Bibi Gilimore sudah lebih dulu mengirim pesan pada Gulbahar. Aku menemuinya diam-diam di kandang kuda. Saat itu dia sedang mengelus seekor kuda putih dengan surai yang indah. Dia memang menyukai kuda karena saat remaja dia seorang equestrienne.
Kandang kuda itu sangat panjang ke belakang dipenuhi rumput kering. Kayu-kayu melintang menutup kandang yang diisi makanan dan air. Kira-kira mungkin ada dua puluh kandang yang diisi masing-masing dengan dua ekor kuda.
"Sudah lama tidak melihatmu tersenyum seperti itu"
Menyadari kehadiranku dia segera membungkuk dengan khitmat. Aneh rasanya aku mengenakan seragam berkuda tetapi aku bahkan tidak tahu cara berkuda dengan baik sedangkan Gulbahar yang memakai seragam hitam khusus untuk pengawas kuda-kuda kerajaan lebih pantas memakainya.
"Maaf saya tidak menyadari kehadiran Anda"
"Ada yang ingin aku bicarakan dan itu sangat penting"
"Wajah Anda terlihat khawatir"
Aku mencengkram whip di tanganku dengan kencang.
"Putra mahkota telah diminta menyelidiki kematian Sofia oleh Raja, sepertinya mereka tahu ada sesuatu dibalik kecelakaan yang menimpanya"
"Anda jangan khawatir semua dilakukan dengan bersih. Orang-orang yang terlibat telah dibungkam"
Mendengarnya aku merasa sedikit lega meski tidak sepenuhnya.
"Aku seharusnya tidak memikirkan tentang hal ini. Aku tidak berpikir putra mahkota akan kompeten menjalankan tugas ini, tapi mengingat kedekatan pribadinya dengan Sofia dia bisa saja melakukannya dengan sungguh-sungguh"
"Sekarang Anda adalah orang yang paling dekat dengan putra mahkota"
Aku tersenyum sinis.
"Dekat? Hanya sekedar menikah dan menemaninya di ranjang sama sekali bukan kedekatan. Itu hanya transaksi bisnis yang tidak bernilai"
"Saya pikir Anda sudah sejauh ini untuk melakukan segalanya sampai dengan mengorbankan kebahagiaan yang bisa anda raih. Bukankah Anda masih bisa memilih mundur?"
Aku melirik dingin pada Gulbahar. Untuk pertama kalinya dia mengatakan kata-kata yang terdengar seperti omong kosong. Kebahagiaan? Apakah itu adalah sebuah pilihan yang aku lahir dengannya?
"Aku sudah sejauh ini, tidak ada jalan untuk mundur tetapi jika kau ingin mundur aku akan mempersilahkanmu"
"Tidak, tentu saja tidak! Saya ingin membantu Anda mencapai tujuan anda"
"Ah, itu kudanya"
Aku melirik ke pintu masuk di belakangku. Putra mahkota datang dengan pengawas kuda lainnya, seorang pria paruh baya yang berjalan ke tempat kami. Menunjuk kuda putih di samping Gulbahar.
"Kenapa kuda ku berada disini?" Putra mahkota bertanya. Gulbahar menunduk sopan padanya dengan cara khitmat seperti yang dia lakukan kepadaku.
"Sepatunya baru saja diganti, saya akan segera memindahkannya ke kandangnya"
"Kebetulan aku ingin memakainya, bawa dia ke arena. Aku akan bertanding"
"Akan saya lakukan"
Gulbahar pergi dengan membawa kuda pacuan itu bersama pengawas kuda yang lainnya meninggalkan kami berdua. Aku tidak tahu apakah dia mendengar obrolan kami atau tidak tetapi ekspresinya dingin seperti biasa.
"Kau ingin berkuda?" Putra mahkota bertanya.
"Aku tidak tertarik" Kataku dengan dingin lalu meninggalkannya.
Area pacuan kuda tidak jauh dari kandang kuda. Hanya perlu berjalan 200 meter dari sana. Dari jauh tempat itu sudah terlihat megah. Pintu masuk disambut gerbang dengan tulisan besar pacuan kuda kerajaan.
Tempatnya seperti sebuah stadium tetapi tidak begitu luas, cukup untuk ratusan orang. Untuk naik ke tempat duduk harus menaiki undakan tangga dari sebuah pintu disebelah kiri yang menyerupai sebuah lorong. Sudah ada beberapa penonton yang duduk di memenuhi beberapa bangku. Tidak begitu ramai, tentu saja karena tempat itu bukan tempat terbuka untuk menonton pacuan kuda untuk orang biasa.
Aku duduk di bangku paling belakang. Ada sepuluh buah sekat yang masing-masing sudah diisi oleh kuda pacuan salah satunya oleh putra mahkota. Sambutan terhadapnya cukup meriah saat namanya diumumkan dengan pembesar suara.
Dalam hitungan ketiga terdengar suara letusan peluru start dimulai. Gerbang dibuka semua kuda lari dengan kencang. Kuda coklat awalnya memimpin disusul kuda putih milik putra mahkota. Dalam lomba itu dia terlihat serius dan kompetitif tetapi cekatan. Terlihat dari bagaimana baiknya dia mengontrol kuda dan menggunakan whipnya dengan baik untuk mengontrol kuda putihnya yang tangguh. Dia tahu kapan waktu yang tepat untuk menyusul dan berhasil melampaui kuda coklat setelah separuh dari arena di lalui.
Orang-orang yang berdiri didepanku sangat antusias dan memuji bagaimana baiknya dia melakukan hal tersebut sejak dulu. Setelah satu setengah menit dia memenangkan pacuan kuda itu dengan tepuk tangan yang meriah dari semua orang.
Menanggapi bagaimana antusias orang-orang dia terlihat biasa saja, hanya tersenyum tenang sambil mengusap surai kudanya. Aku dengar dari penonton didepanku ini hanya pacuan kuda pembuka, pacuan kuda yang sebenarnya akan dimulai sebentar lagi. Para joki-joki profesional yang sengaja direkrut oleh para bangsawan untuk taruhan telah bersiap membawa kuda mereka masing-masing memasuki arena.
Aku tidak suka dengan kuda dan aku datang kemari bukan untuk menonton pacuan kuda atau bertaruh. Aku tidak ada urusan di tempat ini. Urusanku dengan Gulbahar sudah selesai dan aku ingin kembali ke istana. Pakaian berkuda ini ketat dan tidak cocok denganku.
Aku meninggalkan tempat itu menuju pintu keluar tempatku tadi datang yang arahnya berlawanan dengan area pacuan kuda. Saat aku sedang berjalan menuju gerbang, aku mendengar suara berisik di belakangku dari area bangku penonton yang aku tinggalkan. Aku tidak tahu apa yang terjadi, karena suara pelurus start juga belum dimulai. Namun, aku mendengar suara hentakan kaki kuda yang keras. Aku berbalik karena penasaran lalu melihat seekor kuda hitam berlari ke arahku dengan cepat tanpa seorang joki yang mengendarai. Kuda itu berlari tanpa kendali. Soroti matanya terlihat sangat mantap dan membara seolah-olah dia datang untuk menginjakku.
Jarak kami sudah sangat dekat karena kecepatan lari kuda itu yang seperti angin sedangkan kakiku seperti terpaku ke tanah. Aku merasa tidak bisa bergerak karena rasa panik.
Aku menutup mataku, mencengkram kuat tanganku membayangkan apa yang akan terjadi jika kuda itu menabrak ku. Aku mungkin akan mengalami patah tulang atau kematian.
Di saat paling putus asa dan tak berdaya itu, tiba-tiba saja seseorang menarik lenganku dengan kencang hingga tubuh kami membentur tanah.
Aku terkejut siapa yang melakukannya. Aku membuka mataku, helmku yang tidak terpasang dengan kencang terbuka sehingga kepalaku membentur tanah. Diantara rambut gelapku yang tergerai aku berada dalam pelukan putra mahkota.
Aku melihatnya beberapa saat tanpa mengedip. Bola mata peraknya yang indah. Ekspresi wajahnya yang serius. Napasnya yang berat, tubuhnya yang kokoh. Dia terlihat begitu dekat tetapi aku tidak bisa berbuat apa-apa.
**
Aku terbangun. Merasa agak nyeri di keningku. Saat merabanya aku mendapati perban melingkar. Aku tersadar, saat itu berada di sebuah ruangan kecil bercat putih. Dari jendela aku bisa melihat area pacuan kuda yang luas, tetapi tempat itu sekarang sudah sepi. Sepertinya pacuan kuda sudah selesai.
Pintu terbuka, seorang pria tua berkacamata masuk dengan putra mahkota.
"Ah, kau sudah bangun. Bagaimana keadaanmu?" Dokter datang dengan senter kecil yang diarahkan satu persatu ke mataku. "Haruskah dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih teliti?" Sambung putra mahkota.
"Tidak usah, aku tidak mati. Semuanya baik-baik saja"
"Itu lebih baik untuk memastikan"
Sekali lagi aku meyakinkan, "Aku tidak apa-apa. Aku hanya terbentur ke tanah"
"Kau yakin?" Putra mahkota menegaskan sekali lagi.
"Aku lebih tau keadaanku sendiri"