WHEN I MEET YOU | 6

1354 Kata
    Bibir Allisia mengerucut ketika Ellard membawanya ke salah satu ruang yang selama ini sangat Allisia hindari. Allisia berpikir taksi kuning itu akan membawanya dan Ellard tengah-tengah hunian mewah di  Manhattan namun taksi itu justrunya membawanya dan Ellard ke Brooklyn yang terkenal dengan gedung-gedung tuanya termasuk dengan kediaman Ellard Whalen.     Allisia pikir pria seperti Ellard akan memilih tinggal di gedung mewah di tengah-tengah kota Manhattan tapi pria itu justru memilih menetap di gedung tua dua lantai di Brooklyn. Dari luar memang gedung ini tampak sama dengan gedung-gedung lainnya namun ketika masuk ke dalam gedung itu, semua berubah drastis. Semua ornamen tempat tinggal Ellard terbuat dari kayu bahkan lantainya pun terbuat dari kayu.     “Aku? Kau serius?” tanya Allisia sambil menunjuk dirinya sendiri. Mata biru itu membulat sempurna.  Ellard mengangguk sambil bersandar di sisi pantry. Pria itu tidak lagi memakai pakaian formalnya. Rambut yang tadi pagi di sisir rapi berubah menjadi acak-acakan. Allisia berusaha keras untuk tidak terpengaruh sedikitpun dengan penampilan Ellard yang jauh lebih seksi dengan kaus putih yang membuat otot-otot Ellard terlihat samar.     “Aku tidak pernah seserius ini. Sekarang masak, aku tidak ingin mati kelaparan,” ucap Ellard dengan santai. Pria itu mengacak rambutnya pelan kemudian melangkah meninggalkan dapur begitu saja.     “Pastikan semua selesai dalam waktu lima belas menit, Nona Warren!” Allisia menatap pria itu dengan mulut yang semakin menganga tidak percaya.     Allisia menatap ruangan di sekitarnya dengan nanar. Seumur hidupnya Allisia bahkan belum pernah sekalipun menginjakkan kakinya di dapur. Allisia selama ini selalu di layani. Dia hanya tahu makanan itu jadi tanpa tahu bagaimana proses pembuatannya.     Allisia memilih membuka lemari es, menatap berbagai macam bahan manakan yang di susun  rapi di sana. Bahkan, nama bahan-bahan yang ada di dalam lemari es itu Allisia tidak tahu selain ayam dan daging. Pundak Allisia semakin merosot ke bawah, bibir gadis berambut pirang dan bermata biru itu mengerucut kesal. Matanya bergerak dengan gelisah.     Hampir sepuluh menit Allisia hanya diam mematung menatap sekelilingnya tanpa tahu harus melakukan apa. Allisia merasa sangat asing. Dia tidak tahu apa-apa. Sedikit rasa sesal terbesit dalam hatinya, seharusnya dulu Allisia menerima ajakan Maureen, mommy-nya memasak saat weekend tiba namun saat itu Allisia justru memilih mengurung diri di kamar dengan cemilannya. Allisia kembali mendesah, waktu yang di berikan oleh Ellard bahkan hanya tersisa tiga menit lagi dan dia masih belum melakukan apa-apa.     “Allisia, waktumu habis, bawa semua makanan buatanmu ke sini!” suara teriakan itu membuat Allisia tergejolak kaget. Gadis itu kembali menggerutu.     “Allisia waktumu habis, bawa semua makanan buatanmu ke sini!” Allisia menirukan ucapan Ellard. Tiba-tiba senyum cerah penuh kemenangan terukir begitu saja di bibir tipis itu. Ketika dia mendapatkan ide yang sangat-sangat brilian.     “Makananmu segera datang, tuan Whalen.” Allisia tersenyum semakin puas dan melangkah santai ke tempat Ellard Whalen.     ***     “Selamat menikmati makanan siang anda, tuan Whalen,” ucap Allisia dengan senyum cerah. Gadis itu meletakkan nampan di atas meja kecil yang ada di hadapan Ellard sebelum duduk di bangku yang ada di hadapan pria itu. Allisia diam berdecak kagum melihat pemandangan di hadapannya. Halaman belakang rumah Ellard di tumbuhi pohon-pohon besar sama persis seperti di belakang apartemen Heyley. Udara segar langsung menusuk indra penciuman Allisia dan langsung memenuhi paru-paru gadis itu.     “Makan siang?” tanya Ellard menatap Allisia tidak percaya.     “Tentu saja.” Senyum Allisia semakin cerah. Ellard menggelengkan kepalanya kuat-kuat.     “Sayur mentah dan ayam mentah, ini yang kau sebut makan siang?” Ellard menunjuk beberapa sayuran dan ayam yang di tata Allisia di atas nampan bahkan ayam itu masih beku. Benar-benar gadis manja. Ellard tiba-tiba ingin menggantung Allisia di pohon palem yang ada di belakang rumahnya.     “Tentu saja, tuan Whalen,” ucap Allisia sambil nyengir. Gadis itu mengusap tangannya yang masih memerah akibat terkena semak berkular di belakang apartemen Heyley.     “Aku tidak memakan makanan mentah.” Ellard mendorong sedikit nampan itu untuk lebih dekat pada Allisia, “karena aku sangat baik hati, makanan itu untukmu saja,” lanjut Ellard dengan wajah santai, dia melipat kedua tangannya.     Allisia mengangkat wajahnya dan menatap Ellard dengan mata melotot. “Aku?” tanya Allisia sambil menunjuk dirinya sendiri.     “Tentu saja, bukannya ini makanan kesukaanmu?”     Allisia menghela napasnya pelan, dia menatap nanar ke arah ayam yang sudah mengembun pertanda es-nya akan segera mencair dan kemudian kembali menatap Ellard yang dengan wajah muram.     “Om,” panggil Allisia. Ellard menyeringai dengan salah satu bibir terangkat.     “Aku tidak suka makanan mentah.” Allisia memainkan jari-jarinya. Matanya bergerak gelisah. Seringai Ellard semakin terlihat menakutkan dan Allisia sangat membenci itu.     “Tidak suka makanan mentah tapi kau membawakan makanan mentah untukku?” Suara Ellard mengalun rendah. Bibir Allisia semakin mengerucut seiring dengan matanya yang mendadak berkaca-kaca. Allisia sangat membenci ketika seseorang berusaha memojokkannya dan membuatnya terjebak dalam posisi yang sulit.     Napas gadis itu semakin memburu, Allisia kemudian menatap Ellard dengan sengit, “badanku gatal-gatal tapi kau tidak peduli dan kau malah menyuruhku memasak! Aku tidak bisa memasak, Om! Seumur hidupku, di rumahmu untuk pertama kalinya aku menginjak dapur!” Air mata Allisia mengalir tanpa di minta, wajah putih pucat gadis itu kini memerah. Ellard lagi-lagi dibuat tercengang. Allisia Warren benar-benar gadis yang tidak terduga. Mata Ellard kemudian turun ke tangan Allisia, gadis itu tidak berbohong, tangan Allisia memang memerah.     “Jadi tuan putri kita tidak bisa memasak?” tanya Ellard dengan tatapan merendahkan. Allisia merasa emosinya semakin membumbung tinggi. Ellard Whalen adalah orang pertama yang selalu membuat ego Allisia tersentil. Pria itu selalu merendahkannya.     “Bukan tidak bisa tapi aku belum belajar!” Allisia menyerukan apa yang ada di kepalanya. Dia bukan tidak bisa memasak tapi dia belum belajar memasak. Iya benar, Allisia hanya belum belajar saja.     “Tugas utamamu setiap kembali ke sini setelah bekerja adalah memasak makanan untukku dan aku tidak ingin melihat hidangan makanan mentah lagi setelah ini,” ucap Ellard. Pria itu kemudian menghubungi seseorang dan melangkah sedikit menjauh dari Allisia.     “Selain itu kau harus tetap tinggal di sini bersamaku. Kau tidak boleh kemana-mana atau terlambat pulang ke sini setelah bekerja. Aku tidak menyukai orang yang tidak tepat waktu.” Ellard kembali mendekat. Allisia sudah siap-siap membuka mulut untuk melayangkan protesnya namun Ellard kembali melanjutkan ucapannya, “kalau kau tidak bisa menerima semua syarat-syarat dariku, aku kapan saja bisa membatalkan kerja sama dengan perusahaan tempatmu bekerja.”     Sialan! Ellard Whalen benar-benar bajingann tampan yang ingin Allisia lenyapkan dari muka bumi. Demi apapun, Allisia ingin menghancurkan hidup Ellard sampai-sampai pria itu memohon padanya.     “Sekarang, kau harus ikut denganku dan jangan pernah menangis lagi di hadapanku karena aku sangat benci wanita dengan air mata palsu mereka.” Allisia mengusap sisa-sia air matanya dengan kasar lalu mengikuti langkah Ellard Whalen ke dalam rumah. Satu hal yang baru saja Allisia sadari. Sedari tadi tidak ada seorang pelayan di sini. Rumah ini memang tidak sebesar rumah Daddy-nya tapi juga tidak bisa di katakan kecil.     “Apakah di sini tidak ada pelayan?” tanya Allisia ketika mereka duduk di sofa yang ada di ruang santai. Di dinding dekat sofa itu ada rak yang di penuhi oleh buku-buku yang Allisia yakin dari berbagai bahasa.     “Tentu saja ada,” jawab Ellard. Pria itu sedang membuka laci yang ada di sebelah sofa seperti sedang mencari sesuatu.     “Aku tidak melihat pelayan di sini.” Allisia kembali mengedarkan pandangannya. Menatap ke seluruh sudut namun tetap tidak ada seorangpun di rumah ini.     “Kau, bukankah kau sekarang pelayan di rumahku?” tanya Ellard santai. Lagi-lagi mulut Allisia membulat sempurna dan menatap tidak percaya pada Ellard.     “AKU? KAU SERIUS?” tanya Allisia. Ellard mengangguk dan menggeser sedikit tubuhnya untuk lebih dekat dengan Allisia.     “Tentu saja, Nona!” seru Ellard kemudian pria itu memegang tangan Allisia.     “AKU TIDAK MAU MENJADI PELAYANMU, OM!” Allisia menggeser tubuhnya sedikit menjauh dari Ellard namun pria itu menahannya.     “Kau tidak punya pilihan lain Sia dan sekarang mari kita obati terlebih dahulu tanganmu.” Ellard mulai mengolesi tangan Allisia dengan obat yang Allisia sendiri tidak tahu namanya namun Allisia tidak lagi mengeluarkan protesnya saat melihat wajah serius Ellard dari samping.     Sialan! Kenapa pria itu terlihat benar-benar tampan di saat-saat seperti ini?!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN