BAB 1 Seorang Gadis Pengagum Sailorman
Tahun 2009
Pada saat dirinya berusia 11 tahun, Asmirandah berpapasan dengan tiga orang Sailorman-lelaki berpakaian pelaut yang sedang berjalan di jalan raya dekat rumahnya. Mereka bertiga mengenakan seragam pelaut berwarna putih-putih seperti tokoh kartun legendaris Popeye the Sailorman. Tinggi tegap dan cakep. Mereka melewati Asmirandah yang kala itu masih kecil dan sempat tertegun melihat penampilan Popeye yang asli. Dia pun berdecak kagum,
“Wah, aku lihat Popeye! Itu Popeye!” celetuk Asmirandah sambil berjingkat kesenangan. Celetukannya pun didengar si ketiga Sailorman dan menoleh ke arahnya lalu melambaikan tangan.
“Hai, gadis cantik.” Lalu kembali berpaling ke depan dan meneruskan langkah mereka. Meski cuma bertiga tapi gerakan mereka seperti tengah berparade dan disaksikan sebagian orang yang kebetulan melintasi mereka. Itulah kekaguman pertama Asmirandah melihat sosok para pelaut yang sampai masuk menembus alam bawah sadarnya dan terbawa hingga dirinya sampai menginjak dewasa.
*
9 tahun kemudian
Asmirandah tengah duduk-duduk di Taman Bungkul Surabaya malam hari itu, tepatnya pukul 7 lebih 15 menit. Sesuai janji dengan beberapa orang temannya se-komunitas Komikus. Mereka akan mengadakan rapat untuk membahas event tiap akhir bulan. Di mana kesemuanya akan mengikuti kegiatan wajib mempromosikan karya-karya dari para anggota yang ingin mempublikasikanya di hadapan publik.
"Ini sudah hampir akhir bulan, Tom. Kita belum selesai ngumpuoin gambar. Nanti kalau kena tegur Kak Egar, kek gimana?" Celetuk Asmirandah sambil menyantap semangkuk bakso jumbo yang sudah dibelahnya menjadi empat bagian.
"Ya, ini sudah mau finishing kok. Sekarang kita cuma perlu cari sponsor. Buat nambahin budget kita nanti pas event dimulai. Ini ga cuma 2-3 hari loh, tapi seminggu tau," jelas Haqim memberitahu pada semua anggota yang sudah hadir.
"Jadi tinggal cari sponsor ya?" Asmirandah bertopang dagu di atas kedua lututnya.
"Asmir, kamu punya kenalan orang tajir nggak?" tanya Haqim ingin tahu.
Asmirandah mengernyitkan kening, "Kenalan ... orang tajir?"
Haqim menganggukkan kepala, "Heem ...,"
"Di kompleks?"
Kembali Haqim mengangguk, "Heem,"
"Siapa ya?" mata Asmirandah mengarah ke kiri dan kanan.
"Di rumahmu itu pasti ada orang yang kerja di perusahaan bonafit. Setiap perumahan, pasti ada salah satu tetangga yang hidup dan pekerjaannya lebih mapan dari tetangga lainnya. Dan dia biasanya punya banyak bisnis, dan sukanya bergerak di bidang sosial juga sebagai pencitraan diri."
"Ah, ada sih. Kemarin ada yang lagi nyalon jadi caleg DPRD gitu."
"Nah itu!"
“Itu apa?” Asmirandah menatap polos.
“Nyaleg! Biasanya kalau ada yang lagi nyaleg gitu, lagi gembar-gembornya duit dibuang sana-sini biar dapat orang yang mau nyoblos dia.” Tandas Haqim memperjelas.
“Eh, eh, bener juga. Biar ntar kita ikut promosiin beliaunya juga gitu.” Asmirandah bangkit dari duduknya sambil menyedot sebotol minuman bersoda Fanta merah.
“Sippp!” kesemua teman-teman komunitas yang hadir pun saling melakukan tos tangan.
*
Keesokan paginya, Asmirandah mendatangi rumah salah seorang tetangga yang sangat disegani dan memiliki kharisma pada banyak orang. Bapak Sarwito Gondowijoyo, seorang pensiunan baru yang sedang sibuk menyibukkan diri dalam pelbagai kegiatan organisasi dan menjaring banyak pengikut. Jadi, rumahnya kini selalu terlihat ramai dan terbuka bagi siapa saja. Para tamu selalu datang silih berganti dan Pak Sarwito dengan sikap bersahajanya membuat senang siapa saja. Asmirandah berhenti tepat di depan pintu gerbang yang terbuka. Sedikit ragu untuk melangkah masuk, di pelukannya membawa sebuah map berisi proposal kegiatan event yang akan dilangsungkan pada awal bulan depan. Celingak-celinguk seperti kambing congek, Asmirandah melongo melihat betapa besarnya rumah Pak Sarwito ini. Kira-kira pekerjaannya apa dan punya harta warisan berapa banyak, sungguh mewah! Batin Asmirandah saat melihat pilar-pilar di sudut kiri dan kanan berdiri dengan kukuhnya. Pintu masuk yang terdapat pada pilar ini berbentuk bundar sehingga komposisinya jadi lebih seimbang dengan bangunan rumahnya yang berbentuk kotak.
“Kira-kira, kapan ya aku punya rumah besar seperti ini?” gumam Asmirandah mesem sendiri. Membandingkan dengan rumah orang tuanya yang sederhana. Secuil batu marmer pun tidak ada. “Haaha! Ngimpi!” sambungnya lagi.
Baru saja dia hendak memencet bel rumah Pak Sarwito, tiba-tiba sosok Bapak-bapak berkaos biru dongker dan celana panjang warna senada datang menyambut kedatangannya.
“Masuk saja, tidak usah pencet bel.” Sapa Pak Sarwito memanggil Asmirandah. Baru saja masuk ke rumah orang kaya, agak kampungan memang Asmirandah.
“Maaf, iya, Pak. Terima kasih, saya cuma sebentar saja,” Asmirandah pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam berbekal map yang ada di pelukannya. Dia seakan seperti seorang peminta-minta sumbangan.
“Ada apa pagi-pagi kemari? Ada yang perlu ditandatangani?” rupanya Pak Sarwito ini sudah bisa menebak kalau tamu yang datang membawa map itu butuh tanda tangan. Tapi urusan Asmirandah bukan melulu soal mendapatkan tanda tangan saja, melainkan dana bantuan. Dan ini baru kali pertamanya mengurusi hal-hal permintaan dana, ‘mukaku ditaruh di mana?’ jerit Asmirandah dalam hati.
“Ini, saya …, maksud saya datang ke sini adalah untuk … untuk,” gagap pula cara bicara Asmirandah, semakin rontok saja harga diri yang telah dijaganya selama ini.
“Kemarikan mapnya, saya mau baca,”
Bergegas Asmirandah menyodorkan map itu pada Pak Sarwito. Degup jantungnya berdetak sangat kencang seperti balap motor. Meloncat keluar dari dalam rongga dadanya, lalu menari-nari tarian salsa. Antara senang dan takut bercampur menjadi satu.
Asmirandah terus menundukkan kepala menatap jemari kakinya yang sudah mulai tidak tenang. Takut ditolak, bagaimana kalau ternyata ditolak? Itu saja pikiran yang tengah bergelayut di dalam hati dan pikiran.
“Acara event?”
“I .. iya, Pak. Event awal bulan, seperti itu.” Jawabnya canggung.
“OK. Berapa butuhnya?” Pak Sarwito seakan memberikan hawa segar lewat kata-katanya yang membuat hati Asmirandah terbang.
“Terserah, Pak Sarwito. Kami hanya mencari sedikit tambahan dana saja,” ucap Asmirandah basa-basi.
“Besok, kamu datang ke kantor saya di Balai Prajurit Lantamal V. Saya juga mau menyumbangkan dana dari kumpulan beberapa orang yang berminat ikut untuk menyemarakkan acara event kamu ini, bisa?” Pak Sarwito menatap Asmirandah dengan penuh harapan.
“Bisa, Pak. Sangat bisa, insya Allah, semoga …,”
“Karena besok juga sekalian saya melihat acara penerimaan para calon prajurit Angkatan Laut yang lolos seleksi penerimaan. Karena saya sudah pensiun jadi ingin melihat momen-momen kebersamaan itu, yang dulu pernah saya lakukan.”
“Wah, Bapak seorang Angkatan Laut?”
“Ya,”
Mendengar kalimat Angkatan Laut itu, Asmirandah seolah dibawa pada masa déjà vu saat dirinya masih kecil. Kenangan melihat dan disapa tiga orang Sailorman tak akan pernah terlupa.
“Wah, Sailorman …,”
“Kenapa?”
“Oh, nggak … nggak ada apa-apa, Pak. Maaf,” Asmirandah tersenyum keki.
“Saya tunggu besok ya di sana, nanti kalau ditanya Pak Satpam, bilang saja mau bertemu Pak Sarwito, sudah janjian. OK.”
*