Bagaimana hasilnya? Kau bisa membujuk Ellard Whalen bekerja sama? Waktumu tinggal satu hari, nona. Kalau kau tidak berhasil, aku pastikan namamu tidak terdaftar lagi sebagai karyawan di perusahaanku
Allisia mengerjabkan matanya berkali-kali melihat pesan yang baru saja di kirim oleh atasannya. Apa pria itu benar-benar gila dan ingin menyiksanya? Belum sempat Allisia membalas pesan dari atasannya. Perutnya mendadak sakit, Allisia berlari terbirit-b***t ke arah kamar mandi yang ada di luar kamar. Mengabaikan Ellard dan Heyley yang menatapnya bingung di meja makan.
Beberapa menit kemudian Allisia keluar dari kamar mandi dengan rambut acak-acakkan, kaus yang terlihat berantakan dan bibir pucat. Gadis itu meneguk dengan sembarangan minuman yang ada di meja makan mengabaikan dua orang yang menatapnya dengan aneh.
“Bukannya kau tidak suka kopi?” pertanyaan itu membuat Allisia langsung tersedak minumannya. Gadis itu terbatuk-batuk, kopi yang ada di mulutnya tumpah ke lantai. Dia menatap ke arah Ellard dengan wajah kaget.
“Aku tidak jadi meminumnya. Kopinya tumpah,” ucap Allisia dengan gelagapan. Dia buru-buru mengambil tisu yang ada di atas meja kemudian membersihkan lantai dengan cepat dan membuang tisu itu ke dalam tong sampah.
“Kau meminum kopinya, Nona Warren,” ucap Ellard dengan tatapan jahil. Allisia semakin gelagapan tapi dia tetap mempertahankan harga dirinya.
“Aku tidak meminum kopinya. Aku tidak tahu kalau itu kopi, aku terburu-buru karena haus,” ucap Allisia masih tidak mau kalah. Tapi ketika mengingat apa yang di kirim oleh atasannya membuat Allisia langsung diam. Dia meminum susunya dengan pelan sesekali mencuri perhatian pada kopi yang terlihat menggiurkan dan melirik Ellard. Allisia sedang memikirkan cara untuk membujuk Ellard agar mau bekerja sama dengan perusahaan tempat dia bekerja.
“Aku berangkat, kalian lanjutkan saja sarapannya,” ucap Heyley. Gadis itu sudah rapih untuk berangkat ke W coffe. Allisia baru saja ingin membuka mulutnya untuk menyerukan protes namun Heyley sudah lebih dahulu menyumpal mulutnya dengan roti.
“Jangan banyak bicara,” ucap Heyley kemudian dia melangkah pergi sambil melambai dan tentu saja senyum puas.
Kini tinggal Ellard dan Allisia, keduanya sama-sama diam. Allisia mengunyah roti yang di ada di mulutnya sambil melirik kopi yang ada di atas meja sedangkan Ellard sedang tampak santai sesekali menyesap kopinya. Pria itu terlihat sudah rapi dengan setelan jas mahal yang tampak pas di tubuh proposionalnya.
“Kau tidak berangkat bekerja?” tanya Ellard sambil melihat penampilan Allisia yang masih berantakan. Allisia menelan rotinya dan menatap kearah Ellard.
“Om,” panggil Allisia. Keraguan terlihat dengan jelas di mata Allisia. Ellard mengeryitkan dahinya bingung.
“Hm,” jawab Ellard.
“Aku…” ucapan Allisia terhenti ketika dia merasakan perutnya kembali sakit. Gadis itu kembali berlari terbirit-b***t ke arah kamar mandi. Ellard terlihat masih santai di tempat duduknya. Pria itu kini sibuk memeriksa email yang masuk. Membacanya dengan sangat teliti.
“Om,” suara lirih itu membuat fokus Ellard teralih, dia sedikit terkejut melihat wajah pucat Allisia.
“Kau, kenapa?” tanya Ellard. Dia mendekat pada Allisia.
“Tubuhku lemas sekali. Ini semua karena ulahmu,” ucap Allisia. Dia menatap sayu pada Ellard. Rasanya Allisia benar-benar tidak memiliki tenaga lagi. Allisia meruntuki dirinya sendiri karena tidak kuat sedikitput terhadap alkohol.
“Kenapa aku?” tanya Ellard. Dia masih menatap bingung pada gadis keras kepala dengan gengsi setinggi langit di hadapannya.
“Ini semua karena kau datang ke sini. Andai saja kau tidak datang pasti aku tidak akan meminum soda milik Heyley,” ucap Allisia. Gadis itu hampir terjatuh, andai saja Ellard tidak menahannya.
“Aku sepertinya akan segera kehilangan pekerjaan,” ucap Allisia ketika mereka duduk di sofa.
“Kenapa harus kehilangan pekerjaan?” tanya Ellard. Allisia menoleh dan menatap sinis kearah Ellard.
“Ini semua karena keangkuhanmu. Andai saja kau bermurah hati sedikit untuk bekerja sama dengan perusahaan tempatku bekerja pasti aku tidak akan terjebak dalam kesulitan seperti ini. Tua bangka itu pasti tidak akan mengirim ancaman padaku. Ayolah om, terima saja kerja sama yang aku tawarkan,” ucap Allisia. Dia memasang wajah penuh permohonan.
“Apa keuntungan untukku?” tanya Ellard santai. Lagian perusahaan tempat Allisia bekerja tidak ada apa-apanya di bandingkan perusahaan Ellard. Bahkan Ellard bisa memenuhi seluruh kebutuhan perusahaanya tanpa perlu bekerja sama dengan perusahaan lain.
“Perusahaanku akan memasok properti yan di butuhkan oleh hotelmu. Apapun. Aku akan menjamin semua barangnya berkualitas tinggi,” jawab Allisia seadanya. Dia hanya mengingat itu karena dulu dia pernah membaca sebuah buku. Allisia tidak memiliki pengalaman yang banyak tentang dunia yang dia geluti sekarang. Selama ini Allisia hanya tahu cara menikmati apa yang sudah ada, dia tidak pernah tahu seberapa usaha dan pengorbanan di balik semua itu.
“Tanpa perusahaanmu. Perusahaanku sudah bisa memenuhi segala kebutuhan sendiri. Sepertinya aku tidak akan pernah bisa menerima kerja sama itu kecuali dengan syarat yang aku berikan beberapa hari yang lalu. Pasti kau masih mengingatnya dengan baik, Nona Warren,” ucap Ellard dengan seringai iblis. Allisa menggeser tubuhnya sedikit menjauh dari Ellard.
“Kenapa harus syarat seperti itu? Aku tidak mau menjadi salah satu dari sekian banyak wanita simpananmu!” seru Allisia masih mempertahankan dirinya. Dia tidak akan menyerah dengan mudah pada Ellard Whalen tapi ketika melihat seringai Ellard, Allisia yakin dia tidak akan mampu lagi bertahan. Pria itu benar-benar seperti iblis mesuum yang tidak memiliki hati.
“Tentu saja untuk jaminan. Aku tidak ingin melakukan apapun tanpa sebuah keuntungan,” jawab Ellard dengan santai. Pria itu berdiri, merapikan jas mahalnya dan berjalan sedikit ke arah jendela. Sepertinya dia belum bisa keluar dari sini. Di bawah sana banyak sekali media dan para wanita yang meneriaki namanya. Ellard melirik ke arah Allisia yang masih duduk di kursi, gadis itu hanya diam saja tanpa melakukan apa-apa.
“Sampai kapan kau akan diam di sana, cepat bersihkan dirimu kalau tidak ingin terlambat bekerja,” ucap Ellard. Allisia bukannya menuruti perintah Ellard, gadis itu justru tiduran di sofa sambil menyalakan televisi.
“Om,” panggil Allisia sekali lagi. Dia mengubah posisi tidurnya menjadi miring, menyanggah kepalanya dengan satu tangan dan menatap dengan ekspresi tertindas ke arah Ellard.
“Aku tidak akan berubah pikiran hanya karena melihat ekspresi jelekmu itu. Jika kau ingin tetap bekerja dan mendapat gaji besar maka terima saja syarat yang aku berikan. Bukannya itu sangat mudah? Kau hanya perlu menjadi wanita ku,” ucap Ellard, dia kembali melihat keluar jendela apartemen Heyley. Dibawah sana masih terlihat ramai.
“Kau hanya perlu menjadi wanita ku.”
“Aku tidak mau!” seru Allisia. Ellard hanya mengangkat bahunya acuh.
“Itu urusanmu,” jawab Ellard, pria itu mengetikkan sesuatu di ponsel lalu memperlihatkan pada Allisia.
“Kau tahu apa akibatnya jika pesan ini terkirim pada atasanmu?” tanya Ellard. Allisia langsung terduduk di sofa. Menatap ponsel Ellard dengan mata membola.
“Om!” rengek Allisia, mata gadis itu terlihat berkaca-kaca namun Ellard justru menyeringai melihat itu.
“Sekarang keputusannya ada di tanganmu, Nona, aku hanya butuh jawaban ya atau tidak. Kau punya waktu satu menit untuk menentukan masa depan mu,” ucap Ellard. Pria itu kembali duduk di sofa. Ellard terlihat begitu santai di atas penderitaan orang lain. Pria itu sepertinya benar-benar jelmaan iblis tampan.
Allisia semakin dibuat bingung. Dia tidak tahu sebesar apa kekuasaan yang di miliki oleh pria yang duduk disampingnya. Allisia tidak pernah mengerti kenapa Tuhan mempertemukannya dengan pria tidak memiliki hati seperti Ellard. Sejak bertemu dengan Ellard, hidup tenang Allisia jadi berantakan. Dunia yang sangat dia cintai berubah menjadi dunia yang sangat dia benci. Pria itu di ciptakan seolah hanya untuk menyiksanya.
“Harusanya kau beratanggung jawab. Kalau bukan karena ulah mesummu malam itu, aku tidak akan berakhir seperti ini. Seharusnya sekarang aku sedang menikmati liburanku,” ucap Allisia. Dia masih menatap Ellard dengan tajam tapi pria itu sepertinya tidak terpengaruh sama sekali. Ellard masih terlihat tenang.
“Sayang sekali, kau berpikir terlalu lama untuk sesuatu yang sederhana,” ucap Ellard dengan wajah di buat penuh permohonan maaf. Allisia melotot ketika melihat pesan yang di perlihatkan oleh Ellard sudah terkirim pada atasannya. Allisia bergerak cepat kearah Ellard untuk merebut ponsel milik pria itu namun sayangnya Ellard jauh lebih cepat. Pria itu mengangkat ponselnya tinggi-tinggi. Allisia berusaha mengambilnya namun suara dari ponselnya membuat Allisia lari terbirit-b***t kearah kamar.
Sayang sekali waktumu harus berakhir hari ini nona Warren. Mulai besok kau tidak perlu lagi datang ke kantorku
Allisia melotot, dia mencengkram ponselnya erat-erat. Wajahnya menegang karena emosi, dadanya terasa sangat sesak. Allisia benar-benar benci penolakan. Gadis itu berlari keluar kamar dengan mata yang sudah memanas. Dia berhenti di hadapan Ellard yang masih duduk santai di atas sofa.
“Hapus pesannya dan katakan pada tua bangka yang jelek itu bahwa kau ingin bekerja sama dengan perusahaannya,” ucap Allisia dengan wajah merah dan mata berkaca-kaca. Ellard mengeryitkan dahinya dengan tatapan jahil kearah Allisa.
“Aku tidak bisa,” jawab Ellard santai. Allisa mengepalkan tangannya disisi tubuhnya.
“KATAKAN PADANYA DAN AKU AKAN MENJADI WANITAMU!” seru Allisia dengan keras seiring dengan air mata yang mengalir dipipinya. Dia sangat benci keadaan seperti ini. Dia tidak ingin terlihat lemah di hadpaan Ellard Whalen tapi kenyataannya Allisia tidak bisa menghilangkan kebiasaan buruknya, dia akan selalu menangis ketika seseorang memaksanya dan menolaknya.
“Kau, apa?” tanya Ellard, tatapan jahil dan seringai puas terlihat jelas di matanya. Allisia mengerucutkan bibirnya.
“AKU AKAN MENJADI WANITAMU!” seru Allisia dengan cepat. Sebelah tangannya memukul lengan Ellard sebelum duduk di sofa dan menyembunyikan wajahnya di kakinya yang di tekuk.
“Dasar pria menyebalkan, tidak punya hati dan mesuum. Aku tidak sudi dekat-dekat denganmu. Aku benci om-om mesium itu, Daddy!” racau Allisia dengan segukan. Dia masih menangis seperti anak kecil. Ellard hanya menggeleng melihat tingkah Allisia. Gadis itu selalu bertingkah tidak terduga.
Tangan Ellard bergerak menepuk-nepuk puncak kepala Allisia namun langsung di tepis oleh wanita itu.
“Jangan sentuh rambut mahalku!” seru Allisia, dia kemudian menatap kearah Ellard dengan wajah memerah, bibir mengerucut pertanda dia benar-benar kesal. Ellard mati-matian untuk tidak tertawa melihat wajah konyol gadis di hadapannya.
“Baby, cepat bersihkan dirimu. Kau terlihat sangat jelek,” ucap Ellard tidak tahu diri. Tangis Allisia semakin keras namun dia dengan cepat beranjak dari sofa. Ellard yang melihat itu terkekeh pelan. Allisia Warren benar-benar gadis yang tidak terduga. Galak tapi mudah sekali menangis. Terlihat kuat tapi kenyataanya sangat manja. Entah apa lagi kejutan yang akan di berikan gadis itu dan Ellard sangat menunggunya.