▪️9▪️

729 Kata
Chap 9 ▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️ Kini Kyra tengah menatap langit malam dari jendelanya. Ia menyenderkan kepalanya ke kaca jendela sembari merenungkan apa yang telah ia lakukan selama ini. Ya, ia baru mengerti. Ia belum siap kehilangan sosok Gezra. Sampai detik ini, sosok itu masih berada dalam hatinya. Meski dirinya, mungkin sudah tak ada lagi di hati maupun masa lalu Gezra. Mencintai suami orang lain itu hal yang menyakitkan. Bagaimana mungkin bisa dimiliki? Sedangkan status suami adalah status kepemilikan yang hakiki. Senyumnya terangkat getir. Semua ucapannya pada Zevia memang sebuah kebohongan. Gadis berkacamata itu memang lebih polos darinya. Hingga tak mampu membedakan mana yang tulus atau terpaksa. Sudah jelas, melepaskan seorang Gezra yang sangat istimewa adalah hal tersulit. Namun, Zevia menganggap bahwa dirinya bisa dengan mudah melepas Gezra. Entah siapa yang bodoh, yang jelas ... Zevia orangnya. Akan tetapi, satu hal yang pasti. Kyra memang masih mencintai sosok Gezra. Namun, untuk merebutnya dari Zevia memang sempat terpikirkan meski hal itu sangat tak mungkin bisa. Jadi, Kyra memutuskan untuk mendekati Gezra hingga perasaannya mampu menyadari bahwa semua harus segera terkubur. Entah sampai kapan, Kyra rasa ia tak mampu memastikannya. KLING Dengan malas, Kyra menyambar ponsel yang ada di sebelahnya. Ia pikir, mungkin dr. Shasa masih membahas tentang pemindahtanganan itu. Jadi, ia tak terlalu ambil pusing karena ia cukup bersikap biasa saat berhadapan dengan dokter muda menyebalkan itu—Mileo Hans. Kyra membulatkan matanya seketika saat melihat nama yang tertera di layar ponsel. "Mileo? Astaga, dia gerak cepet banget. Bikin aku tambah pusing." ▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️ "Keluar? Ma—maksudnya gimana, Pa?" Gezra dan Zevia saling menatap lalu menggeleng seolah tau apa yang ingin mereka tanyakan masing-masing. Jelas tentang ucapan sang papa yang membuat jantungan. Seolah mereka diusir dari rumah mereka sendiri. "Rumah kalian perlu renovasi. Papa mau tambah lantai karena kalian pasti akan punya anak, kan. Jadi, papa nggak mau lihat cucu papa nggak punya kamar." Mendengar penjelasan itu, Gezra dan Zevia terdiam. Zevia berusaha mengalihkan pandangannya. Seolah ada yang membuatnya merasa tak nyaman di kondisi itu. Gezra pun mematikan kompor dan mengambil alih ponsel yang ada di tangan sang istri. Lalu menonaktifkan loudspeaker-nya. Setelah ponselnya diambil alih oleh sang suami, Zevia pun kembali duduk di meja makan dan memangku wajah datarnya. "Emh, tapi, Pa—" "Papa tau, kalian masih proses program hamil, kan? Selagi menunggu program hamil kalian berhasil, papa mau renovasi rumah kalian. Biar nanti kalau Zevia hamil, kalian bisa di rumah dengan suasana baru dan lebih nyaman. Paham?" Tak ada yang bisa membantah keinginan Ganiel. Jika membantah orang tua itu sulit, membantah Ganiel sebagai orang tua juga sangat sulit. Gezra hanya mengangguk tanpa menjawab. Meski Ganiel tak mengetahui jika anaknya itu telang mengangguki ucapannya. "Paham, kan, Gez?" "Iya, paham, Pa. Biar nanti aku bilangin ke Zevia buat segera beberes rumah." Setelah mengatakan apa yang ia inginkan, Ganiel pun menutup panggilan. Membiarkan Gezra menjelaskannya pada sang istri secara pribadi. Ia pun mendekati sang istri yang masih memangku wajahnya dengan malas. "Zev, mulai lusa, kira tinggal di apartemen yang udah dipesenin sama papa." "Tapi aku kan belum hamil. Emangnya nggak masalah?" Gezra tersenyum tipis. Ia tahu jika kalimat itu akan terucap dari mulut sang istri. "Justru papa nyuruh sekarang karena kita masih proses program hamil. Kalau nanti rumah di renovasi saat kamu hamil, anak kita bakal kasihan karena harus merasakan ketidaknyamanan." Mendengar tuturan Gezra, Zevia hanya terdiam. Diam-diam luluh dan patuh. Ia menurunkan tangan yang menopang dagunya lalu meraih tangan sang suami. "Gez, kamu sabar nungguin aku hamil, kan? Kamu nggak mau cari istri lain, kan?" Gezra tersenyum jahil. "Ya jelas aku cari yang lain dong." "Ish! Gezra!" Kekesalan Zevia jelas makin membuat Gezra tertawa puas. "Udah ah. Ngapain juga aku cari yang lain? Ngurusin yang satu ini aja belum tentu bisa bahagiain," ucap Gezra sembari menoel hidung Zevia dengan gemas. Saat dirinya hendak berlalu menyajikan makanan di meja, Zevia menahan ujung bajunya. "Apalagi, Beb?" "Biar aku bantuin nyiapin makanannya." Gezra tersenyum tipis. "Ayo." ▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪▪️
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN