Bu Retno pun mendatangi Adhitama yang ada di ruang tengah. Wanita itu langsung mengomel pada Adhitama.
“Tama! Kamu ngapain malah di sini?” Bu Retno duduk di samping Adhitama.
“Mama,” desis Adhitama. “Apa Ma? Datang-datang, kok, marah-marah gitu.” Adhitama tetap menyambut kedatangan mamanya dengan senyuman.
“Kamu ini aneh, mata kamu perlu diperiksa.” Bu Retno menatap Adhitama dengan dalam.
Adhitama mengernyitkan dahi menatap sang mama. Adhitama bingung kenapa matanya harus diperiksa, padahal sehat-sehat saja. Pandangannya juga jelas.
“Lah, kenapa harus diperiksa Ma?” tanya Adhitama.
“Ya, kamu nggak tahu ada wanita sempurna di luar. Wanita yang punya segalanya untuk kamu. Bukan kampungan kayak Embun.” Bu Retno berkata dengan nada sinis. “Dari awal kalian menjalin hubungan, Mama sudah nggak setuju, tapi kamu ngeyel aja. Memangnya apa istimewanya Embun? Sudah yatim, mandul pula,” lanjut Bu Retno.
Adhitama benar-benar tak menyangka kalau mamanya akan berkata dengan ucapan yang tak semestinya. Pria itu sangat marah, tetapi mencoba untuk tidak mengatakan ucapan yang kasar, biar bagaimanapun Bu Retno berjasa untuk Adhitama.
“Ma, Embun itu istimewa, hanya Tama yang bisa melihat keistimewaan Embun. Dia nggak bisa digantikan posisinya di hati Tama.” Adhitama tersenyum menatap Bu Retno.
“Halah, istimewa apa? Orang nggak bisa kasih Mama cucu, kok, istimewa.” Bu Retno mencebik.
“Kami masih ikhtiar Ma,” ucap Adhitama.
“Dari dulu selalu jawabannya ikhtiar, ikhtiar terus! Sampai kapan pun, Embun nggak akan pernah bisa punya anak! Dia itu mandul!” sentak Bu Retno.
Adhitama hanya menghela napas dalam. Dia bingung harus berkata apa pada mamanya.
“Pokoknya kamu harus nikah lagi! Lagian Embun juga sudah setuju, bahkan dia yang mencarikan istri untukmu. Ya, dia harus tahu dirilah, udah 7 tahun nikah belum juga kasih cucu.” Bu Retno berkata dengan begitu sinis.
“Ma, Tama nggak akan pernah menikah lagi. Tama nggak mau mendukan Embun. Tama sangat penting mencintai Embun. Tama tahu pasti Embun terpaksa melakukan semua itu. Mama, kan, yang mendesak Embun?” Adhitama menatap Bu Retno dengan tajam.
“Kamu ngomong apa? Mama mana mungkin kayak gitu.” Bu Retno berkata dengan gugup. “Udah ayo ke depan, temui calon istri kedua kamu,” ajak Bu Retno.
“Ma, jangan paksa Tama! Tama nggak akan pernah menduakan Embun!” Adhitama mulai hilang kesabarannya.
“Tama, semua ini demi keluarga kita. Kalau kamu nggak punya anak, gimana dengan keturunan di keluarga kita. Ayolah Tama.” Bu Retno membujuk Adhitama dengan suara yang pelan, agar hati Adhitama luluh.
Adhitama menghela napas dalam. Dia tak bisa menemui wanita yang akan dijodohkan dengannya. Meskipun wanita itu yang mencarikan Embun, istrinya. Adhitama tak mau Embun sakit hati dan bersedih jika dia berbicara dengan wanita yang bernama Hilya itu. Adhitama percaya, Embun melakukan itu semua karena terpaksa. Adhitama tahu, istrinya itu sangat mencintainya. Bahkan, pernah bilang tak akan sanggup jika harus melihat Adhitama menikah lagi. Namun, sekarang dia kekeh mencarikan istri kedua untuknya.
Adhitama menarik napas dalam teringat masa-masa awal menikah dulu. Di mana, Embun sangat mewanti-wanti Adhitama agar tidak pernah menikah lagi. Ingatan itu kembali terbayang di pelupuk matanya.
“Mas, aku mau nanti kita menua bersama. Apa pun yang terjadi Mas nggak boleh ninggalin aku ataupun menduakanku. Aku nggak akan sanggup Mas,” ucap Embun pada waktu itu.
“Tenang, Embun, aku nggak akan pernah ninggalin kamu ataupun menduakanmu.” Adhitama tersenyum sambil mengusap rambut Embun dengan lembut.
“Terima kasih Mas,” ucap Embun sambil tersenyum.
Adhitama menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. Janjinya pada Embun dululah yang membuat dia menolak untuk menikah lagi. Adhitama begitu mencintai Embun tak mau jika harus menyakiti wanita yang sangat berarti dalam hidupnya.
“Tama! Kamu denger nggak Mama ngomong?” tanya Bu Retno dengan nada keras.
“Iya, Ma,” lirih Adhitama.
“Kalau gitu kita ke depan sekarang!” Bu Retno hendak menarik tangan Adhitama, tapi Adhitama menolak.
“Kenapa Mama kekeuh banget nyuruh Tama nemuin wanita asing?” tanya Adhitama dengan tatapan dalam.
“Mama, kan, sudah bilang supaya kalian saling mengenal satu sama lain. Lalu, saat menikah nggak canggung lagi. Kalau bisa kalian secepatnya menikah supaya bisa cepet kasih Mama cucu.” Bu Retno menjelaskan pada Adhitama panjang lebar.
Adhitama hanya menggeleng mendengar penjelasan sang mama.
“Tama juga berulang kali bilang kalau Tama nggak akan pernah menikah lagi dan menduakan Embun. Tama juga nggak tertarik untuk mengenal wanita di depan itu meskipun dia wanita yang sempurna dan lebih segalanya dari Embun. Bagi Tama, Embun lebih dari segalanya yang ada di dunia ini,” jelas Adhitama pada mamanya.
“Tapi, dia nggak bisa kasih keturunan, Tama! Dia mandul!” Bu Retno tampak kesal pada Adhitama, tetapi Adhitama tetap bersikukuh dengan pendiriannya.
Tanpa sengaja Embun mendengar perkataan Adhitama yang terakhir, dia sengaja ingin memanggil Adhitama dan Bu Retno. Namun, malah mendengar pembelaan Adhitama untuk dirinya. Embun meneteskan air mata bahagia. Suaminya memang sangat mencintainya. Namun, keadaan Embun yang seperti ini yang mengharuskan dia berbagi suami. Embun pun mengusap air matanya dengan kasar, lalu kembali ke ruang tamu menemani Hilya. Hilya heran melihat Embun kembali tanpa mertuanya dan Adhitama.
“Mbak nggak apa-apa?” tanya Hilya yang melihat Embun seperti habis menangis.
“Aku nggak apa-apa, kok, Hilya,” ucap Embun.
“Mbak, sebaiknya memang aku nggak usah hadir di antara keluarga kalian. Aku ini benalu di rumah tangga Mbak.” Hilya merasa tak enak pada Embun. Apalagi melihat perlakuan Bu Retno pada Embun.
“Kamu bukan benalu Hilya, karena aku sendiri yang meminta. Sudahlah, nggak usah dipikirin lagi.” Embun menggenggam erat tangan Hilya.
“Kamu percaya saja kalau Mas Tama juga akan bisa menyayangi dan mencintaimu. Mas Tama emang gitu kalau baru ketemu emang gitu, kok.” Embun tersenyum pada Hilya.
Sementara Hilya merasa belum siap dengan segala risiko yang terjadi. Menikah dengan suami orang sama sekali bukan impiannya dari dulu. Dan Hilya juga sama sekali tak terpikir kalau akan menjadi adik madu kakak kelasnya di SMA dulu. Sungguh tak terduga sebelumnya. Hilya menarik napas dalam dan menatap Embun dengan perasaan campur aduk.
***