Gulbahar

1217 Kata
Aku terus termenung saat itu. Hari itu pertemuan pertama dan terakhirku dengan Sofia. Aku tidak ingat jika kami pernah cukup akrab. Aku dan sofia dibedakan dalam banyak hal. Dia dicintai raja dan ratu sementara aku dan ibuku adalah orang buangan di istana. "Yang mulia... Yang mulia!" Aku terjaga dari lamunanku. Bibi Gilimore berdiri di sampingku dengan membawa ponselku. Wanita 50 tahunan berwajah bundar, dengan kulit kuning dan mata sipit itu tampak sedang menunggu mengatakan sesuatu. "Tuan Gulbahar telah tiba. Dia meminta bertemu dengan Anda" "Biarkan aku bicara dengannya!" Belum ada yang tau atau bisa dibilang minim ada yang tahu kalau aku adalah anggota keluarga kerajaan. Dengan pelakat pelayan milik Bibi Gilimore aku bebas pergi kemana saja. Hari itu aku segera membuat janji dengan Gulbahar. Gulbahar adalah pelayan lain yang melayani ku selama diluar istana. Dia bukan pelayan langsung seperti Bibi Gilimore, dia bekerja dibalik layar seperti seorang mata-mata. Usianya masih cukup muda, lebih muda dua tahun dari putra mahkota. Hari itu kami membuat janji bertemu di sebuah coffee shop pusat kota. Banyak hal dari Belgium yang telah berubah, aku tidak mengenal banyak tempat karena itu aku memilih bepergian dengan taksi. Berbeda dengan Gulbahar yang tahu banyak tempat dia bebas pergi kemanapun tetapi dalam tiap langkahnya dia orang yang berhati-hati. Gulbahar tiba lebih dulu. Aku melihatnya dari jendela kaca tembus pandang. Coffee shop itu punya taman yang indah di pintu masuk. Dari atap bunga-bunga morning Glory mencuat dengan warna ungunya yang begitu mencolok. Aku menghampirinya, dia tersenyum saat melihatku. Gulbahar lelaki berkacamata berbadan tinggi dan tegap. Matanya lebar berwarna coklat, hidungnya pendek, bibirnya tipis, dagunya tegas. Dia selalu memakai setelan yang rapi. Pembawaannya selalu tenang dan lembut. Dia pria baik hati. "Lama tidak bertemu yang mulia" Dia berdiri untuk menyambutku. "Bagaimana kabarmu?" "Saya baik-baik saja. Bagaimana dengan Anda?" "Kau pasti sudah mendengar banyak cerita dari Bibi Gilimore" "Selamat atas pernikahan Anda" Dia terdengar bersungguh-sungguh. Aku tertawa lirih. "Menurutmu itu pantas dirayakan?" "Anda berhasil menarik putra mahkota ke sisi anda" "Tidak juga, dia hanya menjadi penonton" Pelayan datang membawa dua gelas kopi. Satu gelas cappucino dingin dan satu gelas lain kopi americano panas. "Keadaan istana saat ini, bagaimana menurutmu?" Dia meneguk kopinya sejenak. Memperbaiki kacamatanya. Dalam diam dia menganalisa. "Saat ini istana terbagi menjadi dua kubu. Kubu yang mendukung raja dan sebagian masih mendukung ratu" Aku berdecak dingin. "Dia sudah sekarat tapi masih memiliki pendukung?" "Saat masih dalam keadaan sehat dia memiliki kekuasaan yang mutlak dan besar" "Aku ingin mengakhiri kekuasaannya" "Maksud Anda?" Sorot matanya menyelidik. "Seperti sofia" Gulbahar tampak berpikir. Menarik gelas kopinya agak menjauh. "Saya pikir ini bukan waktu yang tepat. Ini baru beberapa hari setelah kematian putri sofia. Akan ada desas desus dan kecurigaan tentang hal itu" Aku mendesah pendek. "Kau benar, aku harus menunggu. Oh, ya, aku sudah menemukan posisi yang tepat untukmu di istana. Posisi itu tidak terlalu tinggi aku khawatir kau akan menolak" "Saya tidak masalah dengan posisi apapun" "Pelatih kuda istana. Sesuai dengan keahlianmu. Aku akan mengusahakan kau akan mendapatkan posisi lebih tinggi setelah itu" "Tidak masalah yang mulia" "Aku akan mengatur kau bisa masuk kedalam istana secepatnya" "Saya akan menunggu kabar dari Anda" Aku meninggalkan coffe shop itu. Menunggu taksi di depan toko roti tak jauh dari sana. Ada keramaian di seberang jalan tempatku menunggu. Itu adalah sebuah pertigaan yang memiliki banyak bangunan. Tumben saja hari itu ramai. Ada serombongan wartawan dan warga berkumpul dengan wajah antusias juga pengamanan yang ketat dari pihak kepolisian. Yang menarik ada pengawal istana di sekitar tempat itu yang berjaga diantara kerumunan. Aston Martin hitam berhenti di pinggir jalan tak berapa lama. Saat itu putra mahkota baru keluar dari sebuah gedung. Rupanya di seberang jalan itu adalah yayasan kanker milik keluarga kerajaan. Tanpa sengaja dia melihatku yang berdiri di berang jalan, di saat yang sama taksi yang aku pesan tiba. Aku pergi dari tempat itu. *** Tidak ada saputangan lagi yang dikirim atau undangan apapun dari putra mahkota tetapi sebagai kesepakatan tidak tertulis aku datang ke kamarnya. Aku pikir dia sedang merokok dengan sisha atau minum, tetapi yang kudapati dia sedang membaca. Aku agak terkejut mendapati hal tersebut, jadi aku agak ragu masuk kedalam kamar, tetapi sepertinya dia menyadari keberadaanku yang berdiri di ujung pintu tanpa pemberitahuan. "Masuklah!" "Apa aku mengganggu?" "Tidak, tidak sama sekali" Setelah dia mengatakan itu, aku baru masuk kedalam kamarnya. Pelayan menutup pintu dan masih seperti kemarin suasana diantara kami masih saja dingin. Aku tidak tahu apakah malam ini dia ingin berhubungan atau tidak, itu terserah padanya. Aku duduk di tepi ranjang. Hanya duduk dan melihat-lihat. Ada banyak lukisan di kamarnya tetapi tidak ada foto. Ada buku-buku di rak yang melekat di dinding dekat tempat duduk. Kamarnya bernuansa putih gading yang cerah dan sederhana tanpa banyak hiasan. Aku merasa agak seperti orang bodoh karena tidak bisa mencairkan suasana. Aku masih merasa ada jarak diantara kami. "Aku melihatmu diluar istana" Aku pikir dia tidak akan meungkitnya. "Ah, tadi siang itu" "Kau bersama seorang pria kan?" Aku agak terkejut. Apakah dia melihat aku bertemu dengan Gulbahar? Tetapi kenapa aku tidak menyadari keberadaannya? "Aku bertemu seseorang yang bekerja padaku sejak di pengasingan. Namanya Gulbahar. Dia akan masuk kedalam istana" Mata peraknya terangkat dari dokumen yang dia baca. "Kau akan memasukkannya sebagai apa?" "Pelatih berkuda kerajaan" Bibirnya memancing turun. "Itu posisi yang rendah, apa kau yakin kau bisa membalaskan dendammu dengan cara seperti itu" "Aku akan mengatasi rintangannya satu persatu. Kulihat kau cukup populer di mata rakyat. Banyak yang menyambutmu" "Populer dan berpengaruh adalah dua hal yang berbeda" "Tapi setidaknya kau sudah punya sebuah kesempatan. Hanya tinggal membentuk opini rakyat yang kuat terhadapmu bukan?" Dia membalas dengan seringai tipis. "Apa yang akan kau lakukan malam ini? Apa kau akan bekerja dengan dokumenmu?" "Ada beberapa hal yang sedikit mendesak. Kau bisa tidur lebih dulu kalau kau mau" Seperti yang dia katakan aku menarik selimut lalu berbaring membelakanginya. Aku mencoba tertidur selama beberapa menit tetapi tidak bisa. "Apa hal mendesak yang sedang kau lakukan?" Kataku setelah beberapa menit diam. "Raja memberiku mandat menyelidiki kematian Sofia" Mendengar hal itu aku mencengkram selimutku dengan keras. "Bukankah itu kecelakaan biasa? Kenapa kau harus menyelidikinya" "Ada beberapa kejanggalan yang dilaporkan pihak kepolisian, dan aku diminta menjadi orang yang memipin penyelidikan kasus ini" "Kau memiliki perasaan pada sofia?" "Ini kedua kalinya kau bertanya, apakah aku punya perasaan padanya atau tidak. Apa kau begitu tertarik padanya?" "Kalian tumbuh bersama bisa saja kalian punya perasaan pada satu sama lain" "Kau cemburu?" "Aku tidak cemburu pada orang mati" *** Aku berencana memasukkan Gulbahar pekan depan tetapi penyelidikan tentang kasus kematian Sofia membuatku tidak bisa tenang dan memasukkannya lebih cepat dibanding waktu yang telah ditentukan. Ini akan mengundang sedikit kecurigaan. Aku duduk di paviliunku seorang diri. Hanya di danau ini aku bisa menemukan ketenangan yang aku butuhkan. Akun tidak menyesali kematian Sofia, aku menganggap kematiannya sebagai pengorbanan. Bukankah dia mengatakan ingin aku kembali? Satu-satunya cara aku bisa kembali adalah dengan menggantikan posisinya. Hanya saja dia orang yang terlalu naif dan baik hati. "Kau disini rupanya" Aku melirik suara familiar itu. Diantara dedaunan jingga pohon birch yang berjatuhan putra mahkota berdiri di depan tangga paviliun bersama pelayan tuanya yang menjengkelkan. "Ada yang kau butuhkan dariku?" "Jika kau tidak sibuk, aku ingin kau menemaniku ke area pacuan kuda kerajaan. Akan ada perlombaan" Mendengar tentang pacuan kuda aku teringat tentang Gulbahar. Aku memang sedang berencana menemuinya, tetapi sulit melakukannya diam-diam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN