Part Three

1643 Kata
Terdengar suara sepatu yang mendekat ke ruangan tersebut. Hampir semua orang yang didalam ruangan tersebut mengalihkan pandangannya kepada pintu yang dibuka. Meeting hampir dimulai. Hampir, belum dimulai. Sang pemimpin meeting belum tiba. Itu berarti meeting belum bisa dilaksanakan. Beverly merasa jantungnya berdetak cepat. Bahkan tangannya terasa dingin. Ntah kenapa dia merasakan hal ini tiba-tiba. Setelah beberapa kali bertemu dan berdiskusi dengan sekertaris CEO Lev Corp(begitu biasa disingkat) akhirnya Beverly dan Kevin berada disini. Disebuah ruangan meeting besar dan nyaman dengan arsitektur dan interior yang mewah dan elegan. Terlihat jelas bagaimana sang pemilik perusahaan ini begitu kaya. Beverly menatap sepatunya dengan harap cemas. Dia takut jika akan ditolak lagi seperti perusahaan sebelumnya. "Selamat siang semuanya, maaf saya terlambat karena saya ada urusan terlebih dahulu." Suara itu. Beverly membeku seketika. Dia mengenali suara itu. Suara yang telah dua minggu ini tidak didengarnya. Beverly mendongakkan wajahnya. Mencoba melihat apakah dugaan nya itu benar. Dan ternyata dugaannya benar. Pemilik perusahaan Lev Corp adalah Nico. Beverly meremas ujung dressnya kuat-kuat. Ada perasaan takut dan gugup bertemu lelaki itu lagi. Nico menjelaskan panjang lebar tentang proposal yang diajukan oleh perusahaan milik Beverly. Nico sempat melirik wakil pemilik perusahaan yang akan bekerja sama dengannya. Dia cukup terkejut, tapi kemudian menetralkan keterjutannya. Nico melihat wajah Beverly sedikit tegang. Ada raut cemas disana. "Ada yang mau ditanyakan? Atau saya kurang jelas? Jika ada yang ditanyakan segera. Jika tidak ada saya akan tutup meeting ini. Kepada Alpha Corp bisa kerungan saya setelah ini. Dan meeting hari ini saya bubarkan. Selamat siang." Dua jam meeting itu berlangsung. Dan dalam dua jam itu, Beverly tidak benar-benar fokus dengan apa yang dijelaskan Nico. Melainkan dia fokus dengan cara Nico menerangkan dan segala gerak gerik Nico. Hanya sebagian yang masuk. "Ayo, Bev." Ajakan Kevin membuat Beverly membuyarkan lamunannya. Segera wanita itu melihat sekelilingnya, semuanya sudah kosong. Hanya ada dia,Kevin dan beberapa pekerja yang membersihkan tempat itu. Tepat ketika Beverly berdiri ada seorang wanita yang menghampirinya dan Kevin. "Alpha Coorp?." Tanya wanita itu ramah. Beverly mengangguk. "Saya Melly, sekertaris Mr.Levian. Mari saya antar ke ruangannya." Ucap Melly kemudian berjalan menuju sebuah lift. "Sepertinya ini lift pribadi" batin Beverly. Karena lift ini berada ditempat yang berbeda membuat Beverly berpikiran demikian. Tiba disebuah pintu berwarna hitam. Beverly merasa jantungnya berdegup. Tangannya terasa semakin dingin. Beverly membenarkan lagi blazer dan dressnya yang terasa sedikit berantakan karena duduk selama dua jam. Melly mengetuk pintu itu. Hingga terdengar suara dari dalam, Melly mendorong pintu itu. Tepat ketika masuk, Nico sedang membelakangi nya. Sedang berbicara ditelpon sambil menatap langit biru yang cerah. "Jebloskan Martya ke penjara. Karena dia juga termasuk dalam penculikan Fefe dulu. Untuk masalah uang, gue sama Brian ikhlasin." Ucap Nico membuat Beverly terkejut. Jadi Fefe pernah diculik sebelumnya. Kenapa? Bagaimana bisa? Pertanyaan itu berkelebat di pikirannya. "Gue mau, lo jaga anak gue baik baik selama dia sekolah nanti maupun di rumah orang tua gue. Bahkan ketika Derry mengantarkannya kemanapun lo harus tetep dibelakangnya. Jangan sampai lengah." Ucap Nico dengan seseorang disana. Nico memang benar benar menjaga putrinya. Terbukti dengan segala penjagaan ketat gadis itu. "Dan jangan sampai anak gue tau kalo selama ini dia sedang dijaga." Ucap Nico. "Oke." Nico memutus sambungan telpon itu kemudian berbalik. "Maaf, sir. Tapi ini Mr.Puth dan Mrs.Alphabet telah tiba." Ucap Melly. Nico mengangguk kemudian mempersilahkan duduk. Karena disini Nico sebagai seorang CEO dan Beverly sebagai seorang wakil perusahaan, jadi sudah semestinya Nico berbicara dengan formal. Ada kesan dingin disana. "Jadi bagaimana?" Tanya Nico. Beverly terdiam hingga akhirnya Kevin menggol Beverly. Beverly yang terkejut pun segera mengeluarkan suaranya. "Jadi saya mau meminta kerja samanya, sir. Perusahaan saya sedang mengalami krisis hebat, dan membutuhkan sebuah perusahaan untuk membantu. Maka saya mohon untuk mau membuat kerja sama dengan perusahaan kami." Jelas Beverly. Nico mengangguk dan terdiam. Sesaat. Lelaki itu sudah tau seluk beluk perusahaan milik Beverly. Dia mencari tau tentang perusahaan itu. Perusahaan itu dipimpin oleh Erwin Alphabet. Jadi besar kemungkinan Beverly adalah putri Erwin Alphabet. "Apa yang akan perusahaan saya dapatkan jika bekerja sama dengan anda?." Nico memang type orang yang memilih dengan begitu jeli. Dia benar-benar harus mengetahui seluk beluk perusahaan tersebut dulu baru dia mau menerima kerja sama. "Jika nantinya perusahaan itu bangkit lagi seperti dulu, kami akan menambahkan biaya pembuatan pulau dan resort yang anda rencakan." Ucap Beverly. Ntah karena terdesak atau apa. Tapi untuk ukuran gadis yang sering terlambat datang dan malas malasan, itu patut diacungi jempol. "Jika gagal?." Tanya Nico lagi. "Kami akan memberikan seluruh perusahaan papa saya kepada anda." Kevin terlihat terkejut dan membulatkan kedua matanya. Nico tertawa kecil. Kemudian mengangguk. "Jangan seluruhnya, sebagian saja. Itu kan perusahaan yang susah payah dibangun Mr.Alphabet bagaimana jika mengembalikan uang yang sudah kami keluarkan?." Kevin terdengar menghela nafasnya lega. Beverly mengangguk kemudian memberikan proposalnya kepada Nico. Nico membacanya dengan teliti. "Tuhan, jadikan lelaki di hadapan ku ini sebagai takdirku. Sungguh aku benar-benar mencintai lelaki ini." Batin Beverly. Terdengar pintu dibuka dari luar. Seorang gadis kecil berlari ke arah Nico. "Daddy... " Nico mengalihkan pandangannya menuju Fefe. "Halo sayang." Ucap Nico kemudian mengecup pipi Fefe. Fefe melihat Beverly kemudian tersenyum. "Tante Beverly, kok tante disini?." Tanya Fefe dengan wajah sumringah. "Tante Beverly dan daddy ada pekerjaan, sayang. Fefe ambil iPad daddy dilaci biasanya, fefe main dulu setelah ini kita makan siang." Kevin berulang kali mengerjapkan kedua matanya. Bagaimana bisa seorang CEO sedingin Nico akan berubah menjadi hangat ketika bersama anaknya. Tapi kapan Nico menikah, Kevin sama sekali belum pernah mendengar pernikahan Nico. Tetapi disini yang lebih mengejutkan lagi adalah seorang gadis disampingnya terlihat begitu dekat dengan anak sang CEO. "Tante Beverly, ikut kan dad?." Tanya Fefe sebelum berlari mengambil iPad Nico. Nico mengangguk. " Tidak keberatan kan mrs.Alpha?." Tanya Nico. Beverly menggeleng lemah. "Mungkin jika Mr.Puth bisa bergabung." Ucap Nico. Kevin terkejut, "hmm maaf Mr.Levian saya sudah berjanji akan makan siang dengan ibu saya." Nico mengangguk. Nico selesai memberi coretan pada kertas tersebut. Kemudian seorang wanita yang diketahui Beverly masuk ke dalam ruangan Nico. "Sorry, sir. Nn.Levian memaksa masuk." Melly melihat sekeliling kemudian menemukan gadis kecil itu sedang sibuk dengan iPad daddynya. Terlihat bibirnya yang mengerucut. Nico hanya menunjuk menggunakan dagunya. "Oke, sir. Saya permisi." Kali ini Melly tidak begitu formal. Ya mengingat status pertemanan mereka. Nico melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Sepertinya sudah masuk jam makan siang. Mari Mrs.Alphabet, putri saja mengajak anda ikut makan siang." Ucap Nico. "Baik Mr.Leviand." akhirnya Beverly mengeluarkan suaranya. "Ayo sayang." Ajak Nico kepada Fefe. "Mr. Leviand, saya permisi." Ucap Kevin kepada Nico. Nico mengangguk dan tersenyum formal. Kevin segera pergi dari ruangan itu. Sebelumnya dia menatap Beverly dengan tatapan seolah mengatakan "kau berhutang penjelasan padaku." Beverly mengangguk. "Ayo, tante Beverly." Ajak Fefe. "Ayo sayang." Ucap Beverly kepada Fefe yang begitu menggemaskan menggunakan dress berwarna merah muda itu. Mereka bertiga seperti keluarga yang sangat bahagia. Beverly menggenggam tangan Fefe kemudian berjalan beriringan disampingnya ada Nico yang masih setia dengan jas armani tersebut. Nico membuka pintu itu kemudian terlihat Melly yang sedang berbincang dengan suster Fefe. "Suster, kenalin ini tante Beverly. Tante yang sering aku ceritain ke suster itu lo." Ucap Fefe kepada susternya. Beverly melihat gadis yang umurnya mungkin seumuran dengannya. Memakai baju baby sitter memang. Beverly tersenyum tulus kepada Suster Fefe. "Sus, saya mau ajak Fefe makan siang. Suster ikut sekalian sama saya, setelah itu saya antar suster dan Fefe pulang ke rumah Mama. Atau nanti Derry yang menjemput." "Baik, tuan muda." Nico mengangguk. "Mel, makan siang sana. Pikirin janin diperut lo." Ucap Nico perduli. Melly memang sudah menikah beberapa bulan yang lalu. Bahkan dia sedang hamil duabulan. "Iya, nico." Beverly terkejut. Jadi Nico bukan orang yang dingin seperti apa kata pegawainya. "Gue pergi dulu ya." Ucap Nico. Beverly pikir sekertaris Nico masih gadis. Ternyata sudah menikah bahkan sedang mengandung. "Bye bye aunty Melly." Ucap fefe. "Bye sayang.." ucap Melly melambaikan tangannya. Mereka berjalan bertiga dengan Fefe digendongan Nico. Mereka benar-benar tampak seperti keluarga bahagia. Suster masih setia dibelakang. Semua tatapan pegawai menampakan tatapan kagum dan iri. Tetapi ada juga pegawai wanita yang menatap sinis. Nico menggelitik perut Fefe dan membuat mereka tertawa. Hati Beverly begitu menghangat melihat itu semua. Ada perasaan yang sulit dia jelaskan. Mereka berdiri di lobby, hingga sebuah mobil berlambang Audi itu tiba. Petugas valet kantor Nico turun dan kemudian mempersilahkan masuk. "Thankyou, bro." Ucap Nico sambil menepuk bahu petugas itu. Petugas itu tersenyum. Hal biasa bagi petugas valet disana. Fefe meminta Beverly menggendongnya. Kemudian Nico memberikan Fefe kepada Be. Be menerima kemudian mencium pipi Fefe. "Tante Be, kita duduk depan ya. Tante Be pangku Fefe ya." Ucap Fefe.  "Oke sayang," ucap Be. ---------- Sekarang disinilah mereka. Disebuah restoran kelas atas. Fefe terlihat menolak ketika beberapa kali Suster menyuapinya. Melihat Bev yang sudah selesai makan. Bev meminta kepada suster agar dia yang menyuapi Fefe. "Suster, makan siang dulu aja ya. fefe biar saya yang suapi." Ucap Bev. Suster tersebut awalnya terlihat sungkan. Kemudian Beverly menatapnya dengan tatapan yakin. Takut jika Tuan Muda akan marah. Kemudian memberikan piring itu kepada Bev. Bev menyuapi Fefe dengan penuh sayang. Sejak dulu Bev memang tidak pernah membedakan antara dia dan asisten rumah tangganya. "Ayo sayang, makan dulu ya. Tante suapin" dengan begitu mudah Fefe membuka mulutnya. Memudahkan Be untuk menyuapi Fefe. Fefe terlihat begitu bahagia. Nico selalu melihat mata yang bahagia ketika mereka bersama Beverly. Bahkan mata bahagia itu dulu tidak ada ketika mereka berdua kencan di Disneyland. "Tante Be, mau gak jadi mama Fefe?." Beverly terkejut, kemudian melirik Nico yang tiba-tiba tersedak minumannya sendiri saat mendengar Fefe berbicara itu. Pipi Bev blushing. Pipi gadis itu memerah. Dia hanya bisa tersenyum, tidak menolak dan tidak menjawab. Melihat tatapan dingin Nico, Beverly menjadi begitu takut. "Daddy, kok batuk sih?." Fefe bertanya dengan sebal. "Mau gak tante? Jadi mama Fefe?." Beverly bingung jawaban apa yang mau dia berikan pada gadis kecil ini. Tiba-tiba seorang wanita menutup mata Nico dengan telapak tangannya. Bev terkejut. Kemudian hatinya dirundung kecewa dan sedih. Wanita itu terlihat sangat cantik dan terlihat merawat diri.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN