“Apa yang kau lakukan?” Allisia menatap aneh pada Ellard yang melemparkan tali keluar jendela Apartemen Heyley. Pria bersetelan jas mahal itu tetap fokus pada kegiatannya. Setelah tali itu menjuntai ke tanah dengan sempurna. Ellard mengikat tali itu di sisi kanan jendela. Dilihat dari cara Ellard mengikat tali Allisia yakin Ellard sudah sering melakukan itu.
“Kau sedang apa?” Allisia masih menatap aneh ke arah Ellard. Pria yang terlihat sangat menawan dari berbagai sisi itu melepas jas kemudian memberikannya pada Allisia. Aroma parfum Ellard menusuk indra penciuman Allisia. Allisia sepertinya belum pernah mencium bau parfum ini padahal sejak dulu Allisia sangat suka mengoleksi berbagai parfum mulai dari harga paling murah sampai harga paling mahal. Mulai dari yang mudah di dapat di pasaran sampai yang limitied edition.
“Bersiap untuk pergi,” jawab Ellard dengan sangat santai. Allisia menatap keluar jendela. Posisinya sekarang cukup tinggi dari permukaan tanah.
“Lewat jendela? Kau serius?” Allisia menatap ngeri ke bawah. Ellard benar-benar gila. Apartemen ini memiliki pintu untuk keluar dan pria gila ini memilih keluar dari apartemen lewat jendela menggunakan seutas tali.
“Tidak ada pilihan lain, Baby. Kita harus segera meninggalkan tempat ini sebelum mereka menyerang dengan ganas.” Ellard melepas kancing lengan kemeja dan melipatnya sampai siku membuat jam tangan rolex yang melingkar di pergelangan tangannya terlihat dengan sempurna.
“Kita?” Kening Allisia berkerut. Dia menatap Ellard dengan bingung. Perasaan Allisia mulai tidak tenang.
“Kau dan aku. Kita harus meninggalkan apartemen ini secepat mungkin. Kau tidak ingin di serang oleh wartawan dan para fansku yang sudah menunggu di depan sana bukan?” tanya Ellard. Dia menyeringai. Menatap Allisia dengan satu alis terangkat. “Mereka terkenal sangat brutal. Mereka akan menyingkirkan siapapun yang berani menempel padaku!” Ellard memasang ekspresi bahwa dia benar-benar takut dengan fans-fansnya yang sudah berjaga di pintu utama apartemen sejak pagi buta.
“Aku tidak mau di serang dan aku juga tidak mau keluar lewat jendela ini. Kau gila? Aku masih ingin hidup, Om!” seru Allisia. Dia kembali menatap keluar jendela. Bulu kuduk Allisia merinding. Dia takut ketinggian. Melihat permukaan tanah yang jauh di bawah sana sudah berhasil membuat isi perut Allisia bergejolak. Kepalanya pusing dan Allisia pastikan sebentar lagi mual akan menyerangnya.
“Kau harus ikut turun bersamaku, Baby. Kita tidak punya bayak waktu.” Ellard sudah melopat ke atas jendela. Allisia tidak melihat sedikitpun ketakutan di wajah Ellard. Alih-alih takut, pria itu justru terlihat sangat menikmati. Benar-benar pria gila.
“Lempar jasku ke bawah dan segera bergabung denganku. Kita akan turun bersama!” Seru Ellard. Allisia dengan ragu kembali melangkah mendekati jendela. Dia melempar jas mahal Ellard dengan perasaan tidak tega. Allisia mengambil kursi yang ada di sebelah kiri jendela kemudian mulai naik. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari sebelumnya. Mata Allisia langsung terpejam saat dia berhasil duduk di kusen jendela. Allisia tanpa sadar kini mencengkram lengan Ellard membuat pria itu menyeringai jahil.
“Dasar penakut!” seru Ellard. Dia masih betah lama-lama duduk di kusen jendela. Cengkraman tangan Allisia semakin erat begitu pula dengan mata gadis itu.
“Aku tidak takut. Ini caraku menikmati ketinggian!” seru Allisia. Gadis berambut pirang itu masih berusaha keras mempertahankan harga dirinya di depan Ellard. Sedikitpun Allisia tidak akan bisa menerima jika dia kalah dari Ellard Whalen. Pria yang membuat Allisia jatuh miskin seperti sekarang.
“Benarkan? Tapi kau terlihat sangat ketakutan!” seringai jahil Ellard tercetak semakin sempurna. Dia sangat menikmati ekspresi Allisia.
“Aku tidak takut, Om!” seru Allisia dengan nada suara meninggi. Sebelah matanya terbuka sebentar kemudian kembali terpejam. Ellard terkekeh pelan. Dia memegang tali yang sudah dia siapkan kemudian tanpa aba-aba pria itu memeluk Allisia dan bergerak turun. Allisia terpekik karena kaget. Dia mengeratkan pelukannya pada Ellard, menyembunyikan wajahnya di d**a bidang pria itu.
“OM, KAU BENAR-BENAR GILA! AKU TIDAK MAU!” Allisia berteriak dengan heboh. Ellard terkekeh pelan. Pria itu bahkan sengaja berlama-lama ada di tengah. Ellard menikmati ekspresi ketakutan Allisia. Gadis berambut pirang itu sangat menggemaskan saat ketakutan.
“Kita sudah sampai,” ucap Ellard. Allisia perlahan membuka matanya namun gadis itu kembali berteriak. Dia memeluk Ellard semakin erat. Pria itu membohonginya. Mereka masih di atas!
“OM!” Allisia rasanya ingin menangis. Kepalanya pusing, perutnya melilit karena takut.
“BAWA AKU TURUN SEKARANG ATAU AKU AKAN MELAPORKANMU PADA DADDY-KU!” Allisia mengancam Ellard dengan mata terpejam. Itu terlihat sangat menggelikan.
“Setahuku kau sudah tidak dianggap lagi sebagai putri oleh Daddy-mu itu. Jadi sekarang nasibmu ada di tanganku, Nona Warren.” Ellard masih menggoda Allisia.
“Presetan dengan itu semua. Aku ingin turun, Om!” seru Allisia dengan suara bergetar. Ellard terkekeh. Pria itu kemudian bergerak turun dengan cepat sampai kakinya menginjak rerumputan yang ada di belakang apartemen Heyley.
Apartemen ini sebenarnya apartemen tua yang hanya terdiri dari enam lantai dan sebelas kamar bahkan tidak ada lift di apartemen ini. Ellard tetap mempertahankan kesan klasik dari apartemen ini. Ellard membelinya beberapa tahun lalu saat dia beberapa kali mencoba melarikan diri dari tanggung jawabnya sebagai pengganti Lucas Whalen sebagai CEO Whalen Company. Dan akhirnya Ellard menyerah pada takdirnya. Dia tidak ingin menyusahkan kakak ipar kesayangannya, Adelia Whalen yang sudah memberinya keponakan super tampan.
Allisia terduduk lemas di rerumputan. Jantungnya masih berdetak sangat kencang, perut Allisia juga terasa sangat melilit. Mata gadis itu memerah menahan tangis. Ellard berkacak pinggang menatap lurus ke arah Allisia.
“Apa yang kau lakukan? Cepat berdiri. Kita tidak punya waktu untuk bermanja-manja!” seru Ellard. Dia mengambil jasnya kemudian menyampirkan di bahu.
“Aku sepertinya tidak kuat berjalan, Om!” seru Allisia. Dia mendongak dan menatap Ellard.
“Berdiri atau kau ingin menginap di sini semalaman. Tapi terserah kau saja. Aku tidak ingin berada di sini lebih lama,” ucap Ellard. Dia sudah siap melangkah. Allisia mengapai jemari Ellard. Gadis itu kemudian berdiri.
“Aku ikut!” seru Allisia. Dia berdiri. Ellard tersenyum penuh kemenangan dan itu terlihat sangat menyebalkan di mata Allisia.
“Pilihan yang bagus, Baby.” Ellard mengedipkan sebelah matanya. Allisia mendengus namun dia tetap mengikuti langkah Ellard. Allisia yang menggengam erat jari kelingking Ellard.
“Kau benar-benar merepotkan. Apa kau tidak memiliki bodygourd?” tanya Allisia. Mereka melewati rerumputan kemudian melewati jalan setapak yang di apit oleh pepohonan.
“Tentu saja aku punya,” jawab Ellard. Dia fokus mempertimbangkan setiap langkahnya.
“Terus apa gunanya mereka? Kau seharusnya menyuruh mereka mengusir wartawan dan wanita-wanita simpananmu itu sehingga kita tidak perlu repot-repot melompat lewat jendela dan menelusuri semak berkular yang berhasil membuatku gatal-gatal,” gerutu Allisia. Dia tidak bohong. Tangan Allisia memerah karena rerumputan. Keringat mengalir di pelipisnya. Seumur hidupnya, Allisia bahkan tidak pernah membayangkan akan melakukan hal seperti ini. Sangat merepotkan dan menyebalkan.
“Kabur lewat jendela lebih menantang. Aku sangat menyukai pepohonan yang tumbuh di sini.” Allisia masih menggerutu. Tatapannya jatuh pada tangannya yang masih menggenggam jari kelingking Ellard. Sekarang mereka sedang melewati jalan berbatuan yang di apait oleh pohon-pohon tinggi. Terlihat seperti di film-fiml yang pernah Allisia tonton. Cahaya matahari menyelinap di balik dedauan rimbun itu berhasil menciptakan keindahan yang membuat Allisia terpukau. Gadis berambut pirang dan mata sebiru samudra itu menganga. Dia tidak pernah menyangka ada keindaan yang tersembunyi di balik hiruk pikuk kota Manhattan yang selalu sibuk setiap detiknya.
Sayup-sayup Allisia mendengar suara mesin kendaraan. Semakin melangkah suara kendaraan itu terdengar semakin dekat. Mata Allisia membola ketika mereka sampai di jalan Broadway yang hiruk pikuk. Ellard menutupi wajah Allisia dengan jasnya kemudian pria itu dengan mudah mencegat taksi dan menarik Allisia masuk ke dalamnya. Taksi itu melaju dengan cepat sesuai perintah Ellard. Allisia mengerutu, Dia menghempas dengan keras jas Ellard yang menutup kepala sampai ke wajahnya.
“Taksi?” tanya Allisia dengan kening berkerut. Ellard mengangguk santai. Pria itu mulai fokus dengan ponselnya. Membalas beberapa email dan beberapa pesan dari orang-orang suruhannya.
“Kenapa dengan taksi?” tanya Ellard. Dia menyimpan ponselnya ke dalam saku celana. Kembali mengancing lengan kemejanya dengan santai tapi terlihat sangat sempurna di mata Allisia. Pesona Ellard Whalen benar-benar memukau tapi entah kenapa Allisia merasa tidak tertarik pada pria itu. Allisia masih dendam pada Ellard. Kejadian di night club masih terlukis dengan jelas di ingatannya.
“Aku pikir orangmu sudah menunggu kita. Kau ini benar-benar pemilik Whalen Compnay atau bukan?” tanya Allisia. Allisia kebingungan sejak semalam. Setahu Allisia pengusaha-pengusaha yang memiliki kekayaan melimpah tidak membutukan taksi. Daddy-nya selalu di antar jemput oleh supir kemanapun bahkan ada satu mobil yang mengikuti dari belakang yang berisi bodyguard yang selalu menjaga Daddynya.
“Orang?” tanya Ellard dengan kening berkerut.
“Supir. Daddy-ku biasanya selalu diantar oleh supir kemanapun untuk menghemat waktu. Kau ini benar-benar CEO Whalen Compnay atau tidak? Kalau dilihat-lihat, kau tidak cocok ada di posisi itu.” Allisia berkata dengan jujur. Menurut Allisia, Ellard lebih cocok berdiri di balik mesin esspreso di bandingkan di balik meja mewah yang pernah Allisia lihat di kantor Ellard beberapa hari yang lalu.
“Aku bukan Daddy-mu dan aku menyukai kebebasan,” jawab Ellard dengan santai. Dia menatap Allisia yang kini menyeringai padanya.
“Aku sepertinya sangat setuju dengan itu. Kebebesan. Night club. Sudah berapa banyak wanita yang kau tarik ke ranjangmu?” tanya Allisia memicing dan menatap Ellard dengan rendah.
Ellard terkekeh pelan. “Aku menyerah. Pertanyaanmu sulit sekali. Tapi tenang saja, setelah ini giliranmu.” Ellard tersenyum miring menggoda. Allisia menatap pria itu horor.
“DALAM MIMPIMU. DASAR OM-OM MESUMM!” seru Allisia dia memukul lengan Ellard dengan brutal tapi pria itu hanya terkekeh. Menggoda Allisia sepertinya sudah menjadi hobi baru untuk Ellard. Allisia selalu berhasil membuat orang-orang di sekitarnya tertawa dengan tingkah tidak terduganya.