Keesokan harinya, Embun langsung mempersiapkan semuanya. Setelah sarapan Adhitama masih bersantai di halaman belakang, di depan kolam renang. Embun membiarkannya sebentar. Nanti setelah Embun selesai bersiap-siap, barulah meminta Adhitama ganti baju. Namun, setelah Embun selesai ganti baju, tiba-tiba ponselnya berdering. Ternyata Bu Retno. Embun segera mengangkatnya. “Iya, Ma, ada apa?” tanya Embun dengan selembut mungkin. “Ingat, ya, Embun kamu nggak boleh ikut Tama fitting baju. Biarkan dia pergi berdua dengan Hilya. Biar mereka saling mengenal dan akrab. Kalau ada kamu mereka nggak bisa akrab!” Suara Bu Retno terdengar begitu judes. Ah, aku harus bagaimana? Bukankah Mas Adhitama memintaku menemani? Kalau tidak maka dia tidak akan pergi. Ah, aku sungguh bingung. Embun menggaruk kepala

