Chap 14
▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Vranda masih asyik menikmati harinya di apartemen Emma. Ia sudah bosan menjadi Bu Direktur yang sangat melelahkan. Harus meladeni semua pekerjaan yang sebenarnya lebih berat meski tampak simple. Meski begitu, ia mencintai pekerjaannya. Ya, rasa bosan memang hal yang wajar dalam setiap pekerjaan. Jadi, Vranda hanya memikirkan bagaimana cara menyingkirkan rasa bosan itu. Bukan keluar dan mencari hal yang baru.
Krrr
Sontak Vranda memegang perutnya. Meremasnya dan merasakan ada rasa perih meski tak terlalu kentara. Ia melirik ke arah Emma di meja belajar yang masih bisa dijangkau oleh pandangannya.
"Em, lo nggak laper emangnya."
Vranda yang asyik tiduran di sofa sambil memainkan kakinya yang menggantung itu membuat Emma selalu tergganggu dan tak bisa berkonsentrasi.
Entah sudah berapa kali Vranda menanyakan hal yang sama. Karena memang perutnya selalu berteriak meraung kelaparan. Sejak pagi dia memang belum memasukkan apapun ke dalam lambungnya. Andai ia memiliki riwayat maag. Mungkin sekarang ia sudah tak sanggup menahan perihnya sakit maag.
Karena tak kunjung menuai jawaban dari Emma, Vranda pun akhirnya memperbaiki posisi tidurnya menjadi duduk. Menatap sang sahabat yang masih asyik menatap layar laptop. Menarikan jari-jemari di atas keyboard setiap detik. Sesekali menyeka air mata yang luruh karena baper sama cerita sendiri. Ya, begitulah Emma. Vranda tak terkejut dengan hal itu. Semenjak lulus kuliah dan mendalami sastra fiksi sebagai mmatapencaharian, Emma menjadi orang yang melankolis. Sangat menghayati peran dari karakter yang ia tulis sendiri.
"Emma?"
"Haduh!" Emma menghentikan ketikannya. Ia menatap Vranda malas dan melihat tulang hidungnya. "Ya udah, ayo kita makan. Mau makan di mana?"
Vranda tersenyum lebar. "Nah, gitu dong! Kita ke restonya Jimmy yuk!"
"Dapet diskon nggak nih? Lo tau sendiri kan kalau gue belum gajian."
"Iya, iya. Ntar dapet diskon. Makanya ayo ke sana sekarang. Kali aja ketemu Jimmy juga."
Emma melempar tatapan penuh arti pada Vranda. "Lo niatnya mau makan apa mau ketemu sama Jimmy? Gue nggak mau kalau di jadiin kambing congek ya!"
Vranda tertawa renyah mendengar itu. "Kagaklah. Niatnya makan tapi kalau ketemu sama Jimmy kan untung buat gue sama lo juga. Gue bisa lihat si Jimmy yang mukanya bikin adem. Plus kita dapet diskon dan lo juga seneng kan? Menyelam sambil minum air dong!"
"Ck! Terserah deh"
▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪
Zevia terkejut saat melihat Gezra duduk di depan lobby sambil mengusap sepatunya dengan tisu. Ia menepuk pundak sang suami dan menuai tatapan datar dari Gezra.
"Kamu ngapain?" tanya Zevia heran. "Sepatunya kenapa?" Zevia ikut mendudukkan diri di sebelah Gezra dan melihat sepatu yang mengeluarkan aroma kopi dengan samar-samar.
"Tadi ada orang rese yang sengaja numpahin kopi ke sepatuku."
Zevia mengernyit heran. Ia teringat dengan sepupu yang sempat bertemu dengannya tadi. Ada segelas kopi di tangan sosok itu dan Mileo—sepupunya juga mengatakan jika di depan lift ada cowok rese yang menganggu kenyamanan umum. Saat ia melihat ke depan lift, ada seorang lelaki berdiri di sana. Jadi, Zevia cukup lega karena yang dimaksud bukan suaminya.
"Udah diambil hapenya?" tanya Gezra membuyarkan lamunannya.
"Udah."
"Lama banget sih. Ngambilnya ke Dubai dulu?" ejek Gezra sambil bangkit dari duduknya. Membuat Zevia mengerucutkan bibirnya dengan gemas.
"Tadi tuh keselip di koper. Terus aku juga ketemu sama sepupuku. Ternyata dia juga tinggal di apartemen ini. Satu lantai sama kita."
Gezra ber'oh'ria. "Sepupu yang mana?"
"Yang dokter itu. Dia baru balik ke Indo terus tinggal di apartemen. Dia nggak dateng ke acara resepsi kita sih. Jadi, mungkin kalian belum pernah saling kenal."
"Ya udah, kapan-kapan ajak main ke apartemen kita aja."
Zevia tersenyum. "Oke, Sayang."
Setelah itu, mereka pun berangkat ke tempat tujuan yang kedua—Lezatos Restaurant. Mereka akan memanjakan perut mereka dengan makanan yang lezat dan sedang hype di masyarakat. Sepertinya pemilik resto sedang berada di ujung kejayaan karena memang restonya terlihat sangat ramai.
"Waw. Kita harus antri meja nih?" tanya Zevia sambil melihat antrian nomor lima. Jadi, mereka harus menunggu hingga ada meja yang kosong.
"Terserah. Mau nunggu juga nggak masalah. Aku ikut aja." Gezra bersender di pintu mobil sambil melipat kedua tangannya ke d**a. Sembari menatap langit yang mulai menampakkan senjanya.
Zevia terdiam sesaat. Lalu menatap Gezra dengan kesal. "Tunggu aja deh. Aku penasaran sama menu di sini. Biar kamu sekali-sekali itu manjain istrinya. Nggak main game mulu."
"Eh? Aku kan udah sering manjain istriku satu-satunya ini." Dengan gemas Gezra mencubit kedua pipi chubby sang istri. Yang dicubit hanya meringis pelan. "Mau dimanjain kayak gimana lagi, eum?"
Tiba-tiba Zevia merangkul lengan Gezra dan bergelayut manja. "Ya maunya dimanjain keliling dunia dong."
Gezra terkekeh. "Duit dari mana, Mak Lampir kesayanganku?" ucapnya sambil menoel hidung sang istri.
"Zev?" Mendengar sapaan seseorang, Zevia dan Gezra sontak menoleh bersamaan. Menatap sosok yang sedang bersama dengan seseorang yang lain.
"Valen?"
"Idih, manja-manjaan di publik. Nggak malu lo?" Sindir Valen yang masih bersama dengan Dileon.
"Nggak lah. Ngapain malu? Kan udah sah."
Valen menjitak pelan jidat Zevia. Hingga sang empu merintih kesakitan. "Terus aja siksa gue."
"Suruh siapa lo nggak kasihan sama yang jomblo." Valen menatap Zevia ketus sambil melipat kedua tangannya di d**a.
Namun, Zevia terdiam sesaat. Melempar tatapan pada sosok yang berada di sisi sang sahabat. Kemudian menatap Valen kembali dan memberi isyarat yang sulit diartikan.
Valen hanya menerka-nerka. Ia menggeleng tak paham hingga Gezra pun membuka mulutnya. "Zevia nanya, itu pacar lo?" Sontak Valen dan Zevia menatap Gezra dengan horor. Kemudian beralih menatap Dileon yang hanya diam tanpa ekspresi. Hampir sebelas duabelas dengan Gezra.
"Bukan!" Tanpa ragu, Valen menolak pernyataan itu. Sedangkan Dileon masih tetap diam tanpa kata.
"Masa? Itu cowok yang gandeng lo di acara nikahannya Sherlyn sama Frendo, kan?"
"Dia bos gue. Bukan pacar gue."
Zevia menaikkan satu alisnya. "Serius? Dulu lo bilang bos lo cewek. Kok jadi cowok?"
"Itu bos perusahaan. Kalau dia ini kepala editor gitu, Zev. Udah ah, berasa jadi tersangka gue nih. Daritadi di curigain orang mulu."
"Oke, Oke. Jadi bos kepala rumah tangga juga boleh kok."
"Zevvv.."
Zevia terkekeh. Sontak ia langsung menarik Valen untuk mendekat dan membisikinya. "Jadi, lo udah move on dari Ansel?"
"Zevvvv, udah ah."
"Antrian nomor lima!" Saat mendengar antriannya dipanggil, Gezra langsung menoel bahu Zevia dan mengajaknya masuk.
"Bareng aja sekalian. Biar rame."
Gezra menggandeng Zevia, dan Zevia menggandeng Valen. Sedangkan Dileon hanya mengekori mereka bertiga masuk ke dalam resto.
Meski tampak dari luar cukup ramai, suasana di dalam pun tak seriuh yang dibayangkan. Mereka duduk bersantai di meja yang sudah disediakan dengan gaya elegan namun tidak membosankan. Interior resto terbilang cukup unik. Para pelayannya memakai seragam dengan logo daun clover dan berwarna putih hijau. Tampak menyegarkan.
Saat mereka memilih tempat duduk untuk empat orang, salah seorang pelayan memberikan dua lembar menu. Ada beberapa menu yang paten di sana. Sedangkan paling bawah adalah menu spesial yang khusus dibuat di hari-hari tertentu saja.
Zevia dan Gezra memilih menu spesial, sedangkan Valen dan Dileon kebetulan juga memilih menu yang sama.
"Kalian serasi banget? Val, kenapa nggak sama dia aja? Lupain aja si Ansel."
Lagi-lagi Zevia membuat Valen geram. Gadis itu seolah ingin mencakar wajahnya Zevia yang mungkin ditakdirkan menjadi wajah jahil yang menyebalkan.
"Untung gue sayang. Kalau nggak, udah gue buang lo ke laut," ketus Valen. Membuat Zevia terkekeh pelan.
"Oh, ya. Kita belum kenalan. Namanya siapa?" Zevia mengulurkan tangannya. Namun, Gezra dengan cepat menarik tangan itu kembali dan mengulurkan tangan.
"Biar gue aja yang mewakili perkenalan kalian."
Valen terkekeh melihat itu. "Jadi, lo sekarang udah overprotective sama si kacamata satu ini?" Alhasil, Valen membalikkan keadaan untuk mengejek Zevia.
"Val, balas dendam ya lo?" cetus Zevia dengan juteknya.
"Dileon," ucap Dileon dengan singkat sambil menyalami uluran tangan Gezra.
"Gezra. Ini istri gue, Zevia," balas Gezra dengan menekankan kata istri. Dileon tersenyum tipis.
"Gue juga nggak tertarik sama istri lo kok. Lebih menarik si Valen yang tukang ngambek ini."
Mendengar kalimat itu terlontar dari Dileon, Gezra, Zevia, dan Valen sontak melempar tatapan yang berbeda ke Dileon. Gezra dengan tatapan heran. Zevia dengan tatapan terkejut. Sedangkan Valen dengan tatapan tajam.
"Dil, yang bener kalau ngomong."
Sontak Zevia tertawa geli. "Nah, kan. Kalian pasti ada sesuatu."
"Valen nya aja yang nggak mau mengakui, Zev."
"Dileon sialan."
Bukan meluruskan keadaan, Dileon justru ikut meledek Valen yang bermuka masam.
Sedangkan Gezra justru teringat dengan sohib dadakannya—Ansel yang terlihat sangat cinta dengan gadis yang duduk di depan istrinya itu.
"Lo beneran udah move on dari Ansel?" celetuk Gezra dengan datar.
"Gez, udahlah. Lo jangan ikut-ikutan duk tengil ini." Valen berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.
"Gezra kan cuma nanya, Val. Jawab aja lah."
Valen menggeleng. Dia langsung mengeluarkan ponsel dan menyibukkan diri dengan benda itu.
"Tuh, tuh, ngambek, Dil. Dirayu sana."
Dileon hanya terkekeh dan menyenggol baju Valen untuk kembali meledek. Akan tetapi, Valen tetap diam dan fokus dengan ponsel pintarnya.
Tak lama kemudian, pesanan mereka datang dan langsung membuat keempat orang itu melahapnya dengan nikmat.
Di sela acara makan mereka, Valen teringat jika Dileon ingin mengatakan sesuatu. Namun, ia melirik ke arah Zevia dan Gezra yang sibuk ber-lovely dovey di depan umum dengan saling menyuapi satu sama lain. Valen memutar malas bola matanya.
Kemudian beralih menatap Dileon yang lahap menghabiskan sisa terakhir di piring. "Dil," panggil Valen dengan suara sepelan mungkin.
Dileon hanya melirik nya sambil mengunyah makanan yang masih di mulutnya.
"Katanya ada yang mau lo omongin?"
Dileon mengangguk. Ia tak bisa menjawab karena mulutnya penuh dengan makanan. Kemudian mengangkat telapak tangannya dengan arti, "bentar."
Valen pun mengangguk. Beberapa saat kemudian, Dileon pun selesai dengan urusan perutnya. Sekarang fokus menatap Valen yang masih melahap makanannya.
"Serius mau gue omongin di depan mereka?" bisik Dileon. Membuat bulu kuduk Valen berdiri seketika.
"Nanti aja deh. Gue punya firasat nggak enak sama apa yang mau lo omongin."
Dileon terkekeh pelan. Seolah gadis itu tau apa yang akan ia ucapkan.
"Hayo! Bisik-bisik apa tuh?" celetuk Zevia yang membuat Dileon memundurkan wajahnya dari sisi Valen.
"Kambing! Gue hampir keselek gara-gara lo, Zev!"
"Suruh siapa kalian main bisik-bisikan, gue kan jadi kepo."
"Zevia! Valen!" teriak seseorang dari kejauhan. Beberapa pasang mata langsung melihat ke arah mereka. Tampak dua gadis berlari kecil menuju meja Valen dan Zevia.
"Vranda? Emma?"
Melihat kedatangan dua gadis yang akan memeriahkan keadaan, Gezra sontak menatap Dileon yang juga menatapnya penuh arti. Kemudian, Gezra mengangguk dan berpamitan untuk menunggu Zevia di luar resto.
"Jangan tinggalin aku ya, Gez!"
"Enggak-enggak, Sayang."
Mendengar jawaban Gezra, Vranda, Emma, dan Valen ber-huuu ria. "Sok romantis banget sih si Kutu Kupret sekarang?" ledek Emma.
Zevia tertawa mendengar itu. "Bucin tercinta gue tuh."
"Percaya deh."
Setelah berhasil kabur dari lingkup para wanita yang super berisik, Gezra dan Dileon menghela napas lega.
"Paling males kalau suruh nemenin mereka ngobrol."
Gezra mengangguk setuju. Kini mereka duduk di taman yang disediakan oleh resto untuk sekadar berbincang ringan para pelanggan yang menunggu antrian meja.
Beberapa saat, tak ada percakapan antara kedua lelaki itu. Akan tetapi, Gezra penasaran dengan satu hal hingga membuatnya terdorong langsung menanyakannya.
"Lo beneran ada hubungan sama Valen?"
Bukannya menjawab, Dileon justru terkekeh. "Emangnya kenapa? Lo cemburu? Kan lo udah punya istri cakep kayak Zevia."
"Bukan gitu, sih. Karena temen gue udah ngejar Valen sejak empat tahun yang lalu. Tapi Valen nggak kunjung kasih kepastian. Gue kasihan aja gitu sama dia."
Dileon terdiam sesaat. Matanya menatap lurus ke depan tanpa melirik Gezra sedikitpun.
"Kayaknya emang lebih baik Valen sama gue aja. Cowok yang selalu kejar Valen itu pernah nyakitin Valen sampai Valen galau tiap hari di kantor. Gue nggak tega."
Kali ini Gezra yang terdiam. Ia tak menyangka kalimat itu akan terlontar dari mulut seorang Dileon.
"Lo serius?" tanya Gezra memastikan.
"Kenapa enggak?" jawab Dileon.
Gezra tersenyum sengit. "Oke. Gue nggak ikut campur lebih dalam lagi. Terserah kalian mau gimana. Yang penting, siapapun yang dapetin Valen, dia nggak bikin Valen kecewa lagi. Kasihan Zevia kalau lihat Valen kecewa lagi."
"Ujung-ujungnya Zevia lagi."
Gezra terkekeh tanpa merespon.
"Oh, ya. Lo temennya si cowok yang ngejar Valen terus, kan? Lo mau bantuin gue nggak?"
"Bantuin apa?"
"Bilang ke dia kalau gue sama Valen beneran calon tunangan."
"Hah?"
▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️