Bibi Gilimore mengoleskan salep ke pahaku yang merah terkena teh panas. Rasanya agak pedih tapi masih bisa ditahan. Aku tidak akan membiarkan insiden ini, putra mahkota, bagaimanapun kerasnya dia aku harus menaklukkannya.
"Kapan Gulbahar akan tiba?"
Bibi Gilimore mengangkat pandangannya. Memutar tutup salep dengan hati-hati lalu diletakkan di meja rias.
"Beliau sudah mendengar Anda pulang, beberapa hal sedang dipersiapkan Anda hanya harus menunggu"
"Aku mengerti"
"Dan ini" Bibi Gilimore menyerahkan kepadaku sebuah map bening. "Hasil cek kesehatan tahunan yang mulia putra mahkota"
Aku membacanya dengan seksama dan tidak bisa tidak mengerutkan kening.
"Dimana putra mahkota sekarang?"
Bibi Gilimore kelihatan ragu2 seolah takut menyampaikan padaku.
"Di kamar selirnya?"
Ia mengangguk, "Pelayan bernama Seravina"
"Antar aku ke kamarnya"
"Tapi beliau tidak hanya berdua kata pelayan lain dia sedang bersama teman-temannya, anak-anak para menteri"
"Aku tidak peduli dengan siapa dia bersama"
Kamar para pelayan berada di ruangan paling belakang. Dekat dengan taman, berada tersudut tersembunyi diantara dahan-dahan pohon oak. Kamar pelayan tidaklah buruk terdiri dari empat lantai, ini hanya kamar khusus untuk pelayan wanita pangeran putra mahkota, kamar pelayan wanita berada di tempat lain. Masing-masing paviliun atau ruangan memiliki divisi pelayan sendiri.
Masih jam dua belas siang. Matahari redup, angin bertiup dengan nuansa dingin yang kelabu. Aku berdiri dibalik ruangan berpintu hijau dan berdinding hijau, mendengar suara gelak tawa dari beberapa orang. Tanpa pikir panjang aku mendobrak pintu. Keriuhan itu segera berhenti menjadi keheningan. Dua orang pria muda sepantaran putra mahkota memandangku lalu saling melempar tatapan kebingungan.
Aku mengambil botol alkohol di tengah tempat mereka yang sedang berbaring di atas permadani merah bersulam emas. Aku membanting botol itu ke pintu hingga menjadi pecahan-pecahan kecil.
"Kalian semua pergi lah selama aku masih bersikap baik"
Kedua pria itu pergi dengan ketakutan sementara pelayan wanita muda yang menemaninya berdiri di sudut ruangan.
Putra mahkota setengah berbaring membelakangiku, mengenakan mantel tidur berwarna emas.
"Sepertinya sejak datang kemari satu-satunya hal yang bisa kau lakukan hanya menggangguku"
"Ambil semua botol alkohol itu dan hancurkan!" Perintahku pada para pelayan yang kubawa bersamaku, berjumlah lima orang. Meski tampak takut pada putra mahkota mereka dengan gesit mengambil semua botol itu keluar.
Putra mahkota berbalik. Badannya yang tinggi dan tegap itu sepenuhnya berpaling padaku, menarik leherku dengan kencang ke arahnya. Mata peraknya membara oleh amarah yang mendesak sampai bibirnya memancing dengan bengis.
"Aku sudah cukup memaklumi tindakanmu, hanya karena kau isteriku bukan berarti aku tidak bisa memenjarakanmu"
"Bawa cambuk itu masuk" Aku terbatuk memanggil Bibi Gilimore dengan napas yang patah-patah dan sesak. "Anda bisa menghukumku sekarang, tapi sebaiknya Anda berhenti dengan semua minuman keras ini!" Aku melemparkan map itu padanya. "Hasil tes kesehatan anda. Apa Anda tidak tahu bahwa di dalam minuman Anda teguk juga dimasukkan racun dalam kadar rendah. Mereka ingin membunuh Anda perlahan-lahan. Apa Anda pikir hanya karena Anda tidak melakukan apa-apa dan hanya duduk menikmati alkohol mereka akan membiarkan Anda hidup?" Aku berpaling pada gadis bernama Seravina itu "Dia juga pasti tau karena dia yang membawa minuman itu, benarkan?" Aku melirik pelayan wanita muda itu yang seketika menunduk, menangis ketakutan.
Putra mahkota tertawa lirih.
"Kau pikir aku tidak tau"
"Anda melakukannya dengan sengaja sekalipun Anda tau Anda akan mati?"
"Apa bedanya aku tau atau pura-pura tidak tau, hanya masalah waktu sampai mereka menyingkirkanku"
"Itukah alasanmu untuk diam dan menyerah?"
"Apa kau pikir aku punya pilihan lain?"
Dia melepaskan cekikan leherku lalu meninggalkan ruangan itu, menyisakan aku dan pelayan itu.
"Jika aku mengetahui sesuatu yang melibatkanmu, kau tidak akan selamat!"
Gerimis akhirnya turun. Aku berhenti sejenak dibawah pohon ek itu. Daunnya rimbun sementara akarnya berukuran besar-besar. Beberapa menjulang ke atas tanah menjadi tempat yang cukup nyaman untuk duduk.
Rintik hujan jatuh di atas kepalaku. Aku memikirkan ekspresi wajah putra mahkota. Kepasrahan yang besar. Dia seolah sudah menyerah pada takdir. Aku merasa iba, dan berpikir mungkin aku telah bersikap terlalu keras padanya, tetapi aku tidak berpikir dia akan berubah dengan sikap lembut.
"Yang mulia" Bibi Gilimore datang membawakan payung untukku.
"Bibi Gilimore, apakah aku melakukan hal yang berlebihan?"
"Anda hanya melakukan tugas anda"
"Tugas yang dia bahkan tidak memintaku melakukannya"
Aku menuju ke maja makan, hari ini terasa melelahkan. Aku tidak mengunjungi kamar putra mahkota dan menghabiskan kamar di ruang ibuku. Meski rasanya tidak nyaman aku merasakan sedikit nostalgia disana.
Baru saja melewati pintu aku terkejut ada putra mahkota di sana. Ruang makan bagi keluarga kerajaan terpisah. Kami tidak makan bersama kecuali jika ada momen-momen tertentu.
Aku melirik ke arahnya sebentar. Kali ini dia tidak berantakan seperti biasanya. Dia mengenakan setelan hitam dengan pin emas kerajaan di sisi kanan dadanya. Rambutnya di tata dengan rapi. Sorot matanya tenang. Mata perak dan alisnya yang lebat perpaduan yang indah untuk seorang lelaki yang baru aku temui dalam hidupku.
Itu benar, selama hidupku dalam pengasingan aku tidak pernah mengenal cinta, tidak pernah berusaha jatuh cinta. Aku mendedikasikan hidupku untuk dapat kembali ke istana dan balas dendam.
Dia seperti kebanyakan pria, tampan, mempesona, namun berbahaya. Aku memuji wajah dan ketampanannya tapi di dalam hatiku yang beku tidak tersisa cinta untuk siapapun.
Kursi ditarik untukku oleh Bibi Gilimore. Hidangan malam ini ada beraneka rupa, ayam panggang lemon, sup jagung, roti bakar, dan paperoni keju.
Tidak ada obrolan di antara kami. Pelayan menyuguhkan menu pertama untuk kami, sup jagung. Tidak ada obrolan, hanya ada nyala lilin pucat dan suara hujan gerimis yang belum juga reda.
Dia berdiri setelah menyendok beberapa sendok kuah sup, sebelum pergi, aku memutuskan untuk meminta maaf, sesuatu yang tidak pernah terpikirkan akan aku lakukan.
"Sikapku hari ini keterlaluan, aku tau kau tidak pernah memintaku melakukan apapun. Apa yang aku lakukan hanya demi diriku sendiri. Bagaimanapun kau harus hidup lama, aku tidak ingin menjadi janda di usia muda lalu dibuang kembali. Aku berusaha sangat keras untuk kembali dan akan berusaha lebih keras untuk bertahan"
"Apa kau pikir obsesimu bisa bertahan dalam waktu lama di tempat ini"
"Aku tau kau melewati tahun-tahun yang buruk tanpa dukungan. Tetapi, jika kau memberiku kesempatan, aku akan memahkotaimu dan membuatmu mendapatkan apa yang sudah selayaknya menjadi milikmu. Aku akan memberikan kebebasan yang sepantasnya kau miliki"
Dia tertawa dengan nada lirih.
"Tidak ada sesuatu yang diberikan dengan cuma-cuma di dunia ini. Untuk sesuatu sebesar itu, apa harga yang kau inginkan?"
Putra mahkota berbalik sepenuhnya. Sorot matanya serius, alis lebatnya turun penuh rasa ingin tahu.
"Aku hanya ingin balas dendam untuk tahun-tahun pembuangan yang menyedihkan. Orang-orang yang melakukan itu harus membayar dengan darah"
"Bagaimana kalau aku tidak membantumu"
"Aku tidak memintamu untuk ikut campur dalam pembalasan dendamku. Aku bisa melakukannya sendiri. Kau menentukan jalanmu, aku menentukan jalanku"
Dia menyeringai sinis.
"Kau ingin menjadikanku alat balas dendam?"
Aku membalas tatapan matanya.
"Kau mengerti apa yang paling menyakitkan bagi mereka bukan kehilangan orang yang mereka cintai tapi kehilangan kekuasaan. Dan kekuasaan itu sejak awal adalah milikmu. Aku tidak menginginkannya"