Kenangan

1158 Kata
Aku meraba perut bawahku yang merasa sedikit gemetaran dan kram. Kedua kakiku basah oleh darah bercampur cairan putih yang tertampung di kain putih gading yang diberikan putra mahkota padaku. Pria itu berbaring di sampingku tanpa beban. Wajahnya tenang bahkan seolah terlihat bercahaya. Aku tidak pernah menduga akan sampai diposisi ini. Hubungan yang dilakukan tanpa cinta tidak peduli seberapa hebat rasanya di ranjang hatiku tetap saja merasa kosong. Aku bangkit dari tempat tidur, memungut pakaianku di lantai lalu masuk kedalam kamar mandi. Suara keran air mengisi keheningan yang benar-benar asing. Aku membasuh wajahku berkali-kali. Untuk beberapa alasan yang tidak aku mengerti hatiku merasa hancur, karena itu aku menangis. Aku merasa agak jijik pada diriku sendiri, mengapa aku menerima dan memberikan memberikan diriku padanya? Aku menutup pintu kamar mandi. Dia sedang duduk dengan sishanya di sofa. "Apakah kau tidak khawatir kalau sisha itu mungkin diracuni?" Dia melirik dengan asap tipis dari bibirnya. "Tidak. Aku bukan orang bodoh" Aku beranjak ke tepi ranjang membelakanginnya. "Tukang masak untuk paviliun putra mahkota dan semua makanan serta minumannya akan diawasi dengan ketat. Aku akan mengganti orang-orang lama yang sudah bekerja sebelumnya" "Kau benar-benar bekejera keras" "Seperti yang aku bilang, nyawamu sangat berharga bagiku karena itu bagaimanapun aku harus melindunginya" "Kau melindungiku sebagai alat politikmu?" Aku berbalik ke arahnya. "Bukankah itu kesepakatan?" "Aku tidak bilang aku setuju untuk itu" Aku menggigit bibirku tiba-tiba saja merasa gelisah. "Tapi seperti perjanjian aku tidak akan menahanmu" Mendengar penjelasannya aku merasa lega, hampir saja aku akan marah. "Ada beberapa hal yang ingin aku tegaskan padamu" "Apa itu?" "Pelayan-pelayanmu itu apa kau masih akan mencari hiburan dari mereka?" Dia tertawa ringan dan geli. "Kenapa? Kau tidak suka?" "Mereka bisa saja mata-mata" "Bukankah pelayan paviliun berada dibawah kendali putri Mahkota. Kau yang pernah bilang sendiri, jadi itu terserah padamu, tetapi" "Tetapi?" "Kau yang harus menemaniku tiap malam" Aku menyeringai dingin. "Ah, jadi aku yang akan menjadi pemuas nafsumu?" "Bukankah itu sepadan? Aku menjadi pionmu dan kau jadi pemuasku. Tidak ada yang dirugikan dalam hal ini" Aku mendesah pendek. Benar-benar menjengkelkan dan konyol. "Jika itu yang kau inginkan" Aku mengatakannya bahkan tanpa berpikir lagi. Dia membuang sisha yang dia hisap lalu berjalan mendekatiku. Tubuhnya yang besar menjorok ke badanku kebawah. Kedua tangannya menutup sisi kanan dan kiri tubuhku. Aku seharusnya tau ini tidak akan selesai dalam satu kali, terutama untuk pria seperti dia. Aku berbaring di atas pangkuannya. Tubuhku membelakangi badannya yang besar. Aku bisa merasakan otot dadanya bersentuhan punggungku. Tangannya berada dibawah di antara kedua padahku. Aku memegang punggung tangannya sementara tanganku yang lain memegang pahanya. Napasnya hangat di atas pundakku. Berat namun dalam. Kami bangun di waktu yang bersamaan untuk sarapan pagi. Seperti biasa dia duduk di meja paling ujung sedangkan aku di ujung meja yang lainnya. Tidak ada obrolan diantara kami, tetapi seperti biasa gosip-gosip kecil terdengar di telingaku. Semua orang membahas tentang malam Penyatuan semalam dan orang-orang yang entah bagaimana akhirnya berbalik dengan pandangan Mereka. Aku mendengar mereka memujiku sebagai wanita bermartabat karena masih perawan hingga menikah sekalipun di buang keluar istana. Dari jauh aku melihat luka di bibirnya itu terlihat jelas meski kecil, kelihatan lucu tetapi tidak ada yang berani membicarakannya. Putra mahkota juga tidak mengeluhkannya sama sekali. Saat kami sedang menikmati menyantap roti gandum, saus keju dan telur goreng setengah matang, seorang lelaki tua paruh baya dengan map berwarna biru di tangannya memasuki ruangan. Dia berdiri di samping putra mahkota. Lelaki itu berwajah kotak. Hidungnya pendek, alisnya nyaris menyatu. Bibirnya agak berisi dan keriput, matanya berwarna coklat gelap dengan tatapan tajam yang tidak menyenangkan. "Kegiatan Anda hari ini telah ditentukan Yang Mulia, pertama-tama Anda akan ke panti asuhan Colline lalu mengunjungi Yayasan kanker kerajaan menggantikan Raja" Putra mahkota bergumam pendek. Meletakkan roti gandumnya ke atas piring. "Kunjungan pribadi? Apakah putri Mahkota tidak akan ikut?" Lelaki itu melirik ke arahku. Kedua tangan di depan perutnya sedikit bergerak. Wajahnya kelihatan agak bingung untuk menjelaskan. "Aku bukan putri Mahkota" Kataku sambil meletakkan makanan ke piring. "Benar, beliau bukan putri Mahkota dan tidak menyandang gelar tersebut" "Benarkah? Apakah hal seperti itu pernah terjadi?" Lelaki berambut putih dengan mata gelap itu mengangguk. "Di tahun 1770, ketika putra mahkota menikahi gundiknya" "Gundik?" "Sulit menjelaskannya" "Ayahku tidak mengakui ku sebagai putrinya, kenapa tidak bilang begitu saja?" Aku mengusap bibirku dengan napkin lalu melemparnya ke meja. "Pernikahan Anda berdua juga tidak diumumkan ke publik. Orang-orang berpikir Anda masih dijodohkan dengan putri sofia" "Karena itukah kematian sofia tidak diumumkan dan upacara pernikahan tidak disiarkan? Kukira hal tersebut untuk menghormati masa berkabung" "Pernikahan Anda telah ditentukan dengan tanggal yang baik, karena itu tidak dapat ditunda. opini publik tidak dapat diubah. Mereka mencintai putri sofia dan menginginkan Anda dengan putri sofia" Aku menyeringai sinis. "Apakah opini publik bisa membangkitkan orang mati?" Lelaki itu tercengang tapi kelihatan tidak suka omongan sinisku. "Yang mulia soal itu, anda harus menjaga bagaimana anda bicara" "Begitukah?" Aku menumpahkan gelas tehku di atas meja, mengotori meja makan yang ditutup kain putih tulang berenda emas. "Bereskan itu!" Aku berdiri dari duduk ku lalu meninggalkan tempat itu. Aku benar-benar muak mendengar nama sofia. Dia sudah mati kenapa orang-orang bicara seolah dia masih hidup. *** 1 bulan yang lalu Aku sedang menikmati segelas teh sambil memandangi Danau Seine dari jendela apartemenku. Musim panas sangat panas, berkisar 46 derajat celcius. Banyak orang pergi ke pantai atau berjemur di pinggir sungai dalam keadaan setengah telanjang. Bibi Gilimore sedang keluar berbelanja mingguan, dia bilang akan pulang sebelum sore. Hari itu hanya aku sendirian. Tiba-tiba bel di apartemenku berbunyi. Itu adalah hal yang aneh, karena kami hampir tidak menerima tamu. Sebagai orang buangan tidak ada anggota keluarga kerajaan atau siapapun yang berafiliasi dengan mereka ingin bertemu dengan kami. Aku membuka pintu, terkejut seorang gadis dengan senyuman merona yang manis dan lugu menyambut ku. Sudah 17 tahun kami tidak bertemu tetapi dia tidak banyak berubah. Sosok yang lembut, penuh kasih sayang dan kebaikan yang membuatku merasa terganggu bahkan hanya dengan melihatnya itu menjengkelkan. Tanpa diminta dia memelukku dan itu membuatku merasa tidak begitu nyaman. Aku melepaskan pelukan itu sebelum beberapa detik. "Anastasia aku merindukanmu" Aku tidak menyukai dia tapi tetap saja tidak bisa menunjukkan langsung padanya. Entah kenapa aku merasa dia akan terluka dan itu terasa tidak menyenangkan. "Bagaimana Anda bisa datang kemari, silahkan masuk" Kami duduk di sofa yang sama membelakangi jendela dengan pemandangan sungai Seine. Tangannya memegang tanganku, tidak melepaskannya semenjak kami bertemu. "Aku memiliki rencana membawamu pulang. Aku sudah bicara pada ayah" Mendengar ucapannya sekalipun tulus membuatku jadi kecut. "Benarkah? Lalu apa yang beliau katakan?" "Datanglah saat hari pernikahanku dengan Emanuel" "Ah, Anda akan menikah, selamat!" Ekspresi wajahnya berubah dari kegembiraan menjadi kegelisahan. Itu terlihat jelas dari pupil birunya yang mengecil. "Sebenarnya aku tidak tahu, kau tau Emanuel adalah sepupu kita sendiri. Dia masih keluarga dekat. Aku dan dia tumbuh bersama. Dia juga memperlakukanku lebih seperti adiknya daripada gadis yang dia cintai. Apa menurutmu dia akan menyukaiku?" "Cinta tidak penting untuk keluarga kerajaan sejak dulu. Pernikahan hanya untuk mendapatkan keturunan. Memikirkannya hanya akan membuat Anda gelisah" "Kau benar!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN