Embun pikir setelah Adhitama mengetahui tentang kondisi yang sebenarnya, dia akan menjauh dan meninggalkan Embun. Namun, ternyata dugaan Embun salah besar. Adhitama semakin sayang dan sikapnya begitu romantis pada Embun. Setiap pulang kerja selalu membelikan makanan kesukaannya. Dia bilang bahagia itu sederhana, melihat Embun bisa tersenyum saja pria berlesung pipi itu senang. Tak ada yang lebih berarti di dunia selain Embun.
“Pokoknya kamu jangan mikir macem-macem. Apa pun yang terjadi nggak boleh ada orang ketiga dalam rumah tangga kita. Termasuk mamaku.” Kata-kata Adhitama selalu terngiang di telinga.
Meskipun pria berhidung bangir itu mengatakan kalau tak memiliki anak bukan masalah besar, tetapi Embun yakin di lubuk hatinya Adhitama ingin menggendong bayi. Embun akan terus membujuk suaminya agar mau menikah dengan Hilya. Hliya, gadis yang baik, Embun tak akan menyesal memilih dia untuk jadi madu Embun. Sementara ini, Embun akan memberi waktu untuk Adhitama, biarkan nantinya keinginan menikah lagi muncul sendiri di hatinya.
Sore ini, Embun memutuskan pergi ke panti. Ingin menemui Bu Asih, Embun ... rindu. Selain itu Embun ingin sekali berbagi cerita dengan beliau. Ingin meminta pendapat beliau lagi soal keinginannya itu. Setelah berpamitan pada Adhitama lewat WA, Embun pun memesan taksi online. Tak perlu lama taksi pun sudah datang, lalu setelah mengucapkan alamat tujuan, supir melajukannya dengan kecepatan sedang.
Embun melihat suasana di luar. Jalanan tampak tak begitu ramai, padahal ini jam makan siang, biasanya para pegawai berebut ingin memasuki rumah makan. Namun, tampaknya tidak untuk saat ini.
Akhirnya, tanpa disadari sampailah Embun di panti. Setelah mengucapkan terima kasih dan membayar ongkos, Embun masuk ke dalam halaman. Tampak anak-anak panti sedang berlarian ke sana kemari, ada yang di teras sedang membaca buku, ada pula yang hanya mengobrol sesama anak panti. Embun menyapa mereka dengan senyuman. Mereka langsung berhamburan menuju tempatnya berdiri.
“Tante Embun datang. Hore!” Salah satu anak perempuan berusia sekitar sembilan tahun menghambur memeluknya, membuatnya hampir saja jatuh.
“Pelan-pelan, dong, Balik! Tante Embun mau jatuh itu!” protes salah satu anak laki-laki.
Embun hanya tersenyum, kemudian mengatakan kalau tidak apa-apa. Setelah menyerahkan sedikit oleh-oleh pada mereka, Embun berjalan masuk untuk menemui Bu Asih. Sedangkan anak-anak tadi berlari, mungkin ke dapur, mengasihkan oleh-oleh ke bagian dapur.
Embun melangkah dengan pelan ke ruangan Bu Asih. Saat hendak mengetuk pintu yang sedikit terbuka, Embun melihat Hilya di dalam sana. Dia sedang berbicara dengan Bu Asih, Embun pun memutuskan untuk menguping.
“Ya, semua terserah kamu, Hilya. Apa kamu siap jadi istri kedua? Mau jadi madu Embun?” tanya Bu Asih.
“Hilya bingung, Bu. Di satu sisi Hilya nggak mau jadi istri kedua. Nggak mau ada di posisi kedua suami Hilya. Hilya ingin satu-satunya menjadi istri. Hilya nggak mau, tapi ... Hilya nggak enak sama Mbak Embun kalau menolaknya.” Jawaban Hilya membuat Embun meneteskan air mata.
“Lalu, saat pertama kali kamu melihat suami Embun gimana? Kamu menyukainya?” tanya Bu Asih.
Hilya hanya bergeming. Embun menanti jawaban Hilya dengan hati berdebar. Lama tak ada jawaban. Hingga akhirnya terlihat Hilya mengangguk. Seperti ada yang tercabik di dalam sini, saat mengetahui ada wanita lain yang menyukai suaminya. Namun, Embun tak boleh cemburu. Ini justru bagus untuk mendesak Hilya dan Adhitama. Dan akan mempermudah mereka memiliki keturunan, pastinya Hilya bisa melayani Adhitama dengan baik.
Setelah hatinya sedikit tenang, Embun pun mengucap salam. Hilya tampak kaget, begitu juga dengan Bu Asih. Akan tetapi, Embun pura-pura tak mendengar apa-apa. Bersikap seolah-olah tak ada apa-apa.
“Mbak Embun? Udah dari tadi?” tanya Hilya dengan suara yang sedikit panik.
“Nggak, kok, barusan datang.” Embun tersenyum.
Tampak Hilya bernapas lega setelah mendengar jawaban Embun.
“Embun, tumben siang-siang gini datang ke sini? Ada apa?” Bu Asih menatap Embun sambil tersenyum.
“Nggak ada apa-apa, Bu. Embun hanya kangen saja.” Embun langsung mencium tangan Bu Asih.
“Kayak anak kecil aja kamu ini.” Bu Asih menjawil hidung Embun sambil tersenyum.
Lalu, mereka bertiga pun tertawa. Setelah suasana sedikit mencair, Embun pun berdeham.
“Hilya, aku pengen ngomong empat mata sama kamu.”
Hilya menyipitkan matanya, kemudian beralih menatap Bu Asih. Bu Asih pun hanya mengangguk dan tersenyum, lalu beliau meninggalkan mereka berdua.
“Aku ... ingin bertemu kedua orang tua kamu,” lirih Embun.
Seketika mulut Hilya ternganga. Dia menatapnya dalam.
“Bertemu orang tuaku, Mbak? Untuk apa?” tanya Hilya sambil terus menatap Embun penuh selidik.
“Aku ingin membahas pernikahan kamu dengan Mas Adhitama.” Embun tersenyum.
“Ta-tapi, Mbak. Suami Mbak sama sekali nggak menginginkan pernikahan ini.” Hilya berkata dengan nada penuh penekanan.
“Kamu tenang, asal kamu bersedia dan orang tua kamu setuju, Mas Tama pasti mau. Aku akan terus mendesaknya. Dia pasti mau mengabulkan permintaanku.” Embun berbicara dengan tenang, seolah-olah tak bersedih. Padahal dalam hati begitu perih.
Embun terus memaksa Hilya agar mau mengajak ke rumahnya dan bertemu orang tuanya. Setelah melalui drama dan perdebatan panjang, akhirnya Hilya pun mau membawa Embun ke rumahnya. Mereka pun berpamitan pada Bu Asih. Bu Asih hanya mendoakan semoga semua berjalan sesuai yang diinginkan.
***
Setelah melakukan perjalanan yang tak begitu lama, hanya memakan waktu sekitar tiga puluh menit dengan naik taksi, sampailah mereka di sebuah rumah minimalis. Di daerah perkampungan yang sedikit asri, masih ada beberapa pohon di sekitar rumah Hilya. Jarak rumah dengan para tetangga pun tidak terlalu dempet. Suasananya terasa begitu adem. Embun menghirup udara segar di sekitar.
Hilya mengucap salam, tak berapa lama terdengar suara wanita dan pintu terbuka. Tampak sosok wanita dengan garis wajah mirip Hilya. Dia memakai jilbab instan sebahu warna hijau muda. Wajahnya tampak bersinar. Kemudian, Hilya mencium tangan wanita tersebut. Sepertinya wanita itu ibunya Hilya. Beliau tersenyum ke arah Embun. Embun pun mengikuti jejak Hilya, mencium tangan wanita berumur sekitar lima puluhan tahun.
“Ibu, kenalkan ini Mbak Embun, kakak kelas aku sewaktu SMA dulu. Dia dulu tinggal di panti tempat aku mengajar ngaji.” Hilya tersenyum sambil memandang mereka berdua.
“Tante, kenalkan saya Embun,” sapa Embun sambil tersenyum.
“Oh iya, saya ibunya Hilya. Panggil aja Tante Sari.” Bu Sari mengusap bahu Embun pelan, lalu mengajak mereka masuk.
Setiba di dalam, Embun melihat sekeliling. Di ruang tamu hanya ada meja kayu dan kursi siku yang sudah agak lusuh. Lantainya juga bukan dari keramik, hanya dari semen. Sepertinya keluarga Hilya memang sederhana. Di dinding tertempel gambar Ka'bah dan beberapa kaligrafi. Benar-benar keluarga yang taat agama. Bu Sari pamit ke belakang untuk membuatkan minum, padahal Embun sudah bilang kalau tak perlu repot-repot, tapi beliau tetap ngotot. Sedangkan, Hilya pergi ke kamar ingin ganti baju katanya. Embun menunggu sambil mengecek ponsel. Barangkali Adhitama menghubungi. Embun tak mengatakan kalau pergi ke rumah Hilya, karena pasti dia akan melarangnya.
***