Allisia tidak tahu harus melakukan apa lagi, sepanjang dia menghirup udara di New York, ini untuk pertama kalinya Allisia bingung untuk melakukan apa, hidupnya sekarang benar-benar sudah berubah dratis. Seharian hanya Allisia habisnya duduk di halaman belakang rumah Ellard sedangkan sang pemilik rumah entah pergi kemana dan Allisia tidak peduli dengan itu. Daun-daun yang terus berguguran kemudian di bawa oleh angin adalah nyanyian yang biasanya terasa sangat menyenangkan namun hari ini Allisia merasa tidak lagi menyukai musim gugur. Musim itu membuat banyak hal dalam hidupnya berubah.
Brooklyn sepertinya bukan kota yang cocok untuk Allisia, dia tidak bisa melakukan apapun disini, Allisia lebih menyukai Manhattam yang ramai dan sangat hiruk pikuk, dia sangat memuja gedung-degung pencakar langit di sana begitu juga dengan pertokohan barang-barang mewah yang dulu bisa dia beli kapanpun namun sekarang untuk sekedar memikirkannya saja sudah berhasil membuat Allisia hampir gila.
Brooklyn adalah kota seni yang sangat menarik bahkan bangunan-bangunan di kita ini di desain dengan sangat unik namun Allisia merasa sangat bosan disini, dia lebih baik bersama Heyley di apartemen enam lantai dengan kamar sempit dibandingkan disini.
Disaat dedaunan jatuh di unjung kakinya, bukannya tersenyum Allisia justru mengerang kesal dan mengacak-acak rambutnya. Ellard Whalen, om-om m***m menyebalkan itu benar-benar membuat otak cerdas Allisia sulit untuk berpikir.
Setelah mengobati tangannya dengan penuh kehati-hatian, Ellard kemudian tersenyum layaknya seorang iblis. Ellard juga mengatakan, Allisia harus menyiapkan makan malam untuknya. Dapur lagi dan dapur lagi. Allisia tidak ingin menyentuh tempat menyebalkan itu lagi.
“Apa dia benar-benar gila? Apa ayam mentah itu tidak membuatnya merasa trauma, harus aku apakan Ellard sialan itu?!” seru Allisia pada sehelai daun berwarna kuning yang ada di ujung kakinya.
Allisia kembali menggerutu, dia mengambil ponselnya yang sedari tergeletak tidak berdaya di atas meja, bahkan hari ini Allisia merasa tidak tertarik sama sekali pada belahan jiwanya yang satu itu. Allisia kembali melakukan hal yang sama saat dia lakukan di dapur, melihat tutorial cara memasak sesuatu yang layak di santap saat malam hari.
“Bahkan aku tidak tahu seperti apa bumbunya!” Allisia kembali mengeluh, dia bahkan belum menyantap apapun sejak tadi, di tempat penyimpanan makanan Ellard hanya ada sayuran mentah dan beberapa kaleng minuman bersoda serta jejeran wine yang di kunci di dalam lemari tingginya seolah benda itu adalah benda paling berharga.
Allisia mengerang putus asa, gadis itu membenturkan kepalanya berkali-kali ke meja, Allisia rasanya ingin melompat dari jembatan Brooklyn lalu tenggelam di sana dengan para ikan.
“Aku benar-benar sudah gila!” seru Allisia, dia kemudian bangkit dari kursi dan masuk ke dalam rumah Ellard, sepi, itu gambaran satu-satunya rumah Ellard, Allisia lagi-lagi mengerang, gadis itu memilih tiduran di sofa, Allisia merasa sangat lelah dan perutnya juga sangat lapar.
***
Pria dengan setelan jas dan wajah datar itu memasuki rumahnya, Ellard baru saja menyelesaikan semua pekerjaannya, pria itu mengerang pelan, Ellard sangat membenci pekerjaan ini, dia lebih senang menghabiskan waktunya di W Coffe di bandingkan harus menghabiskan waktunya di Whalen Company. Pekerjaan di sana benar-benar sangat menyiksa Ellard. Andai saja Lucas Whalen masih ada di sini pasti Ellard sudah menikmati kebebesan atau setidaknya kakak iparnya yang baik hati lebih memilih menetap di Manhattan di bandingkan Jakarta mungkin Ellard masih bisa sedikit bernapas.
Pria itu terus melangkah masuk, kegelapan menyambutnya, Ellard berdecak pelan, dia menyalakan lampu, matanya bertemu dengan sosok Allisia yang meringkuk di sofa, mata gadis itu terpejam rapat.
Ellard melangkah mendekat, dia mengamati wajah Allisia dengan lekat, Allisia bahkan masih terlihat sangat manja ketika tidur, sepertinya sifat itu sudah menjadi bagian dari Allisia Warren sejak gadis itu ada dalam perut ibunya.
“Allisia!” seru Ellard, dia berdiri di samping sofa. Allisia bergumam namun gadis itu sama sekali tidak membuka matanya. Ellard berdecak pelan, dia kembali menatap gadis itu dengan lekat bahkan pria itu duduk di pinggiran sofa yang di tiduri oleh Allisia.
Allisia Warren, nama itu sangat terdengar sangat cocok untuk seorang gadis seperti Allisia, mata Ellard kemudian terpaku pada bibir Allisia yang sedikit memucat, Ellard yakin lipstik yang di gunakan Allisia sudah memudar. Ellard tersenyum tipis, dia masih ingat bagaimana rasa bibir tipis itu, sangat memabukkan dan Ellard menginginkannya lagi dan Ellard akan mendapatkannya lagi.
Ellard sedikit menundukkan wajahnya, medekat ke arah wajah Allisia, napas lembut gadis itu mulai menerpa kulit wajanya. Mata Ellard tidak lepas sedikitpun dari wajah Allisia, bahakan saat jarak di antara mereka hampir terkikis habis, Ellard sama sekali tidak memutus pandangannya.
“Om,” suara lirih dan serak itu tidak membuat Ellard mejauhkan wajahnya dari Allisia, dia mengamati pergerakan kelopak mata Allisia sampai mata gadis itu benar-benar terbuka, iris mata cokelat Ellard bertemu dengan bola mata sebiru samudra milik Allisia.
“Om, aku lapar,” gadis itu mengerjabkan matanya, Allisia bahkan menguap dengan sangat santai di depan wajah Ellard, tatapannya tidak lepas sedikitpun dari bola mata hangat milik Ellard.
“Aku belum memakan apapun sejak pagi, aku benar-benar kelaparan.” Ellard tidak bergerak sedikitpun, dia masih terpaku pada Allisia yang menatapmya dengan sayu.
“Aku sudah menonton banyak sekali tutorial cara memasak di youtube tapi aku tidak tahu seperti apa bumbu-bumbu yang mereka maksud bahkan aku tidak bisa menyalakan kompornya, aku rasanya benar-benar sudah gila!” Mata Allisia mendadak berkaca-kaca membuat Ellard mengerjabkan matanya perlahan, gadis ini ajaib sekali. Apa memasak adalah hal yang paling menyiksa bagi Allisia Warren. Ellard menjauhkan tubuhnya dari Allisia membuat gadis itu ikut beringsut duduk, tangan Allisia kini melingkar erat di lengan Ellard.
“Om, aku kelaparan!” Allisia kembali merengek, dia menatap Ellard dengan lekat, “benar-benar sangat lapar, rasanya aku sudah kuat lagi menahan berat tubuhku, seharusnya kau tidak membawaku ke sini kalau kau tidak berniat memberiku makan. Heyley tidak akan pernah membiarkanku kelaparan seperti ini. Aku ingin makan, Om!” gadis itu kembali merengek. Ellard kembali menatap Allisia, gadis itu mengerjabkan matanya, menggemaskan. Tidak ada lagi wajah super nyebelin gadis itu, Allisia terlihat seperti kucing dengan ekpresi merajuk dan mata berkaca-kaca seperti itu.
“Bisa lepaskan tanganmu dari lenganku?” tanya Ellard dengan dingin, Allisia menggeleng pelan.
“Tidak akan ku lepaskan sebelum kau memberiku makan!” seru Allisia, Ellard berdecak pelan, dia menatap Allisia dengan tajam.
“Nona Warren!” seru Ellard dengan suara rendah, Allisia tetap menggelengkan kepalanya.
“Aku benar-benar butuh makan om, aku harus memiliki tenaga untuk menaiki kereta bawah tanah dan menaiki bus besok pagi!” seru Allisia keras kepala. Ellard menarik napasnya pelan. dia menatap gadis yang masih memeluk lengannya dengan tajam.
“Bagaimana kau bisa mendapatkan makan, jika kau terus menempel padaku!” seru Ellard, tatapan berkaca-kaca Allisia kini berubah menjadi berbinar, dia menatap antusias.
“Kau akan memberiku makanan?!” tanya Allisia, dia menatap Ellard riang, pria itu mengangguk, dia kemudian melepaskan tangan Allisia dari lengannya.
“Aku ingin pizza!” seru Allisia antusias, itu adalah salah satu makanan favoritnya. Ellard menatap gadis itu datar lalu melepas jasnya dan melangkah ke ke arah dapur.
Allisia langsung melompat dari sofa kemudian menyusul Ellard dengan senyum lebarnya.
“Aku ingin pizza ,Om, ayo pesan pizza sekarang juga!” seru Allisia riang, Ellard berdecak pelan melihat tingkah gadis itu, Allisia lebih cocok menjadi anak TK di bandingkan gadis berusia 22 tahun.
“Tidak ada pizza, Nona!” seru Ellard, dia mengeluarkan beberapa bahan dari dalam lemari es, Allisia menatap Ellard penuh kecewa, binar di wajah Allisia langsung lenyap entah kemana, Ellard mengeryitkan keningnya, entah dengan kekuatan apa Allisia bisa berganti ekspresi secepat itu.
“Terus aku akan memakan apa? Aku tidak suka ayam mentah, Om!” seru Allisia saat Ellard mengeluarkan ayam dari lemari es, gadis dengan bola mata sebiru samudra itu menatap ngeri pada ayam di hadapannya.
“Kau bahkan menghidangkan ayam mentah yang masih beku untuk makan siangku, Nona Warren!” seru Ellard, pria itu melipat lengan kemejanya sampai siku kemudian mulai memotong ayam itu menjadi bagian-bagian lebih kecil.
“Aku akan memasak makan malam, jadi berhenti merajuk seperti anak kecil, bahkan keponakanku terlihat lebih dewasa darimu!” seru Ellard, Allisia mengerucutkan bibirnya, matanya kini terpaku pada tangan Ellard yang terlihat begitu telaten memotong daging ayam.
“Kau benar-benar bisa memasak?” tanya Allisia dengan ragu-ragu, setahu Allisia, kebanyakan pria itu tidak bisa memasak, apalagi para pria eksekutif seperti Ellard yang sehari-hari tubuhnya di baluti jas mahal dan bekerja dari balik meja kekuasaanya.
“Aku bahkan bisa melakukannya lebih baik dari para pelayan di rumahmu,” jawab Ellard, dia menjauh dari Allisia, mencuci ayam kemudian menyiapkan semua peralatan yang dia butuhkan. Allisia menatap Ellard dengan lekat, Allisia bahkan baru menyadari Ellard memiliki punggung lebar yang terlihat sangat sempurna. Gadis itu mengukur punggung Ellard dengan jengkalnya lalu tersenyum.
“Benar-benar lebar,” gumam Allisia, dia menopang dagunya, matanya tidak lepas sedikitpun dari Ellard yang bergerak ke sana ke mari, Ellard seperti singa yang sangat menguasai medannya kala di dapur, pria itu tidak lagi terlihat menyebalkan di mata Allisia, di bandingkan menyebalkan, Ellard justru terlihat sangat seksi dan menggoda. Allisia buru-buru menggelengkan kepalanya saat menyadari kemesumannya.
“Berhenti berpikir mesuum Nona Warren sebelum aku benar-benar melakukannya padamu,” ucap Ellard, dia menatap Allisia dengan lekat. Allisia melotot.
“Siapa yang berpikiran mesuum? Aku tidak sepertimu yang hobi menyimpan wanita!” seru Allisia, Ellard menyeringai lalu melanjutkan masakannya. Allisia memilih turun dari kursi lalu melangkah mendekati Ellard.
“Om, di mana aku bisa mendapatkan air dingin?” tanya Allisia. Ellard menoleh lalu menunduk lemari pendingin yang ada di sebelah lemari pendingin yang dia gunakan untuk menyimpan sayur.
“Kau bisa mengambilnya di sana, jangan coba-coba mencicipi soda miliku, Nona, aku tidak ingin di repotkan malam ini dengan muntahanmu!” seru Ellard, Allisia yang sedang meneguk air mineralnya tersedak dan menatap Ellard dengan horor, Allisia berusaha dengan keras mengingat apa yang terjadi kemarin saat di apartemen Heyley.
Soda! Soda! Soda! Mata Allisia langsung melotot, dia menatap Ellard dengan horor. Allisia tidak bisa membayangkan hal gila apa yang dia lakukan saat sedang mabuk.
“Apa yang aku lakukan kemarin?” tanya Allisia, dia menatap Ellard sedikit ngeri.
“Hal gila yang membuatku kerepotan, bahkan kau menangis dengan ingus menempel kemana-mana.” Allisia melotot, dia merasa tidak memiliki muka untuk bertemu Ellard Whalen.
“Itu bukan aku, aku selalu tampil cantik dalam kondisi apapun!” seru Allisia, dia kembali duduk di kursi meja bar, membuang tatapannya ketika Ellard melangkah mendekat padanya. Demi apapun Allisia merasa sangat malu. Allisia berjanji tidak akan pernah menyentuh soda lagi, dia tidak akan pernah melakukannya!
“Itu bukan aku om, benar-benar bukan aku.” Ellard hanya tersenyum mengejek dan menyajikan General Tso Chicken di hadapan Allisia.
“Aku mengingat dengan jelas itu adalah kau, Nona Warren, selamat menikmati makan malam.” Allisia menghembuskan napasnya dengan keras, presetan dengan tingkah memalukannya, Allisia sekarang benar-benar sangat lapar dan masakan Ellard juga terlihat sangat layak untuk di telan.