Chap 16
▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️
"Sayang?" Dengan langkah cepatnya, ia berusaha mengejar langkah kecil Zevia yang bergerak cepat. Entah mengapa, emosi sang istri akhir-akhir ini menjadi sedikit sensitif.
Selalu saja ingin diperhatikan, dimanja, dan dimengerti. Kadang membuat Gezra bingung menghadapinya seperti saat ini. Hanya karena Gezra mengajaknya pulang saat masih bersama para sahabatnya, Zevia bisa sengambek ini.
Namun, melihat Zevia dengan wajah kusutnya, Gezra memiliki ide jahil yang menyebalkan. Rasanya wajah ngambek sang istri adalah momen terindah yang harus diabadikan dengan kejahilan. Ia pun mengeluarkan ponsel dan pura-pura menelepon seseorang.
"Iya, Pak. Saya yang tadi pesen seratus buah cotton candy dan diminta kirim ke Apartemen. Alamat apartemennya sudah saya kirimkan. Tapi maaf, ya, Pak. Cotton candy nya nggak usah aja. Ini istri saya ngambek nggak mau ngomong sama saya."
Mendengar Gezra mengatakan hal itu, Zevia terhenti. Matanya membulat menatap Gezra uang tersenyum tipis melihatnya sambil menempelkan ponsel yang sebenarnya tidak sedang menelepon siapapun.
"Apa?" tanya Gezra dengan senyuman jahil.
"Kamu pesen segitu banyak cotton candy buat aku?" Matanya berbinar hanya karena mendengar kata cottong candy.
"Awalnya sih mau gitu. Tapi kamu ngambek. Jadi aku batalin aja deh."
Gezra kembali melangkah. Meninggalkan Zevia yang masih mematung di tempat. "Ihhh, Gezra nyebelin!"
"Oke, aksi dimulai," gumam Gezra sembari masuk ke dalam mobil. "Satu ... dua ... tiga."
Tampak Zevia masuk ke dalam mobil dengan senyuman semanis gulali. Membuat Gezra harus kuat menahan godaan untuk tidak tersenyum melihat itu. Ia memasang wajah datar dan mulai menghidupkan mesin mobilnya.
"Sayang ... "
Gezra terdiam. Ia melihat ada mode manja dari sang istri. Cotton candy tak pernah gagal.
"Beliin cotton candy dong. Jangan dibatalin pesenannya." Tangan mungil itu mulai bergelayut manja di lengan Gezra yang sudah fokus menyetir dan keluar dari parkiran resto. "Sayanggg."
"Nggak mau ah. Suruh siapa kamu ngambek nggak jelas."
"Ini udah nggak ngambek kok. Makanya beliin cotton candy."
Gezra tersenyum tipis. Sangat tipis. Melihat betapa menggemaskannya Zevia yang sedang merayunya hanya demi cotton candy.
"Nanti aja deh. Kalau aku udah dapet 'jatah' baru aku beliin cotton candy."
Sontak gelayutan manja itu terlepas. "Ih, itu mah maunya kamu."
Gezra terkekeh mendapat pukulan pelan di lengannya. "Seperti biasa, kan, Mak Lampir kesayangan." Jemarinya menoel manja dagu Zevia yang sudah kembali menrengut.
"Dih, berasa diculik om-om nackal dong." Zevia mencubit pelan lengan Gezra yang semakin jahil.
"Biarin. Nakalnya kan cuma sama kamu."
"Percaya deh. Pokoknya abis ini beliin aku cotton candy ya, Sayang!"
Gezra menatap Zevia sekilas dengan senyuman semanis madu. "Siap, Komandan!"
Oke, mission success. Cotton candy memang senjata terampuh Gezra saat menghadapi masalah ngambeknya si Zevia.
"Oh, ya. Tadi kamu ngobrolin apa aja sama si Dileon?" Kekepoan Zevia tak pernah ketinggalan walaupun sedang berada di posisi kesal atau badmood.
"Nah, ini yang mau aku bicarain ke kamu. Soal Valen dama Dileon."
Zevia mengangkat alisnya sebelah. "Emangnya kenapa sama mereka?"
"Mereka beneran mau tunangan?" tanya Gezra yang membuat Zevia menggeleng cepat.
"Enggak. Tadi Valen bilang kalau semua itu rencananya si Dileon aja buat manas-manasin mantannya yang Sherlyn itu. Gila banget sih. Orang kayak Dileon sempet dapetin cewek kayak Sherlyn. Tapi baguslah. Akhirnya Sherlyn dapetin yang lebih baik kayak Frendo."
"Malah ngomongin orang, kan. Aku tau nanya satu kalimat doang loh."
"Ya biarin lah. Ini itu info yang penting tau. Biar kamu nggak kudet."
Gezra terkekeh mendengarnya. "Kebiasaan banget. Terus, kalau misal nggak bakal tunangan beneran, Valen masih bisa lah balikan sama Ansel. Iya, kan?"
"Kayaknya kamu sekarang pro Ansel banget ya?" heran Zevia.
"Emh, kasihan aja. Dia udah rela buang waktunya demi ngejar Valen empat tahun ini. Tapi tiba-tiba Valen sama yang lain. Siapa yang nggak kasihan coba?"
"Aku enggak sih."
Gezra melirik Zevia dengan wajah datarnya. "Zevv.."
Zevia terkekeh pelan. "Namanya jodoh nggak ada yang tau, Gez. Kayak kita ini, kan."
"Aku udah tau sih kalau kamu jodohku."
"Heleh sok tau deh."
Gezra terkekeh. "Kamu aja yang terlalu fokus sama Ansel. Jadi nggak tau kalau jodoh kamu itu aku."
"Ih, kamu kan juga fokus tuh sama Kyra."
Gezra mendadak terdiam. Saat Zevia mengatakan nama Kyra, ia langsung teringat dengan sosok itu. Sejam yang lalu, Kyra mengiriminya sebuah pesan.
"Kenapa tiba-tiba diem?" tanya Zevia menggugah lamunannya.
"Hm? Kamu tadi ngomong apa?"
"I love you!"
Gezra menoleh dan tersenyum. "Meskipun gak jelas, tapi i love you too deh," ucapnya sembari mengelus pucuk kepala Zevia.
"Gez, kalau kamu lihat, Dileon suka nggak sama si Valen?"
"Emh, kayaknya sih, bakalan ada. Soalnya mereka keliatan deket. Tapi nggak tau juga sih."
"Nah, kan. Kalau Valen nya sih kayaknya nggak mungkin. Dia bilang masih ada rasa sama Ansel. Tapi ... kalau Dileon mepet terus, pasti Valen bisa kecantol nggak sih?"
"Nggak tau juga. Kayak kata kamu tadi. Nggak ada yang tau jodohnya siapa ntar. Tinggal kita lihat aja. Usaha siapa yang lebih kuat buat dapetin hatinya si Valen."
"Kamu pro siapa?" tanya Zevia yang hanya menuai heran dari Gezra.
"Masih nanya?"
"Ansel?"
Gezra menggeleng. "Nggak ada."
"Ih, katanya tadi pro Ansel?"
"Udah, udah. Mikirin mereka nggak ada selesainya, Sayang. Nih, kita udah sampai di apartemen. Ayo kita turun terus manja-manjaan." Tanpa sadar, mereka telah sampai di parkiran apartemen. Gezra dengan menaik-turunkan alisnya membuat Zevia terkekeh geli.
"Gezra genit!"
▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪
"Hai, Vran?"
Baru saja Vranda ingin memanggil sosok yang baru saja datang itu, sosok itu sudah menghampiri nya yang masih bersama dengan Emma dan video call dengan Eliz.
Tanpa diminta, sosok itu—Jimmy—duduk di depan Vranda dan menatapnya dengan senyuman.
"H—Hai, Jim."
Emma pun menyenggol lengan Vranda yang terpaku menatap Jimmy. Sepertinya gadis itu terhipnotis oleh senyuman manis Jimmy. Emma mengakuinya. Senyuman sosok itu memang sangat memukau. Membuat siapapun akan kalang kabut saat mendapatkannya.
Beberapa pasang mata di sana menatap mereka dengan iri. Bagaimana tidak, dua gadis berisik nggak tau malu yang daritadi nggak mau pulang, Tiba-tiba aja dihampiri sama pemilik resto.
"Ah, ini siapa?" tanya Jimmy membuyarkan lamunan Vranda.
"A—ah, iya! Ini Emma. Sahabat gue. Terus, ini Eliz." Vranda memperkenalkan gadis di sisinya dan gadis yang ada di dalam ponsel. Mereka berdua tersenyum pada Jimmy dengan manis. Hingga membuat Vranda sedikit merengut. Ia pun menyenggol lengan Emma dan memberi isyarat untuk tidak berusaha menggoda Jimmy.
Jimmy terkekeh pelan. "Udah lama di sini? Kenapa nggak ngabarin saya?"
"Tadi, gue sama temen-temen itu kebetulan ketemu. Terus jadi agak lama di sini deh."
"Oh, gitu. Udah pesen makan belum? Hari ini gratis buat kamu sama temen kamu."
Emma membuatkan matanya seketika. "Makasih banyak, Bos!" ucap gadis itu dengan semangat.
"Emma, jangan malu-maluin dong," ucap Vranda dengan menggigit giginya.
"Santai aja. Tapi khusus hari ini aja ya. Besok-besok nggak saya kasih lagi loh," canda Jimmy.
Emma dan Vranda terkekeh.
"Terus, temen kamu yang di video call ini lagi di mana? Kenapa nggak ke sini sekalian?" tanya Jimmy sembari melirik Eliz yang sibuk sendiri dari video call.
"Oh, dia lagi tour ke negara tetangga. Dia mah hidupnya keluyuran mulu," jawab Vranda sembari menatap iri pada Eliz.
"Apaan pada lihatin gue?" Tak terima menjadi bahan tontonan, Eliz pun mengeluarkan juteknya. "Eh, kalian. Gue pamit ya. Mau nganterin klien keliling kota dulu. Bye!"
Belum sempat mendapat sapaan selamat tinggal, Eliz sudah mematikan video call mereka. Pasti gadis itu benar-benar terburu oleh keadaan. Kini tinggal Emma, Vranda, dan Jimmy.
Bercengkerama ringan hingga pesanan mereka datang. Melahap bersama dan bercanda tawa. Ternyata Vranda benar, Emma merasakan kenyamanan yang diberikan oleh sikap Jimmy. Tapi ada sesuatu yang membuat Emma sedikit aneh memandang Jimmy.
"Nggak kerasa ternyata udah jam tujuh. Kayaknya tadi masih sore."
Gumaman Vranda membuat Emma memiliki kesempatan untuk mengajak gadis itu pulang.
"Iya nih. Balik yuk. Gue masih ada naskah nih."
"Oh, kamu penulis ya?" sahut Jimmy yang akan memicu perbincangan panjang lebar lagi.
"Iya, tapi sorry ya. Gue butuh waktu buat ngetik nih. Jadi, Vranda gue balik dulu. Nggak masalah kan?"
Jimmy mengangguk dan tersenyum—lagi. "Oke. Nggak masalah kok. Lain kali kita bisa bertemu lagi."
Meski sedikit kecewa karena harus berpisah dengan Jimmy, namun Vranda tetap mengikuti langkah Emma yang mulai meninggalkan resto. Walau begitu, Vranda tetap merasa harinya penuh dengan bunga-bunga. Bunga kemenangan. Bukan bunga bank.
▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️
"Ra, kamu kapan pulang? Udah jam segini nih." Grena tak pernah berhenti menelepon anak gadisnya yang masih di luar rumah. Entah sejak kapan, Grena menjadi overprotective pada anak bungsu nya itu.
"Aduh, Ma. Ini tugasnya belum selesai."
Lagi-lagi jawaban Rora selalu sama. Namun, hal itu tak membuat Grena tenang. Justru membuat Grena semakin cemas dan penasaran.
Kemudian, wanita paruh baya itu menekan tombol alihkan ke video call. Beberapa detik, Rora belum menyetujuinya. Hingga akhirnya, video call itu terangkat dan memperlihatkan Rora dengan wajah kesal.
"Please, deh, Ma. Ada apa? Mama cuma bikin belajar kelompok Rora terganggu terus Rora nggak pulang-pulang ntar."
Grena menyipitkan matanya. "Mana temen-temen sekelompok kamu?"
Mendengar pertanyaan Grena, Rora memutar bola matanya malas. Gadis itu pun langsung mengalihkan kameranya menjadi kamera belakang dan memperliharkan beberapa teman sekampusnya yang sedang asyik menulis jawaban.
"Tuh, lihat, kan? Mereka cewek semua, Ma."
"Oke, jangan pulang kemaleman. Awas aja kalau pulang lebih dari jam sembilan. Kamu tidur di luar."
"Ish!"
TUT
Panggilan pun dimatikan oleh Grena. Sudah pasti membuat anak bungsunya itu sangat kesal.
"Kamu tuh kenapa tiba-tiba overprotective sama Rora sih, Ma?" celetuk Vicknan yang baru saja keluar dari kamar mandi. Membuat Grena hanya melihatnya malas.
"Biarin lah. Dia anak gadis, Pa. Nggak boleh keluar malem-malem tanpa pengawasan."
"Dulu Zevia juga gitu kan."
"Beda, Pa. Zevia itu jago beladiri. Dia kan ikut taekwondo. Kalau Rora? Dia anaknya lemah."
Vicknan terkekeh. "Nggak kok. Rora juga bisa jaga dirinya, Ma. Kita percaya aja."
"Aduh, nggak. Mama nggak tenang."
Drrtt
Suara ponselnya bergetar. Membuat Grena langsung mengangkatnya tanpa melihat siapa penelepon itu.
"Gimana? Kamu jemput? Mau pulang?" cecar Grena pada sosok penelepon yang entah siapa.
"Hah? Apaan sih, Ma?"
"Loh?" Sontak Grena langsung melihat nama yang tertera di layar ponsel. "Oalah, kamu, Zev. Mama kira Rora yang nelepon tadi. Ada apa?"
"Panik banget Rora nggak pulang-pulang. Dia udah gede kali, Ma."
"Nggak, Rora tetep kelihatan bayi di mata mama. Udah, kamu mau ngomong apa?"
"Ish, sekalinya Zev yang nelepon aja nggak betah amat. Cuma mau kasih kabar, sekarang Zev sama Gezra tinggal di apartemen buat sementara. Nanti alamat apartemennya Zev kirim ke chat aja, ya, Ma. Kali aja mama sama papa mau main ke apartemen Zev."
"Oh, oke, Zev. Nanti mama sama papa kapan-kapan main ke sana. Ya udah sana kamu tidur. Jaga kesehatan biar cepet kasih cucu ke mama."
"Kalau tidur cepet ya nggak jadi-jadi ntar cucunya, Ma." Vicknan menyambar dengan maksud tertentu. Membuat Zevia yang mendengarnya terbahak dari balik telepon.
"Bener juga sih," gumam Grena yang mengerti apa maksud dari sang suami.
"Ya udah, Ma. Zev kirim alamatnya ya. Bye, Ma! Good night!"
TUT
Zevia pun mematikan panggilan nya.
▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪
"Ra, kayaknya nyokap lo makin protect ya sama lo?" tegur salah seorang temannya—Jessy. "Kayaknya dulu pas kita SMA juga nggak se-overprotective sekarang."
Rora hanya mengedikkan bahunya. Dengan wajah kusut dan malas, ia hanya memainkan bulpoinnya. Jessy benar, sang mama berubah saat ia mulai masuk kuliah. Makin protective dan hal itu kadang membuatnya tak nyaman. Meski ia tau, apa yang dilakukan oleh sang mama adalah yang terbaik untuknya. Sang mama hanya ingin menjaganya dengan sepenuh hati dan sepanjang waktu. Hanya saja, terkadang caranya salah dan justru membuat tak nyaman.
"Udah, kerjain tugasnya. Abis itu gue anterin balik." Jessy—sahabat Rora sejak SMA pun menepuk bahu Rora dan membuat gadis itu menggerakkan bulpoinnya untuk menuliskan jawaban yang sudah disepakati kelompok.
"Girls, gue udah selesai. Gue balik duluan ya!" Paula—gadis keturunan Jerman yang tampak mempesona itu sudah memasukkan semua barangnya ke dalam tas. "Oh ya! Jangan lupa minggu depan dateng ke acara ulang tahun gue. Dan ... jangan lupa bawa couple karena ada pesta dansa! Terutama lo, Aurora Borealisa! Kalau lo nggak dateng, gue anggap lo anak mami beneran."
Cantik tapi nyebelin. Itulah yang menjadi label seorang Paula. Sejak awal, Rora sudah sangat muak berteman dengannya. Karena gadis itu selalu mengunggulkan kecantikan dan harta.
"So, lo mau dateng, Ra?" bisik Jessy yang ragu dengan kehadiran Rora.
"Mampus lah! Kalau gue nggak dateng, bisa makin ancur image gue di depan si tengil itu!"
▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️