▪️13▪️

2149 Kata
Chap 13 ▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️ Dua koper telah siap untuk dibawa ke tempat istirahat mereka yang sementara. Apartemen milik Ganiel. Mereka akan berangkat setelah mampir ke rumah Ganiel. Sejam yang lalu, mereka di telepon oleh sang papa untuk mengambil kunci apartemen yang masih digenggaman Ganiel. Setelah itu, mereka akan pergi ke apartemen dan menikmati hari terakhir Gezra cuti bekerja. Sekarang Gezra tengah berdiri di depan mobil. Ia sudah selesai memasukkan semua koper ke bagasi. Tinggal menunggu sang istri yang entah sedang sibuk ada di dalam rumah. Beberapa kali Gezra melihat ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Sudah sekitar sepuluh menit berlalu. Namun, Zevia tak kunjung menampakkan diri. Saat Gezra berniat menjemput sang istri, Zevia sudah keluar dari rumah dengan terburu. Ia mengenakan sepatunya dengan tergesa-gesa sambil berdiri dan menutup pintu rumah. "Astaga, Sayang. Sambil duduk dong." Gezra berjalan mendekati Zevia yang tertatih mengenakan sepatu. Hingga ia pun menitah Zevia untuk duduk dan ia pun berjongkok di depan Zevia. Jemarinya dengan lihai menalikan sepatu sang istri. Zevia terdiam. Ia tersenyum tipis melihat Gezra yang sedang asyik menalikan sepatunya dengan lihai. Benar-benar sangat menggemaskan. "Nyesel deh dulu pernah nyia-nyiain," celetuk Zevia dengan senyuman jahilnya. Gezra tersenyum tanpa menatap Zevia. Masih fokus menalikan satu sisi sepatu yang lain. "Makanya jangan disia-siain lagi." "Idih, langsung gede rasa deh." Gezra terkekeh. Ia pun selesai menalikan sepatu sang istri. Kemudian menatap Zevia dengan lekat. "Aku juga nyesel kok udah pernah ngebiarin kamu pergi dari duniaku sampai akhirnya masuk ke dunia orang lain." "Heleh. Udah ayo berangkat. Keburu laper." Sebuah cubitan gemas terlayangkan ke pipi sang suami. Mereka pun akhirnya bangkit. Menuju ke mobil dan melakukannya ke tempat tujuan pertama. Kediaman Papa mertua. Selama di perjalanan, mereka hanya saling menikmati perjalanan. Gedung-gedung yang menjulang tinggi memenuhi pemandangan. Para warga kota pun berlalu lalang menikmati siang yang makin merajang. Rasanya kulit bisa terbakar jika berada di luaran terlalu lama. Hingga akhirnya, mereka sampai di rumah Ganiel. Tampak mobil kesayangan sang papa berada di halaman. Berarti sang papa memang sudah berada di rumah setelah pulang dari kantor untuk menyempatkan memberi kunci apartemen pada anak dan menantunya. "Kamu ikut nggak?" tawar Gezra. "Ikut lah. Biar sekalian ketemu sama papa." Gezra mengangguk. Ia pun langsung mengajak Zevia menemui sang papa. Tak lama mereka menunggu, Ganiel keluar dari rumah. Menyambut kehadiran sang anak dan menantu. Membiarkan mereka masuk dan duduk sejenak di sofa. "Gimana? Udah ikut program hamil?" tanya Ganiel setelah bercakap basa-basi cukup panjang. "Udah, Pa. Ya, do'ain aja cepet berhasil." Ganiel tersenyum. "Iya lah, papa doakan yang terbaik. Kalian jangan terlalu stres. Biar nggak terhambat." Zevia mengangguk. "Iya, Pa. Gezra juga udah berusaha bikin Zevia nyaman tiap hari kok." "Baguslah. Bilang ke papa aja kalau Gezra nakal." Zevia terkekeh. Sedangkan Gezra hanya diam datar. "Siap, Papa." Setelah mendapatkan kunci apartemen milik sang mertua, Zevia pun langsung mengajak Gezra untuk ke apartemen. Beberapa menit berlalu, mereka gunakan untuk perjalanan ke apartemen. Tak cukup jauh. Hanya membutuhkan beberapa menit saja. Apalagi apartemen nya lebih dekat dengan kantor Gezra, jadi Gezra sangat tidak keberatan jika harus berlama-lama di apartemen itu. Sebuah apartemen megah yang menjulang tinggi membuat Zevia berdecak kagum. Beginilah rasanya menjadi menantu Sultan. Ya, wajar saja ia diperlakukan seperti seorang ratu karena telah menjadi permaisuri sang pangeran. "Ngapain bengong? Ayo, Zev. Katanya laper?" "Iya, iya, ih. Bawel banget sih suamiku ini." Zevia pun membawa satu koper miliknya sendiri. Mengikuti langkah Gezra dan mengantri di lift. Setelah mendapat giliran masuk lift, mereka langsung menekan tombol yang sesuai dengan nomor apartemen mereka. Sesampainya di sana, mereka hanya meletakkan koper dan barang-barang. Kemudian bergegas untuk kembali turun dan pergi ke restoran baru yang berada tak jauh dari apartemen. Saat mereka baru saja tiba di lobby kembali, Zevia menghentikkan langkahnya. Membuat Gezra ikut terhenti dan menatap sang istri heran. "Kenapa?" tanya Gezra. "Hapeku ketinggalan. Bentar ya, Sayang. Aku ambil dulu." "Nggak usah. Ngapain bawa hape kalau yang mau dikabarin ada di deket kamu?" "Ish, kali aja ada hal lain yang penting. Tunggu bentar." Gezra hanya mengangguk lesu. Lagi-lagi ia harus menunggu istri tercintanya itu untuk mengambil barang yang dirasa lebih berharga daripada suaminya. Beberapa menit berlalu, Gezra hanya berdiri di dekat lift. Menunggu sang istri untuk kembali. Bruk Gezra terdiam. Melihat sepatunya basah karena terkena tumpahan kopi. Untung saja sepatunya hitam dan kopi yang tumpah juga varian kopi hitam. Sontak Gezra langsung menatap yang penabrak yang beberapa saat hanya terdiam tanpa mengatakan apapun. "Bisakah Anda minta maaf atas semua ini?" tegur Gezra. "Sepatu saya kotor karena kopi Anda yang tumpah." Sosok berparas tampan itu hanya menatap Gezra dengan senyuman tipis yang tak simetris. Membuat siapapun yang melihatnya akan merasa jengkel. "Bukannya Anda yang salah karena berdiri di depan lift? Sangat menganggu untuk orang umum lewat." "Tapi Anda menabrak saya sampai sepatu saya ketumpahan kopi Anda." Gezra mulai menakan ucapannya. "Saya tidak mau meminta maaf pada orang yang menganggu kenyamanan umum." Gezra tersenyum miring. "Lobby ini sangat luas. Keberadaan satu orang di pinggir lift tidak termasuk menganggu. Justru Anda yang menganggu kenyamanan umum." "Terserah. Bicara dengan orang tak tahu malu hanya membuang waktu." TING Pintu lift pun terbuka dan membuat sosok itu bergegas masuk. Sebelum pintu lift kembali tertutup, mereka sempat beradu tatapan tajam seperti elang yang ingin bertarung di udara bebas. "Sialan." Di lain sisi, Zevia baru menemukan ponsel yang ternyata ia masukkan ke dalam koper. Setelah itu, ia pun bergegas kembali turun untuk menemui sang suami yang pasti sudah menunggu. "Loh? Zev?" sapa seseorang saat dirinya mengunci pintu. Zevia menoleh. "Loh? Lo ngapain di sini?" "Gue tinggal di sini. Kan gue udah bilang kalau gue tinggal di apartemen. Lo sendiri ngapain di sini?" "Rumah gue mau di renovasi. Jadi, mertua gue minjemin apartemennya buat gue sama suami gue ngungsi." Sosok itu hanya membulatkan mulutnya. "Enaklah. Mertua lo perhatian banget. Oh ya, di mana suami lo?" tanya Mileo—sosok yang tengah bercakap dengan Zevia. "Nungguin gue di mobil. Mau makan bareng. Ikutan nggak?" Mileo menggeleng. "Nggak. Gue udah kenyang ngopi nih. Abis ini mau ke rumah sakit lagi. Praktek sore." "Oh oke. Kapan-kapan mampir ke apartemen gue. Lo kan belum tau suami gue." Mendengar ajaka itu, Mileo terkekeh pelan. "Iya sih. Aneh juga kalau gue nggak kenal sama sepupu ipar gue sendiri." "Nah itu. Ya udah gue duluan ya. Kasihan suami gue nunggu lama." "Oke, Hati-hati di depan lift ada cowok rese yang suka ganggu kenyamanan umum." "Oke!" jawab Zevia sambil melangkah cepat hampir berlari. ▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪ Akibat dari omongan Ollin yang terlampau ceplas-ceplos, kini Valen yang sedang berjalan bersama dengan Dileon langsung menuai perhatian lebih. Tak sedikit dari mereka langsung mencibir dan membicarakan kedekatan mereka akhir-akhir ini. Apalagi tentang Valen yang sempat masuk TV di acara pernikahan Sherlyn dan Frendo. Di mana saat itu Valen berada di genggaman Dileon dengan erat. Tak sedikit dari mereka yang pro dengan hubungan keduanya—meski keduanya tak memiliki hubungan—namun banyak juga yang kontra dengan hubungan Valen dan Diloen. Sebab, sebagai seorang kepala editor, Dileo cukup diminati banyak karyawati. Dengan peseonanya yang mencolok, Dileon memang tipe idaman para wanita. Tetapi tidak bagi Valen. "Bos, pada lihatin kita tuh. Nggak malu deket-deket sama gue?" bisik Valen sembari melirik para karyawan yang masih menatap mereka berjalan di Koridor. "Santai aja. Biarin mereka gosip. Toh kita nggak ada apa-apa, kan. Nggak perlu mikirin hal yang nggak bener tentang kita." Kali ini Valen setuju dengan Dileon. Ia pun terdiam dan tetap mengekori sang bos hingga ke parkiran "Kita ke restoran baru itu aja gimana? Kayaknya lebih seru." Valen hanya terdiam. Ia tak tahu restoran mana yang dimaksud oleh sang bos. "Udah ayo ikut aja. Nggak usah kebanyakan mikir. Lagipula juga gue yang traktir." Tanpa pikir panjang, Valen pun masuk. Sebenarnya ia masih kesal dengan Dileon. Karena sosok itu telah menipunya soal naik gaji. Hingga ia pun memilih diam dan tak banyak bicara. Saat di dalam mobil, Dileon merasa bahwa Valen memang lebih diam dari biasanya. Hingga ia pun terdorong untuk menanyakan aoanyang sedang terjadi. "Lo kenapa?" tanya Dileon sembari menginjak gas hingga mobilnya melaju meninggalkan kantor. "Pikir sendiri." Mendengar jawaban itu, Dileon terheran. "Salah gue apa lagi nih?" Dengn tajam Valen menatap Dileon. "Lo bohongin gue soal naik gaji kan?" "Nggak sih. Kan emang bulan depan lo naik gaji." "Iya makanya itu. Semua karyawan emang naik gaji. Termasuk gue. Itu berarti naik gaji yang gue pengen kan—" "Oh, gue tau." Dileon menyela ucapan Valen. Membuat gadis itu mendengus kesal. "Gini, gini, lo pikir gue naikin gaji lo karena lo mau ikut gue kondahan gitu kan?" Valen terdiam. Hingga membuat Dileon terkekeh sekilas. "Maaf, maaf. Jadi gini, semua karyawan emang naik gaji sih. Tapi gaji lo naik dua kali lipat. Cuma ya karena lo bersikap kayak gini gue batalin aja deh." "Heh, nggak bisa gitu dong. Lo nggak jelasin ke gue sih. Kan gue jadi salah paham." Dileon tersenyum tipis tanpa menatap Valen sedikitpun. Ia hanya fokus ke depan dan menyetir. "Jadi, gue naik gaji dua kali lipat kan?" tanya Valen memastikan. "Awalnya sih gitu, tapi karena lo nyolot ya, gue kasih tambah tugas." "Alah! Apalagi?" gersah Valen. "Kita omongin nanti aja di restoran. Oke?" Valen terdiam. Ia melipat tangannya di dadaa dan membuang muka. Melihat pemandangan kota yang hampir menuai senja. ▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️ "Mama, lihat kemeja warna abu-abuku nggak?" Suara melengking itu sudah menjadi ciri khas Rora. Selama ia berpisah rumah dengan Zevia, hanya dirinya yang menjadi alarm berisik kedua orang tuanya. Grena yang berada di dapur untuk menyiapkan makan malam pun hanya menggeleng pelan. Memaklumi sikap anak bungsunya yang mendadak jadi super manja saat beranjak di bangku kuliah. "Ma?" Alhasil, Rora turun dari lantai atas dan melihat sang mama yang hanya diam membisu di dapur. "Ih, mama nih. Nggak respon pertanyaannya Rora. Mama tau nggak?" "Coba cari yang bener di lemari. Kali aja ada." "Nggak ada, Ma. Rora udah geledah lemarinya tapi nggak ada." Grena menghela napas pelan. Ia pun meletakkan sayuran yang ada di tangannya lalu menuju ke kamar Rora yang berada di lantai atas. Rora mengekori sang mama yang ingin memastikan bahwa ucapannya benar. Wanita paruh baya itu langsung membuka lemarinya dan memilah-milah untuk beberapa saat. "Yang ini?" tanya Grena sambil menyodorkan kemeja abu-abu yang dimaksud oleh Rora. "Lah? Kok ketemu sih? Tadi nggak ada beneran, Ma." Grena hanya menatap Rora datar. "Makanya, nyari itu pakai mata jangan pakai mulut. Bisanya teriak-teriak mulu kayak kakakmu." Rora hanya terkekeh kikuk, ia pun mengambil kemeja di tangan sang mama dan mendorong mamanya keluar. "Makasih, Ma. Rora mau ganti baju dulu terus belajar bareng sama temen." Pintu kamar pun terkunci. Membuat Grena memijat keningnya. "Dasar anak." Grena memutuskan untuk kembali ke dapur. Menyiapkan makan malam untuknya dan suami. Karena Rora memang sudah berniat pergi untuk makan di luar setelah belajar bersama. Saat ia kembali ke dapur. Ia melihat Vicknan duduk di depan TV sambil tersenyum melihat ponsel. Hal itu jelas membuat Grena penasaran. Ia pun langsung berbutar arah dan mendekati sang suami. "Senyum-senyum sendiri. Lihatin apa, eum? Selingkuhan ya?" Vicknan terkekeh. "Ada-ada aja kamu ini. Aku lagi lihatin cucunya temenku. Baru juga dua tahun udah bisa jailin kakeknya." Melihat hal itu, Grena tersenyum sendu. "Seharusnya kita udah punya cucu ya. Tapi ... " "Nggak apa-apa. Nggak usah buru-buru. Toh Zevia sama Gezra kan sehat, mereka pasti bisa kasih kita cucu suatu saat nanti. Tinggal nunggu waktu yang tepat aja." "Kita juga harus kasih perhatian ke mereka. Besok aku bawain Zevia makanan yang bergizi deh. Biar dia bisa jaga kesehatan terus hamil." Vicknan mengangguk dan tersenyum. "Iya, iya, Istriku yang cantik." "Ma, Pa, aku berangkat dulu ya!" Rora dengan riang turun dari lantai atas. Membuat Vicknan dan Grena melihatnya heran. Merasakan mendapat tatapan yang aneh dari kedua orang tua, Rora pun berhenti dan bertanya, "Ada apa, Ma, Pa?" "Kamu nggak keluar sama cowok berduaan kan?" Tanpa basa basi, Grena menanyakan hal yang membuat Rora memutar malas bola matanya. "Astaga, Ma. Tadi kan aku udah bilang kalau mau belajar kelompok sama temen-temen. Temen, Ma. Temen," ucap Rora dengan menekan kata teman di sana. "Kali aja temen kamu cowok semua." Bukan Grena namanya kalau nggak julid sama anak sendiri. "Ish, Pa! Lihat tuh mama. Sukanya nethink mulu." Vicknan hanya terkekeh. "Awas aja kalau mama tau kamu jalan berdua sama cowok tapi alasannya belajar kelompok." "Ish, tau ah! Nggak percayaan banget sama anak sendiri." Rora pun melangkah pergi meninggalkan kedua orang tuanya yang duduk di sofa. "Rora, jangan pulang kemaleman!" "Iya, iya, Ma!" ▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN