Ada banyak hal buruk yang bisa saja terjadi saat seseorang mabuk, tidak terkecuali seorang Kinara.
Pertama, Kinara sering lupa diri dan berakhir dengan melakukan hal-hal konyol yang nantinya akan dia sesali. Misalnya, drunk dialing — ia akan menelepon bos dan memprotes soal pekerjaan. Beruntungnya Kinara, ia tidak memiliki gebetan atau mantan pacar, jadi untuk yang satu itu dia terselamatkan.
Kedua, after effect mabuk alias hangover itu sungguh menyiksa dirinya. Biasanya setelah sadar dari hangover kepala Kinara akan sakit luar biasa seperti habis dipukuli, tenggorokannya akan terasa kering kerontang seperti orang yang seharian tidak tersentuh air, perutnya mual dan biasanya asam lambung juga akan ikut naik.
“Morning, Beb,” sapa seseorang yang sudah sibuk di dapur.
Tolong jangan ada yang membayangkan kalau Kinara pulang ke apartemen seorang laki-laki random dan menjalani one night stand. Lalu laki-laki itu menungguinya bangun sembari memasak sarapan di dapur — dan sebagai tambahan deskripsi dia hanya memakai celana pendek dan bertelanjang d**a dengan roti sobek di perutnya. Nope.
Yang berada di dapur saat ini adalah Diana. Tampak sudah rapi, bugar, dan penuh semangat. Padahal sejak dulu, Diana adalah yang terkuat untuk urusan minum sekaligus yang paling cepat pulih dari hangover di antara mereka berempat. Jika Kinara dan yang lainnya akan lesu dan mengantuk seharian setelah mabuk semalam, hal itu nggak ada dalam kamus Diana. Uniknya, daya tahan itu semakin bertambah setelah Diana menikah dan punya anak.
“Mandi sana, Kin,” perintah Diana. “Itu di kulkas gue udah siapin ada air kelapa sama s**u murni. Bagus buat cepet ngilangan hangover lo.”
Kinara mengangguk mengiyakan. Dia beranjak mengambil air kelapa di kulkas, sembari berusaha mempertahankan kedua matanya untuk tetap terbuka. Setelah Kinara menghabiskan segelas s**u bertepatan Lina keluar dari kamar mandi dengan bathrobe dan handuk menutupi kepala.
“Morning, girls,” sapanya dengan suara serak karena kebanyakan berteriak semalam. Meski penampilannya sudah segar, namun matanya yang sayu dan sedikit bengkak tidak dapat menutupi efek mabuknya semalam.
“Morning Na. Tamia belum bangun, ya?” Kinara bertanya bingung sambal melihat sekeliling pantry. Dia berusaha mengingat-ingat apakah masih ada seongok tubuh di kasur saat meninggalkan kasurnya tadi.
Bersamaan dengan moment itu, dari arah kamar terdengar suara gedabrukan dan umpatan yang mengabsen isi kebun binatang, yang disusul dengan suara orang yang muntah. Kinara meringis membayangkan kondisi di dalam kamar, dan memilih buru-buru masuk ke kamar mandi yang ada di dekat pantry.
Semalam, keempatnya pulang ke apartemen Tamia, sesuai rencana yang sudah mereka obrolkan dalam chat group. Dan jika sesuai rencana yang mereka buat, hari ini mereka akan menghabiskan waktu untuk shopping, lunch bareng di salah satu resto Jepang favorit mereka, dan menonton konser gabungan band-band Indie yang membawakan lagu-lagu lawas semasa mereka SMA.
Kinara berlama-lama berendam di bathtub yang dipenuhi air hangat. Dia benar-benar menikmati waktu mandinya pagi itu. Bahkan ponselnya juga ikut ambil bagian, dengan memutar instrument-instrumen biola dari group violin favoritnya yang menenangkan. Seandainya ini di apertemennya sendiri, mungkin Kinara akan membawa sepiring buah dan camilan.
Setelah otot-ototnya terasa lebih lentur dan sakit kepalanya berkurang, Kinara pun bangkit dari bathtub dan mengakhiri mandi paginya. Dengan segar aroma sabun pilihan Tamia yang nggak perlu diragukan, Kinara keluar dari kamar mandi dengan tubuh berbalut bathrobe. Di pantry, ketiga sahabatnya sudah berkumpul.
“Buset! Gue kirain lo pingsan di kamar mandi, Nyet!” seru Tamia urakan.
Kinara hanya bisa tertawa mengikik, sambal duduk di kursi kosong di sebelah Diana. Di meja makan pagi itu, sudah tersedia nasi goreng bumbu kari lengkap dengan telur mata sapi, sosis, dan acar. Nasi goring adalah menu sarapan miliaran umat, namun, masakan Diana tidak perlu dipertanyakan. Kinara sudah berencana dalam beberapa tahun kedepan, ia akan mengajak Diana dan temn-temannya untuk membuka usaha kafe bersama. Tentunya jika para sahabatnya itu sedang tidak sibuk mengurus anak dan suami mereka.
Satu suapan masuk ke mulutnya, Kinara langsung berdecak-decak nikmat.
“Di, Lo mau nggak jadi personal chef gue?” tanya Kinara, selagi menikmati sarapan. “Gaji UMR, dapat BPJS, dan THR.”
Diana hanya menanggapi dengan tertawa, tetapi tidak dengan Tamia yang langsung memberikan reaksi nyolot-nya.
“Woilah Kin, bisa-bisanya lo nawarin gaji UMR ke doi. Lo nggak tahu gaji mbak di rumah Diana berapa? Dua digit kali”
Kinara mendengus. “Huuuu… Gue kangen deh sama zaman kuliah dulu. Tiap hari Diana ke kampus selalu bawa bekel ekstra buat kita. ltu masa-masa di mana kebutuhan gizi gue terpenuhi dengan baik.”
“Lha, emang sekarang lo kurang gizi, Kin?” tanya Lina yang memang paling polos di antara mereka.
Tamia tergelak mendengar pertanyaan Lina. “Jelas lah, Lin. Kinara tuh udah kebanyakan meeting, jadi sekarang kekurangan gizi.”
Kinara ikut tertawa atas komentar Tamia. “Bener, sih itu. Gw udah kebanyakan meeting jadi kurang makan.”
“Apa kabar work-life balance, Kin?” tanya Diana.
Kinara mengedikkan bahu acuh. “Mitos. Wacana doang itu.”
“Sekarang aja dia nggak rutin makannya, apalagi kalau ntar gue udah kewong. Bisa makin nggak pernah makan tuh si Kinara?” sindir Tamia dengan mimik lucunya.
“Selama ini kan gue yang rajin nyeret buat lunch bareng. Habis kewong, ya gue lunch bareng laki gue lah.”
Kinara hanya bisa nyengir. Mau bagaimana lagi? ltu faktanya. Posisinya sebagai sales manager di kantor membuat Kinara beredar dari satu meeting ke meeting yang lain. Skip makan siang bukan hal baru, kecuali agendanya lunch meeting. Selama ini, Tamia-lah yang menjadi partner lunch-nya yang setia. Selain kantor mereka berdekatan, hanya Tamia yang waktu luangnya masih cukup banyak karena belum berkeluarga.
“Pasang alarm tiap jam makan, Kin. Buat reminder biar nggak kelewatan jam makan,” saran Lina, terdengar masuk akal namun sebenarnya sulit dilakukan.
“Apa gunanya kalau cuma buat di-snooze, snooze lagi, snooze terus, snooze mulu? Kasihan alarm-nya, udah nggak punya harga diri,” ledek Tamia.
“Makanya, Kin,” kata Diana tiba-tiba mengubah nadanya jadi lebih lembut. Kinara pun mulai berprasangka buruk, setiap Diana berbicara lembut pasti akan ada sesuatu di baliknya. “Setuju, ya, yang kemarin itu?”
'Tuh kan, bener firasat gue. Pasti soal itu lagi yang mau dibahas nih anak.' Kinara mengerang lelah.
“Apa, sih, susahnya?” tanya Tamia nggak habis pikir. “Tinggal jalan sekali atau dua kali. Kalau nggak cocok, ya udah nggak usah dilanjutin.”
“Males ah Tam, ribet,” jawab Kinara pendek. “Kalian belum lupa kan? Hidup gue udah cukup ribet dengan target cari duit 10 miliar setahun. Boro-boro mikirin lainnya, tiap mikir target aja gue udah vertigo dini.”
Baik Tamia, Diana, dan Lina sama-sama diam, tidak ada yang merespons alasan yang Kinara berikan. Mungkin karena mereka tahu alasan Kinara yang sebenarnya bukan itu. Hal ini juga yang membuat Kinara kesal dan lelah sendiri.
Persahabatan mereka bukan hanya setahun atau dua tahun, melainkan sudah dua belas tahun. Tamia, Diana, dan Lina barangkali lebih memahami dan mengerti dirinya dibanding Kak Widia kakak kandung yang Kinara sendiri lupa kapan terakhir kali mereka bertemu. Mereka bertiga juga tahu pasti kenapa Kinara selalu enggan terlibat hubungan romantis dengan siapa pun. Lantas, kenapa masih mereka masih mendesak juga?
“Gue punya ide,” kata Tamia tiba-tiba. “Lo lagi nabung buat ngurus visa ama jalan-jalan keliling Eropa kan, Kin?”
Kali ini Kinara menatap sahabatnya dengan kening terangkat. Tamia memang sulit ditebak, namun sekalinya dia punya kemauan maka seribu satu cara akan ia upayakan untuk mewujudkannya. Jika satu cara gagal, maka dia akan maju dengan cara lainnya.
“Tabungan lo nggak nambah-nambah karena lo kebanyakan cicilan. Ya nggak?” Tebak Tamia telak
Kali ini Kinara mendengus sebal. Haruskah Tamia mengungkit fakta betapa milenialnya Kinara? Gajinya yang sebenarnya tinggi, tidak berbekas karena kebanyakan cicilan. Ya apartemen, ya mobil, baju dan sepatu branded, belum lagi biaya skincare, dan pastinya biaya senang-senang agar dia tidak gila, mengingat tekanan kerjanya sungguh berat.
“Kenapa? Lo mau bayarin liburan gue? Kuy lah kalo mau bayarain.” tantang Kinara.
Dia hanya bercanda, tentu. Namun, Tamia mengangguk. Kening Kinara semakin berkerut. Tamia memang tajir. Tamia Megawati Sosromihardjo adalah cucu dari Hajar Sosromihardjo, salah satu konglomerat old money Indonesia yang ternama. Kekayaan keluarganya tidak bakal habis dimakan sampai 3-4 generasi keturunan Sosromihardjo.
Kalau toh sekarang Tamia bekerja di perusahaan maskapai penerbangan, itu juga karena iseng saja, daripada nganggur dan bosan di rumah. Namun, masa iya Tamia sebegitu dermawannya sampai mau membiayai liburan keliling Eropa Kinara?
Kalau sebatas liburan ke Paris atau ke Roma seminggu, sih, masih mungkin. Tapi ini? Target Kinara jelas. Keliling Eropa. Dia bahkan berencana dua bulan tidak pulang ke Indonesia.
“Ih, gue mau juga! Bayarin gue juga dong, Tam!” serobot Lina.
“Nggak gue bayarin juga,” sanggah Tamia. “Gini, lo tahu kan apartemen gue yang di cluster baru PIK? Yang gue taruh di AirBnB terus selalu full booked?”
Kinara mengangguk. Ia dan kedua temannya yang lain menyimak penuturan Tamia dengan serius, sambal mencoba menerka ke arah mana strategi Tamia meluluhkan Kinara kali ini.
“Lo bisa pegang tuh apartemen selama setahun.”
Kali ini mata Kinara membeliak. “Serius lo?!” Tidak hanya Kinara, kedua temannya yang lain juga ikut melongo.
Tamia mengangguk. “Itu properti populer di AirBnB. Tiap minggu ada aja yang ambil. Jadi, udah pasti gede tuh keuntungannya.”
Tentu saja. Apartemen Tamia itu, selain memang bagus, lokasinya juga strategis menghadap ke laut dan dekat dengan keramaian. Apalagi saat ini PIK terus berkembang dan menjadi salah satu tujuan favorit untuk liburan singkat warga ibukota di akhir pekan.
Apartemen tersebut hanya salah satu dari apartemen milik Tamia yang tidak dihuni secara tetap. Bagi Tamia, pendapatan dari sewa apartemen itu mungkin cuma recehan yang habis untuk sekali belanja baju di Hong Kong. Namun, bagi Kinara, itu bisa jadi sumber pendapatan lain yang bisa menambah pundi-pundi tabungannya.
“Selama setahun, lo boleh kelola itu apartemen di AirBnB. Mau lo ubah harganya juga terserah. Gue nggak bakal minta setoran sepeser pun,” kata Tamia. “Lumayan nggak tuh, buat nambahin tabungan lo?”
Mata Kinara masih menyipit, mendengar nada bicara Tamia yang menggantung. Dia yakin kalimat Tamia belum usai, pasti akan ada kejutan di kalimat selanjutnya.
“Syaratnya cuma satu, Kin. Lo harus kencan dengan seseorang.”