Chap 10
▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Saat Kyra yang merana karena Mileo, Zevia merana karena yak kunjung menuai dua garis merah, ada seseorang yang merana karena kehadiran orang tua. Emma mengeluh. Ia melihat seorang lelaki paruh baya tengah asyik bermain laptop di ruang tamunya. Sosok itu memang hanya diam membisu, namun hal itu tetap membuatnya tak mampu konsentrasi dengan apa yang harus ia kerjakan.
"Em, nanti makan malam sama papa ya."
Emma terdiam. Sebenarnya sang ibu sudah terlebih dulu mengajaknya makan malam bersama. Namun, mendapat penolakan dari Emma. Sekarang, papanya yang gantian meminta nya untuk menemani makan malam, Emma harus bersikap adil.
"Maaf, Pa. Emma nggak bisa. Emma harus ngerjain novel malam ini. Soalnya besok deadline." Emma berbohong. Ya, bukan karena besok deadline, tapi karena memang ia harus bersikap adil.
Jemari yang awalnya sibuk menari di atas keyboard tiba-tiba terhenti. Kedua netra itu menatap Emma dengan penuh rasa curiga.
"Apa mamamu sudah terlebih dulu mengajakmu makan malam? Atau pekerjaanmu memang lebih penting dari orang tua yang sudah membesarkanmu?"
Kembali terdengar helaan napas panjang. Ia memijat keningnya dan membalas tatapan sang papa. "Emma harus bersikap adil. Tadi mama ngajakin Emma makan, tapi Emma nggak mau. Sekarang papa ngajakin, Emma juga harus nolak. Kalau kalian mau makan bareng Emma, mending kita makan bertiga. Itu lebih—"
"Nggak akan." Sang papa menolaknya dengan keras. "Nggak akan papa lakukan hal itu. Kamu tau sendiri, kan, sikap mama kamu kalau ketemu sama papa?" Lelaki paruh baya itu kembali mengalihkan pandangannya ke layar laptop yang memperlihatkan slide presentasi.
Itulah yang tak ia sukai. Kedua orang tuanya ingin diberi perhatian dan dekat dengannya. Namun, mereka tak mampu menyadari bahwa Emma juga punya dunia sendiri. Ruang pribadi yang harus dihargai. Kedua orang tua Emma hanya memikirkan keinginan mereka sendiri. Selfish. Emma memiliki alasan mengapa Emma sangat ingin menyendiri dan jauh dari orang tua.
"Pa, maaf. Kayaknya lebih baik papa pulang aja. Emma mau sendiri."
"Loh? Kamu usir papa?"
Emma terdiam. Tak menatap ke arah sang papa sedikitpun.
Terdengar helaan napas kecewa dari sang papa. Namun, mal yang sunyi itu harus ia gunakan untuk merenungkan apa yang harus ia lakukan.
"Maaf, Pa."
"Baiklah. Papa pulang dulu. Tapi, lain kali papa ingin kamu penuhi makan malam sama papa."
Tanpa menunggu jawaban dadi Emma, sang papa sudah keluar dari apartemen Emma setelah merapikan semua barang-barangnya. Meninggalkan Emma sendirian di sana.
Emma langsung merebahkan diri di sofa. Menatap langit-langit ruangan dengan penuh harap bahwa semua ini akan segera berakhir. Hanya satu yang ia inginkan sejak dulu. Kedamaian. Orang tuanya damai. Begitupun dengan hidupnya.
"Semoga besok berakhir. Gue udah nggak tahan lagi harus berada di antara mereka yang super ribet."
▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️
"Tertarik? Emangnya apa yang menarik dari aku? Aku aja nggak cantik atau mencolok."
Vranda terkekeh dengan ucapan Jimmy. Sosok itu sepertinya memang pandai merayu.
"Ya, karena kamu lebih menarik aja dari keempat sahabatmu. Punya aura tersendiri."
Lagi-lagi Vranda dibuat tertawa geli.
"Udah, udah, mending sekarang kita makan. Aku yang traktir."
"Traktir?" Jimmy menaikkan satu alisnya. "Ini, kan, kafe saya. Jadi, kamu nggak perlu traktir saya. Lagipula, saya ajakin kamu makan, karena saya memang pengen ketemu sama kamu. Bukan untuk minta balas budi dari kamu."
"Tapi—"
"Simpen aja hutang budi itu, kali aja saya membutuhkannya nanti-nanti." Jimmy tersenyum lembut. Dia sangat tampak berwibawa. Membuat Vranda tak kuasa menahan senyum malu.
"Oke, deh. Kali ini aku turutin maunya kamu."
Alhasil, Jimmy berhasil menjadi lelaki pertama yang membuat Vranda berdegub dalam artian tertarik. Selama ini, Vranda hanya menganggap pada lelaki itu hanya memanfaatkan posisinya yang tergolong tinggi di sebuah perusahaan. Selain itu, juga karena Vranda adalah anak tunggal yang mewarisi perusahaan tersebut.
Pertemuannya dengan Jimmy yang merupakan seorang pengusaha dan mengelola keuangannya sendiri, membuat Vranda tak was-was karena ia yakin jika Jimmy bukan tipe lelaki yang hanya melihatnya dari sisi sosial dan ekonomi. Melainkan juga karena Jimmy sudah mengenalnya sejak lama.
"Aku suka banget sama menu mie di sini. Mungkin karena aku emang pecinta mie. Jadi, semua masakan mie aku suka."
Jimmy tersenyum. Ia menyelesaikan kunyahannya lalu menimpali ucapan Vranda. "Mungkin bukan karena kamu pecinta mie. Tapi karena memang semua masakan mie di sini menggunakan resep dari ibu saya. Jadi, rasanya jelas enak."
"Bener. Masakan ibu itu yang terhebat."
Vranda dengan lahap menghabiskan sisa mie yang ada di piring. Membuat Jimmy tersenyum melihatnya.
"Kamu laper atau emang doyan?" celetuk Jimmy gemas.
Vranda terkekeh. Ia baru menyadari kalau dirinya makan bersama orang yang baru ia kenal. Biasanya makan bareng sama Emma, sih, asal comot. Sekarang Vranda jadi kebiasaan, deh.
"Laper plus doyan sih. Maaf, ya. Aku malu-maluin."
Jimmy terkekeh. "Santai aja. Saya justru suka kalau cewek makan ya apa adanya. Nggak perlu malu-malu."
Ah! Perfect. Vranda dijamin akan jatuh cinta setelah ini.
▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Malam yang makin larut membuat Zevia dan Gezra siap untuk meluncur ke alam mimpi. Karena besok pagi mereka harus ke rumah sakit dan check up keadaan Zevia sekaligus mengikuti program hamil.
Akan tetapi, bukan Zevia namanya kalau nggak begadang dulu mengerjakan novel yang sempat terbengkalai. Sudah beberapa kali Gezra terbangun dan mengingatkan sang istri untuk segera tidur. Namun, Zevia selalu mengatakan "ya" tanpa ada tindakan.
"Zev?" Untuk kesekian kali, Gezra pun terbangun dari tidur. Ia melihat jam sudah menunjukkan pukul sebelas lebih empat puluh lima menit. Hampir jam dua belas malam tepat, Gezra yang geram karena Zevia selalu mengabaikannya pun bergerak sendiri. "Ayo, kita tidur."
Tanpa aba-aba, Gezra langsung menggendong Zevia ala bridal style dan meninggalkan laptop yang masih menyala. Gezra sontak menutup laptop itu hingga laptop berada di posisi sleep.
Gezra tak mendengarkan ocehan Zevia yang terus merengek. "Sebentar lagi. Sebentar lagi selesai, Gez."
"Nggak ada sebentar-sebentar lagi. Kamu dari tadi udah bilang gitu tapi nggak tidur-tidur."
Gezra pun menurunkan Zevia ke ranjang dengan posisi telentang dan langsung menyelimutinya.
"Tidur. Karena besok kamu harus fit. Besok kita jadwal check up, kan? Terus mau konsultasi program hamil. Kamu nggak boleh kecapekan, Sayang." Entah sejak kapan Gezra menjadi sosok yang bawel dan selalu menceramahi istrinya. Mungkin sejak Zevia keguguran. Setelah itu, Gezra menjadi sosok yang protect atau justru menjadi overprotect. Namun, hal itu membuat Zevia gemas sendiri.
Tak ada bantahan lagi dari Zevia hingga Gezra kembali merebahkan dirinya di ranjang. Zevia pun memiringkan tubuhnya dan menatap sang suami yang memposisikan tubuhnya untuk terjun ke alam mimpi.
"Beb, kayaknya kamu jadi banyak ngomel ya sekarang?"
"Gimana nggak ngomel? Kamu dikasih tahu aja ngeyel."
Zevia terkekeh. Kemudian mengulurkan tangan dan mencubit hidung mancung Gezra. "Pasti kalau anak kita cowok, bakal cakep kayak aku."
Mendengar ucapan sang istri, Gezra menoleh heran. "Cakep kayak aku dong. Kok kayak kamu? Kalau cewek, baru cantik kayak kamu."
Zevia menggeleng. "Pokoknya harus mirip aku semua. Ntar kalau mirip kayak kamu, ntar jadi kutu kupret nyebelin." Sontak Zevia langsung menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Tuh, kan. Mulai ngajakin ribut." Gezra pun langsung memeluk tubuh sangat istri yang tenggelam dalam selimut. "Biar aku kasih hukuman."
"Eungh, hukuman?" Tanya Zevia dari dalam selimut.
"Pelukan sampai pagi."
"Jangannnn, aku pengap, Gez!"
"Biarin."
"Eh, eh, lepas dulu coba."
Gezra menggeleng. "Nggak. Ntar kamu kabur dari genggaman."
"Ceilah, puitis amat sih, Bang." Zevia mencubit dari balik selimut namun tak sampai ke perut Gezra. "Udah, lepasin dulu. Aku mau ngomong serius, nih."
Gezra pun melepas pelukannya dan membuat Zevia muncul dadi balik selimut dengan rambut terobrak-abrik. "Astaga, Mak Lampir ku makin jelek dah kalau gini," ucap Gezra sembari merapikan rambut-rambut yang bersimpang siur di muka Zevia.
"Ish, masih aja ngatain Mak Lampir."
"Lah, kamu juga ngatain Kutu Kupret."
Zevia terkekeh. "Kan emang masih ngeselin kayak kutu kupret."
Gezra mencubit bibir sangat istri agar terdiam. "Mau ngomong apa? Buruan. Ini udah malem."
Cubitan itu disingkirkan oleh Zevia. Lalu menjulurkan lidahnya pada sang suami. "Gini lho, aku tuh penasaran sama satu hal."
"Apa?"
"Waktu kita ketemu sama Kyra di rumah sakit, kayaknya Kyra itu agak gimana gitu kalau lihat kamu."
"Terus?"
"Kamu jutekin dia ya?"
Gezra terdiam. Mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Sebenarnya, ia memang malas bertemu dengan Kyra karena sikap Kyra yang menggelikan. Tapi ia tak sadar jika Kyra memperlihatkan ketidaksukaannya pada sikap yang selama ini ia tunjukkan.
"Gez? Kyra nggak macem-macem sampai kamu jutekin dia, kan? Atau ... kamu cemburu dia deket sama orang lain?"
Pertanyaan itu membuat Gezra memiringkan tubuhnya ke arah Zevia. Lalu menggenggam tangan halus itu dengan erat. "Apapun yang Kyra lakuin, nggak usah dipikirin. Oke?"
"Jadi, bener? Apa yang aku tanyain?"
"Aku sama Kyra udah nggak ada apa-apa. Kamu nggak usah mikir yang aneh-aneh."
"Aku nggak mikir yang aneh-aneh. Kan aku cuma—"
Cup~
Zevia terdiam seketika. Saat kecupan sekilas itu didaratkan ke bibirnya.
"Udah ya, Sayang. Kita tidur, yuk. Udah tengah malem keburu aku khilaf."
"Oke, Oke. Kita tidur."
Meski Gezra berusaha mengakhiri pikiran-pikiran yang merasuk ke dalam benak Zevia, Zevia masih tetap memikirkannya hingga jatuh terlelap. Ia hanya ingin tau satu hal. Bahwa Kyra benar-benar sudah tak menganggu suaminya itu.
▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪
Mentari telah menampakkan diri dari ufuk timur. Menghangatkan bumi yang telah lelah diselimuti oleh abu-abu kebohongan. Cuitan burung menjadi alarm otomatis yang seolah mengajak para manusia bergegas memperbaiki diri di hari yang telah disediakan.
Cahaya mentari yang menyerobot masuk dari celah jendela membuat Zevia terganggu dalam tidur. Ia membuka mata dengan terpaksa dan mencoba untuk mengumpulkan kesadaran.
Hingga saat kesadarannya mulai terkumpul, Zevia pun merangkak dari ranjang ke kamar mandi. Mencuci muka dan langsung memakai kacamatanya.
Seperti biasa, ia langsung pergi ke dapur dan menemui sang suami yang sudah pasti bangun lebih awal untuk membereskan rumah lalu memasak sarapan untuk mereka.
Zevia celingukan mencari sosok yang sempat ia benci hingga akhirnya menjadi sosok yang benar-benar ia cintai. Hingga ia pun tak menemukan siapapun di dapur. "Gezra ke mana?" gumamnya.
"Nyari aku?" Seseorang mengejutkannya dari belakang. Sosok itu entah datang dari mana. Membuat Zevia ingin menanyakannya namun Gezra sudah berlalu sembari membawa dua kantung plastik berisi sayuran.
"Kamu belanja?" tanya Zevia.
"Iya. Kebetulan ada tukang sayur lewat. Lumayan, mamangnya murah-murah. Daripada kita beli di supermarket."
"Emangnya higienis?"
Gezra terdiam sesaat. Ia menatap ke arah Zevia dan tampak berpikir. "Iya juga ya?"
Zevia terkekeh. "Ya udah nggak masalah. Mereka pasti juga jaga kualitas kok. Penting ntar dicuci lagi yang bersih." Sosok berkacamata itu mendekati sang suami dan membantunya merapikan belanjaan.
"Kamu duduk aja. Biar akun yang beresin."
"Kalau aku nggak gerak, gimana beratku mau ideal? Ntar aku kegemukan juga jelek, Gez. Ntar kalau aku jelek, kamu ninggalin aku."
"Halah, dulu aja pengen jauh dari aku."
"Iya kan kamu udah punya Kyra."
"Zev ... "
Zevia menoleh menatap sang suami. "Hm?"
"Udahlah, nggak usah mancing-mancing masa lalu lagi."
"Ututututu, emangnya kenapa sih, Sayang?"
Mendapat cubitan gemas dari sang istri membuat Gezra mendesah pelan. Ia menyingkirkan tangan Zevia dari pipinya. Lalu menatap sosok itu dengan intens. "Aku nggak suka kalau masa lalu terus-menerus diungkit."
"Ih, ngambek? Iya, iya, deh. Aku diem."
Alhasil, Zevia pun meletakkan sayur-mayur itu di meja dapur dan ia berjalan ke meja makan. Duduk di sana sembari menatap Gezra yang sibuk memasak.
Suasana hening sejenak. Ia melihat ponsel Gezra yang tergeletak di atas meja makan. Dalam diam, Zevia meraih ponsel Gezra. Ia berusaha membukanya. Namun, ternyata Gezra kembali memasang kunci sandi keamanan.
"Gez, tumben banget hape kamu ada kode keamanannya? Kenapa? Takut aku buka-buka chatnya ya?"
Tiba-tiba Gezra menegang saat mendengar pertanyaan itu. Ia memang sengaja memberi sandi. Agar Zevia tak keluar masuk ke ponselnya dan menjelajahi history chatnya. Bukan karena Gezra ada main belakang, ia hanya meminimalisir terjadinya Zevia memergoki Kyra yang tiba-tiba kirim pesan.
"Eng—enggak, kok. Ansel suka nyelonong lihat chat-chatku. Jadi, aku sengaja kasih sandi. Soalnya nanti abis kita check up, aku mau ketemu sama dia."
Merasa tak ada jawaban dari Zevia, Gezra pun melihat sosok itu. Dan betapa terkejutnya dia saat melihat Zevia sudah mengoperasikan ponsel miliknya.
"Beb? Bisa buka sandinya?" Tanya Gezra dengan sedikit takut.
"Bisa. Kamu kan selalu pakai tanggal lahirku."
Gezra menepuk jidatnya sendiri. Kebiasaan dulunya masih tertanam hingga tanpa sadar ia memakainya di saat genting.
"Gez, ada telfon nih."
"Da—dari siapa?"
"Nggak tau. Dari nomor tak dikenal. Aku angkat ya?"
"Jangan!"
Namun, gagal sudah, Zevia sudah terlanjur menerima panggilan itu. "Halo?"
Beberapa saat, Zevia terdiam. Menatap Gezra penuh kecewa. Melihat hal itu, Gezra memutar otak untuk memberi penjelasan.
Hingga sang istri pun mematikan panggilan yang telah ia terima. Meletakkan ponsel Gezra ke meja dan masih menatap Gezra penuh tanya.
"Aku bisa jelasin."
"Gila banget ya. Ngeselin tau nggak sih. Aku kira siapa, ternyata cuma salah sambung. Bapak-bapak yang ngomong. Mana dia bilang sayang-sayangan pas pertama kali aku angkat pula. Eh, ternyata dia salah nomor. Gila emang."
"Hah?"
Zevia mendesah. "Itu loh, Sayang. Nomor tadi itu nomornya bapak-bapak yang salah sambung. Kupikir siapa, kan. Udah curiga aja aku sama kamu kalau ternyata kamu pejuang bendera warna-warni."
"Kalau aku pejuang bendera warna-warni, ngapain aku masih doyan sama kamu?"
"Kali aja buat alibi doang," ucap Zevia sembari menjulurkan lidahnya mengejek.
"Udah sana kamu mandi. Baunya menyengat banget nih. Sampai laler pada masuk."
"Ish! Kejahatan kamu menyakitkan, Sayang!" Zevia pun berpaling dari dapur dan masuk ke dalam kamar. Meninggalkan Gezra yang tertawa lega karena bukan Kyra yang menelpon.
Ia pun bergegas mengambil ponsel dan memasukkannya ke dalam kantong celemek. "Kali ini keberuntungan berpihak sama gue. Harusnya gue emang harus ngomongin ini ke Kyra. Apa yang udah dia lakuin itu udah bikin hidup gue nggak tenang."
️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️
"Ehem." Ollin berdeham keras seolah mencuri perhatian sosok yang duduk di sampingnya. Gadis cantik dengan hidung mancung runcing itu tak tergoda untuk menatapnya sedikitpun. Padahal sudah ketiga kalinya Ollin berdeham sebagai kode.
Karena geram, Ollin pun menyenggol baju gadis itu. Hingga gadis itu—Valen—pun menoleh malas. "Apa? Mau jahilin gue karena gue sama Dileon masuk TV?"
Ollin terkekeh. "Kok tau sih, Buk? Jadi nggak asyik nih. Padahal mau ngeledek dulu."
"Nggak usah ganggu ah. Gue lagi bete tau."
Terlihat jelas memang. Gadis itu tak biasanya diam murung menatap layar laptop. Pasti sesekali akan mengajak Ollin berbicara hanya sekadar menanyakan kabar cuasa. Ya, Ollin jagoannya setiap kali meramal cuaca. Tapi pagi ini Valen tampak murung.
"Pagi semua!" Suara itu terdengar menggelegar. Membuat Ollin mengalihkan pandangan melihat siapa sosok yang datang. Tentu saja, si Bos.
"Tuh, Dileon dateng." Ollin menyenggol bahu Valen namun tak mendapat respon apapun. Valen pun tetap fokus melihat ke layar laptop meski Ollin yakin jika gadis itu sedang memikirkan hal yang lain. "Lo sama Bos ada masalah ya? Jadi pada diem-dieman gini? Atau ... ada something di mana gue nggak tau?"
Valen menatap tajam ke arah Ollin. "Silent, please! Lo pagi-pagi ngoceh aja kayak burung. Nggak capek? Ntar laper minta melipir ke kantin di jam kerja. Udah sana buruan selesaiin koreksi naskah."
"Eh, eh, eh, pagi-pagi udah semangat ngoceh aja nih?" celetuk seseorang yang bersuara sangat familiar di telinganya.
Valen pun menoleh dan mendapati Dileon sudah berada di depannya.
"Len, ke ruangan gue sekarang ya."
"Mau apalagi, sih, Bos?"
Dileon tersenyum. "Ada yang harus gue bicarain ke lo."
▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪
"Sayang ... udah siap belum? Ayo, buruan. Biar dapet antrian cepet, nih."
Zevia tampak tergesa saat keluar dari kamar. Membuat Gezra terkekeh melihatnya.
"Aduh, kamu tu suka banget bikin aku kebal akan deh. Kamu mandinya lama. Nyuruh aku nunggu. Malah aku yang dicepet-cepet."
Tampak raut wajah kesal itu tercetak jelas. Namun, Gezra tak mau kalah. "Lah? Aku mau mandi terakhir atau pertama pun tetep kamu yang telat. Dandan aja udah lebih dari setengah jam."
"Sst, no protes. Kalau aku jelek, kamu juga malu kan?"
Gezra menggeleng dengan senyumannya. "Nggak kok. Tetep sayang."
"Sayang mah sayang tapi bangganya enggak. Udah, ayo! Katanya buru-buru."
Meski sudah empat tahun menjalin rumah tangga, keduanya masih tetap merasa bahwa mereka baru saja merajut kisah rumah tangga. Pernikahan mereka memang berjalan dengan lika-liki yang hebat. Keguguran Zevia adalah puncaknya. Gezra benar-benar merasa terpukul saat itu. Namun, setelah melihat Zevia tetap bisa tegar, Gezra belajar dari sikap sang istri yang tegar dan lapang d**a.
Perjalanan mereka tak cukup memakan waktu. Karena rumah sakit tempat mereka check up sudah dekat. Terlihat gedung yang sudah menjulang tinggi dari kejauhan. Membuat Gezra bersiap mencari parkir di basement rumah sakit.
Setelah mereka sampai, Zevia dan Gezra pun turun dari mobil. Menuju ke poli kandungan untuk melakukan check up rutin. Namun, saat Gezra ke pendaftaran untuk mendaftarkan sang istri, Zevia melipir ke kamar mandi.
"Gez?" Suara seseorang yang sangat ia kenal terdengar di telinganya. Membuat Gezra yang tengah berdiri menunggu Zevia selesai dari kamar mandi itu menoleh ke asal suara.
"Kyra?"
"Akhirnya kita ketemu berdua. Aku pengen ngomong—"
"Ra, aku minta kamu berhenti."
Kyra tersenyum sendu. Menampilkan senyuman termanis yang pernah Gezra lihat. Hingga Gezra pun harus memalingkan wajahnya.
"Maaf ya, Gez. Aku belum bisa lakuin itu."
Gezra hanya terdiam. Berusaha mengabaikan seorang gadis yang berdiri di depannya.
"Oh ya, tadi aku lihat Zevia."
"Iya, dia lagi di kamar mandi."
"Bukan. Aku lihat Zevia sama cowok. Tapi aku nggak tau siapa cowok itu. Soalnya cuma sekilas."
Gezra sontak menatap Kyra aneh. "Kamu seolah berusaha menjatuhkan posisi Zevia di depanku. Ra, kayaknya ... kamu bukan Kyra yang pernah aku kenal lagi."
▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️