Part Two

1894 Kata
Masih berada di kursi taman ini. Mungkin ini seperti de javu bagi Beverly. Berada disuatu tempat bersama seseorang yang ia cintai. Tetapi bagi Nico, biasa saja. Tidak ada yang spesial. Fefe masih asyik bermain bersama teman temannya. Udara yang cukup panas membuat peluhnya berjatuhan, tapi sedikitpun gadis kecil itu tidak merasa lelah. Tiba tiba sepasang seorang lelaki dan wanita datang menghampiri Nico dan Beverly. "Eh, temen gue baru aja sendiri udah godain dede dede gemez." Nico kenal suara itu. Segera lelaki itu menatap lelaki di hadapan nya. "Marcel? Ngapain lo disini?." Nico melirik sekilas wanita yang berada disamping Marcel. Bisa kalian tebak siapa wanita itu? "Miss Ayak." Ucap Nico kemudian tersenyum.  Miss Ayak melihat gadis disebelah Nico dengan tatapan yang sulit dijelaskan. "Oh jadi temen gue udah gak jomblo karatan sekarang." Ucap Nico dengan seringai di wajahnya. "Miss ayak, maaf atas kelancangan saya. Tapi saya berharap miss ayak bisa berfikir dulu sebelum menjalani hubungan dengannya. Terlalu lama sendiri membuatnya menjadi lelaki yang sedikit aneh." Nico berbicara dengan ekspresi yang sok serius. Beverly yang melihat itu hanya tersenyum geli. Ntah siapa lelaki di depan nya ini. Mungkin sahabat Nico. "Daddy Fefe, terimakasih atas peringatannya, saya akan mencoba merubah sahabat anda agar sedikit lebih normal." Ucap Miss Ayak. "Ahhh thankyou so much baby." Ucap Marcel, dan dibalas tatapan tajam dari miss Ayak. "Oke bung, bisa kau kenalkan wanita ini pada kami?." Tanya Marcel sok formal. "Oh oke. Beverly ini Marcel dan Miss ayak guru Fefe." Ucap Nico kemudian Beverly menjabat tangan Marcel dan Ayak bergantian. "Kayaknya gue harus pergi deh. Gue gak suka ganggu orang lagi pdkt, lama single buruan nikah lo keburu tua." Ucap Marcel dengan nada bercanda nya kemudian segera menarik Ayak untuk menjauh. Pipi Beverly memerah. Kemudian gadis itu tersenyum. Nico hanya mendengus kasar. "Maaf temen gue itu emang kalo ngomong suka ngasal." Ucap Nico pada Beverly. "No problem." Ucap Beverly. Tiba tiba seorang gadis kecil berlari. "Daddy....." nico segera memalingkan wajahnya.  "Iya sayang?."  "Pergi yok dad, fefe bosen." Ucap Fefe sambil mengelap peluhnya. "Kamu keringetan sayang, sini tante bersihin." Ucap Beverly kemudian mengambil tisu dari dalam tasnya. Mengambil selembar kemudian membersihkan wajah Fefe dengan tisu. Nico menatap itu dengan hati yang menghangat. Sejauh ini belum ada seorang gadis yang sebaik ini dengan putriny. "Daddy ayook. Tante ikut kan sama kita?." Mendengar nada penuh harap dari Fefe, beverly pun tidak bisa menolak. Dia tidak mau menyakiti hati gadis kecil didepannya. "Iya sayang, kalo daddy kamu mengijinkan." Mengingat dirinya masih orang baru, siapa tau Nico was was terhadapnya. "Ikut aja, bev." Ucap Nico dingin. Walaupun ada nada dingin didalam ajakan Nico. Tetapi tidak menghilangkan rasa bahagia di hatinya. "Yessss, let's go.." Fefe mengkaitkan tangan mungilnya dengan kedua tangan Nico dan Beverly. Beverly merasa jantungnya berdetak sangat cepat. Tetapi ada perasaan hangat di hatinya. Sungguh dia benar benar bahagia. Akhirnya mereka menaiki sebuah wahana komedi putar. Nico mengeluarkan ponselnya kemudian mengambil gambar Fefe diam diam. Disampingnya ada Beverly yang sedang memandang Fefe. Nico menatap foto itu, sekilas tetapi dalam. "Tumben ada cewek yang ngelihat Fefe dengan tatapan yang setulus ini, kecuali mama gue,dan beberapa sahabat gue. Lainnya fake."Batin Nico dalam hati. Fefe terlihat beberapa kali tersenyum. Senyumannya begitu menggemaskan. Mengingatkan dengan seseorang yang memiliki senyum seperti itu. Nico menarik napasnya dalam, menenangkan perasaannya dan memejamkan kedua matanya. Beverly melirik Nico dengan sedikit khawatir. Ada keinginan untuk bertanya, tetapi dia mengurungkan niatnya tersebut. Dia bukan siapa siapa lelaki itu. Dia hanya datang dikehidupan lelaki itu sebagai teman main putrinya. "daddy, nan gwechana?" tanya Fefe yang melihat daddynya terlihat sedikit murung. Nico hanya menganggukan kepalanya sambil tersenyum. "Hah? Itu kan bahasa korea. Darimana Fefe belajar?." Batin Beverly. Kini mereka berada di sebuah hall. Acara sesungguhnya akan dimulai. Fefe masih setia duduk disamping Beverly sesekali menyenderkan kepalanya di pangkuan Beverly. Fefe benar benar terlihat sangat lelah. Nico hanya melihat dengan tatapan dinginnya. Bukan karena Nico tidak suka, tapi dia heran tidak biasanya Fefe seperti ini. Beverly mengelus kepala Fefe dengan penuh sayang. Ada perasaan asing dari dalam hatinya. Rasanya begitu hangat,menenangkan dan nyaman. Seorang kepala sekolah memberi sambutan kepada semuanya. Kemudian acara satu bersatu berjalan. Fefe masih setia bergelayut manja di bahu Beverly. Waktu sudah sore. Acara pun sudah selesai. Mereka segera keluar dari hall tersebut. "Makasih ya tante. Besok besok kita main lagi ya tante." Ucap fefe sambil menaruh anak rambutnya kebelakang telinganya. Beverly menganggukkan kepalanya. "Iya sayang, lain kali kita main lagi ya." Ucap Beverly sambil mengusap lembut kepala Fefe. "kak Nico, aku pulang dulu ya." Ucap Beverly. Nico menganggukkan kepalanya dan tersenyum kecil. Senyumnya terkesan dingin. Beverly segera berjalan meninggalkan Nico dan Fefe. Senyum terus mengembang diwajah Beverly. Wajahnya terlihat begitu bersinar. Disepanjang perjalanan gadis itu terus bersenandung mengikuti irama lagu yang diputar dari dvd di mobilnya. -_-_-_-_-_-_-_-_-_-_- Seorang gadis kecil terus saja bercerita dengan daddynya. Menceritakan yang tadi mereka lalui bersama Beverly. Sesekali gadis itu tertawa. Daddynya hanya tertawa kecil. Dia senang melihat gadis kecilnya riang, tetapi dia juga masih waspada dengan gadis itu. Mengingat kejadian lalu yang pernah terjadi dengan gadisnya, membuat Nico lebih ekstra lagi menjaga Fefe. "Daddy seneng gak?." Tanya Fefe tiba tiba. "Fefe seneng, daddy juga seneng sayang." fefe tertawa riang. "Daddy, Fefe mau ke rumah Oma." Ucap Fefe tiba tiba. Nico menganggukkan kepalanya. "Iya sayang, kita ke rumah oma sekarang ya." Ucap Nico. Nico mengemudikan mobilnya menuju perumahan elite dan super mewah. Dengan penjagaan yang sangat ketat. Dengan penduduknya yang terdiri dari kalangan atas. "Omaaaaaaa.." ketika mendengar suara yang begitu dirindukannya. Sofie mengalihkan perhatiannya dari majalah yang sedang dibacanya. "Halo sayang." Sapa Sofie kemudian mencium pipi chubby fefe. "Omma, Fefe capek banget." Ucap Fefe sambil duduk di pangkuan omanya. Sofie mengelus rambut Fefe yang terasa lembut. "Emang Fefe darimana?." Tanya Sofie sambil memijat pelan tangan Fefe. "Dunia Fantasi omma." Ucap Fefe. "Ma, aku ke kamar aku dulu ya." Ucap Nico. Segera lelaki itu menaiki tangga menuju kamarnya. Memang masih banyak barangnya yang ia tinggal dikamar itu. Fefe juga memiliki kamar sendiri, sejak kedatangannya di kehidupan Nico, Sofie langsung menyiapkan kebutuhan Fefe. "Kamu gak makan dulu?." Tanya Sofie. Nico menggeleng mendengar teriakan mamanya. "Gak ma." "Eh omma, oppa kemana? Kok fefe gak liat?." tanya Fefe. "Oppa lagi ke Jepang sayang. Makanya omma seneng banget kamu kesini. Kamu nginep sini aja ya sama omma. Temenin omma." ucap Sofie dengan memohon. "Memang boleh sama daddy? Kalo boleh Fefe mau." Ucap Fefe dengan tersenyum. "Lagi pula Fefe kan besok libur. Omma. Sebentar lagi Fefe mau masuk sekolah dasar omma." Ucap Fefe dengan riang. "Oh benarkah?" Tanya ommanya ikut bahagia. Fefe mengangguk kemudian turun dari pangkuan ommanya. "Omma, Fefe mau ganti baju." Ucap Fefe sambil mengusap tangannya yang sedikit terasa gatal. "Sari.." panggil Sofie kepada salah satu pelayan dirumahnya. "Tolong ambilkan baju santai Fefe ya." Ucap Sofie. "Iya nyonya, tunggu sebentar." Ucap Sari. Segera wanita yang umurnya kira kira 30 tahun itu berjalan menaiki tangga. "Dulu omma, waktu Fefe masih di Seoul sama Mommy, Fefe gak di bolehin merintah. Jadi Fefe harus kerjain semuanya sendiri, pernah waktu Fefe bilang ke daddy buat gak usah cariin Fefe suster, daddy marah. Katanya Fefe gak boleh capek capek." Sofie tersenyum mendengar ocehan cucu pertamanya. "Mungkin daddy takut Fefe sakit. Setelah kejadian Fefe pergi sama aunty Martya, daddy jadi takut Fefe kenapa kenapa. Karena daddy sayang Fefe makanya daddy cari suster untuk fefe." Ucap Sofie. Fefe menganggukkan kepalanya. "Tapi dulu Mommy juga sayang sama Fefe, tapi Fefe harus kerjain semuanya sendiri. Mommy itu disiplin nya tinggi omma." Sofie mengangguk. Kini wanita itu menatap cucunya dengan tatapan sedih. Kesalahan ada pada dirinya, karena dirinya semua ini terjadi. Sofie mengelus lembut rambut Fefe kemudian memeluknya. "Maafin omma sayang." Ucap Sofie dalam hati. "Omma, tadi waktu fefe jalan jalan ada temen fefe yang ditemani mama dan papanya. Fefe jadi iri." Ucap Fefe kemudian menunduk. Sofie mengelus lembut rambut Fefe. "Kenapa harus iri sayang? Kan fefe kesana sama daddy." Ucap Sofie kemudian mencium kening Fefe. Fefe mengangguk. "Iya omma, tapi kan beda. Tapi Fefe seneng kok, soalnya ada tante cantik omma. Tante cantik itu namanya Beverly. kita jalan bertiga omma, fefe seneng banget sama tante itu." Ucap Fefe. "Oh iya? Seperti apa tante beverly itu?." Tanya Sofie. "Orangnya ramah omma, suka senyum, terus kepala Fefe suka dielus elus omma. Makanya fefe seneng banget hari ini. Mommy pernah bilang dulu, walaupun nanti Mommy pergi, akan dateng banyak orang yang sayang dengan Fefe." Sofie membeku, benarkan Ferina berbicara seperti itu? Sofie tersenyum. "kamu bisa lihat sayang? Mama jagain Fefe buat kamu. Mama tebus semua kesalahan mama sama kamu."  Batin Sofie. "Omma, kok diem aja sih?." Tanya Fefe khawatir. "Nyonya ini bajunya non Fefe." Ucap Sari kemudian mengambil baju santai itu. Sebuah kaos berlengan dan celana pendek ya. "ini sayang ganti dulu." Ucap Sofie kemudian membantu Fefe Fefe mengambil baju itu kemudian berjalan ke kamar mandi untuk mengganti bajunya. Setelah selesai fefe memberikan dress cantiknya kenapa ommanya. "Ini omma."  Sofie memberikan dress itu kepada Sari. Kemudian sari berlalu sambil membawa dress tersebut. "Kita lanjut cerita tadi, terus daddy gimana?." Tanya Sofie. Ini hal yang penting, siapa tau itu pacar Nico. "Daddy, ya gak gimana gimana omma." Ucap Fefe. "Itu temen daddy?" Tanya Sofie. Fefe menggeleng. "Bukan omma, itu temen fefe. Fefe pertama ketemu di taman." Sofie harus mencari tau wanita itu. Bagaimana latar belakang keluarga, bagaimana sifatnya. Siapa tau Sofie bisa membantunya untuk menjadi Mommy baru fefe. Lagi pula sepertinya Nico masih enggan untuk menjalin hubungan dengan gadis mana pun. Sofie mengangguk. "Fefe makan siang terus bobo siang ya." Ucap Sofie kemudian memanggil Sari kembali. "Sari, tolong siapin makan siang daa setelah itu antar fefe ke kamarnya. Dia harus tidur siang." Fefe mencium pipi Sofie. "Oke omma.. bye omma." Ucap Fefe kemudian berjalan menuju ruang makan. Sofie tersenyum melihat tingkah cucu pertamanya yang baru dikenalnya kurang lebih setahun yang lalu. -_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_- Beverly membuka pintu rumahnya.  Rumah sepi, tanda tanda bahwa rumah kosong. Mungkin papanya pergi dan para asisten rumah tangga sedang sibuk. "Pa.." panggil Beverly ketika melihat rumahnya sepi. Tiba tiba seorang asisten rumah tangga bernama Lita menghampirinya. "Non, nyonya sama tuan pergi ke jerman katanya ada masalah di perusahaan yang fatal non." Ucap Lita sambik takut takut. "Hha? Kok bisa?." Beverly mengeluarkan ponselnya untuk menelpon kedua orang tuanya. "Ah sial! Gak aktif." Ucap Beverly kemudian segera berlari menuju kamarnya. Beverly mencoba beberapa kali hingga akhirnya tersambung. "Halo,ma? Gimana ma?." "....." "Kok bisa ma? Terus gimana? Iya nanti Be bantu mama sama papa ya. Udah mama sama papa tenang dulu." Beverly memutus panggilannya. Perusahaan papa nya hampir mengalami gulung tikar. Beverly harus mencari perusahaan lain yang mau membantunya. -_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_- Setelah mendapat berita bahwa perusahaan papanya hampir mengalami gulung tikar. Beverly mulai belajar untuk mengelola perusahaan, dibantu oleh Kevin salah seorang kepercayaan papanya. "Terus sekarang gimana?." Tanya Beverly. Hari ini mereka sedang berada di perusahaan papanya. Beverly tidak bisa membayangkan bagaimana nasibnya nanti jika benar perusahaan dengan gedung pencakar langit ini akan gulung tikar. Bukan hanya nasibnya tetapi juga para karyawan papanya yang bergantung di perusahaan ini. "Kita cari jalinan kerja sama dengan perusahaan lain. Ada 3 perusahaan. Yang pertama Pram. Inch building,Leviando Corporation dan Vinc.art building. Disini kamu yang harus turun tangan karena aku cuma bantu kamu aja." Jelas kevin. Beverly mengangguk. Kepalanya cukup pening. Tapi dia harus membantu keluarganya. Dengan semangat gadis itu merapikan bajunya yang sedikit berantakan. "Terimakasih atas bantuannya Kevin Puth. Dan Mari kita menjadi partner kerja yang baik." Ucap Beverly. "Terimakasih kembali Beverly Amarylis Alphabet." Ucap lelaki indo di hadapan nya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN