01. Kabar Buruk
"Tidak mungkin, suami dan anakku tidak mungkin …." Tubuh seorang wanita bernama Rina seketika jatuh ke lantai. Kedua kakinya tak bisa lagi menopang raganya untuk tetap berdiri. Tangisannya pecah. Air mata kini mulai tampak membasahi kedua matanya.
"Kenapa Tuhan, kenapa Kau ambil mereka dariku?"
***
Butuh waktu setengah hari, akhirnya Rina tiba di rumah sakit. Wajahnya terlihat begitu pucat, tubuhnya pun tampak gemetar. Bagaimana tidak, kehilangan dua orang yang dicintainya, benar-benar telah menghancurkan hatinya.
“Bagaimana semua ini terjadi, Dokter?” tanya Rina dengan tatapan dingin saat tiba di hadapan seorang dokter.
“Dokter Daniel mengalami kecelakaan bersama anak kalian, menurut sumber yang kami dapat dari pihak polisi, dia menabrak pembatas jalan,” jawabnya dengan tenang.
“Hanya itu? Tidak ada yang lain?” tanya Rina penasaran.
“Ya, hanya itu. Walaupun sebelum kejadian ini ada seorang pasien wanita yang mengatakan telah dilecehkan olehnya sehingga kami sampai menskornya karena pihak dari wanita itu mengundang pers dan mencemarkan nama baik rumah sakit,” lanjutnya lagi.
“Dan, kalian percaya begitu saja dengan wanita itu tanpa mencari buktinya?” tanya Rina masih menahan rasa sakitnya.
“Kami sudah melihat dari CCTV dan memang ada kesalahpahaman. Jadi, ternyata wanita itu bukan dilecehkan oleh almarhum, tapi saat beliau keluar ada orang asing masuk yang ternyata adalah mantan pacar dari wanita itu,” jelas dokter itu meyakinkan.
“Bisakah saya tahu siapa wanita itu?” tanya Rina penasaran.
“Memangnya untuk apa Ibu tahu, lagi pula nama dokter Daniel sudah bersih dan kami juga sudah mengadakan jumpa pers kalau beliau tidak bersalah,” jawab dokter Sigit sedikit menaikkan volume suaranya.
“Katakan Dokter apa alasannya saya tidak boleh mengetahui siapa wanita itu? Apakah dia orang penting?” Tatapan Rina masih tertuju pada mayat suaminya itu.
Di sekujur tubuhnya banyak luka lebam. Rina membuka kain penutup itu, mulai meneliti setiap jengkal tubuh suaminya. Dokter Sigit berkeringat begitu juga dengan dua orang asisten yang berada di samping kiri kanannya. Rina pun akhirnya menemukan luka sayatan di punggung sebelah kiri dan luka di bagian kaki kanan juga tangan sebelah kanan.
“Ada apa ini, Dok, kenapa ada banyak luka sayatan di tubuh suami saya, apakah suami saya ada yang sengaja ingin …?"
“Jangan berpikir seperti itu, Bu! Kami sudah melakukan otopsi sesuai prosedur dan ini memang murni luka akibat kecelakaan karena saat itu almarhum dalam keadaan mengantuk pada saat mengendarai mobil." Asisten dokter itu menjawab cepat.
"Kami atas nama pihak rumah sakit turut berdukacita atas meninggalnya dokter Daniel, semoga amal ibadahnya di terima oleh Tuhan." Dokter Sigit menimpali. Coba mengalihkan pembicaraan mengenai luka-luka itu.
“Tapi kalian belum menjawab pertanyaan saya, apa alasannya saya tidak bisa bertemu dengan wanita itu?”
“Tidak ada apa-apa, Bu. Kami sudah menyelesaikan semuanya permasalahan itu. Jadi, tidak ada masalah lagi yang perlu Ibu selesaikan dengan wanita itu. Dan, saya bisa pastikan kalau kematian dokter Daniel dan Riandra memang tidak ada hubungannya dengan masalah itu, saya jamin. Semua berkas sudah selesai dan kedua jenazah ini bisa dibawa pulang,” jawab dokter Sigit meyakinkan.
Rina membuka kain putih di jenazah putrinya yang masih berusia lima tahun. Dia terlihat seperti tertidur dengan nyenyak bahkan kalimat terakhir yang putrinya ucapkan masih melekat dalam pikirannya.
“Kamu benar-benar pergi, Sayang. Seandainya Mama nggak ninggalin kalian untuk mengejar impian Mama, kalian pasti nggak akan seperti ini." Rina menangis. Memeluk tubuh putrinya yang sudah dingin dengan linangan air mata di wajahnya.
"Pasti kematian kalian ada hubungannya dengan wanita itu, memangnya siapa dia? Kenapa dokter Sigit sepertinya menyembunyikan sesuatu dariku? Aku tidak puas dengan jawabannya. Pokoknya aku akan tetap mencari tahu siapa wanita itu,” batin Rina memutuskan.
“Bu ... Bu Rina mari silakan!” Ajak dokter Sigit mengantarnya keluar. Sementara itu, dua asisten dokter Sigit segera menutup kembali kedua jenazah setelah Rina melepas dekapan dari tubuh putrinya.
***
Di lorong rumah sakit, Rina masih terus memikirkan tentang semua yang terjadi, terutama tentang identitas wanita yang membuat suaminya harus terkena masalah pemfitnahan.
"Mungkin aku bisa tahu siapa wanita itu kalau melihat portal berita di sosmed." Rina dengan cepat mengambil ponsel miliknya dari dalam tas. Namun, setelah mencari di berbagai media sosial, wanita itu harus menelan kekecewaan karena tak berhasil menemukan satu berita pun tentang kejadian itu.
“Kenapa tidak ada?" Tiba-tiba tangan Rina ditarik oleh seseorang, hingga membuatnya hampir terjatuh jika tidak berpegangan dengan tiang penyangga tangga darurat. Ya, orang itu membawa Rina masuk ke dalam tangga darurat yang jarang dilalui oleh banyak orang.
“Siapa ka ... Mbak Lastri?” panggilnya saat melihat wanita itu membuka masker yang menutupi wajahnya. Wanita itu adalah salah satu dokter yang juga bekerja di rumah sakit yang sama dengan suaminya.
“Kamu dalam bahaya, Rin, segera pergi dari sini, orang-orang itu sangat berkuasa, jika kamu tidak mengikuti kemauan mereka untuk menutup kasus kematian suami dan anakmu. Maka, kamu yang selanjutnya akan dilenyapkan. Mungkin aku juga bisa diasingkan oleh dokter Sigit jika aku ketahuan memberitahukan yang sebenarnya tentang mereka."
“Pantas saja aku tidak menemukan berita itu lagi di media sosial, seakan-akan sudah dihapus.”
“Iya, memang itu yang terjadi karena orang ini adalah salah satu pemilik rumah sakit tempat kami bekerja.”
“Maksud Mbak, Wisesa Group?”
“Ya, tapi aku tidak bisa menjelaskan secara rinci karena saat kejadian itu aku tidak bertugas. Tapi kamu tenang aja, aku akan bantu kamu untuk mencari tahu tentang keluarga Wisesa," jelas Lastri membuat Rina semakin penasaran.
Selesai mengatakan itu, Lastri pun langsung pergi meninggalkan Rina yang masih tampak kebingungan. Semua begitu cepat terjadi hingga dia belum sempat berpikir jernih.
Rina pun melangkah gontai, dia bingung ingin memulai dari mana saat semua akses untuk mencari kebenaran sudah terkunci rapat. Tanpa sadar dia berjalan menabrak seseorang sehingga orang itu menjadi geram.
“Hei, apa kamu tidak punya mata?” teriak seorang pria bernama Reno, tetapi Rina tetap berjalan tanpa memedulikan teriakan dari orang itu.
Merasa diabaikan, pria itu pun menghampiri dan menghalangi jalan Rina. “Dasar wanita bodoh! Kamu sudah menyenggol saya, tapi kamu tidak minta maaf, apa orang tuamu tidak mendidikmu? Apa saya harus ngajarin kamu bagaimana cara minta maaf yang benar?” Reno bertanya dengan kasar. Raut wajahnya menegang. Memancarkan kemarahan saat ini.
Tak ingin terlibat masalah apa pun, Rina menghela napas panjang, lalu berkata, “ Maaf.” Setelah itu, Rina melanjutkan langkah kakinya tanpa menunggu jawaban dari Reno.
Reno yang masih tidak terima, dia kembali mengusik Rina. “Dasar wanita nggak punya sopan santun! Hei, apa begitu cara yang sopan minta maaf? Kamu lulusan apa sampai kamu tidak tahu cara untuk minta maaf yang benar?” hardik Reno tambah geram. Menatap Rina dengan tajam.
Rina balik menatap tajam ke arah Reno. “Jangan mengguruiku, memangnya siapa kamu? Bahkan cara kamu bicara dengan wanita saja tidak sopan, beginikah didikan orang tuamu, Tuan?” Kini Rina ikut tersulut emosi.
Reno pun membalas tatapan itu tak kalah tajam. Namun, tiba-tiba ponselnya kembali berdering dan mengharuskannya untuk menjawab panggilan telepon itu. Melihat Reno yang sibuk dengan ponselnya, Rina buru-buru menghindar dan berlalu pergi dari pria yang dianggapnya sangat sombong itu.
Setelah selesai bicara di telepon, Reno sudah tidak melihat lagi wanita yang membuatnya kesal. Pria tampan itu harus segera menyelesaikan misinya lagi setelah mendapatkan kabar dari anak buahnya.