Part Four

1144 Kata
"Mimoooooo" suara Fefe menggelegar ketika melihat wanita yang menutup mata Daddy nya adalah Angel. "Angel, sialan lo!" Umpat Nico. Fefe segera turun dari kursinya kemudian berlari memeluk Angel. Angel menggendong gadis kecil itu dan melupakan ayah si gadis kecil yang sedang mengumpat terus terusan. Bev tersenyum pahit. Dia melihat kedekatan yang sangat ketika melihat Fefe digendong wanita itu. Bev juga merasa wanita itu lebih cantik darinya. Sangat hangat dan keibuan. "Mimooo, aku kangen banget sama mimo. Mimo kapan pulang dari Amerika?." Tanya Fefe sambil menciumi pipi Angel bertubi-tubi. "Lusa kemarin sayang, daddy gak bilang? Padahal mimo punya banyak oleh-oleh untuk Fefe." Ucap Angel. Bev terasa hatinya diremas. Dia begitu merasa asing disini. Bahkan dia tidak sebanding dengan wanita di hadapan nya ini. "Eh, sayang? Tante ini siapa? Mama baru fefe? Kok gak dikenalin sama mimo?." Bev tertegun, bahkan Fefe sudah memanggil wanita yang disebut Nico memiliki nama Angel itu dengan panggilan "mimo". "Oh iya. Mimo ini Tante Bev, tante Bev ini mimo Fefe namanya Angel." Angel tersenyum lalu menjabat tangan Bev. Mereka saling tersenyum. Angel menilai Bev melalui matanya. Dia yakin bahwa gadis didepannya ini adalah gadis baik-baik. Dan sangat cocok untuk ayah satu anak itu. "Mama baru Fefe?." Tanya Angel. Fefe mengangguk sambil tersenyum. Pipi Bev memerah. Tapi tetap saja hatinya masih dirundung cemburu. "Beverly." Ucap Bev sambil mengulurkan tangannya. "Angel." Ucap Angel sambil membalas uluran tangan Bev. "Mimo, dede Livi dimana? Pipo juga." Tanya Fefe sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru restoran. "Wah... nyesel gue ngijinin Brian nikah sama lo." Ucap Nico cuek. Menikah? Brian? Seketika hati gadis itu lega. OLIVIA ALASKA RAVINO. Livi, anak pertama dari Brian dan Angel. "Sayang, jangan lupain Livi dong." Ucap seorang lelaki dibelakangnya. Angel membalikan tubuhnya dan menemukan suaminya yang sedang menggendong putri kecil mereka yang berumur kurang lebih sembilan bulan itu. "Oh iya, mama lupa sayang. Ini kakak Fefe kangen sama Livi." Ucap Angel kemudian mengambil alih menggendong putri kecilnya. "Livi, kakak kangen banget sama kamu." Ucap Fefe kemudian menciumi pipi chubby Livi. Livi hanya mengocah tidak jelas dan tentu saja semakin membuat Fefe gemas. "Gue agak nyesel ngijinin lo nikah sama Angel. Kacau banget dia jadi emak. Masak anak sama suaminya ditinggal." Ucap Nico cuek. Angel hanya melotot ke arah Nico sambil mencibir. "Eh siapa ini? Mama baru Fefe?." Tanya Brian sambil mengkerlingkan matanya kepada Nico,saat menyadari bahwa ada seorang gadis asing yang sedang duduk dihadapan Nico. Nico hanya memutar matanya jengah. Jengah dia dengan pasangan menjengkelkan di hadapan nya ini. "Ini Tante Bev, pipo." Ucap Fefe sambil memeluk leher Bev posessif. "Brian." Ucap Brian sambil mengulurkan tangannya kepada Bev. Bev membalasnya dengan tersenyum, "Beverly, Bev." Ucap Bev. Brian mengangguk. "Eh sayang, yaudah yuk buruan kayaknya Livi udah laper deh." Ucap Brian kepada Angel yang sedang menggoda Nico berkali-kali tentang adanya gadis di hadapan nya. "Buruan resmi. Kasian tu banana gak ada yang urus." Ucap Angel kepada Nico. Nico menggeram sebal, segera Angel berjalan. Sebelum berjalan wanita cantik itu mencium pipi Fefe. "Suruh cepetan daddy kamu nikahin itu tante Bev. Mimo setuju." Ucap Angel kepada Fefe. Fefe tertawa ringan. Pipi Bev memerah seperti tomat. Tetapi lagi-lagi hatinya terhempas ketika melihat wajah datar lelaki tampan di hadapan nya. "Maaf buat ucapan mereka. Mereka emang suka ngomong ngelantur." Ucap Nico dingin. Bev tersenyum lembut. Mereka telah menyelesaikan makan siang itu. Nico mencium pipi Fefe berkali-kali sambil mengucapkan hati hati. "Sus, jaga baik baik." Suster itu pun tersenyum dan mengangguk. "Baik, Tuan. Saya permisi dulu. Ayo, Non Fefe." Ucap suster kemudian menggandeng tangan Fefe memasuki mobil mewah itu. "Bye bye Daddy, i love you." Ucap Fefe kepada Nico. "Bye sayang.." ucap Nico tersenyum tulus. "Bye tante Bev." Ucap Fefe kemudian mobil itu menjauhi restoran bintang tersebut. Mereka terdiam sejenak, ada perasaan kikuk disana. "Ayo, gue anter pulang." Ucap Nico dingin. "Gak usah. Gue bisa pulang sendiri kok." Ucap Bev. "Gue gak mau nanti lo kenapa-kenapa dan Fefe bakal marah sama gue karena gak jaga Tante kesayangannya." Bev membeku. Jadi Nico baik semata-mata hanya untuk Fefe? Memang Bev sudah menebaknya sebelumnya. Ketika memperkirakan sakit hati, maka ketika mengetahui kenyataannya akan terasa seperti terhempas. Bev mengangguk. Hatinya terasa sakit. Dia memang tau sejak dulu hingga sekarang Nico tidak akan pernah membuka hatinya untuk dirinya. Bev mengangguk, kemudian mengikuti langkah Nico menuju mobil sport miliknya. -_-_-_-_-_-_-_-_-_-_- "Makasih." Ucap Bev dengan senyuman di wajahnya. Nico hanya menatap sekilas, kemudian mengangguk. "Gue pergi dulu." Ucap Nico kemudian menaikan sunglasses berbranded itu dan segera melajukan mobilnya menuju perusahaan miliknya. Bev melihat kepergian mobil itu dengan hampa. Gadis itu berjalan dengan lunglai memasuki perusahaan dengan bangunan pencakar langit itu. Para karyawan menyapa nya dengan formal. Bahkan pegawai laki-lakinya menatapnya dengan tatapan kagum Gadis itu memasuki lift yang akan membawanya menuju ruangan papa-nya. Ruang papa-nya kini menjadi ruangannya juga. Semenjak jatuhnya perusahaan itu. Oh belum jatuh. Tetapi hampir. Dan gadis itu tidak akan membuat perusahaan itu hancur. Dia hanya membalas senyuman tipis ketika para pegawai menyapanya. Tiba di ruangan papa-nya. Memang ruangan ini tidak semewah ruangan Nico. Nico? Ah dia jadi ingat apa yang dikatakan lelaki itu. Lelaki itu tidak bisa melihat ketulusannya pada putrinya. -flashback- Bev hanya memandang jalanan dengan gugup. Tak ada pembicaraan didalam mobil ini. Suhu pendingin mobil terasa semakin membuatnya dingin, terlebih lelaki disebelahnya. Sangat dingin. Sesekali gadis itu melirik lelaki yang begitu ia kagumi dan cintai. Bahkan ini sudah tahun ketujuh untuk Bev mengagumi lelaki itu. Dan selama itu pula perasaannya pada lelaki itu tidak menghilang sedikit pun. Lelaki itu hanya terdiam. Mata tajam nya ditutupi sunglasses mahal miliknya. Dia menatap fokus jalanan tanpa berniat melihat ke arah nya. Tiba-tiba lelaki itu mengucapkan kata kata yang membuat hati Bev sakit. Bev tidak sejahat itu. Dia tidak pernah berpikiran seperti itu. "Jangan dekati anak gue kalo lo cuma mau manfaatin dia. Ntah gue gak tau ini kebetulan atau enggak, lo dateng di kehidupan putri gue, setelah itu lo dateng ke gue untuk meminta ikatan perusahaan untuk menolong perusahaan lo." Ucap Nico tajam. Bev membulat matanya tak percaya. Tubuhnya serasa lemah dan tak bertulang. "Aku tidak pernah berpikir seperti itu Mr.Leviando yang terhormat." Ucap Bev tak kalah dingin. Dia benar-benar kesulitan mengutarakan sekalimat itu. "Terserah! Yang pasti gue gak mau lo manfaatin anak gue." Ucap Nico masih dingin. Bev menahan air matanya mati-matian. Dia tidak sejahat itu. Dia menyayangi gadis kecil itu tulus. "Dan saya juga tidak pernah berpikir sejahat itu, Nico" Ucap Bev dingin. Nico terdiam. Tidak ada bahasan lagi hingga akhirnya mobil sport itu berhenti didepan gedung pencakar langit. -flashback off- Gadis itu menitihkan air matanya. Dia tidak pernah berpikir seperti itu. Bahkan dia tidak mengetahui. Perasaannya asing, dia baru merasakan kasih sayang seperti ini. Kasih sayangnya tidak bisa disamakan dengan kasih sayang yang dia berikan kepada Nico. Rasa sayangnya berbeda. Tapi mendengar ucapan lelaki itu sungguh membuatnya terluka. Dimana otak lelaki itu. Dia berbicara seolah-olah gadis itu adalah gadis jahat yang tega memanfaatkan seorang gadis kecil untuk mendapatkan kesuksesan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN