Chap 11
▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Setelah mendapat panggilan dari sang bos, Valen pun berjalan gontai menuju ke Berharap takkan ada lagi hal-hal aneh yang dilakukan oleh si Bos menyebalkan itu.
Sebelum membuka pintu ruangan, Valen menarik napas dalam. "Semoga dia nggak neko-neko lagi."
Akan tetapi, setelah masuk ke ruangan. Dileon hanya menyuruhnya duduk diam di sofa. Dalam beberapa saat, Valen dan Dileon hanya diam membisu. Mereka membiarkan detik jam dinding memenuhi ruangan dengan ramainya. Untuk sesaat, Valen eringat dengan hal memalukan semalam. Saat Dileon mengatakan bahwa mereka ada sepasang calon tunangan. Hal itu sempat membuat huru-hara antara Valen dan Ansel. Seharusnga Valen cukup tenang. Seharusnya. Akan tetapi, entah mengapa Valen menjadi gelisah karena Ansel mendengar semua sandiwara bahkan memang Dileon sengaja bersandiwara di depan Ansel. Entah apa maksud dan tujuan Dileon selain membuat mantannya merasa panas. Mungkin karena Dileon juga berniat membantu Valen. Meski caranya begitu mendadak tanpa rencana.
Tadi malam, Valen sempat merasa kesal dengan Dileon. Karena melakukan hal tanpa rencana. Ia belum siap melihat Ansel patah hati karena melihatnya bersama lelaki lain. Namun, ia juga belum siap jika Ansel kembali padanya. Ia masih teringat betapa teganya Ansel melepas ikatan mereka dengan begitu mudah.
Valen paham, saat itu Ansel masih dilema antara dirinya atau Zevia. Namun, cara Ansel mengatakan untuk memutus hubungan mereka begitu kejam setiap Valen mengingatnya.
Tapi, alih-alih memikirkan Ansel justru ia melirik Dileon yang menatap ke arah lain dengan tatapan kosong. Mungkin sosok itu sedang memikirkan hal yang tak dapat diduga oleh siapapun.
Merasa bosan dengan suasana, Valen pun berdeham dengan sedikit keras. Membuat Dileon yang melamun di kursi kebesarannya tersadar dan melirik ke arah Valen. "Bos, mau ngomongin apa? Saya masih banyak kerjaan, nih."
"Emh, ntar aja deh. Pulang kerja langsung gue ajak ngopi."
"Nggak, nggak. Nggak ada acara pergi berdua lagi." Valen menolaknya mentah-mentah. Sejujurnya, ia masih merasa sangat canggung.
"Kenapa? Atau mau gue ajak si Ollin?"
Valen menatap Dileon penuh tanya. "Mau ngomongin apa emang?"
"Tentang semalam."
"Ya udah kita berdua aja."
Dileon tersenyum tipis. "Oke sip. Ya udah, sana balik kerja. Inget, ya. Bulan depan lo naik gaji."
Mendengar kata 'naik gaji', raut wajah jutek si Valen berubah menjadi senyuman termanis sepanjang masa. Dileon terkekeh melihatnya. "Mantab! Makasih, Bos!"
▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️
"Kenapa nggak bilang kalau balik dari Ausie? Lupa ya sama gue? Ngeselin banget."
Sosok berjas putih bername tag 'dr. Mileo Hans' itu hanya terkekeh. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jas sebelum menjawab alasannya akan pertanyaan sosok berkacamata di depannya.
"Maaf, maaf, saya—"
"Dih, gaya amat pakai saya-saya-an. Biasanya juga gue-elo."
Mileo kembali terkekeh. "Biar sopan dikit lah sama sepupu. Ya udah ralat. Sorry, gue emang sengaja sih nggak bilang-bilang ke lo atau Tante Grena dan Om Vick kalau gue balik. Soalnya gue langsung kerja di rumah sakit ini. Nggak sempet main ke rumah saudara."
"Alasan. Bye the way, lo nggak buru-buru praktek, kan? Malah gue ajakin ngobrol. Di depan toilet pula."
"Nggak sih. Cuma bentar lagi mau praktek. Takut pasien pada nungguin. Lo sendiri mau ngapain ke rumah sakit?" tanya Mileo sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Gue mau check up ke dokter kandungan sama mau konsultasi tentang program hamil."
"Oh, iya! Gue dengger dari Diva, lo udah nikah, ya? Mana suami lo?"
Mileo memang tak sempat menghadiri pernikahan sepupunya itu. Sebab, ia masih berada di Ausie untuk mengontrol keadaan pasiennya. Jadi, hanya adiknya yang berada di tanah kelahiran mereka saja yang memenuhi undangan resepsi pernikahan sang sepupu.
"Dia udah daftar di poli kandungan."
"Oh, ya udah. Kapan-kapan kita meet up deh. Gue penasaran kayak apa cowok yang udah berhasil rebut hati sepupu gue yang jutek ini." Mileo menoel dagu sang sepupu dan menuai protes sekilas.
"Ya udah, gue juga mau nemuin suami gue dulu. Keburu dia bosen terus gue ditinggal balik. Bye!"
Mileo hanya tersenyum melihat sosok berkacamata itu berjalan menjauh darinya. Ia pun bergegas ke ruangan. Karena sebentar lagu, seseorang yang ia tunggu akan datang.
Saat perjalanan ke ruangan, ia melihat sosok yang ia nanti ternyata sedang berbicara dengan seseorang. Seorang lelaki berjaket denim. Ia tak mengenal siapa sosok itu. Hanya saja, senyuman di bibir sang gadis membuat hatinya terluka.
Beberapa saat, ia mengamati kedua sosok yang sedang berbicara di depan pendaftaran poli. Ia tak mendengar apa yang dibicarakan. Hingga akhirnya, sang lelaki pergi dan bersamaan dengan itu, senyuman di bibir sang gadis meluntur seketika.
"Siapa lelaki itu?"
▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️
"Gezra ke mana sih? Katanya cuma daftar. Aku dari toilet udah lama banget, dia masih belum ada di ruang tunggu poli."
Saat asyik bergumam, tiba-tiba seseorang menutup kedua matanya dari belakang. Membuat Zevia tersenyum dengan rasa sedikit kesal.
"Tebak aku siapa?" Suara itu jelas milik Gezra.
"Emh, siapa ya? Mamang tukang bakso pangkalan sebelah bukan sih?"
"Hmm." Sontak Gezra pun menyudahi acara tebak-tebakan itu dan duduk di sebelah sang istri. Wajahnya tertekuk seolah kesal dengan jawaban Zevia.
"Eleh, sok-sokan ngambek. Paling bentar lagi juga senyum-senyum. Iya, kan? Iya, kan?" goda Zevia dengan menoel-noel pipi sang suami. Membuat Gezra bersusah payah menahan senyuman.
Hingga akhirnya, sikap Zevia yang menggemaskan itu membuat Gezra merangkul pundak sang istri dan mendekapnya dengan erat.
"Sayang, deh, sama Mak Lampir."
Mendengar ucapan itu, Zevia langsung mencubit perut Gezra seperti biasa. Gezra merintih pelan bukan karena sakit, melainkan geli.
"Kebiasaan. Hobby banget cubit-cubit perut suami."
"Suruh siapa kamu tadi lama banget. Aku di toilet udah lama loh. Aku sampai ruang tunggu, kamu juga masih belum ada. Ketemu siapa, eum?"
Gezra terdiam. Ia jadi teringat dengan apa yang diucapkan oleh Kyra. Tentang Zevia bertemu dengan seorang lelaki.
"Kamu tadi ketemu siapa di depan toilet?" tanya Gezra tiba-tiba. Yang tak pikir panjang akan menuai pertanyaan juga dari sang istri.
"Kok kamu tau, aku ketemu sama seseorang di toilet tadi?" Benar. Zevia memutarbalikkan pertanyaan. Membuat Gezra terdiam kembali. "Tadi kamu ketemu siapa?" Zevia menatap penuh selidik. Seolah ia curiga jika Gezra menutupi sesuatu. Gezra tak mungkin melihat sendiri saat ia bersama dengan seorang lelaki di depan toilet. Pasti ada yang melihat dan mengadu padanya. Namun, sepertinya Gezra menutupi siapa orang itu.
"Kamu duluan yang jawab. Ketemu siapa tadi di depan toilet?" Gezra tak mau kalah. Ia mendesak Zevia agar sang istri menjawab terlebih dulu. Lalu, dia akan mengalihkan pembicaraan.
Zevia menghela napas pelan. "Oke, aku jawab duluan. Tapi awas kalau kamu mengalihkan pembicaraan setelah aku kasih tau siapa yang tadi sama aku. Itu tadi—"
"Nyonya Zevia Claretta, silakan masuk."
Baru saja Zevia mau mengatakan tentang siapa sosok yang ia temui, namanya sudah terpanggil masuk ke ruangan poli oleh asisten dokter.
"Kita lanjut nanti. Sekarang masuk dulu."
▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Membaca komentar demi komentar di akun ceritanya, Emma tersenyum dengan hangat. Respon para pembaca terhadap karyanya sangat bagus. Karena sebuah cerita yang ia angkat dari kisah nyata tentang kehidupan pribadinya, Emma menuai banyak komentar positif. Bahkan beberapa kaki ceritanya masuk ke rekomendasi.
Tujuan Emma menulis hanya fokus ke satu hal. Kesejahteraan bersama. Ia nyaman saat menulis, memberi amanah yang tersampaikan, hingga memberi manfaat kepada para pembaca. Emma memang fokus di genre romance. Namun, genre yang ia tulis itu tidak semena-mena hanya menulis tentang kisah cinta antara dua insan. Melainkan juga tentang cinta kasih orang tua kepada anaknya.
Namun, setiap kali Emma menulis tentang ceritanya kali ini, Emma selalu menangis dan berharap bahwa apa yang menjadi ending dadi cerita itu adalah sebuah hal manis.
Drrtt
Getar ponsel membuyarkan lamunannya. Ia pun segera mengambil ponsel itu dan berharap bahwa bukan papa atau mamanya yang merengek untuk bertemu dengannya.
Harapannya terkabul. Ia melihat ada nama Vrabda di layar ponsel. Dengan segera ia mengangkat panggilan itu.
"Halo, Vran?"
"Emma!" Suara nyaring gadis di seberang sana membuat Emma menjauhkan ponsel dari telinganya. "Tau nggak sih, gue ketemu sama cowo impian gue!"
Meski Emma masih menjauhkan ponsel itu dadi telinganya, namun Emma masih mendengar suara Vranda yang super nyaring. Ia pun memutuskan untuk me-loudspeaker panggilannya dan mendengarkan ocehan sang sahabat. Ocehan Vranda sama seperti obat penyembuh lukanya. Karena hal itu bisa mengalihkannya dari luka masalah keluarga ke dunia yang ceria.
"Gila banget. Dia itu ternyata owner restoran yang lagi naik daun. Terus, lo tau nggak sih, ternyata dia juga pemilik kafe yang jadi langganan kita nongkrong. Terus dia bilang, kalau kita ke sana lagi, kita dapet diskon! Kan lumayan banget! Mana dia itu pengertian, cakep, gagah, wibawanya itu loh mempesona. Bahhh, lo pasti klepek-klepek deh kalau lihat dia."
Emma tersenyum hangat mendengar cerita Vranda yang sangat antusias bertemu dengan seseorang yang baru. Ternyata, saat Vranda menolak ajakannya, Vranda bertemu dengan seseorang yang baru ia kenal. Ya, selama sosok itu baik, Emma merasa tenang.
"Namanya siapa? Lo cerita panjang lebar tapi nggak ngasih tau gue namanya siapa."
Vranda terkekeh. "Sorry gue lupa. Namanya itu Jimmy. Lo kenal?"
Emma mengernyit mendengar nama itu. "Jimmy? Kayaknya familiar. Kayak namanya owner Lezatos Restaurant."
"Iya emang dia yang gue maksud, Emma." Suara Vranda melengking dahsyat. Membuat Emma tertawa renyah.
"Iya, iya. Santai aja elah. Suara lo nyakitin telinga gue nih."
"Sorry," kekeh Vranda. "Lo sibuk nggak? Nongkrong, kuy. Di kafenya si Jimmy."
"Halah. Mau modus ya lo?" goda Emma.
"Kagak, Kambing. Gue pengen ngopi aja."
Emma terkekeh. "Ya udah, gue siap-siap dulu. Abis itu gue jemput jam sepuluh ya!"
Melihat jam di angka sembilan, sudah pasti cukup untuk Vranda berdandan. Emma pun mematikan panggilan mereka dan bersiap untuk nongkrong merehatkan pikiran.
▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Setelah melakukan check up rutin, Kyra langsung berniat untuk pulang. Sebab, ia tak mau berlama-lama bersama dengan Mileo. Sudah cukup mereka bersikap profesional sebagai pasien dan dokter. Kini Kyra tak mau lagi ada pembicaraan di luar kesehatannya.
"Ra, bisa bicara sebentar?" tanya Mileo yang masih duduk di kursi dokternya. Sedangkan Kyra sedang merapikan rambutnya setelah bangkit dari brankar pemeriksaan.
"Maaf, Dok. Saya ada keperluan di kampus yang mendesak. Jadi, saya nggak bisa meladeni dokter sekarang."
Mileo tersenyum tipis. Gadis itu menjawab tanpa sedikitpun meliriknya. "Jadi, ada waktu lain kita bisa bicara?"
Kyra baru menyadari bahwa apa yang ia ucapkan ada sedikit kekeliruan. Namun, hal itu hanya didiamkan oleh Kyra.
"Oke, diam berarti setuju. Nanti malam saya jemput di rumah kamu."
"Hah?!"
"Nggak ada yang bisa menolak permintaan saya."
Kyra menghela napas pelan. Ia pun turun dari brankar lalu menyambr tas yang ada di meja. "Terserah Anda." Setelah mengatakan itu, Kyra langsung pergi keluar dari ruangan Mileo. Ia menghentakkan kakinya kesal. Karena lagi-lagi harus berhadapan dengan lelaki yang sudah mengejarnya beberapa tahun terakhir.
"Eugh! Kenapa, sih, dia selalu ngejar aku?" gerutunya kesal. Akan tetapi gerutuannya itu terhenti saat melihat dua sosok yang baru saja keluar dari ruangan dokter kandungan. Mereka tersenyum cerah dengan kehangatan. Salah satu sosok merangkul sosok lainnya dengan mesra sambil sesekali mencubit-cubit hidungnya gemas. Tontonan itu membuat getaran menyakitkan. Langkahnya yang terhenti pun terasa berdiri di ambang kepahitan.
"Eh, Kyra?" Suara itu menyadarkan lamunannya. Ia melihat seorang wanita berkacamata berjalan mendekat. "Kamu check up juga?"
"Ze—Zevia? Ah, kita ketemu lagi. Iya, nih. Aku abis check up kesehatan kayak biasanya. Kamu?" tanya Kyra sembari melempar pandangan ke Zevia maupun Gezra. Tampak Gezra selalu membuang muka dan tak sudi melihat wajahnya.
"Iya, nih. Aku sama Gezra mau ikut program hamil. Do'ain ya, semoga aku sama Gezra lekas punya momongan. Biar kamu jadi tante." Zevia tersenyum dengan lebar. Memperlihatkan rentetan gigi rapi yang menggemaskan.
Kyra tersenyum—paksa. "Aku do'ain yang terbaik buat kalian. Kamu jaga kesehatan ya, Zev. Biar cepet berhasil promilnya."
"Makasih, Ra. Ah, kalau gitu, aku sama Gezra duluan ya. Bye!"
Kyra hanya mengangguk melihat Zevia menggandeng Gezra untuk pergi dari hadapannya.
Di lain sisi, Zevia juga merasakan ada yang berbeda dari sikap Gezra maupun Kyra. Namun, dengan perasaan yang selalu berpositif thinking, Zevia menepia pikiran buruk itu. Ia percaya, bahwa Kyra memang menepati janjinya untuk melupakan perasaan gadis itu pada sangat suami.
"Gez ..."
"Iya, Mak Lampir?"
"Hish!
Gezra terkekeh. " Ralat, deh. Iya, Sayang? Ada apa?"
"I love you."
Langkah Gezra tiba-tiba terhenti. Jantungnya mendadak berdegup kencang saat mendengar sang istri mengatakan satu kalimat yang sangat jarang terlontar secara kata.
Ia menarik Zevia hingga menatap kedua netranya. Di tengah ramainya petugas rumah sakit yang berlalu lalang, mereka berdiri saling berhadapan.
"Kamu minta apa?"
"Hah?" Zevia mwngernyitkan keningnya heran.
"Tiba-tiba sok romantis gini. Pasti minta sesuatu."
"Dih! Jutek salah, romantis salah. Dasar, cowok ribet!"
Saat Zevia hampir melangkah pegi karena kesal, Gezra menahan lengannya dan menariknya ke sebuah pelukan.
"Perasaanku ke kamu nggak bisa hanya diutarakan dengan kata-kata. Karena mereka berjumlah tak terkira."
Zevia tersenyum dalam dekapan seorang Gezra. Sosok itu memang sangat mirip dengan es krim. Dingin ... tapi sangaaaatt manis.
▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang melihat. Adegan romantis yang tak kenal tempat. Membuat beberapa pasang mata tampak iri dan tersenyum malu. Akan tetapi, ada satu hati yang terluka. Namun, berusaha untuk terus menutupinya. Berusaha untuk melupakannya. Meski selalu gagal dan gagal.
Sosok itu tersenyum getir. Menyadari bahwa keberadaannya hanya akan dianggap sebagai pengganggu hubungan orang. Namun, Lagi-lagi ia merasa tak sanggup jika harus pergi. Beranjak dari tempatnya sekarang berdiri. Ia ingin terus melihatnya meski hatinya terus berontak ingin pergi.
"Hati ... maaf karena terus menyakitimu dengan melihat kebersamaan mereka."
▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️