WHEN I MEET YOU | 8

1965 Kata
“Dimana kamarku?” Allisia menatap Ellard dengan lekat, dia sudah menyelesaikan makan malamnya, Ellard sedang menikmati segelas kopi yang di racik sendiri oleh pria itu. Allisia berusaha dengan keras untuk tidak tertarik, dia tidak boleh menyukai kopi di hadapan Ellard Whalen. Allisia benar-benar tidak akan melakukannya, dia tidak ingin Ellard menjadi besar kepala kemudian meledeknya sepanjang waktu. “Kamarmu?” tanya Ellard dengan satu alis terangkat dan itu terlihat sangat menyebalkan bagi Allisia, demi apapun, ini sudah terlalu larut, Allisia bisa terlambat di hari pertamanya menjadi karyawan tetap di perusahaan properti tempatnya bekerja. “Iya, tentu saja kamarku, cepat tunjukkan di mana kamarku,” ucap Allisia, dia merasa sangat kelelahan, hari ini Allisia banyak melakukan aktivitas tidak terduga, mulai dari turun dari apartemen Heyley menggunakan tali sampai dengan berlarian menelusuri jalan untuk mencegat taksi lalu sekarang dia tiba-tiba sudah menetap sebagai warga Brooklyn. Benar-benar prestasi yang luar biasa. “Aku hanya menyedikan kamar untuk tamu.” Ellard menjawab dengan santai, dia menaruh gelas kopinya di meja bar. Menatap Allisia lurus. “Aku adalah tamu, jadi katakan di mana kamarku?” tanya Allisia. Alih-alih menjawab pertanyaan Allisia, Ellard justru bangkit dari kursinya lalu berdiri di samping gadis itu, Allisia mengeryitkan keningnya, menatap Ellard yang kini bersandar di meja bar sambil menatap ke arahnya. “Katakan om, di mana kamarku?” tanya Allisia, dia ikut berdiri dari kursinya, mata Allisia sekarang benar-benar sayu, menatap Ellard penuh permohonan. “Aku sudah mengatakan, aku hanya menyediakan kamar untuk tamu, Nona Warren.” “Aku adalah salah satu tamumu, jadi tolong tunjukkan dimana letak kamarku!” Allisia tiba-tiba terpekik saat Ellard menggendongnya layaknya karung beras, gadis itu memberontak namun Ellard terus berjalan, mengabaikan Allisia. “AKU BISA BERJALAN SENDIRI KE KAMARKU OM, AKU TIDAK INGIN DI GENDONG!” Allisia terus memberontak, Ellard masih menggendong tubuh gadis itu dengan santai, dia menaiki satu persatu anak tangga yang terbuat dari kayu. “OM, AKU BENAR-BENAR SUDAH MENGANTUK, AKU TIDAK INGIN BERTENGKAR LAGI DENGANMU!” Allisia kembali memberontak. “Aku sedang membawamu ke kamar Nona Warren!” Ellard menjawab dengan tenang, dia kemudian mendorong salah satu dari dua pintu yang ada di lantai dua rumahnya, pria itu melangkah masuk lalu menjatuhkan Allisia tubuh Allisia di kasur membuat gadis itu lagi-lagi terpekik, dia menatap Ellard dengan jengkel. “Apa ini benar-benar kamar untukku?” tanya Allisia, matanya menjelajah setiap sudut kamar itu, kamar yang cukup nyaman dengan semua perabotannya terbuat dari kayu, Allisia sangat yakin Ellard menyukai hal-hal yang berbau kayu dan klasik. “Dan juga kamarku,” jawab Ellard dengan santai, dia melepas satu persatu kancing kemejanya membuat Allisia langsung menjerit heboh, dia menatap Ellard dengan horor. “Kamarmu? Tidak! Tidak boleh, kamar ini akan menjadi milikku om!” jadi kau keluar dari sini dan cari kamar yang lain,” ucap Allisia, dia melompak dari tempat tidur dan mendorong tubuh Ellard yang masih di baluti kemeja namun semua kancingnya sudah lepas. “Tapi sayang sekali Nona Warren, rumahku hanya memiliki satu kamar,” jawab Ellard dengan seringai puas. Gerakan Allisia tiba-tiba berhenti, dia menatap Ellard tidak percaya. “Kau pikir aku akan percaya padamu? Kau tadi mengatakan akan menyediakan kamar untuk para tamumu, jadi aku mendapatkan jatah satu kamar karena aku adalah tamumu!” seru Allisia, Ellard menyeringai, dia mengikis jaraknya dengan Allisia membuat gadis itu mmendadak gelagapan. Ellard sedikit menunduk, wajahnya kini benar-benar ada di depan wajah Allisia. “Kau sepertinya melupakan sesuatu Nona, kau adalah wanitaku bukan tamuku,” ucap Ellard dengan suara bernada rendah, Allisia menahan napasnya. “Jadi sudah sewajarnya kita tidur di kamar yang sama atau kau juga boleh saja menolak dengan jaminan kau harus siap menerima surat pemecatan dari perusahaan properti tempatmu bekerja,” lanjut Ellard. Pria itu kini benar-benar melepaskan kemejanya, membuat Ellard kini shirtless di hadapan Allisia membuat gadis itu semkin kehilngan kata-katanya, Ellard yang menyadari itu tersenyum puas. “Jadi semua terserah padamu Nona Warren, aku akan pergi sebentar untuk membersihkan diri, kalau kau tiba-tiba merindukanku, kau tinggal masuk ke dalam kamar mandi yang ada di sebelah sana. Aku akan senang hati mandi bersama denganmu.” Ellaed mengedipkan sebelah matanya kemudian pria itu benar-benar hilang di telan pintu kamar mandi. Mata Allisia mengerjab perlahan seiring dengan hembusan napasnya yang memburu, Ellard benar-benar sangat berhasil membuat detak jantungnya memburu. “Tidur dengan pria menyebalkan itu? No! Aku tidak akan membiarkannya mengambil kesempatan dalam kesempitan!” seru Allisia, mata gadis itu kembali menjelajah setiap sudut kamar tidur Ellard, bahkan tidak ada satupun sofamdi kamar ini, Allisia semakin ragu, apa Ellard benar-benar seorang CEO dari perusahaan perhotelan yang super terkenal itu? Tatapan Allisia kemudian tertuju pada karpet yang ada di bawa pijakannya, dia meringis pelan. “Apa aku benar-benar harus tidur di karpet menyebalkan ini?” cicit Allisia pelan, tentu saja dia tidak akan melakukannya, Allisia tidak akan menyiksa tubuhnya sendiri. “Kau belum tidur?” suara serak itu membuat Allisia menoleh dengan jantung yang hampir melompat dari tempatknya, matanya terpaku melihat Ellard yang keluar dari dengan celana training tanpa atasan, pria itu mengusap rambutnya dengan handuk. Allisia hanya diam di pijakannya, otak cerdasnya mendadak blank, kedua matanya terpaku pada perut otot-otot Ellard yang terbentuk dengan sempurna, Allisia yakin, Ellard sangat senang menghabiskan waktu di tempat gym. “Terpesona, heh?” tanya Ellard, satu alisnya terangkat, Allisia mengerjabkan matanya kemudian menunjuk dirinya sendiri. “Aku?” tanya Allisia sambil terkekeh, “tentu saja tidak, aku tidak menyukai om-om mesuum sepertimu!” seru Allisia sembari mengangkat dagunya tinggi-tinggi, sudah Allisia katakan, dia tidak akan pernah kalah dari seorang Ellard Whalen. “Tapi sayang sekali Nona, aku benar-benar menginginkanmu malam ini,” ucap Ellard, dia menyeringai, Allisia menatap Ellard dengan horor lalu lari dan melompat ke atas tempat tidur. “Kau tidak akan pernah bisa menyentuhku walau kita tidur di ranjang yang sama, aku sudah menutupi tubuhku dengan selimut!” seru Allisia, gadis itu benar-benar melilitkan selimut di tubuhnya lalu merebahkan tubuhnya di kasur, dia langsung memejamkan mata, tentu saja Allisia sudah menyusun dua guling yang akan menjadi pembatas antaranya dan Ellard. “Jangan coba-coba masuk ke wilayahku atau aku akan menendangmu dari tempat tidur!” Ellard tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya, Allisia benar-benar seperti bocah lima tahun, bahkan Davide Liarendra Levine, keponakannya yang tinggal di Indonesia jauh lebih dewasa di bandingkan seorang Allisia Warren yang mengaku sudah menyelesaikan pendidikan bisnisnya. Ellard menaruh handuknya lalu bergabung bersama dengan Allisia di tempat tidur, Ellard merubah posisi tidurnya miring ke arah Allisia, mata gadis itu sudah terpejam namun Ellard sangat yakin, Allisia belum benar-benar masuk ke alam mimpinya, napas Allisia masih memburu. “Aku sangat tahu, aku cantik tapi om aku tidak akan pernah membiarkanmu menyentuhku, jadi singkirkan pikiran mesummu!” seru Allisia dengan mata terpejam. Ellard tidak melepaskan sedikitpun tatapannya dari Allisia, menggoda gadis ini sepertinya akan menjadi suatu hal yang akan Ellard sukai mulai hari ini. “Apa kau belum pernah berciuman atau tidur dengan seorang pria sampai kau terlihat sangat gugup?” tanya Ellard, Allisia masih memejamkan matanya dengan erat. “Tentu saja aku pernah, kau pikir untuk apa aku hidup selama 22 tahu tapi belum pernah mencoba hal menyenankan itu?” tanya Allisia, gadis itu sungguh pembohong yang sangat payah, Ellard terkekeh pelan. “Tapi ciumanmu malam itu sangat kaku sekali nona Warren bahkan kau terlihat sangat syok sampai-sampai kau menendang adik kecilku, jangan katakan itu adalah ciuman pertamamu.” Mata Allisia terbuka dengan lebar, dia menatap Ellard dengan sengit. “Kau bukan pria pertamaku! Aku bahkan sudah berciuman sejak high school, jangan terlalu berharap Tuan, aku tidak mungkin memberikan sesuatu yang berharga padamu!” seru Allisia, dia kemudian merubah posisi tidurnya menjadi membelakangi Ellard. “Kau adalah pembohong terburuk yang pernah aku temui Allisia dan aku sangat senang menjadi pria pertama yang mencicipi bibir manismu,” ucap Ellard, genggaman tangan Allisia pada selimutnya mengerat, demi gedung-gedung pencakar langit di Manhattan yang selalu berhasil menyihirnya, Ellard Whalen adalah pria paling menyebalkan yang pernah Allisia temuai di dunia ini. Allisia sangat membenci hal yang satu ini, dia tidak pandai berbohong. “Dan aku sangat merindukan bibir itu, selamat malam, Allisia,” bisik Ellard tepat di kuping Allisia namun sebelum Allisia melayangkan protesnya, Ellard sudah kembali ke wilayahnya sendiri kemudian menyalakan lampu tidur. Allisia berjanji dalam hati, dia benar-benar akan menendang Ellard ketika pria itu tidur pulas di tengah malam. Allisia akan melakukannya. *** Allisia sangat bersyukur dia bangun lebih pagi dari pada Ellard, mengingat bagaimana posisinya saat bangun tadi membuat Allisia memaki-maki dirinya sendiri, bagaimana tidak, Allisia terbangun dalam pelukan Ellard Whalen, bahkan Allisia menjadikan lengan pria itu sebagai bantalnya sedangkan bantal guling dan dan bantal yang dia gunakan sebelum tidur sudah berceceran di lantai. Allisia memakai pakaian kerjanya, rok span lima cm di atas lutut dia padukan dengan blouse berwarna creame serta high heels setinggi 7 cm, Allisia memilih mengikat tinggi rambut pirangnya dan mengoleskan make up natural. Allisia tidak tahu kapan barang-barangnya sampai ke rumah ini, mungkin saja Heyley yang mengirimkan untuknya dan Allisia akan menelpon Heyley nanti setelah dia menyiapkan sarapan untuk dirinya dan Ellard. Ya sarapan, Allisia sedang sibuk menyiapkan roti untuk dirinya dan Ellard, gadis itu juga menuangkan s**u ke gelas tapi s**u itu hanya untuk dirinya, Ellard pasti akan meracik kopi sendiri. Allisia mengigit roti gandum tanpa selai dan tanpa di bakar itu dengan cepat, lalu meneguk s**u miliknya sebelum melesat keluar dari rumah Ellard. Allisia tidak ingin terlambat di hari pertamanya bekerja. *** Ellard mengerang pelan saat mendengar ponselnya yang terus bergetar, melihat nama siapa yang tertera di sana membuat Ellard buru-buru mengangkatnya. Dia tidak ingin kakak iparnya yang cantik itu mengamuk. Belum sampai Ellard mendekatkan ponsel ke telinganya, sesuran Adelian Whalen no—sekarang sudah menjadi Adelia Levine terdengar. “Selamat pagi kakak ipar!” seru Ellard dengan suara serak khas orang baru bangun tidur. “Aku menunggumu di rumah mommy, lima belas menit dari sekarang kau harus sampai ke sini!” Mata Ellard langsung melotot. Sejak kapan Adelia sampai di Manhattan, Ellard bahkan tidak tahu sama sekali tentang ini. “Kau di rumah mommy, seriously, Kakak ipar?” tanya Ellard, jika itu benar-benar terjadi, Ellard sedang dalam masalah besar sekarang, Adelia pasti akan mulai mengomel sepanjang hari ketika menemui gadis-gadis yang sering mengantri di depan rumah keluarganya di Manhattan. “YAK, CEPAT KE SINI, AKU BAHKAN SUDAH DATANG KE PENTHOUSEMU TAPI KAU TIDAK ADA DI SANA, DI MANA KAU SEKARANG?!”Ellard kembali menjauhkan ponsel dari telingnya. Adelia Levine semakin galak setelah melahirkan seorang keponakan tampan untuknya. “Aku sedang di rumahku, di Brooklyn,” jawab Ellard dengan ragu, dia mengengar Adelia menghela napas di ujung sana. Dia tahu apa yang sedang di pikirkan kakak iparnya itu sekarang. “Aku baik-baik saja,” ucap Ellard dengan cepat, dia tidak ingin membuat Adelia khawatir. Ellard lagi-lagi mendengar helaan napas panjang di seberang sana. “Kakak ipar ak—“ “Cepat, Dave sudah menunggumu sejak tadi.” Sambungan telpon terputus begitu saja, Ellard langsung melesat ke kamar mandi lalu mengangganti pakaiannya dengan cepat, dia tidak akan pernah membiarkan Dave, keponakan kesayangannya menunggu lama. Ellard hari ini memilih memakai kaos yang dia lapisi dengan jaket serta celana jeans, lalu keluar dari kamar, membiarkan tempat tidur yang berantakan, Allisia harus membersihkannya nanti, ngomong-ngomong tentang Allisia Warren, apa gadis itu sudah berangkat bekerja? Ellard menuruni anak tangga dengan cepat, matanya kemudian terpaku pada meja bar, di sana ada sepotong roti gandum yang terlihat tidak menarik sama sekali dan gelas bekas s**u. Ellard sangat yakin itu adalah menu sarapan yang akan di banggakan oleh Allisia sepulang bekerja nanti. “Dia benar-benar menyantap roti gandum yang baru dikeluarkan dari lemari es? Luar biasa!” seru Ellard, bahkan meja bar itu sangat berantakan, sepertinya Ellard harus memanggil seseorang untuk membersihkan rumahnya karena Ellard tidak akan pulang kesini untuk beberapa hari ke depan. Dia tidak ingin Adelia menghajarnya habis-habisan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN