Aku berusaha tidur tetapi sungguh sangat sulit bagiku untuk tidur di kamar itu. Aku merasakan keresahan dan kegelisahan yang memaksaku untuk keluar kamar.
Aku berjalan-jalan ke sekitar istana, seingatku semakin ke belakang melewati taman bunga dan pohon eak dibaliknya ada sebuah danau buatan.
Aku mengikuti jalan setapak yang masih digambarkan dengan jelas oleh kepalaku, tidak seperti dulu tempat ini gelap, sekarang lampu-lampu taman menyinari di tiap sudut sehingga aku dengan mudah dapat menemukannya.
Paviliun kecil itu rupanya masih ada disana. Paviliun bergaya Tiongkok berwarna merah dengan ukiran dua naga emas di atasnya, hadiah dari kedutaan Tiongkok tempo hari. Konon kayunya dibawa dari negeri itu.
Aku mendekat kesana, kupikir tidak ada orang rupanya ada putra mahkota dengan seorang wanita berciuman dengan cukup panas disana.
Aku tidak peduli tentang tindakan apa yang coba mereka lakukan, tetapi ketika mereka mendapati ku berdiri di pinggir danau, wanita yang coba melepaskan bajunya menjadi salah tingkah. Dia memberi isyarat kepada putra mahkota sambil merapikan diri sementara putra mahkota dengan ekspresi kesal berbalik padaku dengan senyuman sinis sambil memegang botol minuman di tangannya. Pipinya kemerahan karena alkohol tetapi dia masih memiliki kesadaran yang cukup baik.
"Apa kau sedang memata-mataiku disini?" Wajahnya tampan karena itu ekspresi marahnya menjadi agak memukau. Mata peraknya indah seperti kaca.
"Setidaknya kalau ingin tidur dengannya, bawa dia ke kamar lain. Ada banyak kamar dimana kau bisa bercinta dengannya sesuka hati"
Putra mahkota memberi si gadis aba-aba untuk pergi. Dia berlari sambil menyembunyikan wajahnya dibalik pakaian yang berantakan. Dia berlari entah kemana tetapi aku melihat sekilas wajahnya.
"Hanya karena ayahmu adalah raja kau pikir bisa bersikap sesuka hati?" Dia berjalan mendekatiku lalu menarik paksa lenganku dengan kasar.
"Apakah berdiri disini menandakan aku bersikap sesuka hati? Bukankah Anda yang bersikap sesuka hati, tidak memikirkan status Anda dan bersedia tidur dengan pelayan di tempat ini?"
Dia menanggapi ku dengan tawa sinis.
"Apapun yang aku lakukan bukan urusanmu!"
"Apapun yang Anda lakukan bukan urusan saya, jadi lepaskan saya" Aku melirik ke arah lenganku. Setelah dia melepaskannya, aku mengambil botol alkohol dari tangannya dan melemparkannya ke tengah danau.
"Apa yang kau lakukan?"
"Kurangilah minuman keras supaya otak anda bisa berpikir" Setelah mengatakan itu, aku meninggalkannya.
***
Aku tidur di kamar Nyonya Gilimore sedangkan dia tidur di kamarku. Aku hanya kembali ke sana untuk berganti pakaian dan membersihkan diri. Untuk sarapan aku memilih untuk sarapan di paviliun kecil pinggir danau yang sangat aku sukai karena suasana dan pemandangannya yang indah.
Airnya sangat jernih seperti kaca. Dedaunan pohon birch jatuh di atasnya. Bayangan pohon birch dan eak membuat airnya terlihat seperti berwarna hijau dan jingga. Inilah pemandangan yang aku cari.
"Silahkan duduk!" Tamu yang aku tunggu akhirnya dia datang. Aku kira dia tidak akan datang karena sikapku tengah malam tadi, tapi dia bersedia datang sekalipun wajahnya kecut.
Dia melipat kaki panjangnya di depan meja makan lipat diatas dipan yang dialasi permadani merah. Bahunya lebar, cara duduknya agak membungkuk karena tubuhnya benar-benar tinggi. Dia mengenakan setelan hitam dengan rambut berantakan yang manis. Jika dilihat dari dekat sebenarnya dia pria yang sangat tampan dan mempesona. Sebagai wanita aku tidak akan menyangkal.
"Untuk apa kau mengundangku kemari"
Aku menyeduhkan teh chamomile untuknya.
"Chamomile bagus untuk pengar"
Dia menyeringai sinis.
"Kau pikir dengan cara seperti ini aku akan lupa pada tindakan lancangmu?"
"Mana mungkin hal kecil seperti ini bisa mengubah suasana hati anda. Aku hanya ingin mengundang anda untuk makan bersama. Makan sendirian tidak enak"
"Aku lebih senang tidak diganggu"
Dia hendak berdiri, membuatku berusaha menahannya lagi.
"Anda begitu membenciku dari cara Anda bicara. Kurasa kebencian Anda pada ayah saya yang tidak bisa diungkapkan langsung membuat Anda melampiaskannya pada saya"
Dia menyeringai. Duduk. Kembali. Berhasil terpancing.
"Kau mengerti tentang hal itu!"
"Sayangnya Anda sepertinya terlalu memandang tinggi diri saya. Jika anda pikir memperlakukan saya buruk dan menyakiti perasaan saya bisa mempengaruhi ayah saya? Itu berlebihan" Aku tertawa geli lalu meminum teh ku, "aku hanya anak selir rendahan yang dibuang selama 17 tahun. Pernikahan ini bagi anda mungkin seperti jebakan dan cara untuk mengontrol Anda secara tidak langsung tetapi bagiku pernikahan ini tidak ada artinya. Ini hanya pernikahan yang dipaksakan kepadaku"
"Apa yang ingin kau katakan?"
"Dibandingkan menjadi musuh, bukankah kita lebih baik jadi Sekutu? "
Mendadak dia menarik leherku, mencekikku dengan lumayan bertenaga sampai aku sulit bernapas.
"Kau mau mati?"
"Kalau aku takut mati, aku tidak akan menawarkannya pada Anda. Bagiku Anda membunuhku atau membiarkanku hidup sama saja. Tetapi... Jika Anda membiarkanku di sisi Anda, saya akan membantu Anda meraih apa yang anda inginkan"
Dia melepaskan cengkeramannya menjauh dengan senyuman sinis.
"Apa kau punya posisi tawar menawar untuk bernegosiasi denganku?"
"Tentu saja saya memilikinya tetapi jika kita tidak berada dalam aliansi yang sama, tidak ada gunanya. Setidaknya Anda harus punya kesepakatan yang sama dengan saya"
"Kau akan melawan ayahmu?" Ekspresinya berubah. Penasaran dan waspada
"Saya bisa melawan seluruh dunia dan itu bukan masalah bagi saya"
Mata peraknya menajam dengan dalam selama beberapa detik. Dia berdiri, berbalik pergi tanpa mengatakan apa-apa. Apakah dia akan menerima tawaran dariku? Ataukah dia memilih menyerah pada takdir yang dia pikir tidak bisa dia ubah?
Aku lupa mengatakan bahwa ratu masih hidup. Ibu dari Sofia, tetapi dia sudah lama lumpuh. Sangat disayangkan bahwa dia bahkan tidak bisa menghadiri pemakaman putrinya sendiri karena tidak bisa menggerakkan tubuh. Dia tidak lebih dari mayat hidup dan semua orang di istana perlahan melupakan keberadaannya. Dia seperti barang usang yang tertutup debu.
Dua pelayan saat itu berjaga di pintu. Mereka mengumumkan kedatanganku sebelum kemudian pintu merah dari oak itu terbuka. Aroma paladium segera melayang diantara hidungku ketika ruangan terbuka, menutupi aroma obat yang sama kuatnya.
Ada seorang suster di ruangan itu dan dan dua pelayan. Ratu Habsburg itu melirik ke arahku. Dia menggerakkan lehernya seperti boneka kayu, perlahan-lahan seolah takut patah. Dibandingkan dengan suaminya, dia tampak lebih muda untuk seseorang berusia 70 tahun. Rambutnya diikat, memakai gaun tidur berwarna putih yang ditutup selimut hingga kebagian d**a.
Aku menunduk padanya. Sorot matanya itu bicara sesuatu seperti kemarahan dan perasaan tidak berdaya.
"Yang Mulia ratu, maafkan saya karena terlambat datang memberi salam"
Sorot matanya semakin tajam, tangannya gemetaran. Dia ingin menunjuk ke arahku tetapi gerakan patah-patah itu sungguh tidak berguna.
Aku mengambil kain bersih dari nampan yang dibawa seorang pelayan. Aku naik ke ranjangnya yang berbau sedikit pesing lalu mengusap keningnya.
"Sudah lama tidak bertemu. Selama saya di Paris saya selalu memikirkan bagaimana keadaan Anda. Setelah tujuh belas tahun akhirnya saya bisa kembali dan melihat anda lagi"
Sorot mata gelapnya menjadi tajam, amat tajam sampai kemudian dia menitihkan air mata yang panas jatuh ke tanganku. Tetapi ketidakberdayaan yang dia alami membuat tingkahnya lebih lucu dari yang seharusnya. Aku tidak menyangka dia dapat hidup lama. Bukankah dia harusnya pergi lebih dulu dibandingkan dengan Sofia?