▪️12▪️

2235 Kata
Chap 12 ▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️ Cinta memang selalu membingungkan. Terkadang menyakitkan. Namun juga penuh dengan kejutan menyenangkan. Tak ada yang mampu mendeteksi apa yang akan terjadi. Seperti kedua insan yang sedang asyik merapikan baju-baju dan semua perlengkapan yang dibutuhkan ke dalam koper. Zevia dan Gezra. Ya, mereka akan segera pindah ke apartemen sesuai dengan permintaan sangat papa. Rumah mereka akan direnovasi untuk menyambut sang buah hati dan cucu pertama. Zevia dan Gezra memang sempat terlibat dalam cinta uang rumit. Memiliki kekasih hati di saat mereka harus menikah dengan orang pilihan kedua orang tua. Perjodohan. Mungkin beberapa orang menganggap bahwa perjodohan adalah hal yang bersifat memaksa. Awalnya Zevia menganggap benar hal itu. Namun, sebenarnya ada hikmah di balik hal yang ia anggap paksaan itu. Sekarang ia mendapat sesosok suami yang sangat mengerti keadaannya. Tentu saja, seorang suami yang ikhlas mencintainya. Gezra pun selalu menjalani susah senang berdua. Intinya, Zevia nggak mau kehilangan Gezra—lagi. Selain Zevia yang asyik mengenang masa-masa pertama kali mereka pindah ke rumah ini, mulai dari tidur terpisah hingga hal-hal tak terduga lainnya, Gezra sibuk menggeledah isi lemari untuk membawa semua bajunya yang sangat terbatas. Tapi, tiba-tiba ia menghentikan aktifitasnya sejenak. Setangkai mawar putih yang telah layu masih ada di laci almari. Membuatnya tersenyum tipis. Teringat dengan hari itu. Hari di mana ia memberikan setangkai mwar putih untuk Zevia. "Masih disimpen aja nih." Zevia menoleh. Menatap sosok yang menunjukkan setangkai mawar putih yang telah mengering. "Iya dong. Itu adalah tanda bahwa suami tercinta ku orang yang nggak modal. Ngasih istrinya setangkai mawar putih. Mana itu awalnya mau dikasih ke orang lain pula. Tp berujung dikasih ke aku," ucap Zevia sembari menjejalkan sindiran di kalimatnya. Gezra hanya terkekeh. Ia langsung memasukkan setangkai mawar putih itu ke dalam koper. "Oh, ya. Kita mau makan siang di luar atau aku masakin aja?" tawar Gezra. "Emh, kita makan siang di luar aja gimana? Ada resto baru namanya Lezatos Restaurant. Deket dari apartemen yang mau kita tinggalin. Nyoba di situ, yuk!" Melihat wajah semangat sang istri, Gezra tersenyum hangat. "Oke, nanti kita ke apartemen dulu naruh barang. Terus kita makan di resto baru itu." "Yuhuu!" ▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪ "Val, tadi lo diapain sama si Bos? Keluar dari ruangan langsung cengar-cengir." Sifat kepo Ollin sepertinya memang sudah mendarahdaging. Tiada hari tanpa rasa kepo yang meluap. Terkadang kekepoan itu membuat Valen tak nyaman. Namun, bagi Valen, Ollin juga rekan kerja yang pengertian. Ia selalu bisa melihat saat dirinya badmood atau tidak. Jadi, kekepoan Ollin tidak lebih dari sekadar ingin tahu atau mengusik kehidupan pribadinya. Sambil menyeruput jus mangganya, Valen tersenyum penuh arti. Sepertinya benar tebakan Ollin. Pasti ada sesuatu antara Bos dan rekan kerjanya itu. "Jangan-jangan ... " "Jangan-jangan apa? Nggak usah mikir aneh-aneh lo." Ollin tersenyum jahil. "Hayo! Lo pacaran sama si Bos ya?" Suara Ollin yang melengking itu membuat beberapa pasang mata langsung terarah kepada mereka. Membuat Valen menepuk jidatnya pelan. "Kecilin suara lo, O'on! Bikin gue malu aja." "Ups!" Ollin menutup bibirnya. Ia melirik ke kanan dan ke kiri. Beberapa pasang mata itu masih menatap ke arah mereka. Ia tersenyum kikuk, pasti akan ada kehebohan besar setelah ini. "Sorry. Abisnya gue seneng aja lo jadian sama si Bos." "Siapa yang bilang kalau gue jadian sama si Bos?" Valen melirik malas ke arah Ollin. Perlahan, tatapan yang mengarah ke mereka melontarkan gosip-gosip tak jelas. "Tuh, liat. Mereka jadi salah paham, kan. Lo sih, udah heboh sebelum tau kenyataannya." Ollin tersenyum kikuk. "Sorry ... kan gue udah minta maaf. Ya elo sih. Bikin ekspresi yang sulit diartikan. Ambigu tau nggak!" "Dih, gue seneng karena bulan depan gaji gue naik. Wekkk!" ucap Valen menjulurkan lidahnya. Namun, Ollin hanya mengangkat satu alisnya heran. "Bentar, lo dijanjiin Bos naik gaji bukan depan?" Valen mengangguki kalimat pengulangan Ollin. "Bah!" Ollin tertawa hambar. "Kita semua, sekantor perusahaan nih, pada naik gaji semua bukan depan, Val. Bukan cuma elo." Mendengar hal itu, Valen hampir tersedak. "Maksud lo?" "Lo nggak tau pengumumannya? Di grup kan udah di share sama si Bos." Valen menggeleng pelan. Ia tak pernah membuka grup chat. Jangankan grup chat, membuka aplikasi chatting saja sangat jarang bahkan sehari hanya sekali. Ia lebih tertarik membuka sosial media dan berinteraksi dengan teman-temannya dari sana. "Sialan." Pantas saja dengan mudah si Dileon menaikkan gajinya. Padahal Dileon sangat terkenal irit untuk menaikkan gaji karyawannya. "Gue kena tipu. Awas aja si Dileon!" Mendengar gumaman Valen, Ollin tertawa geli. "Nggak usah dendam gitu lah. Kalian cocok loh. Mending jadian aja. Si Bos kalau sama cewek yang dia suka itu nggak pelit kok." "Nggak sudi. Dileon itu makhluk paling ngeselin seantero nusantara!" "Heleh, bilangnya mah sekarang gitu. Coba lihat nanti. Pasti jadian." Valen menggeleng kuat. Ia sangat yakin bahwa hatinya takkan berpaling. Meski ia sangat membenci Ansel, ia juga masih sangat mencintai Ansel. "Gue yakin, nggak akan mungkin gue suka sama Dileon. Ataupun sebaliknya." "Trust me. Dileon sebentar lagi pasti nembak lo. Atau ngajakin lo tunangan." Tatapan tajam Valen menyambar sadis ke arah Ollin. "Oke, kita taruhan! Yang kalah, beliin tiket liburan ke Jepang." "Dih, ogah! Gaji buat makan aja kurang. Apalagi beliin tiket ke Jepang. Bangkrut gue ntar!" Valen tertawa. "Ya udah, nggak usah sok nebak-nebak." "Gue nggak nebak. Gue lihat sendiri betapa dalamnya si Bos menatapmu." Dengan gaya lebaynya, Ollin mengatakan hal yang membuat Valen geli hingga menjitak pelan jidat sang rekan. "Awh! Sakit!" "Udah, udah. Abisin tuh baksonya. Abis itu kita lanjut kerja." ▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️ Jemarinya tampak lincah mengetikkan kata demi kata yang menyusun hingga menjadi sebuah kalimat. Sudah yang ia duga sebelumnya, jika dirinya pasti akan menangis saat mengetik bagian yang sekarang ia dalami. Ia tengah membayangkan betapa hancurnya sebuah keluarga. Kepercayaan dan kasih sayang yang seharusnya diberikan kepada seorang anak telah ditelan oleh kehampaan. Emma ... sang penulis, adalah korban dari hal itu. Sudah bertahun-tahun lamanya, Emma merasakan hidup yang menderita. Berasal dari broken home, disia-siakan, dan setelah dirinya berjaya, kedua orang tua kembali memperebutkannya. Terlalu menyakitkan. "Aduh," keluh Emma. Jemarinya yang sedari tadi aktif bermain di atas keyboard akhirnya terhenti. Ia menelungkupkan wajahnya ke meja. Berusaha untuk menghentikan isakan tangis yang mendera. "Ayo, Em. Jangan baper dong!" TING TONG Suara bek apartemennya berbunyi. Membuatnya langsung bergegas ke wastafel dan mencuci muka. Meski matanya masih tampak sembab, setidaknya air mata sudah terhalang oleh basah karena ia mencuci mukanya. Dengan langkah gontai, ia pun membukakan tamu yang datang. "Emma!" "Lo nggak kerja?" Melihat sosok yang datang, Emma hanya melempar pertanyaan datar. "Santai. Gue udah kelar semua. Tinggal anak buah gue yang kerja. Lo sendiri nggak ngetik?" Vranda—sosok yang baru saja datang dan sekarang langsung duduk di sofa itu menatap Emma yang sedang memijat keningnya. "Gue lanjut nanti aja. Nggak sanggup." "Lo sih, udah gue bilangin nggak usah nulis kisah nyata lo sendiri. Tetep aja ngeyel. Sekarang lo yang baper, kan." Vranda terkekeh melihat sahabatnya yang selalu menangis setiap menulis part novelnya. "Laku keras, Woi! Nih, lihat. Gue bisa makan enak dari hasil nulis kisah gue sendiri. Dulu sih makan seadanya, gegara masih ada tunggakan sana sini. Sekarang mah, lumayanlah. Gue bisa makan sehari lima kali." "Lo makan sehari lima kali? Pantesan pipi lo berubah jadi bakpau gitu." Sontak Emma langsung memegang kedua pipinya. "Nggak ah. Lebay lo." "Eh, Em, gue pengen ketemu sama Valen deh." "Tumben banget? Mau ngapain? Dia sibuk ngurusin naskah-naskah tuh." Vranda memperbaiki posisi duduknya dan menatap Emma penuh penasaran. "Ketahuan banget lo nggak pernah nonton TV." "Emang sih. Gue males mau nonton TV. Paling acaranga gosip." "Nah, kan. Lo nggak tahu, kan, kalau si Valen masuk TV?" Emma menatap heran ke arah Vranda. "Serius? Dia berulah apalagi sampai masuk investigasi?" "Kagak investigasi juga, Neng. Dia sempet ke-shoot kamera di acara pernikahannya Sherlyn sama Frendo. Tau nggak?" Kedua mata Emma membulat seketika. "Serius? Gila, dia ngapain bisa sampai di aana?" Vranda menaikkan kedua bahunya. Gadis itu pun tak tahu alasan Valen bisa sampai di acara pernikahan yang mewah itu. Makanya, Vranda sangat ingin bertemu dengan Valen dan kepo-in sang sahabat yang bernotabene sebagai editor naskah. "Malam ini, kita harus ngajakin si Valen ketemuan. Gue jadi penasaran. Kali aja dia kenal sama Frendo, terus novel gue bisa diangkat jadi film. Kan lumayan tuh. Bisa auto jadi Sultan gue ntar." "Astaga, Emma. Otak lo emang otak duit mulu ya sekarang. Tapi gue setuju. Gue juga pengen ajakin Frendo kerja sama bareng gue. Biar perusahaan gue makin jaya." Emma tertawa sarkas. "Halah sama aja!" ▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪ Membaca ratusan jurnal sudah menjadi hal biasa. Ia menggunakan semua itu untuk menjadikan mereka referensi. Tinggal selangkah lagi, semua tugasnya telah selesai. Ia akan meraih impiannya untuk menjadi seorang profesor di univeritas favoritnya. Denting jam berdetak memenuhi ruangan. Perpustakaan adalah sebuah ruangan yang sangat hening dan hampa. Hanya para manusia penikmat sepi lah yang betah di sana selama berjam-jam. Untuk para manusia yang sangat pecicilan, tidak direkomendasikan untuk masuk ke dalam perpustakaan. Ia memperbaiki posisi kacamata nya. Selama menjadi mahasiswa S2 tingkat akhir, kedua netranya mengalami rabun. Ia sering membaca hingga belasan buku dan jurnal dalam sehari. Matanya menjadi lelah dan akhirnya kacamata menjadi jalan pendukung untuknya merain impian. Ternyata menjadi gadis berkacamata itu sedikit meresahkan. Meski ia menggunakan kacamata hanya untuk membaca dan beberapa hal penting saja. Setelahnya, ia melepas kacamata harena merasa tak cocok dengan penampilannya. Ia menjadi teringat dengan gadis yang menjadikan kacamata sebagai ciri khasnya. Gadis yang sekarang telah merenggut kekasih hatinya. Ah, bukan merenggut. Ia yang menyerahkan secara gamblang. Meski pada akhirnya, ia sendiri yang menyesal. "Hai, Kak Ra." Sapa seseorang yang membuatnya harus mengalihkan pandangan. "Udah lama nungguin gue?" "Nggak kok, Div. Aku juga baru sampai terus baca dikit-dikit." Diva—mahasiswi S1 yang beberapa akhir ini akrab dengan Kyra karena memiliki hobby yang sama. Berdiam diri di perpustakaan adalah hobby mereka. "Gimana sama thesisnya, Kak? Udah mau selesai?" Kyra mengangguk dan tersenyum. "Iya, tinggal dikit lagi." "Keren. Semoga aku juga bisa langsung S2 setelah selesai S1 ini." "Nggak usah buru-buru." "Iya, Kakak Cantik." Kyra terkekeh sekilas kemudian membaca kembali buku yang memiliki tebal sekitar lima centi. Beberapa saat, keheningan bergelayut di sisi mereka. Kyra sibuk dengan membaca bukunya. Diva sibuk dengan tugas-tugasnya. Hingga dering ponsel Diva berbunyi dan membuat gadis itu langsung mengangkat telpon di tempat. "Apa sih? Lo berisik banget tau nggak sih, Kak. Mending sana lo urusin aja tuh pasien-pasien lo daripada gangguin hidup gue mulu." Seseorang di balik sana terdengar tertawa dan mengatakan hanya beberapa kata. Namun, Diva tampak sangat malas menanggapi itu. "Udah, ah. Males digangguin mulu sama lo." Alhasil, Diva langsung mematikan panggilan itu dan mendengus kesal. "Kenapa? Kakak kamu lagi?" tanya Kyra penasaran. Karena sudah beberapa kali Diva mengeluh atas sikap sang kakak yang overprotective. Begitulah yang Diva katakan. "Iya, nih. Dia pikir gue masih anak kecil gitu. Jadi apa-apa gue harus lapor ke dia. Kan malesin banget ya, Kak." Kyra terkekeh. Meski Diva sedang kesal, wajah cantik gadis itu masih sangat terpancar sempurna. Hidung runcing dan bibir tipis mungil, mengingatkannya akan seseorang. "Udah, udah. Kakak kamu kan pengen yang terbaik buat kamu." "Tapi nggak gini juga caranya." "Emh, by the way, tadi aku denger kamu sebut-sebut pasien. Emangnya kakak kamu kerja di rumah sakit ya?" Diva mengangguk sambil memasukkan ponsel ke dalam tasnya lagi. "Iya, Kak." "Oh, gitu." Hanya sekadar penasaran dan Kyra tak ingin terlibat lebih jauh. Ia sudah sangat frustasi tiap berhadapan dengan para manusia di rumah sakit. Sangat mengingatkannya pada masa-masa sulitnya dulu. "Nah, ini, Kak. Yang pengen aku tanyain ke Kak Ra. Aku bingung banget mau jawab gimana." Setelah membaca soal yang menjadi alasan mereka bertemu, Kyra pun menjabarkan bagaimana jawaban yang seharusnya di beri oleh Diva. Diva memang pandai dalam hal memahami. Begitupun Kyra yang pandai dalam hal menjelaskan. Mereka memang terlihat cocok sebagai guru dan murid. Setelah itu, Diva pun menuliskan jawaban sesuai dengan pemahamannya. Beberapa saat berlalu, Diva dan Kyra terdiam membisu. Mereka sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Namun, Kyra tiba-tiba penasaran dengan nama kakak dari Diva. Seperti ada dorongan ingin tahu tentang kakak dari sosok yang sedang bersamanya. "Div, kakak kamu kerja di rumah sakit, kan? Jadi apa?" "Dokter, Kak. Kenapa emangnga?" "Keren juga ya. Namanya siapa?" Diva tersenyum jahil smebari melempar tatapan pada Kyra. "Hayoo, kepo ya?" Kyra sontak bersemu merah. "Enggak. Aku kan juga sering keluar masuk rumah sakit. Kali aja kenal gitu." "Oh, gitu. Kukira Kak Ra tertarik sama kakakku yang jomblo akut nggak laku-laku." Kyra terkekeh. "Nggak boleh gitu. Ntar kualat loh." "Ih, beneran, Kak. Dia tuh udah dikenalin sana sini. Sahabat sepupu gue yang cakep-cakep aja dia nggak tertarik. Gue jadi takut kalau dia pendukung tim bendera warna-warni." "Hush! Ngawur. Nggak boleh gitu, Diva." Sontak Kyra langsung mencubit pipi Diva dengan gemas. "Ish, suka banget sih nyubit pipi gue." Aksi protes Diva justru membuat Kyra terkekeh pelan. "Ya udah, sana kerjain lagi. Biar nggak diomelin kakakmu lagi." "Iya, iya, Calon Kakak Ipar." "Diva!" ▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN