Nico berulang kali menekan klaksonnya. Menanti gadis kecilnya. Hari ini mereka akan pergi ke sebuah taman bermain. Acara perpisahan taman kanak kanak mewajibkan semua orang tua untuk ikut mendampingi.
Gadis kecil itu berjalan dengan begitu cepat setelah mendengar daddy tampannya itu menekan klakson berkali kali.
"Iya daddy, sebentar." Ucapnya sambil berlari diikuti suster dibelakangnya.
"Mana sus tasnya? Aku berangkat dulu ya. Bye suster." Ucap gadis kecil itu kemudian masuk ke dalam mobil daddynya.
Nico mengendarai mobilnya dengan kecepatan rata rata menuju Dunia Fantasi.
Sesekali Nico mendengar putrinya menyanyi lagi korea yang sama sekali Nico tidak mengerti.
"Itu lagu siapa sih,nak? Daddy gak ngerti." Ucap Nico bingung.
"Judulnya Tiga Beruang,daddy. Besok Fefe mau ke Seoul ya daddy. Fefe mau ke Lotte World. Dalam hidup Fefe cuma sekali kesana, katanya mommy gak punya banyak uang untuk Fefe pergi ke tempat seperti itu." Nico membeku.
Selama ini anak dan wanita yang begitu dicintainya hidup susah. Bahkan untuk pergi ke tempat bermain pun tidak bisa. Karena uang yang didapat Ferina digunakan untuk hal yang lebih berguna. Sedangkan dia, uang ratusan juga dikeluarkannya hanya untuk menyewa para wanita kelas atas yang pasti dengan suka rela menemaninya minum bahkan hingga melakukan have s*x.
"Boleh daddy?." Tanya gadis kecil itu.
Nico mengangguk. "Boleh sayang, apapun yang kamu mau daddy turutin." Ucap Nico dan terdengar gelak tawa bahagia dari Fefe.
Nico tersenyum melihat putrinya itu bahagia.
"Nah, sekarang udah sampai." Ucap Nico kemudian memarkirkan mobilnya.
Nico masih setia menggunakan sunglassesnya itu. Fefe menggunakan topi yang tadi dipilihnya untuk menutupi kepalanya dari sinar matahari.
Lelaki itu menggandeng putri kecilnya menuju pintu masuk. Sudah ada beberapa teman dan orang tua yang sudah tiba disana.
Tiba tiba Fefe terdiam, dia menunduk dan jalannya mulai melemas.
Nico yang menyadari perbedaan putrinya pun segera bertanya. "Princess daddy kenapa?." Tanya Nico sambil mensejajarkan wajahnya dengan wajah putrinya.
"Kenapa sayang?."
"Daddy, kapan fefe bisa kayak mereka?." Tunjuk gadis itu pada seorang temannya yang sedang digendong oleh papanya dan mamanya sedang mengelus kepalanya.
"Dulu ada mommy gak ada daddy, sekarang ada daddy gak ada Mommy. Jadi kalo Fefe dapet sesuatu itu Fefe juga harus kehilangan sesuatu yang lain?." Mata Fefe berkaca kaca.
Nico membeku, lidahnya kelu untuk sekedar berbicara.
"Kenapa Fefe gak bisa kayak mereka daddy? Kenapa?."
"Memangnya fefe gak bahagia kalo cuma sama daddy? Fefe keberatan?."
Fefe menggeleng lemah.
"Fefe bahagia kok sama daddy, Fefe seneng sekarang ada daddy yang jaga Fefe." Ucap Fefe kemudian memeluk leher Nico.
Nico mengelus rambut Fefe dengan lembut. Kemudian menciumi puncak kepala Fefe dengan penuh kasih sayang.
Nico mengangkat gadis kecil itu ke udara. Dengan mood fefe yang mudah berubah, setelah diangkat ke udara dan dicium oleh ayahnya, dia pun kembali tersenyum.
____________________
Pengunjung menatap Nico dan Fefe dengan tatapan kagum. Seorang lelaki tampan dan masih muda tengah menggandeng seorang gadis kecil yang begitu cantik dan menawan.
"Wih, ganteng banget tu cowo. Hot banget."
"itu anak kecil siapa sih? Anaknya? Lucu banget. tapi bapaknya juga ganteng banget."
"Kece banget, tapi sayang udah punya anak. Pasti istrinya cantik banget deh." Begitulah yang Nico dengar dari beberapa bisikan pengunjung lain ketika dia dan putri cantiknya lewat.
"Istri? Hahaha!!! Gue masih single kali." Batin Nico dalam hati.
"Daddy, aku mau duduk disitu." Ucap Fefe sambil menunjuk sebuah bangku taman yang masih kosong.
"Yuk sayang." Nico menggandeng tangan Fefe menuju bangku taman itu.
Mereka duduk bersebelahan.
"Fefe capek?." Tanya Nico yang melihat gadis kecil itu terlihat lesu.
Fefe mengangguk lemah.
"Daddy gendong yuk. Kita beli minum disana." Ucap Nico sambil menunjuk sebuah kedai minuman.
"Jangan, nanti daddy capek. Aku tunggu sini aja." Ucap Fefe.
Nico terlihat tidak yakin. Nico sengaja meminta para pengawalnya tidak mengawalnya hari ini. Berarti jika Nico meninggalkan Fefe,tentu dia sendirian.
"Daddy,gak papa. Aku aman. Nanti kalo ada apa apa aku teriak." Ucap Fefe dengan penuh keyakinan.
Nico menatap Fefe dengan cemas.
Fefe mencium pipi Nico.
Nico tersenyum, "iya sayang, janji ya kamu disini aja." Ucap Nico.
Fefe mengangguk," iya daddy."
Nico segera menjauhi Fefe sambil sesekali melihat ke belakang. kedai minuman memang tidak terlalu jauh, jadi masih bisa terlihat.
______________________________
Beverly berjalan sendirian. Pesonanya yang begitu kental membuat orang disekitarnya akan meliriknya berkali kali.
Beverly terlihat bingung. Hampir semua bangku terisi oleh pengunjung, bagaimana caranya dia menulis. Gadis itu sedang memiliki banyak inspirasi.
Ketika Beverly mengedarkan seluruh pandangannya. Gadis itu menemukan seorang gadis kecil yang pernah dia temui ditaman.
Beverly tersenyum,segera gadis itu berjalan mendekati gadis kecil itu.
"Hai,cantik. Masih inget gak sama tante?." Gadis itu duduk disamping Fefe.
Fefe segera tersenyum manis. "Masih dong. Aahhh seneng banget bisa ketemu tante." Ucap Fefe sambil berpelukan dengan Beverly.
Fefe merasakan kenyamanan ketika berpelukan dengan gadis itu. Gadis itu tersenyum manis.
"Eh tante, aku kenalin sama daddy aku yuk." Beverly mengangguk kemudian mengikuti jalan Fefe.
Bayangan Beverly, daddy Fefe adalah orang yang sudah berumur.
"Daddy..." suara Fefe membuat Nico membalikan tubuhnya.
"Nah, tante ini daddy aku. Daddy ini tante yang waktu itu aku ceritain ke daddy." Nico tersenyum kepada gadis itu.
Berbeda dengan gadis itu. Tubuh gadis itu membeku seketika.
"Nico.." ketika lelaki dihadapannya mengulurkan tangannya kearah Beverly.
Perlahan Beverly mengulurkan juga tangannya.
"Beverly.." ucap Beverly pelan.
"Daddy,kita duduk sana yuk." Ucap Fefe.
Beverly dan Nico segera melepas jabat tangan mereka.
"Mungkin mau bergabung dengan kita?." Mendengar suara bariton itu lagi membuat Beverly menegang.
"Tuhan, haruskah ketemu lagi disaat aku udah sedikit melupakan lelaki ini. Bahkan dia udah punya anak sekarang." Batin Beverly dalam hati.
"Ayok tante," beverly mengangguk pasrah.
fefe masih menggenggam erat tangan Beverly.
Mereka bertiga akhirnya duduk disebuah bangku taman yang rindang.
"Ini sayang minumnya." Ucap Nico sambil memberikan Fefe sebuah gelas berisi minuman coklat.
"Mau minum?" Beverly terkejut mendengar pertanyaan Nico.
Beverly mengangguk. Kemudian Nico memberikan minumannya kepada Beverly.
"Daddy, aku main disitu ya." Ucap Fefe sambil menunjuk sebuah taman bermain sederhana yang dekat dengan tempat duduknya.
"Iya sayang, hati hati ya." Ucap Nico. Fefe mengangguk kemudian segera berjalan dan berkumpul bersama temannya yang juga sedang bermain disitu.
"Dia baru aja ditinggal sama ibunya." Beverly terkejut. Suara Nico berubah menjadi dingin.
Berbeda dengan tadi, ketika ada Fefe suaranya begitu hangat.
"Kalian pernah ketemu sebelumnya?." Tanya Nico.
Beverly mengangguk. "Di taman. Udah lama sih." Jawab Beverly.
Jujur saja gadis itu masih syok dengan apa yang terjadi hari ini.
Bertemu dengan seorang lelaki yang dulu dibangku sekolah menengah begitu ia cintai.
Ntah lelaki itu mengetahuinya atau tidak.
"Sendiri?." Tanya Nico.
Beverly mengangguk.
Nico terdiam. Matanya masih mengawasi Fefe takut takut jika gadis itu akan hilang lagi.
"Boleh aku tanya sesuatu?." Tanya Beverly.
Nico menatap gadis di hadapan nya.
"Tanya apa?."
"Mommy Fefe pergi kemana?."
"Meninggal.. setahun yang lalu." Jawab Nico dingin.
Tubuh Beverly menegang.
Gadis itu bertanya tanya, wanita mana yang beruntung bisa melahirkan gadis kecil selucu itu dan bisa menyimpan benih lelaki tampan disampingnya ini.
"Namanya Ferina."
Ferina? Beverly terkejut. Beverly tau Ferina. Memang wanita itu adalah kekasih Nico. Wanita itu juga yang berhasil membuatnya menangis.
"Pasti cantik dan ceria." Ucap Beverly.
Nico mengangguk.
"Ntah bagaimana bisa. Tapi mereka begitu mirip." Ucap Nico kemudian melepas sunglassesnya.
Nico menatap mata Beverly.
Gadis itu membeku. Dulu berdekatan seperti ini adalah impiannya. Tetapi sekarang, gadis itu bisa berdekatan dengan lelaki itu.
Nico mencari ketidak tulusan di mata gadis itu. Tetapi Nico tidak menemukan. Hanya ketulusan yang Nico temukan.
"Ehmmm, kuliah atau kerja?." Tanya Nico.
"Kuliah." Jawab Beverly.
Nico mengangguk.
"Tapi aku males kuliah, aku punya jalan sendiri, tapi sayang aku punya papa yang selalu maksain aku." Ucap Beverly.
Nico tertawa kecil.
Beverly menatap senyuman lelaki itu dengan begitu terpesona. Dirinya benar benar begitu kagum dengan senyuman yang begitu ia rindukan. Sudah begitu lamanya dia tidak melihat senyum itu.