Tentang Orang Ke 3
12 Desember 4 tahun yang lalu, adalah hari yang tidak akan pernah aku lupakan. Namaku Jihan, Amara Jihan Harifa. Dan di hari itu, aku resmi melepas status lajang menjadi istri seseorang. Aku tidak pernah menyangka, sosok yang cukup ternama, tampan, kaya dan populer akan jatuh cinta padaku yang begitu sederhana. Diantara banyak wanita yang mengejarnya, ia memilihku sebagai pendamping hidupnya. Adam Fahri, seorang vocalis muda yang banyak digandrungi kaum hawa, hari ini resmi menjadi suamiku. Bagaimana aku tidak bahagia?
Tapi kisah Cinderella tak berakhir bahagia saat mendapatkan seorang pangeran. Dan aku, sepertinya memang Cinderella yang malang.
---------*-----*-----*----------
4 tahun yang lalu
" Cium! Cium! Cium!"
Sorak sorai tergerai saat Adam mengecup kening Jihan untuk pertama kalinya. Tapi tidak dengan seseorang yang tampak memerah dari kejauhan. Seorang gadis dengan wajah cantik dan mata yang memerah menahan tangis, jari tangannya mengepal menahan emosi. Ia memalingkan wajah kemudian menyeka air matanya yang meluncur turun. Terlihat jelas ia begitu keberatan dengan pernikahan itu.
" Sakit hati ya?" Sapa seseorang membuatnya tercekat. Seorang wanita paruh baya yang tidak lain adalah ibu dari mempelai pria, Sarah Fahri.
" Tidak tante, hanya terharu karna Adam mendapatkan Jihan, Jihan itu orang yang baik. Dia bahkan menganggap saya seperti saudaranya." Jawabnya mencoba mengulas senyum.
Sarah tersenyum dingin
" Mauria, saya tahu kamu menyukai Adam kan? Ibumu banyak bercerita bahwa kau banyak menyimpan lagu lagu dan kasetnya. Sejujurnya, kamu jauh lebih baik dari pada Jihan. Seandainya bisa, saya lebih suka kamu yang jadi menantu saya dari pada Jihan kampungan itu. Apa yang bisa dibanggakan darinya. Hmmm, oh ya tante dengar kamu lolos audisi sebagai penyanyi wanita pendamping Adam di group bukan? Gunakan kesempatan itu dengan baik ya." Senyum Sarah penuh maksud seraya menepuk pundak Mauria pelan
" Maksud tante apa?"
" Kamu tentu lebih tahu apa yang saya maksud. Nikmati saja pestanya." Sarah kemudian beranjak pergi. Meninggalkan Mauria yang kembali menatap Adam dengan perasaan tercabik cabik.
Benar, ia begitu mengidolakan Adam sejak Adam debut menjadi penyanyi. Ia bahkan latihan dengan keras agar bisa bernyanyi dengan baik, mengikuti les vokal dan tidak tanggung tanggung mengikuti casting agar lolos menjadi penyanyi wanita pendamping Adam. Dengan kata lain, Mauria adalah fans sejati dari Adam. Ia begitu jatuh cinta dengan pria berhidung mancung dan berkulit putih itu. Rasanya tidak adil jika Tuhan justru memilih Jihan sebagai istri Adam. Jihan yang bahkan tidak pernah sekalipun menonton konsernya, Jihan yang tidak pernah memuja dan menulis surat penggemar untuknya. Kenapa harus Jihan?
Jauh dalam sedihnya...
" Mauria!!!" Teriak Jihan melambaikan tangan dengan wajah bahagia. Mauria segera mengusap air mata dan menyambut panggilan itu.
" Adam, ini sahabatku sejak kecil, namanya Mauria." Jihan justru mengenalkan Mauria pada suaminya. Mauria hampir tak berkedip menatap wajah yang sempurna itu.
" Ya, aku tahu. Dia lolos audisi menjadi penyanyi pendampingku. Hai, salam kenal ya." Adam mengulurkan tangannya
Mauria dengan grogie menjabat tangan yang bertahun tahun hanya ada dalam mimpinya itu. Rasanya begitu hangat, Mauria serasa bisa bernapas lega setelah sekian lama tercekik.
" Mauria, kalau kau yang menjadi penyanyi pendamping Adam, aku titip dia ya. Jaga dia jangan sampai melirik wanita lain, oke!" Senyum Jihan begitu tulus.
Mauria tersenyum mengangguk pelan
Dan inilah kesalahan terbesarku, seharusnya aku tidak menitipkan suamiku pada siapapun, terlebih terhadap seorang wanita. Walaupun aku menganggapnya seperti saudariku sendiri.
Karena penghianatan terbesar, berasal dari orang terdekat kita ~ Jihan
" Dengan senang hati." Jawab Mauria
--------*-------*------*---------
Malam itu, adalah malam pertama bagi Adam dan Jihan. Sekaligus hari pertama Jihan tinggal di rumah mewah Adam bersama keluarga besarnya.
" Ayo aku tunjukkan kamar kita!" Ajak Adam merengkuh jari jemari putih istrinya lalu memainkan mata. Sumpah demi apapun, Adam benar benar memiliki pesona yang memikat, sentuhan tangannya saja cukup membuat Jihan gemetar. Pasti hari itu banyak sekali hati yang patah, karna idola mereka sudah tidak lajang lagi.
" Ayo!" Ajaknya lagi. Menuntun langkah Jihan memasuki rumahnya. Namun, baru saja mereka hendak memasuki kamar megah di lantai dua. Tiba tiba, Sarah berdiri, menghadang dengan telfon di tangan
" Dam, managermu menelfon, katanya ada kontrak penting yang harus kamu tanda tangani sekarang." Ujar ibu muda itu terdengar ketus dan dingin. Cukup menggertak hati Jihan yang masih berusaha tersenyum
" Tapi ma, ini hari pernikahanku. Aku sudah bilang akan cuti selama beberapa hari bukan? Bagaimana bisa aku meninggalkan Jihan?" Adam keberatan
" Ada mama di sini, Jihan tidak akan merasa keberatan jika mama temani malam ini bukan?" Senyum Sarah melirik ke arah Jihan.
" Ini juga demi karirmu. Demi nama baikmu. Iya kan Jihan?" Imbuhnya memaksa Jihan mengangguk pelan.
" Kau benar benar tidak keberatan kan?" Tanya Adam mengelus pundak istrinya
" Tidak, lagi pula kita masih bisa bersama setelah ini bukan?" Senyum Jihan ikhlas
Adam menghela napas dalam
" Baiklah, aku pergi sebentar. Titip Jihan ya ma."
Sarah mengangguk melepas kepergian putranya dengan senyum tipis.
" Jihan, kau bisa membantu mama kan? Tolong buatkan mama teh di dapur. Kamu jalan lurus saja ke dekat tangga, di sana dapurnya." Ucap Sarah dengan tatapan tajam ke arah menantu barunya
" Baik ma." Jihan hendak beranjak. Sebelum...
" Tunggu! Kalung ini dari Adam?" Tanyanya menunjuk kalung mutiara yang melingkar indah di leher jenjang Jihan
" Iya."
" Hmm dijaga baik baik! Ini pasti mahal. Adam tidak pernah membeli sesuatu yang murahan. Makanya saya heran kenapa dia begitu mencintaimu."
Deg
Kata kata itu begitu menyakitiku
Hatiku bagai tercubit dalam
Seakan ia ingin menampar jauh ke dalam rasa percaya diriku
Mertuaku tidak pernah menyukaiku
Jihan terdiam sejenak
" Ya sudah! Saya tunggu tehnya di lantai bawah ruang tamu. Jangan lama lama ya." Sarah berbalik kemudian melangkah elegant menuruni tangga, meninggalkan Jihan yang berkaca kaca di tempatnya
Dari awal, aku memang tidak pernah diterima ~ Jihan
Sementara itu di sana...
Adam menghentikan laju motornya di sebuah halaman parkir sebuah apartemen yang menjulang tinggi. Ia bergegas memasuki apartemen itu. Mencari managernya dan segera menyelesaikan urusan mereka. Tapi, sesampainya di sana, bukan manager yang ia temui, melainkan Mauria yang tampak tersenyum lebar menyambut kedatangannya.
" Kau di sini?" Adam mengernyit
" Ya, manager memintaku datang. Tapi kenapa kau di sini? Bukankah seharusnya kau bersama Jihan? Aku sudah membicarakan ini dengan manager, ia mengerti dan tidak memaksamu datang. Barusan aku juga menelfon Jihan." Jawab Mauria dengan manisnya. Adam mendengus kesal
" Terima kasih. Aku harus segera pulang." Tegas Adam hendak berbalik, sebelum... Mauria menahan pergelangan lengannya
" Ada apa?" Tanya Adam mengernyit
" Ah tidak, sampaikan salamku pada Jihan ya. Boleh kan kapan kapan aku main ke rumah kalian? Lagipula Jihan dan aku adalah teman baik."
" Tentu!" Senyum Adam melepaskan genggaman tangan Mauria kemudian lekas beranjak
-------*-----*-----*-------
Hari demi hari berlalu semenjak pernikahan mereka. Adam memang terlihat begitu menyayangi Jihan, begitu perduli dan memperhatikannya. Tidak sekalipun Adam meninggalkan saat Jihan butuh. Ia terlihat seperti suami idaman yang sempurna baik fisik maupun hati. Jihan merasa beruntung karna Adam telah memilih dirinya yang bahkan berasal dari keluarga sederhana.
Hingga pagi itu...
" Mauria!!" Seru Jihan memeluk sahabatnya yang datang berkunjung.
" Aku bawakan salad buah kesukaanmu. Boleh aku masuk?" Tanya Mauria yang tampak begitu lugu.
" Tentu! Ayo!" Ajak Jihan bahagia. Ia membawa Mauria ke ruang tamu. Di sana tampak mama Sarah dan Adam yang terlihat membaca koran.
" Siapa itu?" Tanya Sarah tak suka. Tapi saat melihat Mauria di sana, ia mengulas senyum yang begitu manis.
" Hai tante, Adam. Maaf mengganggu. Saya hanya ingin mengunjungi Jihan." Sapanya sopan kemudian mencium punggung tangan Sarah
" Tidak apa apa. Ayo duduk! Sudah lama tante tidak melihatmu. Kamu tambah cantik ya." Puji Sarah.
Mauria pun duduk di sebelah Jihan, menatap Adam lekat yang bahkan tidak meliriknya sedikitpun.
" Adam kapan akan kembali ke studio? Teman temanmu selalu menanyakan." Mauria mencoba menyapa
Tapi Adam justru menatapnya dingin
" Kalau mereka mau, mereka bisa bertanya padaku langsung. Kenapa menanyakan melalui dirimu?" Senyumnya sinis, membuat Mauria tertunduk
" Aku dan Mauria berteman sejak kecil. Mulai dari SD, keluarga Mauria sangat baik lho dam. Walaupun mereka berasal dari keluarga berada, mereka selalu baik padaku." Tutur Jihan dengan polosnya
" Ya itu terlihat dari diri Mauria yang tampak begitu anggun dan berkelas." Jawab Sarah membuat Jihan terdiam. Lagi lagi sepertinya ibu mertuanya itu menyindir Jihan.
" Hmm tapi menurutku dia terlihat seperti gadis biasa saja." Jawab Adam sinis.
" Biasa dari mananya dam? Sangat beruntung lho pria yang bisa menikahi Mauria. Cantik, pintar, pandai bernyanyi dan dari golongan atas. Sayang saja kau lebih dulu bertemu dengan Jihan, kalau tidak..."
" Ma!" Nada suara Adam agak meninggi saat memotong perkataan mamanya. Tentu saja ia tahu kemana arah pembicaraan itu. Adam bahkan bisa menebak, mamanya lebih menyukai Mauria. Ia tidak ingin Jihan sakit hati.
" Sudah cukup! Bagi Adam, pria yang paling beruntung di dunia ini adalah Adam. Kenapa? Karena Jihan mau menerima Adam sebagai suaminya. Jihan ini pintar lho ma, dia selalu berprestasi. Bahkan Adam pertama kali melihat Jihan di sebuah acara bergengsi, Jihan adalah pemateri dan motivator di sana. Harusnya mama bersyukur punya menantu seperti Jihan. Adam tidak mau mendengar mama membandingkan Jihan dengan siapapun. Karena tidak ada yang sebanding dengannya!" Adam melirik tajam ke arah Mauria yang wajahnya langsung berubah pasi.
" Mama cuma berpendapat kok dam, siapa bilang Jihan bukan gadis yang baik. Dia sangat baik kok, mama beruntung dapat menantu seperti Jihan. Oia dam boleh mama minta tolong ambilkan obat mama di kamar? Ini kaki mama terasa nyilu lagi!" Pinta Sarah dengan senyum yang dibuat semanis mungkin
Adam meletakkan koran di tangannya kemudian berdiri dan mengecup kening Jihan sekilas.
" Aku pergi sebentar ya sayang." Tuturnya manis. Benar benar membuat hati Mauria tercubit. Pemuda itu kemudian bergegas menuju kamar mamanya.
Dan seperginya Adam...
" Mauria tante dengar sudah semester akhir ya?" Sarah membuka pertanyaan
" Iya tante, sebentar lagi wisuda." Jawab Mauria lembut
" Wah sudah cantik, pintar lagi. Sudah punya pacar?"
" Belum tante."
" Sayang sekali tante cuma punya anak satu. Coba Adam belum nikah, pasti tante jodohkan dengan Mauria."
Deg
Lagi lagi, Jihan merasa tak enak. Seakan akan ia tidak berada di tengah percakapan itu
" Suara Mauria pasti bagus ya. Karena itu Mauria menjadi teman duet Adam kan? Siapa tahu masih ada kesempatan." Senyum Sarah
" Ma." Jihan akhirnya membuka suara. Matanya sudah memerah menahan tangis
" Apa? Begitu saja tersinggung. Mama kan cuma bercanda." Celetuk Sarah
" Jihan tahu ma, Jihan tidak ada apa apanya dibandingkan Mauria. Tapi mama tolong jaga perasaan Jihan." Pinta Jihan sedih
" Han, tante itu cuma bercanda kali. Lagian mana mungkin aku sama Adam. Kan kita sahabatan dari kecil." Hibur Mauria menggenggam tangan Jihan yang terasa gemetar
" Lagi pula mama bicara apa adanya. Bukan Adam yang beruntung tapi kamu yang beruntung dapat anak saya. Adam bisa lho mencari yang jauh lebih cantik, lebih berbakat dan lebih segalanya dari kamu. Saya hanya bercanda, jangan dimasukkan ke hati. Jangan gampang baper!" Tukas Sarah penuh penekanan
" Mama cukup!" Jihan berdiri dari duduknya
" Jihan tidak ingin mendengar apapun lagi. Mauria, maaf ya. Sepertinya aku kurang enak badan. Lain kali aku akan berkunjung ke rumahmu ya." Tutur Jihan kemudian berbalik dan berlari pergi.
" Cih dasar menantu tidak sopan. Begitu tuh kalau tersinggung. Bawaannya baper, main pergi pergi saja." Celetuk Sarah. Mauria mengulas senyum
" Ini Adam ke mana juga kok lama banget. Mauria, bisa kamu lihatkan dia di kamar tante?" Pinta Sarah mengambil kesempatan
" Tapi Mauria kan gak tahu di mana kamar tante." Senyum gadis itu
" Kamu lurus saja. Nah di ujung saja ada kamar dengan pintu warna coklat. Ada pot kristal besar di sisi kanannya, itu kamar tante. Ini tante gak tahan, pinggang dan lutut tante sakit banget. Bisa kan tante minta tolong?" Tanya Sarah
" Dengan senang hati tante." Mauria kemudian berdiri, melangkah menyusuri jalan yang tadi dilewati oleh Adam
Matanya melirik ke kanan dan ke kiri. Banyak sekali potret Adam yang begitu mempesona. Rumah itu juga sangat megah, dihiasi dengan banyak perabotan mahal dan kristal mewah di setiap sudutnya
" Sialan! Jihan bisa bisanya tinggal di istana kayak gini. Harusnya aku yang ada di sini." Gumamnya dengan pandangan sinis.
Beberapa langkah kemudian, ia bertemu dengan pintu kamar yang dimaksud. Tampak Adam ke luar dari kamar itu dengan kotak obat di tangannya, ia cukup terkejut melihat kehadiran Mauria. Dan Mauria justru mengulas senyum manis menatap wajah rupawan di hadapannya
" Sedang apa di sini? Bukankah cukup lancang seorang tamu bisa sampai ke mari?" Singgung Adam tak suka
" Tante memintaku ke sini. Katanya lutut dan pinggangnya sangat sakit. Beliau tidak tahan karna kamu terlalu lama. Sini saya bantu bawakan kotak obatnya!" Pinta Mauria mengulurkan tangan
" Tidak perlu! Harusnya Jihan yang kemari, bukan kamu!"
" Jihan sepertinya marah dan tersinggung dengan ucapan mamamu."
" Tersinggung?"
" Ya, aku cukup kaget dia tadi marah marah setelah kamu pergi. Jihan sebelumnya selalu sopan sama orang tua. Gak tahu kenapa dia bisa bicara begitu pada tante Sarah." Tutur Mauria meyakinkan
Mendengar itu, Adam langsung melangkah menuju ruang tamu. Benar saja, Jihan sudah tidak ada di sana.
" Mana Jihan ma?" Tanya Adam menyerahkan kotak obat itu ke tangan mamanya
" Gak tahu, marah sama mama. Karena tadi mama bilang Mauria itu cantik. Apa mama salah?" Tanya Sarah dengan pandangan sedih.
Adam menarik napas panjang. Rasanya tidak mungkin Jihan bisa bersikap seperti itu. Tapi bagaimana bisa apa yang dikatakan Mauria sama dengan apa yang dikatakan mamanya?
" Kalau begitu aku pamit pulang dulu ya dam, tante Mauria pulang dulu ya, semoga tante segera sembuh." Pamit Mauria kemudian mencium punggung tangan Sarah
" Hati hati di jalan ya nak."
" Iya tante! Terima kasih." Mauria pun berbalik kemudian melenggang pergi dengan senyum tipis penuh maksud di bibir mungilnya.
" Adam kamu mau ke mana?" Tanya Sarah saat Adam berbalik hendak beranjak
" Menemui Jihan." Jawab Adam dingin kemudian berlari menaiki tangga menuju ke kamarnya. Sarah mengulas senyum melihat mimik wajah putranya
Benar saja, setibanya di kamar...
" Adam?"
" Kenapa kau jadi begini sih?" Adam menatap Jihan dengan kening mengernyit
" Maksudnya apa?" Tanya Jihan tidak mengerti
" Ya kamu! Kenapa kamu marah marah pada mama dan meninggalkan ruang tamu begitu saja? Mama itu orang tua. Dia bisa bicara apa adanya. Jangan karna aku selalu membelamu kau justru jadi keras kepala dan mudah tersinggung!" Tekan Adam yang tampak marah.
Jihan mengerti, ia memilih diam dan menerima kemarahan Adam. Toh meskipun ia membuka suara, tidak ada bukti yang bisa membelanya kan?
" Maafkan aku kalau aku salah ya dam. Aku tidak akan mengulanginya lagi." Ucapnya dengan suara getir
" Kita di sini hanya tinggal bertiga dengan mama. Ayah sedang bertugas, kakakku di luar negeri. Jadi tolong sayang, tolong kau bisa mengerti mama." Pinta Adam memegang pundak istrinya lembut. Amarahnya mulai reda saat melihat manik mata Jihan yang hanya mengangguk pelan
" Apalagi mama sedang sakit, ginjalnya bermasalah. Jadi tolong mengerti ya." Adam kemudian menarik tubuh Jihan ke dalam pelukannya
" Iya Adam. Maaf ya, kalau sikapku salah. Aku akan berusaha lebih baik lagi agar mama menyayangiku." Gumam Jihan merahasiakan air matanya yang mengalir di belakang pundak suaminya.
" Bagus. I love you." Adam melepas pelukannya kemudian mengecup kening Jihan mesra
" Love you more." Sahut Jihan
Tapi itu bukan kesalahpahaman yang pertama dan terakhir kalinya. Karena setelah itu, Jihan semakin menderita. Rumah tangganya semakin mirip seperti kuburan, semakin lama semakin sesak dan mencekik leher wanita 19 tahun itu.
Sama seperti hari itu, Sarah selalu menyudutkan dirinya di setiap kesempatan.
Hari itupun begitu, saat Adam sibuk dengan show pertamanya di luar kota, Sarah mengambil kesempatan untuk membuat Jihan menderita. Memperlakukan Jihan seperti pembantu bahkan meliburkan kerja pelayan demi menyibukkan menantunya. Hingga saat Adam pulang dan membutuhkan Jihan di tempat tidur, Jihan kelelahan dan sering kali menolak. Jarak diantara keduanya seakan semakin terbuka lebar.
Lalu di meja makan pagi itu, Sarah benar benar melihat raut kemarahan di wajah putranya.
" Adam, kapan nih mama bisa menimang cucu? Teman teman mama sudah punya cucu semua. Jangan sampai mama meninggal tapi belum sempat melihat cucu mama. Ini sudah 4 bulan lho." Celetuk Sarah membuat Jihan menghentikan suapan nasi ke mulutnya. Benar, itu memang sudah 4 bulan, tapi ia tidak kunjung mendapatkan garis 2.
" Sabar ma, belum waktunya. Mungkin sebentar lagi." Jawab Adam dengan nada tak enak
" Iya, tapi kenapa kalian tidak mencoba program ke dokter saja? Supaya ketemu solusinya." Pinta Sarah dengan wajah memelas
" Kita kan baru 4 bulan ma. Nantilah setelah satu tahun, Adam akan mencoba ke dokter. Semoga secepatnya ya ma." Senyum pemuda itu dingin.
" Aamiin." Jawab Sarah melirik ke arah Jihan yang tampak begitu tertekan. Ya, itu bukan pertama kalinya Sarah menanyakan hal yang sama pada Jihan. Ia memang ingin mental menantunya itu tertekan dengan kata kata mandul.
Usai sarapan, Jihan bergegas ke kamarnya dan menangis lepas di sana. Adam yang melihat hal itu bergegas menyusul istrinya. Benar saja, Jihan menangis.
" Apa kata kata mama menyinggungmu lagi? Sampai kapan kau akan menjadi perasa seperti ini?" Tegur Adam tak suka.
" Mama sering menanyakan hal itu padaku dam. Seakan akan aku ini mandul, tolong bilang pada mamamu agar tidak menekanku dengan keinginannya." Pinta Jihan
" Ya ampun Jihan! Hanya karna hal kecil kau menangis begini? Mama itu orang tua, wajar jika dia menginginkan cucu setelah anaknya menikah. Jangan terbawa perasaan begini dong. Pusing aku lama lama menghadapi sikapmu yang begini!" Adam meraih jaket kulitnya kemudian hendak beranjak.
" Dam kau mau ke mana?" Jihan menahan lengannya
" Ke studio dan bertemu dengan teman teman. Malas aku melihatmu menangis terus terusan begini!" Adam melepaskan pegangan Jihan kemudian meninggalkan istrinya itu menangis sendirian.
Sarah yang melihat Adam ke luar dari kamarnya menuju halaman dengan raut marah tersenyum lega.
" Menantu kok cengeng." Gumamnya dengan ekspresi penuh kemenangan. Hingga...
" Aawh! Aduh! Kenapa sakit sekali? Jihan!!!" Teriak Sarah yang tiba tiba tersungkur memegang perut bagian bawahnya.
" Jihan!!!" Teriaknya lagi yang kemudian tergeletak tak sadarkan diri. Mungkin malaikat ingin memberikan karma instant kepadanya.
Sementara itu, tak lama kemudian, Adam tiba di studionya. Tampak Mauria sedang berbincang bincang dengan teman temannya dan tertawa renyah.
" Hai dam." Sapanya hangat
Adam duduk pada salah satu kursi dengan wajah kusut dan ekspresi penuh tekanan
" Kenapa lo bro?" Tanya salah satu temannya
" Gak ada apa apa. Ternyata menikah itu merepotkan ya. Ngopi yuk di Cafe?" Ajak Adam
" Aduh maaf bro, kita kita sudah mau pada pulang nih. Ngantuk! Lain kali saja ya." Tolak mereka yang kemudian berdiri dan beranjak pergi.
" Kamu kenapa?" Tanya Mauria memegang pundak Adam lembut.
Seketika, Adam menatap lekat pada iris coklat di depannya. Dalam kalut itu, ternyata memang benar, Mauria terlihat begitu lembut dan cantik.
" Tidak pulang juga dengan lainnya?" Tanya Adam menghela napas
" Tidak, ini masih jam 11 siang. Aku bisa jadi pendengar yang baik, kalau memang dibutuhkan." Tutur Mauria lembut
" Maaf ya Mauria, sikapku terlalu sinis padamu sebelumnya. Itu karena aku menghargai perasaan Jihan." Senyum Adam kecut
" Aku mengerti kok. Tida apa apa, lagi pula sejak kecil aku tahu kalau Jihan itu orangnya memang perasa." Mauria duduk di hadapan Adam
" Jadi sejak dulu Jihan memang gampang tersinggung ya?" Tanya Adam
" Iya, tapi dia sangat baik dan cerdas. Kau beruntung memilikinya." Jawab Mauria terlihat tulus. Adam terdiam sejenak, menatap lekat Mauria yang juga menatapnya sendu
" Dan Jihan juga beruntung memilikimu." Imbuh gadis itu
" Kenapa?" Adam mengernyit
" Karena banyak sekali gadis yang ingin berada di posisinya. Termasuk aku, aku adalah penggemarmu sejak pertama kali kau debut menyanyi."
" Benarkah?" Adam mengulas senyum. Mauria mengangguk
" Aku bahkan punya semua koleksi albummu." Jawabnya yakin
Ternyata benar kata mama, gadis ini... Menarik
Dilain tempat, sebuah ambulance tiba di Rumah Sakit. Jihan mencoba menelfon suaminya berkali kali tapi Adam tidak mengangkat ponselnya.
" Mama sabar ya, Jihan di sini. Mama pasti akan baik baik saja." Tutur Jihan menenangkan mertuanya yang terus menjerit kesakitan
" Dia harus segera mendapatkan donor ginjal nona, salah satu ginjalnya sudah tidak berfungsi lagi." Tutur dokter membuat Jihan mengusap rambut panjangnya bingung. Ia menatap wajah mertuanya yang tampak sangat pucat dalam diam di ruang IGD
" Apa saya bisa mendonor dokter? Tolong periksa apakah ginjal saya cocok untuk mama? Saya ingin mama selamat." Tutur Jihan ikhlas
" Anda serius nona?" Tanya dokter itu tak yakin
Jihan mengangguk lepas
Ya, disaat ketulusan dipertanyakan
Di sanalah aku berada
Saat Adam tengah tertawa renyah bersama wanita lain...
Aku di sini bertaruh nyawa demi menyelamatkan ibunya yang bahkan tidak pernah memelukku dengan rasa sayang ~ Jihan