bc

Terjerat Pesona Sang Penakluk

book_age18+
196
IKUTI
1K
BACA
HE
badboy
boss
drama
sweet
no-couple
city
office/work place
like
intro-logo
Uraian

Kinara tidak berencana menikah. Dia tidak ingin mengulang kesialan demi kesialan yang dialami oleh keluarganya. Rencana Kinara sejauh ini hanyalah kerja keras, menjadi kaya, dan menghabiskan masa tuanya di panti jompo. Dia tidak membutuhkan keluarga berikatan darah, karena dia punya sahabat-sahabat yang sempurna. Namun, ketika satu per satu sahabatnya menikah, mereka mulai mengkhawatirkan keputusan Kinara, mereka takut Kinara kesepian.

Dengan barter sebuah uang sewa apartemen di kawasan strategis selama setahun, Kinara membiarkan teman-temannya mengatur kencan buta demi kencan buta dengan pria potensial. Sementara Kinara diam-diam, bagaimanapun caranya, membuat kencan-kencan itu tidak berhasil.

Sampai akhirnya dia bertemu Dewa, si pria berengsek yang disodorkan Tamia–sahabatnya–yang kesal karena Kinara terus-terusan menolak pria-pria baik yang dia rekomendasikan. Sayangnya, Dewa menawarkan sesuatu yang sulit Kinara tolak. Padahal pria itu jelas-jelas seperti papan peringatan “WASPADA” berjalan.

chap-preview
Pratinjau gratis
BAB 1
Tempat itu bukan warung remang-remang, tapi pencahayaannya sangat minim. Lampu mati-hidup yang membuat pusing kepala. Suara musik menghentak-hentak yang membuat telinga sakit, sangat berisik. Ditambah lagi tubuh-tubuh berseliweran yang bergoyang seirama dengan hentakan musik. Orang-orang dalam gedung itu menggila, meninggalkan segala masalah, tagihan-tagihan dan norma. Tambahkan juga esok pagi ketika pengaruh alkohol sudah hilang, masalah-masalah itu akan kembali menuntut dipikirkan. Namun, biarlah itu menjadi urusan besok. Kinara sebisa mungkin berjalan cepat, ke kanan ke kiri menghindari orang-orang yang sudah setengah sadar agar tidak perlu bertabrakan. Kinara menggerutu dalam hati dan merutuki teman-temannya. Bagaimana bisa mereka membuat agenda party di hari kerja? 'Udah mulai gak waras dia ya,' pikir Kinara sambil geleng-geleng kepala. 'Bisa-bisanya pesta lajang saat weekday, emang harus begini banget?' Kinara menghentikan langkahnya, Ia menyipitkan mata memandang sekitar, menyesuaikan netranya dengan keremangan cahaya. Mencari keberadaan teman-temannya, untungnya dia segera menemukan sosok seorang perempuan yang sangat familier. Berambut panjang dengan highlight ash brown, pakaian yang dikenakan nyaris kurang bahan. Perempuan ini tengah asik menggerakkan tubuhnya meliuk-liuk di atas meja, ya … sahabatnya yang satu ini sangat mencolok dan mudah sekali dikenali. Kinara melanjutkan langkahnya, menghampiri sofa tempat kawan-kawannya yang mulai menggila. Seorang perempuan berambut merah menyala berjalan limbung ke arahnya. Di belakangnya seorang pria berbadan besar, berjalan tidak kalah limbungnya—sepertinya mulai mabuk—keduanya menubruk Kinara hampir bersamaan. Kinara yang semampai bertubrukan dengan keduanya, dan karena perbedaan postur yang terlalu besar, membuat Kinara tidak bisa mempertahankan posisi. Langkahnya ikut limbung meski tidak mabuk, dan langkah mundurnya untuk mempertahankan keseimbangan membuatnya nyaris terjerembap ke lantai, jika saja tidak ada sepasang lengan yang meraih pinggangnya tepat waktu. “Got you!” suara bariton yang berat dan dalam terdengar panik sekaligus lega. “Are you okay?” Lega rasanya tidak terjatuh dalam keramaian dan keremangan lampu. Kinara menggeliat melepaskan diri dari lengan kokoh yang menangkapnya, ia memutar tubuhnya menghadap penyelamatnya—seorang laki-laki tinggi memakai hitam slim fit, wajahnya terlihat tidak cukup jelas karena cahaya dalam ruangan yang minim. “Yap. I’m okay. Thanks a bunch dear!” kata Kinara dengan melemparkan senyuman manisnya. “No problem dear, anytime,” jawab laki-laki itu, masih dengan suara baritonnya yang membuat bulu-bulu halus di leher Kinara sedikit meremang. Kinara melanjutkan langkahnya, kembali mendekati meja kawan-kawannya yang masih asik dengan alunan musik menghentak. “Kinara! Sini!” panggil si seksi ash brown yang tetap dengan posisi berjoget di atas meja, meliuk-liukan tubuhnya seirama musik. Tamia, sang pemilik pesta malam ini sekaligus salah satu sahabatnya. Ia mengenakan gaun dark blue berbahan sutra yang jatuh dan bertali spageti, memiliki potongan rendah di bagian d**a maupun punggung. Beberapa sobekan kertas confetti tampak menempel di kulitnya yang terbuka. Tangan kanannya memegang gelas kristal yang berisikan cairan keemasan dengan buih halus mengelilinginya. Badannya meliuk-liuk mengikuti musik yang sedang hits, diputar oleh DJ kenamaan. Saat ini turut menari Bersama Tamia, dua sahabat Kinara yang lain, yang mala mini penampilannya nggak kalah seksi dan glaumor. “Jahat banget sih lo, ini sudah jam berapa? Masa lo telat sampe satu setengah jam!” Tamia berbicara dengan suara keras, karena suara musik yang menghentak masih dominan. Kinara, yang baru saja diteriaki, bersikap acuh dengan tetap mengembangkan senyum tipis di bibirnya. Jika teman-temannya yang lain dating ke sini dengan memakai gaun bertali spageti atau rok mini dengan dengan aksesoris dan sepatu high heels, Kinara justru datang masih dengan setelan kantornya hari ini. Celana panjang slim fit berbahan kain stretch yang mencetak jelas panggul dan kaki jenjangnya, dipadukan dengan kemeja putih dengan aksesoris kalung sebagai pemanis. Rambut panjangnya ia biarkan tergerai dengan sedikit curly di bagian bawahnya. “Astaga, Kin! Lo itu kesini mau party, bukan mau pitching ke klien!” sembur Diana saat melihat penampilan Kinara. Diana adalah sahabat Kinara dengan potongan rambut pendek sebahu yang diwarnai burgundy, persis seperti wine yang mengisi gelas di tangannya. Diana malam ini mengenakan rok mini putih berbahan kulit yang sedikit mengkilap, dipadukan dengan crop top senada yang hanya menutupi bagian dadanya. Sementara perut rata hasil gym-nya dibiarkan terpampang sempurna. Kinara tersenyum lebar menanggapi ocehan sahabatnya soal penampilannya. Dilemparkannya tas ke sofa, dan dihenyakkannya tubuhnya juga. Ia meraih botol Champagne yang sudah banyak berkurang isinya, dan menuang sisanya ke satu gelas kosong yang ada di meja. Kinara menegak minuman keemasan itu sekaligus, dan berdecak menikmatinya. “Mantappp!” ujarnya, sembari mencecap-cecap sisa rasa alkohol yang masih tertinggal di lidahnya. “Gilaa! Capek bener gue! Mau meledak rasanya kepala gue hari ini!” Ketiga sahabat Kinara masih meliuk-liuk, menari dengan gerakan liar. Diana, si rambut pendek yang seksi dan sporty berjoget gelas wine yang masih dalam genggamannya. Sedangkan Lina, yang malam ini mengenakan mini dress berbahan satin mirip lingerie hanya bergoyang lemah gemulai seirama musik, sepertinya Lina sudah mengalami trans akibat pengaruh Civas yang diminumnya. Tamia akhirnya melompat turun dari atas meja, dan mengempaskan dirinya di samping Kinara, memeluknya seperti bayi simpanse yang menggelayut di induknya. “Lo bau banget, woii!” gerutu Kinara sembari menutup hidungnya dan mendorong sahabatnya menjauh. Aroma alcohol berbaur dengan aroma parfum Diana sungguh bukan perpaduan yang bersahabat dengan hidung Kinara. “Lo udah minum berapa botol, Tam?” Tamia tergelak mendengar protes Kinara. “Namanya juga party, Kin. Lo yang aneh, masa datang ke tempat ginian pake outfit kantor. Lo belom mandi ya? Untung masih cakep!” “Ya kan gue emang langsung dari kantor ini, Tamia yang pintar,” jawab Kinara mencoba bersabar menghadapi sahabatnya yang sedang setengah trans. “Lina!” panggilnya kepada perempuan dengan mini dress satin. “Oh My God! udah teler lo, Lin?” Kinara tergelak melihat Lina yang kagok saat berusaha turun dari meja. “Sini! Pelan-pelan, awas itu kepleset!” Kemudian Kinara berpaling pada Tamia yang duduk menyandari sofa. “Lo apain si Lina, Tam? Buset, kalian pada bar-bar bener, sih? Minum apa aja kalian?” Tidak lama kemudian, Diana turun dari meja dan ikut mengempaskan tubuhnya di samping Kinara. Aroma alkohol terpancar kuat. Kinara jadi penasaran sudah berapa botol yang mereka habiskan. Malam ini, Tamia menggelar pesta lajang privat untuk mereka berempat, alasannya demi merayakan pertunangannya. Kinara yakin sebenarnya itu hanya alasan untuk Tamia supaya melegalkan acara mabuk-mabukannya saja. Kinara menduga, Tamia sedang suntuk dan ingin bersenang-senang saja. Tamia sebenarnya mengajak mereka semua untuk mabuk sampai black out sejak pukul 9 malam. Namun sayang, Kinara harus menyelesaikan urusan kantornya yang menguras energi dan waktunya. Editor tempatnya bekerja melakukan kesalahan karena tidak segera mengecek approved draft dari klien untuk penayangan advertorial hari ini. Saat hendak tayang, editor baru menyadari bahwa ada satu foto pilihan klien yang diambil bebas di internet. Alhasil, timnya harus menghubungi pemilik foto pilihan klien untuk memproses pembelian, dan dia seorang Hungaria. Jadi, bayangkan saja bagaimana serunya sore Kinara hari ini. Meski bukan kesalahannya, dan tidak ada yang bisa dilakukan selain menghibur klien selama tim editor bekerja selaku sales manager yang bertanggung jawab atas project yang di-handle oleh account executive di bawahnya, Kinara tetap saja tetap ikut lembur di kantor untuk memastikan semuanya bisa beres. Alhasil, dia baru tiba di Heaven menjelang pukul setengah 12 malam, dan teman-temannya sudah teler. “Lo nggak capek, Kin, kerja sampe tengah malam begini terus?” tanya Diana. Jangan tertipu dengan penampilan seksi nan sporty menjurus ke hipster Diana malam ini. Di balik itu semua, Diana adalah seorang ibu rumah tangga dengan dua anak perempuan menggemaskan yang masing-masing berusia 4 dan 2 tahun. Suaminya adalah pengacara senior di sebuah firma hukum terkenal. Setiap hari, jika tidak ada pesta semacam ini, aktivitas Diana didominasi oleh mengurus keluarga kecilnya dan beramah tamah dengan tetangga sekitar serta mendampingi suami ke acara-acara formal. “Duit nggak bisa masuk sendiri ke rekening gue, Say,” jawab Kinara. Matanya memilah-milah botol alkohol di meja, lantas pilihannya kembali pada sebotol Red Wine yang tinggal setengah. Kinara langsung menegaknya dari botol. “Lo nikah makanya, biar seenggaknya duit yang datang sendiri ke rekening lo,” sambar Lina, menggelosor di pinggiran meja. Tamia tergelak. “Lo suruh Kinara nikah, Na? Itu sama kayak gue nyuruh lo pake hijab.” “Terus?” Lina mengerutkan dahi. “Kan lo Katolik, Carolina!” Kinara tergelak menyimak obrolan random orang-orang mabuk ini. Kinara tidak akan bersikap menye-menye dengan mengatakan hal ini kepada ketiga sahabatnya, tetapi inilah yang dia cari setiap hari. Sahabat-sahabat baik yang siap mendengar keluh kesahnya. Sahabat yang meski tidak ragu mengatainya t***l atau memarahinya habis-habisan saat dia melakukan kesalahan bodoh, tetapi selalu datang pertama dan mengulurkan tangan saat Kinara butuh bantuan. Di akhir hari, setelah penat bekerja, obrolan di grup WA “CUAN LADIES” menjadi hiburan sendiri bagi Kinara. “Tamia yang the real b***h aja akhirnya tied the knot,” komentar Lina. “Gue yakin Kinara pada akhirnya juga bakalan ketemu seseorang.” “Barusan juga gue ketemu seseorang,” kata Kinara tanpa berpikir panjang. “Laki-laki, pake kemeja hitam, kayaknya sih ganteng.” Ketiga sahabatnya memandangnya dengan ekspresi tertarik. “Siapa?” tanya Diana. “Ya mana gue tahu lah! Kan gue bilang ketemu, bukan kenalan. Terus, ada lagi laki-laki gede kekar, perempuan mabuk, satpam yang kepalanya plontos, ibu-ibu yang nungguin taksi —” “Woy!” sergah Tamia kesal. “Lo mabuk apa gimana, sih?!” Kinara tertawa. “Lo yang mabuk, bego!” “Maksudnya Lina seseorang yang spesial, t***l! Bukan random people yang lo temuin di jalan!” “Random people juga bisa jadi spesial,” sanggah Kinara. “Udah, udah, jangan didesak terus si Kinara. Ntar doi malah cabut,” lerai Diana. “Malam ini jadi kan nginep di tempatnya Tamia?” Sontak Kinara berdecak. “Besok gue kerja, wooii.” “Bukannya lo ambil cuti?” tanya Diana cepat. “Tamia suruh ambil cuti, kan?” “Cuti sih cuti, tapi di hari kerja ini takut ada yang urgent, terus guenya teler gimana?” Tamia berdecak. “Beb, bilang yang jujur! Lo paham artinya cuti nggak?” Alih-alih menjawab, Kinara hanya tertawa. Sahabatnya itu tentu tidak tahu artinya bekerja di bidang penjualan. Hidup dan matinya, kapan dia bisa liburan ke luar negeri, atau kapan dia bisa beli baju dan tas branded, semuanya ditentukan oleh klien. 'Cuti? Itu adalah kata-kata utopia yang terlalu digembar-gemborkan, tapi aslinya hanya fenomena saja,' menurut Kinara. “Pokoknya malam ini kita mabuk sampe gak bisa bangun!” jerit Tamia sembari mengambil sembarang gelas di meja, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi. Kinara, Lina, dan Diana mengikutinya. Masing-masing memegang gelas dan mendetingkannya di udara. “Ya udah, kalian aja yang mabok. Biar gue yang stay sober sekalian jagain kalian,” putus Kinara. “Ih, ngapain? Semua yang ada di sini udah gue bayar. Minum sampe black out Babe!” “Kalau semua teler, yang nyetirin balik siapa, Nenggg?” “Tenaaang,” jawab Tamia sembari mengisi ulang gelasnya. “Gue udah siapin sopir buat malam ini.” “Sopir?” Mata Kinara mencuat naik. “Danis?” “Bukan. Tuh orangnya,” jawab Tamia sembari mengedikkan kepala ke sisi kanan mereka. Kinara mengikuti arah kedikan Tamia, dan melihat seorang pria muncul dari sela-sela orang yang tengah berpesta. Pria itu memakai kemeja slim fit hitam dan membawa minuman kaleng. Kinara menyipitkan mata begitu mengenali sesuatu. Lho, itu kan laki-laki yang menolongnya tadi?

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

30 Days to Freedom: Abandoned Luna is Secret Shadow King

read
317.7K
bc

Too Late for Regret

read
350.1K
bc

Just One Kiss, before divorcing me

read
1.8M
bc

Alpha's Regret: the Luna is Secret Heiress!

read
1.3M
bc

The Warrior's Broken Mate

read
148.7K
bc

The Lost Pack

read
461.8K
bc

Revenge, served in a black dress

read
157.4K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook