“Uncle El!” seruan itu membuat senyum Ellard melebar, dia merentangkan kedua tangannya untuk menyambut bocah tiga tahun itu ke dalam pelukannya.
“How was your trip, Boy?” tanya Ellard ketika Dave sudah ada di dalam genggodangannya.
“Fine, tapi Mommy memarahiku karena terlambat bangun sebelum penerbangan kami,” jawab Dave dengan fasih, dia mengeratkan pelukannya di leher Ellard. Pria itu kemudian membawa Ellard ke arah Adelia dan Aiden yang sedang menikmati waktu bersantai mereka di ruang keluarga, penerbangan dari Indonesia pasti sangat melelahkan, Ellard sudah beberapa kali pergi ke sana.
“Bagaimana cara Mommy memarahimu?” tanya Ellard, dia duduk di salah satu sofa di hadapan Adelia dan Aiden. Dave yang duduk di pangkuan Ellard menatap Adelia seolah dia sedang meminta izin, ketika Adelia mengangguk, Dave langsung berontak minta di turunkan.
“Turunkan aku, Uncle! Aku akan menunjukkannya padamu!” seru Dave, dia memberontak, Ellard menurunkan bocah tiga tahun itu.
“Perhatiakan aku baik-baik, Uncle El!” seru Dave, Ellard langsung mengangguk cepat, dia sempat melirik ke arah Adelia dan Aiden yang kini juga mengamati tingkah putra mereka yang sudah berkacak pinggang.
“Dave cepat bangun! Sampai kapan kamu akan menempel pada kasur?! Mommy akan meninggalkanmu sendirian di sini dan Mommy akan menjual jet pribadi pemberian Uncle El dan satu lagi tidak ada adik untukmu!” seru Dave dengan kedua tangan yang ada di kedua pinggangnya, satu alis Ellard terangkat, dia kembali membawa Dave ke pangkuannya kemudian tatapannya beralih pada pasangan di hadapannya.
“Aku dan Aiden akan pergi ke Yunani selama satu bulan penuh, jadi tolong jaga Dave untukku,” ucap Adelia terlebih dahulu sebelum Ellard bertanya padanya.
“Yunani?” tanya Ellard, Adelia mengangguk cepat, dia kemudian menatap Dave yang sudah asik memainkan mainannya di pangkuan Ellard.
“Boy, kamu tidak apa-apa bersama Uncle El selama satu bulan, kan?” tanya Adelia dengan lembut. Dave mengangguk dengan cepat tanpa bantahan. Tidak salah memang Adelia memilih dengan siapa Dave akan dia titipkan selama kegiatan bulan madunya, bocah kecil itu selalu senang menempel pada Ellard karena Ellard tidak pernah sedikitpun menolak keinginannya.
“Bagaimana, kau keberatan jika aku menitipkan El di sini?” tanya Adelia, Ellard langsung menggeleng, tentu saja dia tidak akan merasa keberatan, Ellard sangat menyukai waktu bersama dengan Dave, bocah kecil ini selalu berhasil membuatnya tersenyum.
“Tentu saja tidak, kapan kalian akan berangkat, jangan lupa bawakan aku keponakan yang baru!” seru Ellard, Adelia menatap ke arah Aiden yang sedari tadi menjadi menyimak.
“Malam ini,” jawab Aiden dengan cepat. Ellard kembali mengangguk.
“Aku sekarang akan membawa Dave berkeliling, kami juga akan membeli beberapa mainan, siapkan keberangkatan kalian dengan baik,” ucap Ellard, dia kemudian menatap Dave.
“Boy, cepat berpamitan pada Mommy dan Daddy, setelah itu kita akan mulai bersenang-senang!” seru Ellard, mata Dave langsung berbinar, dia melompat dari pangkuan Ellard lalu berlari ke arah kedua orangtuanya.
“Mommy…Daddy… aku akan bermain bersama ucle El sepanjang hari, jadi berhenti menelponku, aku bisa menjaga diri sendiri, sebentar lagi aku akan menjadi kakak dan aku harus belajar untuk melindungi adikku!” seru Dave dengan begitu lancar, Adelia dan Aiden terkekeh pelan, mereka tidak menyangka, setelah kejadian buruk yang perna menimpa Dave, kini bocah tampan itu sudah menjelma menjadi bocah pintar yang setiap hari membuat hidup Adelia dan Aiden menjadi penuh kejutan.
“Baik-baik, Mommy tidak akan menghubungimu setiap saat, tapi kau wajib menelpon Mommy dan Daddy sebelum kau beranjak tidur dan bercerita apa yang seharian kau lakukan bersama Uncle El, bagaimana? Setuju?” Bocah tiga tahun itu langsung menganggukkan kepalanya cepat.
“Mommy…Daddy... cepat beri aku ciuman, aku sudah tidak sabar ingin bermain dengan Uncle El!” seru Dave, Adelia langsung mengecup pipi Dave dengan cepat, Aiden juga melakukan hal yang sama.
“Ingat, kau tidak boleh merepotkan uncle El, boy!” Aiden mengingatkan sembari mengacak rambut Dave pelan, bocah itu kembali mengangguk patuh.
“Daddy, aku tidak akan merepotkan uncle El, kami berdua akan bekerja sama dengan baik.” Dave kemudian berlari ke arah Ellard.
“Uncle El, ayo kita pergi bermain! Mommy… Daddy… ingat jangan menelponku setiap waktu!” Dave kembali mengingatkan ketika dia sudah ada di dalam gendongan Ellard.
“AKU BERJANJI BOY, SELAMAT BERSENANG-SENANG!” seru Adelia, dia melambaikan tangannya lalu memeluk Aiden dengan Ellard. Dia merasa sangat bahagia sekarang. Walau sebenarnya tidak tega meninggalkan Dave di sini tapi Adelia yakin bocah kecil itu akan bersenang-senang bersama dengan Ellard.
***
Allisia tidak pernah menyangka dia di tempatkan sebagai bagian tim pemasaran di kantornya, sekarang gadis itu sedang sibuk di salah satu toko mereka yang ada di pusat perbelanjaan di Manhattan, demi apapun, rasanya betis Allisia sekarang hampir pecah, dia tidak berhenti berjalan sejak tadi dan terus menawarkan barang pada pengunjung. Gadis itu melirik jam di pergelangan tangannya, Allisia menghembuskan napasnya, sudah beranjak sore, jam kerjanya juga sudah habis. Gadis itu berpamitan pada rekan-rekannya lalu melangkah dengan gontai. Allisia akan ke tempat kerja Heyley, dia merindukan kopi di W Coffe.
Allisia: Hey belikan aku satu porsi makanan dan satu cup kopi terbaik di W Coffe, aku melewatkan makan siangku. Aku benar-benar kelaparan
Setelah memastikan pesannya terkirim, Allisia menelusuri jalan dengan cepat, kemudian masuk ke dalam bus yang akan membawanya pada Heyley, walau baru sehari tidak bertemu dengan Heyley, rasanya Allisia sudah merindukan sabahat terbaiknya itu. Seharusnya dia tetap tinggal bersama dengan Heyley tidak dengan pria menyebalkan seperti Elllard. Ngomong-ngomong soal Ellard, apa yang di lakukan oleh pria itu sekarang? Apa Ellard memakan roti gandum dingin di atas meja? Kopi seperti apa yang Ellard racik untuk menu sarapannya? Arrghh, seharunya Allisia tidak memikirkan pria itu di saat seluruh tubuhnta remuk, pekerjaan barunya benar-benar sangat menyiksa, tapi Allisia tidak memiliki pilihan lain lagi sekarang dia sangat membutuhkan pekerjaann ini, Allisia membutuhkan uang.
Heyley: Kapan kau akan sampai?
Balasan dari Heyley membuat lamunan Allisia buyar, dia segera mengetikkan balasan.
Allisia: Aku akan sampai sepuluh menit lagi, aku sedang di dalam bus, aku ingin dua porsi makan Hey, aku harus dapat porsi double hari ini. Aku benar-benar kelaparan, tolong aku!
Allisia memperbaiki posisi duduknya supaya lebih nyaman, Allisia benar-benar merasa tubuhnya sangat lelah, dia yakin pasti akan kesulitan tidur nanti.
Heyley: Aku sudah menyiapkan tiga porsi untukmu, aku menunggumu.
Senyum Allisia melebar, sudah dia katakan, Heyley adalah sahabat terbaik yang dia miliki selama ini, bagi Allisia, Heyley adalah penyelamatnya, Allisia tidak akan membirkan siapapun menyakitu Heyley-nya.
Allisia: Aku benar-benar menyayangimu Hey, love you
Heyley: Perhatikan halte tempat pemberhentianmu, Sia, kau tidak boleh salah lagi!
Allisia langsung menatap sekitarnya, masih ada dua halte lagi sebelum dia sampai di W Caffe.
Allisia: Aku tidak akan salah lagi, aku sudah menghapalnya di luar kepalaku, Hey
Rasanya sangat menyenangkan ketika ada yang menemaninya ketika di perjalanan seperti ini, Allisia salah satu orang yang membenci kesepian, di rumah kedua orangtuanya, ada banyak pelayan yang selalu siap menemaninya dan melayaninya kapanpun ah— rumah kedua orangtuanya, Allisia tiba-tiba merindukan mereka, tapi sekarang dia masih ada dalam masa hukumannya. Allisia tidak bisa kembali ke rumah itu bahkan dia tidak bisa bertemu kedua orang tuanya. Ellard sialan! Semuanya gara-gara pria mesumm itu.
***
“HEYLEY AKU MERINDUKANMU!” Allisia langsung menerobos masuk, keadaan W Caffe yang sepi membuat Allisia lebih leluasa, dia langsung memeluk Heyley dengan erat, mengabaikan dua orang yan sedang sibuk dengan kegiatan mereka meracik kopi.
“DIMANA MAKANANKU? AKU BENAR-BENAR KELAPARAN!” Allisia kembali berseru dengan heboh, dia mengurai pelukannya dengan Heyley.
“Makanan mu ada di sana,” ucap Heyley sembari menunjuk bar counter kopi yang ada di di belakangnya, Allisia langsung menoleh, dia langsung merapatkan bibirnya saat melihat dua orang lekaki beda usia menatap dengan wajah datar ke arahnya. Ellard Whalen dan bocah kecil yang Allisia perkirakan berusia tiga tahun. Siapa bocah kecil itu, apa dia putra dari Ellard Whalen? Putra dari wanita yang mana mengingat pria itu memiliki banyak sekali koleksi wanita.
Allisia langsung mengambil makanannya, tatapan matanya bertemu dengan mata bulat bocah kecil yang duduk dengan sangat manis di kursi bar counter tepat di samping Ellard yang sibuk meracik kopi. Allisia yakin Ellard tidak datang ke kantornya hari ini. Pria itu tampak santai dengan celana jeans dan kaos serta apron berwarna cokelat, sama persis dengan milik Heyley, bahkan bocah kecil yang masih menatapnya juga masih menatapnya membuat Allisia mendelik.
“Apa kau lihat-lihat? Terpesona heh?” tanya Allisia, dia duduk di kursi bar counter yang ada di hadapan Dave. Bocah itu mengerjabkan matanya bingung, mendengar ucapan Allisia.
“Uncle, siapa gadis manja ini?” tanya Dave tiba-tiba dia menatap pada Ellard yang sudah selesai dengan kopiya dan menaruhnya di samping Allisia. Dia menatap Dave dengan geli, ini adalah satu sikap yang Ellard suka dari Dave, bocah ini terlalu jujur sama seperti Mommy-nya. Mata Allisia membola dia menatap Dave dengan sengit.
“Apa katamu? Gadis manja? Wahai anak kecil, kau tidak boleh menilaiku sembarangan, aku bahkan baru pulang setelah bekerja seharian!” seru Allisia tidak terima, dia meneguk kopi di sampingnya, Allisia bahkan belum membuka kotak makanannya. Entah apa yang akan terjadi pada gadis itu nanti, meneguk kopi dengan keadaan perut kosong.
“Uncle, kenapa dia seperti Mommy, senang sekali berteriak?” tanya Dave masih dengan ekspresi yang sama tapi sangat menyebalkan di mata Allisia, demi apapun sejak dulu Allisia tidak menyukai anak kecil, baginya anak kecil itu sangat menyebalkan dan merepotkan.
“Karena dia perempuan, Boy!” seru Ellard, dia duduk di samping Ellard, memberikan beberapa potong biskuit favorit bocah itu dan satu kotak s**u.
“Tapi grandma tidak pernah berteriak, aunty Shasa juga tidak pernah.” Dave mulai memakan biskuit miliknya, Allisia juga sudah menikmati ayamnya. Sesekali tatapan mereka bertemu lalu keduanya kembali sibuk mengunyah makanan mereka dengan kompak bahkan dua orang berbeda usia itu saling melirik dengan sengit seolah mereka sedang ada dalam semua perlombaan, Ellard dan Heyley saling lirik kemudian menggelengkan kepalanya.
“Apa kau lihat-lihat? Aku tidak akan pernah membagi ayam ini padamu!” seru Allisia, dia memegang dua paha ayam di tangannya!”
“Kau norak sekali, bahkan aku sudah tidak menyukai ayam. Ayam sangat membosankan!” Dave menatap Allisia sengit namun dia tetap memakan biskuitnya, pipi chuby-nya yang sedikit kemerahan menggembung. Bahkan sudut bibirnya berantakan oleh remahan biskuit itu.
“What?!” Allisia berseru cukup keras, mata birunya menolot ke arah Dave yang menatapnya dengan ekspresi yang sama. “Kau bahkan tidak bisa makan dengan benar, jadi kau tidak boleh mengatakan ayamku membosankan!” lanjut Allisia, Dave mengangkat sebelah alisnya lalu menatap Ellard.
“Uncle, tolong berikan gadis itu kaca, dia bahkan tidak bisa makan lebih rapi dariku,” ucap Dave, mata Allisia semakin melotot, dia sepertinya baru saja menemukan musuh yang baru.
“Ini adalah caraku memakan ayam!”
“Dan ini adalah caraku menikmati biskuitku, jadi kau tidak perlu banyak bicara.” Allisia menggenggam paha ayamnya dengan erat, matanya kini beralih pada Ellard yang sedari tadi tersenyum mengejek kearahnya.
“Hey, bukannya dua pria di hdapan kita ini sangat menyebalkan? Kenapa hal-hal yang berhubungan dengan Ellard Whalen itu sangat menyebalkan?” tanya Allisia, dia mencoba mencari sekutu, Allisia tidak akan kalah, walaupun ada dua orang Whalen di hadapannya.
Ellard dan Dave saling betukar lirikan lalu sama-sama tersenyum puas ketika Heyley hanya mengusap keningnya, Heyley terlihat kebingungan, Allisia yang menyadari akan sulit mendapatkan sekutu memilih meneguk kopi di sampingnya yang tinggal setengah.
“Hey, bukankah kemarin ada yang mengatakan tidak menyukai kopi?” tanya Ellard dengan suara meledek.
“Siapa yang mengatakannya tidak menyukai kopi buatan Uncle? Daddy mengatakan kopi buatan Uncle adalah kopi terbaik di seluruh dunia,” ucap Dave tiba-tiba, entahlah, Ellard bahkan tidak mengerti, kenapa Dave tumbuh menjadi sangat pintar. Apakah bocah ini sudah menyadari hal sangat penting, Dave akan mewarisi harta keluarga Levine, Cetta dan juga Whalen karena sebagian besar saham Whalen Company adalah milik Adelia Levine.
“Ada seorang yang mengatakan pada Uncle, boy!”
“Pasti dia adalah orang yang sangat payah.” Setelah mengatakan itu Dave menyedot s**u miliknya mengabaikan tatapan Allisia yang sudah siap menerjangnya.
“Aku tidak mengatakan itu, aku hanya mengatakan tidak menyukai kopi. Tadi aku meminum kopinya karena terpaksa, tidak ada minuman lain yang bisa aku minum di sini,” elak Allisia, dia menyelesaikan makanannya. Ellard dan Heyley hanya menggelengkan kepalanya. Allisia dan tingkah kekanak-kanakannya adalah paket yang komplit.
“Boy, kau sudah selesai?” tanya Ellard. Dave langsung mengangguk cepat. Matanya kembali berbinar.
“Uncle, kemana kita akan pergi bermain setelah ini?” tanya Dave, seharian ini keduanya memang bermain sepuasnya, Ellard tidak datang ke kantor hanya untuk bermain dengan Dave.
“Kita harus kembali ke rumah, uncle sudah membelikan banyak mainan,” ucap Ellard. Dave kembali tersenyum sumringah dia kemudian mengulurkan tangannya, minta di gedong.
Ellard terkekeh pelan dan membawa Dave ke dalam gendongannya. Tatapan Ellard kini beralih pada dua gadis yang masih duduk dengan santai.
“Hey, tutup Caffe setelah aku pergi dan Allisia, kau ikut denganku dan Dave!” seru Ellard tidak terbantahkan, saat bibir Allisia bergerak ingin melayangkan protes, Ellard sudah menariknya turun dari kursi, “aku tidak menerima protes dalam bentuk apapun Nona, kau harus terus bersamaku.” Dave melambaikan tangannya pada Heyley, Allisia mengikuti langkah Ellard dengan tertatih, Allisia merasa kakinya benar-benar sakit. Bahkan mata Allisia kini berkaca-kaca, mengabaikan Dave yang sedari tadi menatapnya dari dalam gendongan Ellard.