Aku sedang duduk di beranda kamar mendiang ibu. Di atas ayunan kayu dari ek merah ini, biasanya aku berbaring. Di atas pangkuannya dia akan mengusap rambutku sampai aku tertidur. Saat itu terasa begitu tenang karena rasanya hanya ada kami berdua di dunia ini.
Di tempat ini aku tidak bisa melihat pemandangan kamar putra mahkota. Paviliun miliknya berada area yang berlawanan dengan tempatku. Apa yang bisa aku lihat hanya bebungaan beraneka warna, dedaunan jingga kekuningan pohon Birch dan besarnya akar pohon-pohon eak yang mungkin sebentar lagi akan dirapikan.
Angin teduh bertiup. Sore akan berganti senja. Langit berwarna orange kekusaman yang sedih. Setelah pembicaraan sengit semalam dengan putra mahkota aku tidak lagi bertemu dengannya. Aku tidak mencoba datang menemuinya kembali. Bagiku, aku sudah memberikan tawaran padanya, sisanya hanya bergantung pilihannya, tetapi aku merasa ragu.
Aku ragu dia akan menerima tawaran ku, dia sudah hidup dengan cara ini selama beberapa tahun tanpa keinginan darinya untuk mengubah apapun. Sekarang aku berpikir jika sendirian apa yang harus aku lakukan? Bagaimana aku akan memulainya.
Dua orang dari kamar putra mahkota kulihat dari kejauhan membawa nampan emas. Aku tidak ingin terlihat seolah-olah aku berharap sehingga aku berpura-pura tidak melihat mereka. Ketika keduanya sampai mereka menunduk memberi hormat padaku.
"Apa yang kalian bawa?" Aku pikir dibawah nampan yang tertutup sutra emas itu adalah makanan, namun ketika dibuka dibawahnya adalah selembar kain berwarna gading. Aku tidak tahu apa maksud semua ini. "Putra mahkota yang mengirimkan ini?"
"Benar yang mulia" Kata pelayan tua yang pernah aku cambuk itu.
Bibi Gilimore yang berada di dalam kamar segera keluar. Dia membisik di telingaku.
"Itu adalah ajakan untuk malam penyatuan"
Wajahku menjauh, kening ku mengernyit.
"Malam penyatuan? Maksudnya malam pengantin?"
"Benar, apakah Anda akan menerimanya atau mengembalikannya?"
Aku menatap kain itu beberapa detik. Apa maksud dari semua ini, apakah dia menerima tawaranku?
"Terima saja"
Bibi Gilimore mengambil benda itu dari mereka.
"Yang mulia akan bersiap malam ini"
"Akan kami sampaikan pada putra mahkota"
Segera setelah aku mengatakan persetujuan, Bini Gilimore menyiapkan air mandi untukku yang dipenuhi dengan kelopak mawar. Rambut hitam ku diberi aroma dengan bunga-bunga kering yang dibakar. Bagian bawah tubuhku pun diberi aroma dengan asap yang didapat dari membakar kayu cendana, kayu gaharu dan cedar. Kata Bibi Gilimore ini adalah sebuah tradisi yang dilakukan sejak lama sebelum pasangan kerajaan bermalam bersama.
Bibi Gilimore juga mengatakan kain putih gading yang dibawa oleh kedua pelayan akan digunakan menampung darah yang keluar dari hubungan suami isteri. Benar-benar kedengeran kuno, padahal saat ini sudah berlalu ratusan tahun dari era kuno kerajaan tetapi mereka mempertahankannya. Ini yang disebut dengan tradisi, sedikit aneh.
Aku keluar dari air mandiku. Bibi Gilimore mengenskanku mantel tidur berwarna merah darah. Dia membawaku ke meja rias. Aku jarang berias dan bisa dibilang tidak terlalu tahu berias jadi aku menyerahkannya pada bibi Gilimore.
Dia menyisir alisku yang sedikit tebal. Memulas eyeshadow berwarna jingga ke mataku. Banyak orang mengira aku mengenakan kontak lensa karena aku punya mata berwarna ungu cerah. Orang-orang menganggapnya indah tetapi bagiku biasa saja. Mata ibuku lebih indah saat dilihat.
Bibirku yang berbentuk hati, tidak terlalu tebal atau tipis di pulas dengan lipstik berwarna agak jingga. Dibawah mataku diberi warna hitam dari kuhl. Kata Bibi Gilimore itu untuk menghindari pandangan mata jahat.
Setelah selesai berhias Bibi Gilimore mengatakan bahwa aku telah siap untuk pergi ke ruangan putra mahkota. Sebenarnya aku agak tegang. Rasanya aneh tidak mengenakan apapun di malam yang dingin ini hanya dengan mantel tidur yang terasa tipis.
Di depan pintu ruangan pangeran ada empat orang pelayan berjaga membawa minuman, buah-buahan dan bunga. Setelah keberadaanku diumumkan pintu dibuka.
Putra mahkota sedang duduk di sofa menikmati sisha. Pelayan meletakkan makanan di meja sementara Bibi Gilimore meletakkan kain putih gading tepat di tengah ranjang yang telah diganti seprainya dengan seprai merah seperti saat malam pengantin sebelumnya.
Pintu ditutup. Suasana menjadi hening. Tiba-tiba saja aku menjadi agak canggung, dia juga tidak mengajakku bicara. Tingkahnya masih seperti seakan-akan dia tidak tertarik. Aku tidak tahu bagaimana ini akan berlanjut jadi aku putuskan saja untuk duduk di sofa yang berada di depannya. Aku sekaligus ingin memastikan niatnya.
"Undangan ini datang begitu tiba-tiba, apakah ini berarti Anda sudah setuju dengan tawaranku?"
Mata peraknya akhirnya melirik ke arahku. Sorot mata yang berbahaya dan penuh misteri. Bibirnya menguarkan asap tipis yang beraroma chamomile.
Dia berdiri. Lengan kanannya mengurung sisi kiri tubuhku. Jantungku berdegup dengan kencang. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, biasanya aku tidak seperti ini.
"Aku ingin lihat sejauh mana kau bisa bertahan dengan dendam yang kau miliki"
Aku menelan ludah menatapnya lamat-lamat dengan napas yang agak berat.
"Tidak masalah sekalipun Anda hanya menjadi penonton, aku hanya berharap Anda tidak menghalangiku"
Tangan kirinya menarik kerah mantel tidurku. Aku menahannya dengan tangan. Masih ada keraguan di hatiku.
"Kenapa? Kau terlihat takut?" Alisnya bertaut dengan ekspresi serius. Aku menelan ludah lalu melirik ranjang.
"Kau akan melakukannya disini?"
"Oh, tradisi murahan itu. Kau percaya?"
"Aku tidak se kuno itu tapi... Ini akan tidak nyaman"
Dia berdiri lalu berjalan ke ranjang dengan badannya yang kokoh terlihat dari belakang.
"Kemarilah!"
Aku berjalan mendekatinya. Tinggi tubuh kami benar-benar berbeda. Aku hanya seukuran dadanya. Kami saling berhadapan, aku mencoba menatap matanya sekilas.
"Dari sikapmu yang kaku aku tebak kau sedang memikirkan dua hal. Pertama kau tidak ingin melakukannya atau tidak pernah melakukannya dan ingin melarikan diri? Sorot matamu kelihatan takut! Aku tidak keberatan kalau kau tidak mau melakukannya sekarang"
"Tidak! Aku bisa melakukannya!" Aku menarik napas dalam seraya mengatup sejenak sepasang mataku dan menarik napas.
Jemari putra mahkota menyentuh wajahku, perlahan-lahan turun ke leherku. Dia memang sudah ahli dalam urusan wanita, tentu saja hal ini seperti makan baginya.
Dia menekan pundakku, turun menyentuh dadaku. Karena tidak mengenakan pakaian apapun dibalik mantel tidurku dia dapat menemukan p****g dadaku yang dia mainkan dengan tangan.
Rasanya tubuhku agak panas. Jantungku berdegup makin kencang, napasku mulai sedikit berat. Tiba-tiba dia datang seolah menyergap, memeluk pundakku, mencium bibirku. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, aku hanya membiarkan dia mencium ku. Bibirnya terasa hangat dan lembut. Aku tidak tahu bibir seseorang bisa selembut dan sebasah ini.
Tangannya melepaskan ikatan mantel ku, menanggalkannya. Ini pertama kalinya seseorang selain Bibi Gilimore melihatku tanpa pakaian. Dia membaringkan tubuhku. Mencium leherku, turun ke belahan d**a dan perutku lalu berhenti diantara kedua kakiku. Aku terkejut aku tidak pernah membayangkan hal yang seperti ini.
Dia menarik kedua kakiku. Bibirnya bergerak. Lidahnya merangsek diantara kedua bagian bawah tubuhku. Aku merasakan angin dingin diantara kedua kakiku dan denyutan panas yang membuat perut bawahku rasanya bergerak-gerak.
Aku mencoba menutup mulutku tetapi desahan itu tetap meluncur keluar dari mulutku. Aku mendengar tawa dari bibir putra mahkota.
"Kau menyukainya"
Dia bangkit dengan gagah. Melepaskan mantel tidurnya. Lengannya yang besar, perutnya yang rata dan dadanya yang kokoh. Dia menarik kedua kakiku di atas kedua pahanya, lalu aku merasakan dia hendak menerobos kedalam tubuhku.
Aku meringis kesakitan. Wajahnya terangkat. Dia mengusap rambutku dengan lembut.
"Kau hanya perlu bernapas dengan perlahan. Ini akan mudah dan menyenangkan" Dia menelan bibirku di saat yang sama dia mendorong dirinya yang besar kedalam diriku.
Ciumannya menelan jeritan ku, tetapi karena terlalu sakit aku tanpa sengaja menggigit bibirnya. Putra mahkota tidak mengeluh soal itu, sebaliknya dia mencium ku semakin liar. Air mataku tiba-tiba saja jatuh tanpa aku sadari.