Chap 15
▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Senja menyapa sendu. Mengusik gelisah di d**a yang semakin menggebu. Seolah tak ada yang mampu menghapus pilu. Ansel terdiam sibuk menghalu.
Setelah kejadian di acara resepsi Frendo dan Sherlyn, Ansel menjadi sosok yang lebih pendiam. Awalnya ia sangat aktif merencanakan program terbaik untuk perusahaannya. Namun, profesionalitasnya menjadi terganggu karena masalah cinta dan perasaan. Ia merasa ada yang hancur lebih hancur dari biasa. Mendengar seorang gadis yang sangat ia cintai ternyata akan menjadi tunangan lelaki lain. Hal itu pun tanpa ada aba-aba sebelumnya. Seolah ia tengah di bom dengan bom waktu yang sudah terpasang sejak empat tahun yang lalu.
Beberapa kali Ansel menghela napas kasar. Ada setupuk dokumen yang harus ia tanda tangani. Namun, tak ada satu niat pun untuk menyelesaikannya. Hingga sang sekretaris memantaunya dari ruangan yang berbeda. Hanya terhalang oleh kaca dan kedap suara. Jadi, sang sekretaris tak mampu mendengar apa yang diracaukan oleh Ansel.
Hingga akhirnya, Ansel bangkit dari kursi kebesaran seorang CEO. Ia berjalan ke arah jendela kaca yang membentang lebar menyuguhkan pemandangan kota. Sangat ramai. Namun, ia tak mampu mendengar keramaian itu. Seperti hatinya, terpecah belah. Namun, ia tak bisa mendengar suara pecahan itu. Hanya mampu merasakannya. Merasakan kepahitan yang mendalam.
Ia sadar. Kesalahannya di masa lalu mungkin sangat menyakiti seorang Valen. Gadis yang sudah tulus mencintanya hingga rela mengkhianati sahabatnya sendiri. Valen selalu ada untuknya. Selalu berbagi kisah dan tawa. Akan tetapi, Ansel dengan sadar dan tega meninggalkan bahkan menyakiti hati gadis itu dengan mengatakan bahwa perasaannya sudah sirna. Padahal, ia masih bimbang antara Valen dan Zevia.
Ia pikir, cintanya dengan Valen hanyalah cinta sesaat dan hanyandatang karena bosan dengan hubungannya bersama Zevia. Namun, setelah kepergian Valen dalam hidupnya, ia lebih merasa kehilangan Valen daripada seorang Zevia. Hatinya terlampau kosong. Seperti tak ada kehidupan lagi di sana.
Valen berhasil membuat hatinya merasakan sebuah nyawa. Hidup dan merasakan keindahan. Ia berpikir akan mudah untuk memiliki hati gadis itu lagi. Namun, nyatanya berbalik. Empat tahun lebih, perjuangannya terancam sia-sia.
"Pak?" tegur seseorang. Ansel mengenali suara itu dan tak memalingkan wajahnya. "Mohon dicek dan ditandatangani dokumen yang sudah saya berikan hari ini."
"Iya, nanti." Nada jawaban itu sudah membuktikan bahwa hatinya benar-benar tak ingin di ganggu.
"Tapi, Pak—"
Ucapan sosok itu terputus saat melihat Ansel meliriknya malas. "Jangan ganggu saya dulu."
"Baik, Pak. Maaf." Sosok itu menunduk dan langsung berbalik tanpa mengatakan apapun lagi.
Terdengar suara langkah menjauh. Hingga Ansel kembali menghela napas. Ia sudah terlalu larut dalam keputusasaan. Padahal, belum tentu Valen dan lelaki itu akan benar-benar menuju ke jenjang yang lebih serius. Harapannya masih ada. Sebelum janur kuning melengkung, semua masih ada harapan dan kesempatan merebut kembali hati gadis pujaannya.
"Nggak, Val. Lo ditakdirin buat gue. Gue nggak akan lepasin lo gitu aja."
▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Hari mulai menuai malam. Setelah perbincangan sengit mereka soal Valen dan Ansel, dimana Dileon meminta Gezra untuk mengatakan sebuah kebohongan, akhirnya Gezra dan Dileon mulai bosan menunggu para wanita berbincang ria. Mereka menggosip dari Z hingga A. Membuat para pelanggan yang menunggu antrian meja bergumam kesal.
Gezra dan Dileon sepakat mencari alasan agar bisa menarik dua wanita yang sibuk bercengkerama.
"Lo mau alesan apa?" tanya Dileon.
"Gue alesan capek aja deh."
"Kalau lo alesan capek, istri lo bakal ngamuk."
Gezra menatap Dileon heran. "Emangnya salah?"
"Pasti jawabannya bakal gini, 'Oh, kamu capek nungguin aku ngobrol sama mereka? Ya udah sana balik duluan. Lagipula aku ketemu sama mereka itu jarang banget. Ketemu sama kamu udah tiap hari. Ya udah sana pulang. Nggak usah nungguin aku.' Pasti gitu." Dileon menjelaskan dengan mengecilkan suaranya dan berusaha meniru suara lengking perempuan.
Membuat Gezra terkekeh pelan. "Ngawur aja lo. Zevia nggak kayak gitu sih."
"Ya udah ayo coba aja."
"Emangnya lo mau alesan apa sama Valen?" tanya Gezra balik.
"Ada yang mau gue omongin sama dia kan. Itu udah jadi alasan sih. Soalnya dia juga butuh ngobrol sama gue soal kerjaan."
"Oh, oke." Gezra pun bangkit dari duduk dan diekori oleh Dileon masuk ke dalam resto. Menemui empat gadis yang sedang asyik bergurau riang sambil videocall dengan seseorang. Yang tak lain dan tak bukan adalah Eliz.
"Zev, pulang yuk." Tanpa basa-basi, Gezra langsung mengajak sang istri untuk pulang.
Zevia hanya meliriknya sekilas. "Bentar lagi." Setelah menjawab Gezra, Zevia kembali bercakap dengan sahabat-sahabatnya.
"Len, mau balik kapan? Ada yang mau gue omongin berdua sama lo."
Valen menatap Dileon datar. "Oke." Kemudian menatap satu persatu sahabatnya. "Girls, sorry. Gue harus balik sekarang. Soalnya masih ada urusan."
"Zev, kita balik sekalian, yuk. Aku capek nih."
Sontak Zevia menatap ke arah Gezra dengan datar. "Oh, kamu capek nungguin aku ngobrol sama mereka? Ya udah sana balik duluan. Lagipula aku ketemu sama mereka itu jarang banget. Ketemu sama kamu udah tiap hari. Ya udah sana pulang. Nggak usah nungguin aku." Juteknya keras banget.
Mendengar jawaban itu, Gezra melirik tajam ke arah Dileon yang sudah menahan tawa.
"Ayo, Len."
"Iya, iya. Sabar!" Valen pun bangkit dari duduk setelah berpamitan dengan para sahabatnya. "Girls, lain kali kita ketemu lagi. Oke?"
"Oke! Dan lo harus kasih tau kebenaran soal hubungan lo sama itu," ucap Emma sembari melirik ke arah Dileon.
"Kan udah gue bilang. Dia bos gue! Lagipula gue ke acaranya Frendi itu juga karena diajak sama bos gue."
Emma dan Vranda saling menatap. "Oke, lain kali kita ketemu lagi dan lo harus bawa bos lo. Biar kita bisa wawancarain dia."
Valen memutar bola matanya malas. "Iya, deh. Kalau dia mau."
"Gue mau kok."
Mendengar Dileon menyahuti pembicaraan mereka, Valen menatap nya tajam. Kemudian mereka berdua pun pergi dari tempat meninggalkan Zevia yang masih jutekin Gezra dan dua gadis tengik yang berusaha cari keuntungan.
Gezra duduk di tempat Valen yang berhadapan dengan Zevia. Menatap sang istri lekat-lekat dengan penuh harap agar Zevia mau pulang bersamanya. "Sayang, kita juga masih harus ngerapiin apartemen loh. Yakin mau pulang nanti-nanti aja?"
"Woi, Gez. Biarin dulu aja napa? Lo sana balik sendiri. Gue masih kangen nih sana Claretta. Mana kalau ditelepon susah banget pula. Mumpung gue lagi punya pulsa buat telepon beda negara." Eliz yang masih tersambung videocall dengan mereka pun ikut menyambar. Diangguki oleh Emma dan Vranda.
"Ya udah deh, aku tunggu kamu aja."
Zevia terdiam melihat Gezra yang menyenderkan punggungnya ke kursi. Matanya tertutup dan membuat Vranda melirik ke arah Zevia. Sosok itu benar-benar pasrah dan menyerah.
Zevia menghela napas pelan. "Girls, gue juga balik dulu deh. Kapan-kapan kita jadwalin meet up lagi. Cuma kita berlima aja. Nggak usah ajak-ajak cowok!" ucap Zevia sambil menekankan kata 'cowok' dan melirik tajam ke arah Gezra.
Gezra tersenyum tipis mendengar itu. Sangat tipis hingga tak tampak kalau dirinya senang mendengar juteknya si Zevia.
"Ayo pulang!"
"Oke!" Gezra pun langsung bangkit dari duduk dan mengulurkan tangannya pada sang istri. Namun, Zevia mengabaikannya.
"Girls, gue sama si kutu kupret ini pulang dulu ya."
Vranda, Emma, dan Eliz terkekeh bersamaan. "Hati-hati, Zev. See you!"
Sontak Zevia pun langsung melangkah pergi dan meninggalkan Gezra yang masih tersenyum tipis. Sudah sangat lama ia tak melihat juteknya sang istri yang menggemaskan itu.
"Hati-hati juga, Gez. Bisa diterkam mentah-menrah lo ntar sama si Zevia."
"Ditelen hidup-hidup gue juga rela kok."
"Eeuuhh, dasar bucin!"
"Sorry ganggu kebersamaan kalian. Gue balik dulu." Gezra pun langsung melangkah cepat menyusul langkah kecil Zevia.
"Nggak berubah banyak sih. Tetep aja kek kucing sama anjing," gumam Emma melihat pasangan suami istri muda itu pergi.
▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Saat perjalanan menuju mobil, Valen masih tetap diam membisu. Ia tak berminat untuk membuka pembicaraan tentang apa yang ingin dikatakan oleh bosnya itu. Namun, sebenarnya ada rasa penasaran yang meluap. Hanya saja, ia masih ingin mendengar Dileon mengatakannya lebih dulu.
Sebelum masuk ke mobil, Dileon menahan tangan Valen dan memojokkannya ke pintu mobil. Valen mengernyit heran. Ia mencoba menjauhkan tubuh Dileon darinya.
"Apaan sih?"
"Len, gue pengen kita tunangan beneran."
Valen sontak melototkan kedua netranya. "Lo gila?"
Dileon menggeleng. "Gue nggak pengen Sherlyn anggep gue masih berharap sama dia. Jadi gue harus punya ikatan sama cewek lain biar dia percaya."
Valen menghela napas kasar. "Denger ya, Dil. Pertunangan itu ikatan suci. Lo nggak bisa jadiin acara sakral itu cuma buat pelampiasan dendam lo doang!"
Dileon terdiam. Ia menatap kedua netra Valen yang tampak berapi-api karena kesal. "Jadi, lo nggak mau karena nggak mau m*****i sucinya ikatan itu, kan? Bukan karena lo nggak mau nyakitin Ansel kan?"
"Dil? Apaan sih? Udah cukup lo ledekin gue mulu." Valen mengembungkan pipinya sambil melipat tangannya di d**a.
Dileon terkekeh. "Oke, kita pulang."
"Gitu doang?" tanya Valen heran karena Dileon sudah berjalan ke tempat sopir dan membuka pintu mobil.
"Kita bicarain di dalem mobil aja. Zevia dana Gezra udah keluar dari resto tuh."
Melihat Zevia berjalan keluar dari resto dengan wajah muram, Valen sudah mengira akan terjadi perang Dunia ketiga di rumah tangan sahabatnya itu. Ia pun langsung masuk ke mobil dan tak berniat mencampuri urusan rumah tangga orang lain.
"Jadi, mau ngomongin apa lagi?" tanya Valen setelah mengunci rapat pintu mobilnya.
"Gue mau lo jaga rahasia kalau kita bukan tunangan. Di depan siapapun termasuk sahabat-sahabat lo."
"Wait. Nggak bisa. Itu tandanya gue pura-pura jadi pacar lo dong? Gue kan udah bilang nggak mau."
"Satu bulan aja! Selama itu gue bakal cari cewek yang pas di hati gue buat gue lamar langsung deh."
Valen tertawa hambar mendengar itu. "Please, Bos! Lo pikir cari cewek yang pas sama perasaan itu kayak cari baju yang cocok pas di badan? Hah? Nggak semudah itu, Bambank!"
"Namanya juga usaha kan. Lo juga bisa cariin cewek yang pas buat gue. Biar gue seleksi terus gue jadiin."
"Idih, mendadak banget gue jadi mak comblang. Tapi nggak masalah deh. Demi harga diri gue."
Dileon terkekeh sambil menyalakan mobilnya. "Jadi, deal kan?"
Valen mengangguk dengan senyuman lebarnya. "Deal! Gue cariin cewek dan lo naikin gaji gue dua kali lipat!"
"Oke, deal."
▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Saat dua pasangan—pasangan resmi dan pasangan ambigu—telah pergi dari hadapan mereka, Vranda, Eliz, dan Emma tinggal bertiga. Mereka sempat membicarakan tentang kehidupan masing-masing. Hingga cerita tentang Valen dan Ansel menjadi perbincangan yang hangat.
Saat melihat kehadiran Dileon tadi, Vranda sempat merasa bahwa sosok itu memiliki pandangan yang berbeda pada Valen. Kemungkinan besar adalah pandangan hati yang belum sempat tersampaikan. Namun, Vranda ragu. Karena Vranda tahu jika Dileon mengerti keadaan Valen yang sedang dilema dengan perasaannya pada Ansel. Kemungkinan, pandangan hati yang terlihat adalah pandangan hati yang iba.
"Gue juga ngerasa gitu." Emma mengatakan persetujuan pada apa yang dipikirkan oleh Vranda.
"Kemungkinan sih nggak mungkin Dileon suka sama Valen."
Emma menggeleng. Kali ini ia tak setuju dengan ucapan Eliz.
"Kalau Valen nggak suka sama Dileon itu mungkin. Tapi kalau Dileon ke Valen, gue rasa bisa jadi sih."
"Iya juga sih. Apalagi Valen masih cinta tuh sama Ansel. Kalau si Dileon kan kayaknya lagi patah hati tuh dari ceritanya si Valen tadi."
Emma dan Eliz mengangguk-angguk setuju setelah mendengar ucapan Vranda.
"Bye the way, bukan cuma Valen nih yang lagi rumit. Lo juga lagi rumit, kan, Em?" celetuk Eliz dari ujung telepon. Vranda sontak melihat Emma yang langsung merubah air mukanya.
"Ya gitu deh. Terlalu rumit sampai gue males mau cerita."
Eliz menepuk kameranya. "Inget, Em. Ada kita yang selalu ada buat lo. Kita siap jadi sandaran lo."
Emma tersenyum sendu. "Iya, gue paham."
"Nah, sekarang gantian lo, Vran. Mana si Jimmy-Jimmy itu? Gue jadi penasaran kayak gimana si mukanya."
Vranda terkekeh malu. "Awas ntar lo kesemsem kalau lihat si Jimmy."
"Kita lihat aja nanti."
"Eh, Liz. Katanya si Jimmy itu tipe idelnya si Vranda. Gue heran, sejak kapan tipe ideal Vranda berubah jadi goodboy? Dia kan dulu suka banget sama si ayam kampus Ansel."
Vranda mendelik kesal mendengar ocehan Emma.
Terdengar tawa Eliz menggelegar di balik telepon. Wajahnya tampak puas meledek Vranda yang hanya diam melirik tajam ke arah Emma.
"Iya juga sih. Kayaknya dia udah insaf."
"Please, Girls. Nggak usah ngingetin sama masa lalu yang suram itu."
Saat asyik membicarakan hubungan Valen dan Ansel yang rumit dan godaan Eliz padanya. Vranda menangkap bayangan seseorang yang baru saja datang dengan gaya kasual santainya. Para pelayan menyapanya dengan ramah. Tak salah lagi, Vranda tersenyum lebar melihatnya. "Nah, itu dia si Jimmy."
▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️