai saat ini, aku akan memandang wajahNya dalam shalatku, berharap agar Dia yang nanti menjaga anakku sampai dewasa. Dan mendoakan ayah serta ibunya berjalan menuju surga. Amin.. Hanya saja, setelah itu..., aku merasa takut jika suatu hari anakku menyalahkan Tuhan atas ketidaktahuannya. ======================== Bulan kelima, ada kabar buruk dari suamiku, Mas Husain. Ia baru mengalami musibah yang membuat hidupnya berubah dan terkena stres berkepanjangan, ketika dirinya telah dikeluarkan tanpa alasan oleh perusahaan tempat ia bekerja, tanpa alasan yang jelas dan dapat diterima. Bahwa ia dipecat lantaran ada salah satu temannya yang membocorkan tentang rahasia pribadinya tentang kisah cinta terlarang kami berdua. Sudah kubilang pada suamiku agar dia dapat menjaga baik-baik rahasia itu dari orang lain. Karena orang-orang yang tidak tahu lika-liku kehidupan yang rumit ini pastinya ia akan memicingkan matanya dan memandang hina. Lelakiku pulang dengan tertunduk lesu, sedih dan matanya pun berkaca-kaca, tak seperti biasa ia selalu pulang sampai tengah malam mengejar jam lembur. Suamiku, jatuh terduduk di pelukanku. Ketika aku membukakakan sepatunya. Inilah saat pertama kalinya ia kehilangan wibawa sebagai seorang lelaki. Tubuhnya melemas dan pandangannya kosong. Satu yang dia ucapkan padaku saat itu, “Rabiah, aku antar kamu pulang kembali di keluargamu.” Seperti mendapat sambaran petir yang menggelegar dan mengenai batang otak. Ia hendak menceraikanku hanya gara-gara kehilangan materi. Aku tak apa, pasrah..... Hanya saja setelah itu, aku merasa harus menggantikan posisinya dalam mencari nafkah, sampai ia benar-benar pulih dari masa depresinya dan kembali mencari penghidupan yang baru. ====================== Bulan keenam, aku membuka jahitan. Kebetulan saat masih remaja aku sekolah di kejuruan menjahit. Jadi ilmu ini kugunakan disaat-saat genting seperti ini. Beberapa tetangga ada yang menaruh simpati, atas keadaan suamiku yang semakin bertambah parah dan kehilangan harapan hidup. Ia tampak seperti mati. Biarpun dukungan selalu kuberikan padanya, agar ia kembali tergerak. Rupanya jiwanya sudah tak kuat lagi menanggung derita. Ini semua salahku, kenapa aku harus membuatnya menderita seperti ini, harusnya aku tidak jatuh cinta padanya. Harusnya, ia lebih mengutamakan keluarga daripada dirinya sendiri dan juga aku. Mungkin, lebih baik aku menuruti keinginannya untuk kembali pada keluargaku. Hanya saja..., setelah itu..., mendadak aku ragu untuk melakukannya dan meneruskan jahitan-jahitan yang harus kuselesaikan pada saat aku tengah hamil tua. Dan aku merasa bayi itu mulai sanggup menendang-nendang perutku. ======================== Bulan ketujuh, tubuhku mulai melemas. Aku merasa napasku makin lama makin terasa sesak dan aku tidak bisa berjalan lebih sedikit cepat dari bulan lalu, perut besar ini menggangguku untuk berjalan, jangankan berjalan untuk membungkuk saat hendak mengambil kain yang terjatuh di lantai saja sudah membuatku kepayahan. Sementara ia, suamiku masih tergeletak di atas tempat tidur dengan pandangan kosong. Aku takut jika lambat laun ia akan menjadi gila dan tidak ingat lagi siapa dirinya. Tapi aku tetap mencoba untuk tabah dan pasrah menghadapi cobaan. Hanya saja, aku takut..., tendangan bayi ini semakin menjadi-jadi, aku tidak kuat. Ah.... ======================== Rumah sakit persalinan, Lahir prematur, bayi ini sudah tidak sabar lagi menanti untuk melihat dunia. Rupanya, ia tahu kesedihan-kesedihanku dan merasa kesepian. Tapi, tubuhnya begitu kecil. Hingga ia harus dimasukkan di dalam inkubator. Kulitnya masih mengeriput, aku melihat bayi kecil itu menangis keras. Mungkinkah kau memanggil ibumu, Sayang? Kuberi kau sebuah nama yang cantik, Asmirandah. Asmirandah yang cantik. Hanya saja, aku sedikit takut tidak bisa menjaga dan membesarkannya. Ketika aku baru saja mengetahui bahwa Mas Husain, suamiku telah meninggal mendadak karena terkena penyakit jantung. Dalam buku harian ini, aku semakin lemas menulis. Suamiku yang membawakan buku ini ke rumah sakit dalam kondisi kepayahan. Ia berkata padaku, tulislah selagi kau mampu agar anak kita nanti dapat mengetahui kisah kita. Napasku semakin terasa sesak., aku melihat layar monitor perekam jantung itu perlahan-lahan melambat.., dan aku.... =========================             Ibu asuh Asmirandah memberikan buku harian itu padanya, saat wanita tua itu menemukan putri angkatnya telah tertidur sambil menggenggam ponsel di tangannya. Rupanya gadis itu kelelahan setelah lama berbincang-bincang dengan teman barunya, sementara di sekitar gadis itu berceceran kertas-kertas file dan catatan tengan keagamaan. Wanita tua itu menyelimuti Asmirandah agar tubuhnya tak digigit oleh nyamuk, rasa sayangnya pada Asmirandah melebihi rasa sayang pada anaknya sendiri. Karena ia tahu bagaimana perasaan ditinggalkan orang-orang yang disayangi dan hidup sendiri di dunia. Hanya dirinyalah yang menjadi pembimbing untuk Asmirandah.             “Sayang, tidur yang nyenyak.. Semoga cerita pengantar tidurmu dapat mempertemukanmu dengan ayah dan ibumu di alam mimpi.” Ia mengecup kening gadis itu dengan penuh kasih sayang. Dan beranjak keluar kamar setelah ia mematikan lampu kamar.             Ketika pintu kamar itu ditutup, Asmirandah tiba-tiba mengigau, “Ibu, ayah...aku rindu. Kapan aku bisa bertemu denganmu?” *             Cermin.             Gadis itu kembali menatap ke arah cermin, sebelum ia memulai untuk mengenakan kain kerudungnya. Ia memandangi wajahnya yang makin terlihat cerah dan berat badannya bertambah. Sepertinya ada sedikit perubahan yang tampak dari tubuhnya yang selama ini selalu tampak kurus kering. Beberapa hari ini ia sibuk membeli peralatan kecantikan, dari bedak, lipstik sampai eyeshadow.             Dan, malam hari ini di rumah keluarga Kuffina amatlah ramai. Tamu yang memenuhi ruangan, suara tawa yang menggema, membuat ruang tamu keluarga Kuffina semakin ramai saja. Sepupu-sepupu Asmirandah dari keluarga lain berkumpul menjadi satu, ada beberapa yang menebar pesona. Tamu dari jauh pun juga ikut datang, karena malam hari ini adalah malam spesial di mana ibu asuh Asmirandah berulang tahun ke -40. Usia yang masih terlihat muda di mana ia baru menginjak kepala empat. Dan memang ibu asuh Asmirandah, walau tubuhnya semakin gemuk tapi dengan penuh percaya diri ia tak kelihatan menyesali kegemukannya.             Kuffina, nama ibu asuh Asmirandah adalah Kuffina Sari. Namun, keberadaan Asmirandah masihlah belum tampak.. Rupanya ia sedang duduk berdiam diri di depan cermin kamarnya. Sementara orang-orang di keluarga Kuffina tertawa gembira, gadis itu berlinangan air mata setelah sesaat ia tersenyum menatap wajahnya di depan cermin itu. Ia bahagia untuk saat ini, tapi tidak jika ia mengingat kembali keramaian di luar, sementara ayah dan ibunya tak pernah ada. Dan ini, pertemuan pertama kalinya dalam acara keluarga setelah sekian lama tak pernah berjumpa.             Asmirandah hendak mengurungkan niatnya saat ia akan keluar dari kamar, terbesit ketakutan di dalam hatinya jika nantinya ada orang-orang yang menanyai ayah dan ibu juga dirinya yang hidup ditampung oleh tantenya sendiri sejak kecil.             Terdengar suara ketukan pintu kamar tiga kali. Tok...tok...tok...             Asmirandah lekas menghapus air matanya yang membasahi pipi dan mengaburkan warna bedaknya yang mulai meluntur terkena tangisannya. Pintu itu tidak terkunci, sosok wanita tua yang berdandan cantik dan sebagai nyonya rumah dalam acara pesta itu membuka pintu dan berdiri di hadapan Asmirandah.             “Kenapa kau tidak keluar, Asmirandah?”             Asmirandah memalingkan wajahnya, ia hanya diam tak menjawab pertanyaan dari Kuffina.             Wanita bertubuh gemuk itu semakin mendekat, “Kenapa?” ia mengernyitkan alis.             “Aku takut, Bu. Takut sekali.”             “Kau takut untuk apa? Mereka semua menunggumu di luar.” Rayunya.             Asmirandah beralih melihat ke arah cermin, “Bu, apa ibu percaya dengan hal-hal yang aneh?”             Kuffina mengernyit,”Hal aneh macam apa?”             “Bahwa aku bisa berbicara dengan diriku di dalam cermin.”             “Itu hanya imajinasimu saja, Asmirandah. Mungkin semua itu terjadi karena kau merasa kehilangan orang-orang yang kau sayangi. Dan kau kesepian, bukankah dulu kau juga sering bertanya padaku tentang kenapa dirimu menjadi dua?”             Asmirandah mengangguk-anggukkan kepalanya, “Benar,”             “Kau sudah semakin dewasa, hilangkanlah kisah sedih di masa lalumu.”             “Aku masih merasa diriku seperti anak autis jika sendirian di satu tempat.”             “Kau bukan terkena autis, hanya kesepian. Kau ragu untuk bertemu dengan wajah-wajah baru, dan hanya satu yang kau dapat sebagai andalanmu.”             “Itu kau, Bu.”             “Aku tahu, sekarang keluarlah. Saudara sepupumu sudah menunggumu di luar, kau tidak ingin membuat acara ulang tahun ibu ini gagal hanya karena kau tidak ingin ikut berkumpul dengan mereka, bukan? Berkumpullah, bersosialisasilah mulai saat ini dan jangan menjadi pribadi yang individualis seperti ini. Karena kita hidup membutuhkan orang lain.”             “Tapi, aku tidak butuh cercaan mereka. Jika salah satu dari mereka mencercaku, aku akan pergi dari rumah ini, Bu.”             “Asmirandah?”                        
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN