BAB 2 Barisan Para Sailorman

1146 Kata
Balai Prajurit Lantaman V             Ini baru kali pertama Asmirandah datang berkunjung ke Balai Prajurit, bersama dengan dua orang temannya, Haqim dan Kak Egar. Lantaran yang sedang ditemui adalah seorang calon donatur untuk acara event komikus nanti. Jadi, mau tak mau Kak Egar ikut turun tangan. Sebab, menurut Asmirandah, Kak Egar dikenal memiliki pengaruh dalam urusan pernegoisasian dengan klien.             Ketigaya masih berdiri di luar gerbang dan seperti pesan Pak Sarwito pada Asmirandah kemarin, saat menemui Pak Satpam diharapkan untuk menyebutkan nama diri beliau agar diizinkan masuk ke dalam. Setelah diperbolehkan masuk, Asmirandah melihat kesekeliling tampak ramai. Barisan para Sailorman berbaju putih-putih berdiri tegap memenuhi lapangan Balai Prajurit. Asmirandah, Haqim dan Kak Egar berjalan ke pinggir sambil berdecak kagum melihat pemandangan yang tak biasa.             “Wahhh, persis Popeye! Kekar banget!” puji Asmirandah saat melihat otot bisep pada lengan mereka. Tinggi, tegap dan kekar. Warna kulit mereka cokelat sawo matang akibat terbakar sinar matahari.             “Ganjen, lu Ndah!” ejek Haqim menyenggol lengan Asmirandah yang terus terpukau semenjak tadi.             “Eh, sapa yang ganjen?” Asmirandah tak terima, dia mendenguskan hidungnya.             “Kayak Ti Pat Kai lu,”             “Qiiim!”             “Eh, eh, sudah main ejek-ejekannya, ayo kita masuk. Di sana ruangan pertemuannya.” Kak Egar melerai mereka dan meminta keduanya fokus menjumpai orang-orang yang ingin menyumbangkan dana mereka untuk acara event nanti.             “Pak Sarwito ke mana?” Asmirandah celingukan.             “Lha, kamu sendiri yang tau wajahnya yang mana?” sindir Haqim sekali lagi.             “Lha, aku juga baru ketemu sekali. Lupa-lupa ingat, sama wajah lu aja kadang lupa,”             “Dasar pikun,”             “Kamu yang pikun,”             “Kok ….?”             “Heh! Diem kenapa sih?” Kak Egar kesal sampai menaikkan suaranya melihat tingkah keduanya yang sulit diatur.             “Yang mana Pak Sarwito itu?” Kak Egar menggiring Asmirandah dan memintanya untuk bisa fokus mengingat wajah beliau itu.             Sambil memastikan tiap-tiap wajah mereka yang nyaris sama, hahaha. Nyaris. Asmirandah melihat satu yang berbeda tak lain adalah t**i lalat.             “Oh, itu dia yang di pipinya ada t**i lalatnya, Kak Egar!” celetuknya keras.             “Ssst, pelan dikit suaranya. Itu masih ada acara jabat tangan, kita harus stay dulu di sini.” Kak Egar menarik lengan Asmirandah saat gadis itu hendak ngeloyor menyusul menemui Pak Sarwito.             “Oke-oke,” Asmirandah akhirnya terfokus pada sesosok wajah salah seorang Sailorman yang berdiri di tengah lapangan. Sosok lelaki yang bertubuh tegap dengan otot bisep dan senyumnya yang mengembang menatap ke depan, tepat menghadap ke arahnya. Asmirandah spontan melambaikan tangannya saat tertegun melihat ketampanan si Sailorman.             Anehnya, lelaki itu sepertinya ikut membalas senyuman dan lambaian tangannya lewat anggukan kepala sekali. Betapa geernya Asmirandah saat itu sampai dia lupa daratan dan tak sadar kalau gerak-geriknya dilihat oleh Haqim dan Kak Egar.             “Kamu kalo liat cowok keren dikit udah mabok,” sindir Kak Egar.             “Enggak, enggak, aku masih sadar. Dia cakep banget nggak sih?”             “Masih cakepan kita, eh .., itu Pak Sarwito uda keluar dari barisan. Lagi jalan ke sini,” Haqim meminta Asmirandah dan Kak Egar duduk di kursi tunggu depan ruangan Pak Sarwito.             Sosok lelaki berkumis dengan ciri khas t**i lalat di pipinya berjalan menghampiri mereka bertiga dan menyapa.             “Asmirandah, sudah datang ya? Sama temannya?” Pak Sarwito meminta ketiganya masuk ke dalam ruangannya. Diikuti dengan dua orang lelaki muda bertubuh tegap berseragam putih yang mengikuti Pak Sarwito dari belakang.             Asmirandah sekejap melirik salah seorang dari mereka dan menatap penuh pesona. Seperti ada chemistry yang hinggap di dalam d**a dan pandangannya. Membuat Asmirandah tak pernah lepas menatap mata lelaki Sailor itu. Tatapan yang berkesan lembut dan dan menusuk di hati. Seakan terhipnotis, lebih dalam lagi, lebih dalam lagi hingga membuatnya tak sadar bahwa Haqim sejak tadi menegurnya.             “Mir, Asmir!” Haqim mencolek lengan Liliana.             “Eh, oh iya, iya. Pak.” Jawabnya spontan.             “Baiklah, silakan duduk. Ini saya bersama dengan Serda Koko dan Serda Aditya.”             Kedua Serda itu saling menjabat tangan Asmirandah, Haqim dan juga Kak Egar dengan penuh semangat. Pun apalagi saat Asmirandah terpana ketika tangannya menjabat tangan Serda Koko. Saat dia hendak melepas tangan, Serda Koko masih terus menjabat tangannya bahkan lebih erat lagi.             “Maaf, terima kasih. Saya Asmirandah.”             “Saya Serda Koko. Salam kenal.”             Begitulah perkenalan keduanya saat itu, pun tak saling bicara terus saja saling tatap dan curi-curi pandang. Pada mula kisah ini berawal, sekejap cinta mendarat di dalam kedua hati masing-masing. Burung-burung gereja saat itu hinggap di ranting pepohonan, bercuit-cuit seraya menyanyi-nyanyi penuh iringan rasa. Semilir angin berhembus masuk ke dalam hati keduanya. * 1 bulan kemudian…             Semenjak  pertemuan pertama itu, Asmirandah dan Serda Koko saling berkenalan lebih dekat lewat jejaring w******p dan media sosial. Dan tepat di malam minggu—tepatnya akhir minggu keempat, Serda Koko akhirnya mengajak ketemuan.             “Kita ketemu di mana?”             “Di rumah,”             “Iya, soalnya biar orang tuaku tau,”             “Siap, Nona!” jawab Serda Koko memberi hormat di panggilan video w******p itu. Tingkahnya membuat Asmirandah geli.             Kata bundanya Asmirandah, “Jangan mau diajak kencan sama laki-laki baru kalau belum datang ke rumah dan ketemuan sama ayah-ibu di sini.” Itulah pesan yang ditanamkan oleh sang bunda sejak dirinya menginjak usia remaja dan kenal dengan lawan jenis di sekolah. Masa remaja merupakan masa transisi jadi sebisa mungkin harus ditata sedemikian rupa tentang cara bergaul oleh orang tuanya.             Tes nyali.             Asmirandah menulis status di jejaring f*******:, status pepatah bijak yang didapatnya dari sahabat karib, Florensia tentang percintaan. Florensia, adalah salah seorang sahabat beda kampus dan menjadi sahabat Asmirandah sejak masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama.             ‘Aku memilih mencintaimu dalam kesendirian. Karena dalam kesendirian tidak ada yang memiliki selain aku.’ –Jalaludin Rumi-             Tepat pukul sembilan malam, mata Asmirandah makin lama makin terasa berat saja. Jarum jam seakan menari-nari untuk dirinya, menari salsa. Mengikuti irama lagu dentingan detik yang tak akan pernah berhenti. Ya, tak pernah berhenti. Jatuh cinta pada sosok lelaki yang diidam-idamkannya selama ini. Menunggu acara event dimulai, lusa nanti. Iringan lagu dari Raisa berjudul ‘Jatuh hati’ menerbangkannya pada angan-angan.   Ku bukan jatuh cinta namun aku jatuh hati   Ku terpikat pada tuturmu, aku tersihir jiwamu   Terkagum pada pandangmu, caramu melihat duniak   Ku harap kau tahu bahwa ku terinspirasi hatimu   Ku tak harus memilikimu tapi bolehkah ku selalu di dekatmu     Ada ruang hatiku kini kau sentuh   Aku bukan jatuh cinta namun aku jatuh hati     Ku terpikat pada tuturmu, aku tersihir jiwamu   Terkagum pada pandangmu, caramu melihat dunia   Ku harap kau tahu bahwa ku terinspirasi hatimu   Ku tak harus memilikimu tapi bolehkah ku selalu di dekatmu       Katanya cinta memang banyak bentuknya   Yang ku tahu pasti sungguh aku jatuh hati       Ku terpikat pada tuturmu, aku tersihir jiwamu   Terkagum pada pandangmu, caramu melihat dunia   Ku harap kau tahu bahwa ku terinspirasi hatimu   Ku tak harus memilikimu tapi bolehkah ku selalu di dekatmu   Tapi bolehkah ku selalu di dekatmu   *                    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN