Kepergian Sofia

1025 Kata
Danau Seine sangat indah. Letaknya di jantung kota Paris. Banyak wisatawan datang kemari mengatakan belum mengunjungi Seine sama saja dengan belum mengunjungi Paris. Sayang saja semakin lama melihat sesuatu keindahannya semakin akan memudar. Danau ini jadi terlihat seperti danau lain dengan air yang jernih dengan langit biru. Pemandangan yang membosankan. "Yang Mulia" Nyonya Gilimore memanggilku. Dia adalah pelayan yang diminta mengikutiku ketika aku diasingkan dari Kerajaan Belgium ke Paris tepat di hari kematian ibuku. Diperintahkan sendiri oleh ayahku yang saat ini menjabat sebagai seorang raja. Dia mengambil alih tampuk kekuasaan setelah kakak kandungnya meninggal mendadak akibat penyakit yang tidak diketahui tetapi dipercayai dia diracun oleh ayahku untuk bisa menguasai takhta. Ayahku tidak memiliki anak lelaki, dia hanya memiliki dua anak perempuan dari dua pernikahan. Yang coba dia lakukan sekarang adalah menciptakan kerajaan boneka dengan mengendalikan dua putra dari kakak tertuanya Raja Vladimir. Putra mahkota akan dinikahkan dengan kakak perempuanku Sofia, sementara aku akan membusuk di tempat ini. "Ada apa?" Nyonya Gilimore berbisik di telingaku. Aku melirik sejenak ke arahnya. Dia mengangguk pelan kepadaku. "Kalau begitu sebaiknya kita pulang. Persiapkan pakaian berkabung" Aku meninggalkan bangku taman dibawah naungan birch yang warnanya sudah menguning hampir jingga. Masih musim gugur tetapi cuaca sudah cukup dingin. Sepertinya musim dingin akan datang lebih cepat. *** Aku sedang duduk menikmati teh di apartemenku. Apartemen yang tidak terlalu buruk. Cukup luas dengan tiga buah kamar dan sebuah basement tetapi tetap saja kamarku di istana lebih indah. Segalanya dirampas dariku dan aku ingin merampasnya kembali apapun harganya. Bel berbunyi, Nyonya Gilimore membuka pintu. Duta Besar Belgium datang dengan dua orang. Aku menghampiri mereka. Wajah mereka tampak berduka. Sangat berbeda dengan ekpresi yang mereka tunjukkan ketika aku ditinggalkan di tempat ini saat berusia 10 tahun. Aku bertanya-tanya apakah tidak ada yang pernah membayangkan bagaimana aku hidup sendirian saat aku masih anak-anak. Mereka semua orang menjijikkan. "Yang Mulia Raja Felipe mengundang Anda kembali ke Belgium untuk menghadiri pemakaman putri Sofia" Aku duduk di sofa, melipat kakiku dan kedua tanganku. "Aku pasti akan datang" "Selain itu sehubungan dengan kematian putri Sofia, Anda akan ditunangkan dengan Putra Mahkota Emanuel Michael Coburg Gota" "Aku menyetujui semuanya" "Silahkan Anda membubuhkan stempel dan tanda tangan" *** Gerimis turun tetapi pemakaman masih berlangsung. Ayahku berdiri di ujung kepala makam, ketika peti mati mulai diturunkan perlahan. Suara tembakan menderu ke langit yang basah akibat gerimis. Pemakaman kerajaan dihadiri hanya oleh keluarga dekat kerajaan. Rumput basah, tanah coklat menjadi lembek. Semua orang mengenakan payung, hanya aku yang tidak. Aku datang terlambat ke pemakaman. Diantara sorot mata yang penuh kesedihan aku melihat sorot mata ingin tahu. Bibir orang-orang yang tadinya tertutup mulai terbuka, agak menggunjing dibelakang tetapi semua itu tertutup oleh bunyi letusan enam peluru. Aku berdiri di depan pusara. Membuang sekuntum peoni kesukaan Sofia. Pria tinggi disampingku melirik ku. Ada pin anggota kerajaan di d**a kanannya, itu pasti Putra Mahkota Emanuel. Sebelum datang kemari aku sudah menyelidiki sedikit latar belakangnya. Dia berusia 32 tahun sekarang, dia Putra Mahkota tetapi tidak punya kebebasan. Dia hanya menjalankan apa yang diperintahkan ayahku dari balik tirai. Belum terlalu banyak kegiatan politik yang dia lakukan tetapi dia juga belum membentuk kelompok pendukung dibelakangnya. Semuanya masih dibawah kendali ayahku, karena itu dia tidak pernah serius dalam hal apapun tentang kerajaan. Dia lebih banyak minum dan bersenang-senang. Bisa dibilang dia menerima nasib hanya untuk bisa mempertahankan kehidupannya. Dia memiliki seorang adik yang baru berusia 15 tahun, namanya Pangeran Victor. Aku rasa jika dia tidak ingin melindungi dirinya dia hanya ingin melindungi nyawa adiknya sebagai satu-satunya keluarganya yang dia miliki di dunia ini. Ah, dia juga punya beberapa simpanan kelas bawah yang sering menemaninya minum. *** Setelah pemakaman aku diantar menemui ayahku di ruang kerjanya. Sekarang dia sudah berusia 70 tahun. Seluruh rambutnya putih, tubuhnya kurus dan bungkuk. Dia terlihat lemah dengan tongkat yang menyangganya. Jika dia cukup berbesar hati dia seharusnya turun tahta dan beristirahat tetapi dia memaksakan diri. Terlihat jelas dia tidak ingin menyerahkan kekuasaan mutlak yang dia miliki padahal opini rakyat sudah jelas menuntutnya untuk turun. "Kau kembali" Dia berkata dengan nada serak, terbatuk beberapa kali dengan sapu tangan diletakkan di bibir. Wajahnya sangat kurus hingga nyaris tak bisa aku kenali. Matanya turun, kelopak matanya menjadi begitu dalam, hidungnya menjadi runcing seperti paruh burung. Rambutnya menipis, dia terlihat kecil. "Seperti yang telah diperintahkan" "Kau seharusnya tidak kembali jika Sofia tidak mengalami kecelakaan" "Itu kisah yang tragis, dia masih berusia muda" "Sekalipun kau kembali, posisi dan hak khusus yang dia dapatkan tidak akan diberikan padamu. Kau akan menikahi putra mahkota tetapi kau sendiri tidak akan menerima gelar" "Saya hanya menjalankan perintah" "Keluarlah!" Dia bicara dengan nada kasar yang seolah mengusir. Sejak dulu tidak berbeda, dia membedakan aku dan Sofia. Sofia adalah putri kesayangan dan aku hanya putri buangan selir dari kelas bawah. Pelayan mengantarkan aku dan Nyonya Gilimore menuju ke paviliun kami. Istana yang dulu megah masih terlihat sama hanya saja aku merasa tempat ini menjadi agak kecil tetapi kemewahannya tidak luntur. Lukisan-lukisan di atap yang melengkung. Lantai dari marmer, lukisan berbingkai emas, karpet merah, lampu-lampu besar dari kristal yang menggantung di langit-langit, Tempat-tempat lilin, hiasan porselen dan sofa-sofa sutra bersulang benang emas. Paviliun tempatku beristirahat berada terpisah dengan istana utama. Berada di bagian belakang melewati lorong dan taman belakang. Itu adalah tempat tinggal ku dan ibu dulu. Ruangan itu masih sama seolah-olah waktu membeku di tempat itu. Ranjang dari kayu mahogani merah, karpet kuning bersulam bunga lili, sofa-sofa tua dari beludru merah dan lampu kristal di tengah ruangan. Tubuhku bergidik kembali ke tempat ini, pikiranku seolah dipaksa kembali ke masa lalu yang tidak aku inginkan. Mendadak aku merasa tidak bisa bernapas. Aku berjalan keluar menuju ke taman bunga peoni dan lavender. Tanganku gemetaran. Aku mencengkram pagar tanaman kuat-kuat sambil mengatur napas. "Siapa kau?" Aku mengutuk dalam hati. Di saat seperti ini kenapa harus ada seseorang di tempat ini? Aku mengatur napas perlahan lalu berbalik seolah tanpa beban. Seorang pria berambut keemasan, bermata perak melihat ke arahku. Kelopak matanya dalam, sorot matanya bersahaja meski sedikit tajam. Hidungnya ramping dengan cuping tinggi dan bibir yang tipis agak panjang. Wajahnya bersih tanpa kumis. "Maafkan saya karena tidak sempat menemui Anda. Saya Anastasia" "Ah," Dia hanya mengatakan kalimat singkat itu lalu pergi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN