Pernikahan dilakukan seminggu setelah pemakaman sofia, dan seperti juga pemakamannya upacara pernikahan diselenggarakan secara tertutup dan tidak meriah. Seolah-olah dirahasiakan. Hanya ada beberapa tamu undangan yang datang tetapi raja bahkan tidak datang.
Beberapa tradisi tetap dilakukan. Itu benar-benar ritual kuno yang membuang banyak waktu. Pakaian pernikahan disulam dari sutra emas yang hanya dihasilkan oleh kebun ulat sutra kerajaan. Mereka menceritakan membuat kain ini dalam 100 hari. Mereka mengukurnya dengan menggunakan ukuran badan Sofia karena itu gaun ini menjadi kebesaran untukku, dan aku harus berdiri di depan pemuka gereja mendengar cerita murahan tentang janji pernikahan.
Putra mahkota seperti anak lelaki patuh yang mengikuti langkah demi langkah ritus pernikahan dengan tanpa melakukan sebuah kesalahan sedangkan beberapa orang yang hadir menyalahkanku bahwa aku tidak mengerti, tidak mengikuti dan perempuan lancang.
Makian mereka sama seperti ketika aku memandang Sungai Seine, awalnya menyakitkan kemudian mulai terasa terlalu biasa. Seperti inilah kehidupan kerjaan.
Setelah ritual pernikahan selesai aku dibawa ke kamar putra mahkota masih dengan penutup kepala yang membuatku sulit melihat jalan, tetapi ruangan itu berada satu arah dengan ruang raja, dia berada di sayap bagian kanan melewati sebuah jembatan dan sungai buatan yang agak dangkal.
Ketika aku masuk kesana ruangannya bersih beraroma Chamomile. Sepertinya dia tidak sering berada di kamar. Semuanya terlalu bersih dan rapi seolah-olah tidak pernah digunakan dan disentuh sama sekali. Tentu saja dia lebih banyak membuang waktunya berada di kamar berbau alkohol bersama perempuan.
"Tuan putri, saya khawatir meninggalkan Anda disini" Kata Bibi Gilimore dengan khawatir.
"Dia tidak akan melakukan apapun padaku"
"Tetapi terakhir kali kalian bertemu... "
"Ah, itu karena aku mengajaknya bekerja sama tetapi dia menolak. Aku agak tergesa-gesa, tetapi semuanya akan baik-baik saja"
"Saya akan menunggu diluar"
Tak lama setelah Nyonya Gilimore keluar, penjaga pintu mengumumkan kedatangan putra mahkota. Dia mengenakan kemeja putih yang dibalut seragam kerajaan berwarna hitam yang disulam dengan benang emas berlambang singa di bagian d**a. Di pinggangnya dia membawa pedang kerajaan.
Dia melangkah ke dalam dalam sikap kaku. Kedua tangannya berada dibalik punggung. Tidak melihat ke arahku yang sedang duduk di tepi ranjang dengan vail yang masih menutup wajahku.
"Pernikahan ini" Dia berkata dengan tiba-tiba, "jangan berharap akan mendapatkan lebih. Ini hanya untuk menuntaskan tugas kerajaan tidak lebih"
Aku membuka tudung kepalaku lalu melihat ke arahnya. Rambut palsu kuningan yang dia kenakan di atas kepala. Meski aneh dia masih tetap rupawan.
"Kau mencintai Sofia?"
Dia berpaling seluruh badan ke arahku.
"Untuk apa kau bertanya?"
"Jawab saja"
"Tidak ada urusannya denganmu, tetapi dia lebih baik darimu"
"Apa kau pernah mendengar kalau orang baik mati dengan cepat"
"Aku tidak ada waktu mendengarkan omong kosongmu!"
Dia berbalik badan berjalan menuju pintu.
"Kau akan meninggalkanku di malam pernikahan? Orang-orang akan bergunjing tentangku"
"Itu bukan urusanku"
Dia keluar membanting pintu dengan keras meninggalkanku sendirian. Aku tahu ini akan terjadi, tetapi aku juga tidak peduli. Dia hanya memberiku saran untuk berbuat lebih.
Aku benar-benar lelah, tidak lagi punya tenaga mengganti pakaian. Aku tertidur saat pertama kali meletakkan kepalaku di bantal.
Keesokan paginya Nyonya Gilimore membantu melepaskan hiasan rambutku. Tusuk konde, hiasan permata dan tiara yang semalam belum sempat aku lepaskan. Dia juga membantuku mengganti pakaian. Badanku benar-benar terasa nyaman dan ringan sekarang. Seorang pelayan masuk membawa teh pagi sambil sesekali mengintip ke arahku. Dari ekspresi ingin tahu itu aku sudah menebak apa yang terjadi.
Aku berjalan keluar dari kamarku. Masih pukul enam pagi para pelayan sedang membersihkan. Ada dua orang pelayan sedang membersihkan karpet di halaman. Aku diam di depan pintu seolah berpura-pura menikmati suasana pagi sebelum matahari benar-benar naik semakin tinggi ke puncak atap.
"Kau sudah mendengarnya?" Kata seorang wanita agak muda pada yang lebih tua. Keduanya memakai seragam hijau kebersihan kerajaan
"Ah, yang tadi malam? Kudengar Putri Anastasia ditinggalkan di malam pertama untuk minum dengan teman-teman putra mahkota"
"Malang sekali, sekarang semua orang di istana sedang membicarakannya"
Aku meminta Bibi Gilimore memanggil mereka berdua. Menyadari aku di belakang mereka, keduanya seketika bermuka pucat.
"Kemari kalian" Panggil Bibi Gilimore.
Mereka berdua berlari seperti kucing kecil yang ketakutan, melepaskan alat bersih-berskh mereka lalu datang dengan wajah menunduk lesu.
"Apa yang sudah kalian bicarakan tadi?" Kataku.
"Kami" Wanita tua 40 tahunan berbadan gemuk itu kelihatan lesu dan gugup.
"Kami tidak mengatakan apapun sungguh!" Kata yang lebih muda.
"Gosip adalah sesuatu hal yang biasa, aku seharusnya tidak mempermasalahkannya, tapi masalahnya aku tidak menyukainya. Bibi Gilimore hukum mereka dengan 30 pukulan. Biarkan ini menjadi pelajaran bagi yang lain agar tidak mengurus sesuatu yang bukan urusan mereka. Jika aku masih mendengar omong kosong seperti ini, hukumannya akan makin keras"
"Yang mulia... Yang mulia... " Panggil mereka dengan panik menahan tangis dengan suara yang mengiba tetapi aku tidak peduli. Ini adalah urusan Bibi Gilimore untuk mendisiplinkan dayang istana kamar pangeran agar tidak beromong besar.
Aku menikmati sarapanku di paviliun dekat danau. Hari ini agak berkabut, cuaca dingin, langit kelabu. Matahari seolah tersembunyi dibalik awan. Rumput-rumput ilalang basah oleh titik-titik embun. Ini adalah pemandangan pagi yang memukau.
"Kau menikmati sarapan pagimu dengan damai sementara menghukum para pelayan?" Putra mahkota datang dalam keadaan berantakan. Rambut keemasannya jatuh diantara alis lebat dan bulu matanya yang panjang. Mata peraknya sangat indah. Dia masih memakai pakaian pernikahan semalam tetapi berantakan dengan aroma alkohol yang kuat.
"Bergabunglah kemari, sepertinya kau juga baru kembali dari minum-minum diluar. Perutmu pasti lapar, haruskah aku meminta pelayan menyiapkan obat pengar?"
Dia naik ke atas paviliun. Menarik wajahku dengan kasar membuat meja makanku bergetar, tehku yang panas jatuh ke pangkuanku.
"Hanya aku yang bisa menghukum pelayanku"
"Benarkah?" Aku menampar wajahnya dengan keras. Hanya karena dia putra mahkota dia tidak bisa memperlakukan aku dengan rendah. "Anda jangan lupa kalau setelah menikah urusan dalam termasuk pelayan telah menjadi tugasku. Jika kau pergi dan menolong mereka, Anda sama saja merendahkanku lebih dari para pelayan dan aku tidak akan membiarkanmu"
Dia menarik kerah bajuku tunduk di depan wajahnya.
"Beraninya kau menamparku, aku bisa menghukummu atas sikap lancang mu"
Aku mengeluarkan belati dari balik gaun putih yang aku kenakan.
"Tidak perlu menghukum, Anda bisa membunuhku, tidak perlu merasa kasihan, iba atau menunda"
Dia menatap mataku dengan tajam. Penuh amarah dan kebencian, sementara aku membalas tatapannya dengan tekad. Dia tidak akan melakukannya, bukan karena dia tidak bisa atau merasa takut, hanya saja itu akan memperburuk namanya dan tentu saja memancing perselisihan dengan ayahku. Sekalipun ayahku tidak menyukaiku dia tentu berharap lebih pada pernikahan ini. Dia tidak berada dalam posisi untuk melawan karena itu dia hanya bisa diam.
Giginya terdengar gemertakan lirih. Dia mendorong tubuhku dengan keras ke belakang lalu meninggalkan tempat itu.
Bibi Gilimore yang melihat dari jauh sedikit ketakutan. Setelah putra mahkota pergi dia berlari padaku dengan khawatir.
"Yang Mulia Anda baik-baik saja?"
"Ini belum akan selesai Bibi"
Wajahnya bulatnya mengekerut, takut dan tercengang.