▪️8▪️

2110 Kata
*** Tepat pukul tujuh malam, Vranda sudah di tempat janjian. Ia tengah asyik menikmati vanilla latte favoritnya sambil menunggu seseorang. Jemarinya lincah membalas pesan demi pesan yang dikirim oleh Zevia tentang Valen. Sepertinya sahabatnya itu sudah berubah menjadi Miss Kepo tiada tanding. Entah sudah berapa kali Vranda mengatakan jika ia tidak tahu-menahu soal Valen, tapi tetap saja Zevia membalas chat-nya dengan semangat. Alhasil, Vranda menonaktifkan paketannya dan terkekeh pelan. Ia sudah tak sanggup lagi meladeni sang sahabat yang entah mengapa jadi super aktif. Biasanya Zevia itu calm, tapi sekarang berbalik seratus delapan puluh derajat. Sesekali Vranda melihat ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Sudah sepuluh menit berlalu namun sosok yang ia nanti tak kunjung tiba. Sepertinya sosok itu sangat sibuk. Jadi, akan sangat sulit bertemu tepat waktu. Tanpa sadar, Vranda menghabiskan secangkir vanilla latte hangatnya. Ia pun berniat memesan lagi untuk mengusir rasa bosan. "Mbak," ucap Vranda sembari mengangkat tangan tanpa melihat di mana si pekerja kafe. "Mau pesan apa?" Vranda terperajat mendengar suara itu. Ia sontak menoleh ke asal suara dan membulatkan matanya. "Hai!" Sosok itu tetsenyum—dengan manisnya. "H—hai?" Vranda berdiri dari duduknya. Menyambut sosok yang ternyata adalah sosok yang ia tunggu. "Kamu—" "Maaf terlambat. Tadi di restoran ada kesalahan kecil." "Restoran?" Sosok itu mengangguk. "Duduk dulu. Nanti biar anak buah saya antarkan pesanan favorit kamu." "Anak buah?" Vranda benar-benar bingung dengan keadaan. Membuat sosok itu terkekeh geli. Tak lama kemudian, seorang pelayan datang membawa vanilla latte favorit Vranda di kafe ini. Ya, Vranda memang sangat suka nongkrong di kafe ini bersama dengan para sahabatnya sejak kuliah dulu hingga sekarang. Meski sudah jarang nongkrong bersama Geng Gadis Angkuh, Vranda masih membawa para klien-nya untuk bertemu dan memesan ruangan rapat di kafe ini. Namun, Vranda justru merasa aneh. Ia pun menatap sosok yang duduk di depannya itu dengan mata memicing. "Kamu penguntit ya?" Jimmy—sosok itu—terkekeh pelan. Menyentil dahi Vranda dengan pelan. Namun, tetap terasa sakit. Membuat Vranda merintih pelan. "Hei, sakit!" "Maaf, maaf," ucap Jimmy dengan kekehan yang masih terdengar. "Kamu itu kan sudah saya kasih kartu nama saya? Nggak dibaca dengan baik ya? Pasti cuma fokus ke nama saya doang?" Vranda tersenyum malu. Memang benar kata Jimmy. Ia memang hanya fokus pada nama sosok itu tanpa melihat identitas apapun di kartu nama itu. "Coba dibaca lagi kartu namanya," titah Jimmy. Vranda pun mengambil kartu nama yang ada di tasnya. "Jimmy Carveno. Owner of Lezatos Restaurant?" Vranda menatap Jimmy tak percaya. Restaurant yang terkenal beberapa minggu terakhir ini adalah milik sosok yang ada di depannya. Jimmy hanya tersenyum tipis. Namun, tampak sangat menawan. "Jadi, kamu pemilik Lezatos restaurant yang lagi naik daun itu? Terus, kenapa kamu anggap pelayan di sini juga anak buah kamu?" "Kafe ini adalah anak dari restoran saya. Jadi, mereka juga anak buah saya." Hal itu benar-benar tak dapat ditebak okeh Vranda. Ia merasa bahwa sosok itu memang tidak berbohong. Namun, ia sangat tak menyangka. "Waw," Hanya itu yang dapat diucapkan oleh Vranda. Jelas saja ia speechless karena mengenal sosok yang sedang tenar di luar sana. Menjadi pembicaraan karena telah mampu menggaet para pecinta kuliner untuk menyorot restorannya. "Saya juga sudah mengenal kamu dan sahabat-sahabat kamu. Kamu sering ke sini sama mereka dulu kan?" "Kamu juga tau?" "Iya, sebelum restoran saya berdiri, saya kan sering di sini. Karena kantor utama saya ya di kafe ini. Saya sering lihat kamu sama mereka ke sini." "Ah, begitu. Pantesan hapal banget sama minuman favoritku di sini." Jimmy terdiam. Menampilkan senyum yang membuat Vranda terus bersemu. Entah mengapa sosok itu tampak sangat mahir membuat jantung berdegup tak normal. "Lagipula, saya juga tertarik sama kamu." *** "Dih, Vranda main off aja deh. Kenapa pada ngeselin semua sih? Awas aja kalau ketemu, gue abisin satu-satu para kupret ini." Sudah sejak siang hingga petang, sang istri tampak sibuk dengan ponsel hingga berbicara sendiri. Membuat Gezra yang sedang memasak di dapur hanya menggeleng pelan. Ia memotong beberapa sayuran dan membuat sup jagung favorit Zevia sejak dulu. Entah mengapa Zevia sama sekali tak pernah bosan saat memakan itu. Padahal, ia saja bosan setiap minggu harus membuatnya sebanyak dua kali di hari tertentu. Istrinya itu memang unik dan langka. Membuatnya harus tetap menjaga dan merawatnya. Ya, seperti barang fosil. Eh? "Zev, kamu mandi dulu sana. Dari tadi pagi kan belum mandi." Gezra berteriak dari dapur. Membuat Zevia memutar bola matanya malas. "Ngeledek deh sukanya. Aku kan udah mandi, Sayang!" Gezra mengintip ke arah ruang TV, terlihat Zevia kembali sibuk dengan ponselnya. "Kok masih ada hidungnya?" "Ish, Gezra!" Gezra terkekeh. Namun, tawa itu mendadak terhenti dan dalam sesaat suasana hening. "Zev, sini deh. Aku kasih lihat sesuatu." "Apa?" Terdengar suara langkah Zevia mendekat ke arah dapur. Gezra terdiam di depan kompor. Membuat Zevia terheran dengan itu. Akan tetapi, pikiran jahil terlintas di benaknya. Ia pun langsung memeluk pinggang Gezra dari belakang dan mengusap-usap wajahnya ke punggung Gezra dengan manja. "Zev!" Gezra sontak menarik Zevia hingga ke depannya. Kedua netra itu menatap satu sama lain. Zevia terdiam. Merasakan ada sesuatu yang aneh. Seperti ... ada yang merayap di tengkuknya. Melihat Gezra memasang wajah cemas, Zevia pun meraba tengkuknya dengan ragu. "Aarrghhh! Kecoa!" Teriakan Zevia membuat Gezra sontak ikut berlari pergi dari dapur. Meninggalkan Zevia yang sibuk menyingkirkan hewan arthropoda itu dari tengkuknya. "GEZRA!" "Maaf, Sayang!" Begitulah nasib Zevia. Selalu menjadi tameng Gezra dalam mengusir kecoa. Niatnya Zevia menggoda sang suami, justru sang suami yang menjahilinya. *** Di malam yang sunyi, gadis berlesung pipi dengan senyuman manis itu terus memadangi sebuah gelang. Gelang yang mengingatkannya akan masa lalu. Masa indah yang penuh luka. Meski begitu, entah mengapa hatinya tak kunjung melupa. Terkadang ada sebuah bisikan untuk kembali merebut hati yang telah dimiliki sosok lain. Namun, cukup mendapat balasan perhatian saja, ia sudah cukup senang dengan hal itu. Selama pengobatan, hanya satu yang menjadi penyemangat untuknya. Yaitu, sosok yang masih ada di hati. Meski sosok itu telah berada di genggaman orang lain. Terikat pernikahan yang sah. Memang salah, ya, ia mengaku bahwa dirinya salah karena masih mengharapkan sesuatu yang telah menjadi hak milik orang lain. Akan tetapi, sepertinya memang butuh waktu yang lebih lagi untuk melupakan cinta pertamanya. KLING Kyra—gadis berlesung pipi—langsung membuka notif yang baru saja masuk. Ia berharap bahwa notif itu dari sosok yang ia nanti kehadirannya. Namun, sepertinya ia harus menelan kecewa. Karena nama yang tertera bukan nama Gezra. Melainkan nama 'dr. Shasa.' Ia pun membuka pesan itu dan membaca isi pesannya. *dr. Shasa : Malam, Nona Kyra. Maaf menganggu waktu istirahat Nona. Tapi saya ingin memberitahukan kepada Nona, jika mulai besok, Check up rutin Nona Kyra Beatalisa akan dipindahkan bersama dengan dokter muda baru kami. Beliau bernama dr. Mileo Hans. Sebab, beliau adalah dokter penanggung jawab Nona selama perawatan di luar negeri. Jadi, kami memutuskan untuk memindahkan Nona ke dr. Mileo. Mohon pengertiannya. Terima kasih.* Membaca pesan itu, Kyra mendesah berat. Senyuman yang sedari tadi tercetak jelas pada akhirnya luntur seketika. "Astaga, kenapa harus ketemu dokter itu lagi, sih?" Kyra melempar ponselnyanke ranjang. Ia menelungkupkan wajahnya ke meja belajar. Di atas thesis yang sudah penuh dengan coretan. "Bila-bila aku gila kalau ketemu dia lagi." KLING Suara ponselnya kembali terdengar. Ia berpikir bahwa itu adalah dr. Shasa yang akan memberitahukan bahwa dia mencabut pemindahtanganan jadwal check up nya ke Mileo. Ia pun bergegas mengambil ponsel dan melihat isi pesan yang memang benar dari dr. Shasa. Namun, isinya tidak sesuai dengan apa yang dibayangkan. Matanya membulat seketika. *dr. Shasa : Saya sudah memberi semua data Nona Kyra ke dr. Mileo.* "Serius. Ini masalah besar buat aku. Gez ... aku harus gimana sekarang?" *** Gezra mendadak merinding. Ia memegang tengkuknya dan melihat ke sekitar. Takut jika ada hewan yang mirip dengan kurma itu terbang mengintainya. Namun, ternyata yang tengah mengintainya adalah sang istri dari meja makan. Kedua netra yang terhalang kacamata itu menatap tajam ke arah Gezra. Kekesalan yang memuncak karena dibuat umpan oleh suami sendiri membuat Zevia harus menghukum Gezra memasakkannya makanan yang lezat. "Horor," gumam Gezra sembari terus mengoseng bumbu yang mengeluarkan aroma menggoda. Tetapi Gezra berharap aroma sedap itu tidak menggoda para kecoa untuk datang. "Bilang apa tadi? Eum?" ketus Zevia. Gezra hanya melirik sekilas dan tersenyum singkat. "Nggak kok. Nggak bilang apa-apa." Zevia masih setia menatap tajam ke arah Gezra tanpa mengalihkan pandangannya. Drrtt Saking asyiknya menatap tajam ke arah punggung sang suami, Zevia asal mengangkat panggilan yang entah dari siapa. "Halo?" jawabnya dengan ketus masih kesal dengan Gezra. "Zev?" Suara itu membuat Zevia tersadar dan terkejut. Ia langsung melihat nama yang tertara di layar ponsel. Kedua netranya membulat setelah membaca nama di sana. "Papa Ganiel?" gumamnya membuat Gezra menoleh penasaran. Ia pun langsung menempel kan lagi ponsel ke telinganya. "Ha—halo, Pa? Maaf tadi Zevia lagi kesel sama Gezra." "Ada apa lagi?" Suara Ganiel tampak menahan tawa dari sana. Ia sudah sangat hapal dengan kelakuan sepasang pengantin muda itu. "Biasa. Gezra takut sama kecoa, Zevia yang kena imbasnya, Pa." Mendengar Zevia mengadu pada sang papa, Gezra hanya menghela napas singkat. Ia tak membantah, karena memang benar adanya. Ganiel terkekeh sekilas. "Udah, udah, papa mau ngomong penting ke Gezra boleh? Soalnya ponselnya Gezra nggak aktif." "Boleh, Pa." Zevia pun me-loudspeaker panggilan Ganiel dan mendekatkannya pada Gezra yang sedang asyik mengaduk sup. "Halo, Pa? Ada apa?" "Gez, besok kamu keluar dari rumah itu." *** Setelah melihat bahwa ada sosok yang sangat ia kenal di sana, Ansel benar-benar merasakan kehancuran. Mungkin kehancuran sepihak. Karena apa, karena pernyataan yang diucapkan oleh seorang lelaki. Lelaki yang sangat erat menggenggam gadis tercintanya. "Ya, saya Dileon. Dan gadis ini ..." Sosok itu mengangkat tangan gadis yang berada di genggamannya. "... Calon tunangan saya." Sebenarnya bukan hanya dia yang terkejut bukan main, Valen—gadis yang digenggam erat tangannya pun sontak membulatkan mata dan menatap lelaki itu dengan tajam. "Dil—" Dileon—lelaki yang tengah menatap Ansel dengan penuh arti langsung melepas genggaman tangannya pada Valen namun berganti merangkul gadis itu dengan erat. "Kami akan segera bertunangan." Valen benar-benar tak menyangka jika bosnya itu akan mengatakan hal bodoh yang sudah pasti membuat Ansel patah hati tanpa kendali. "Waw! Tiba-tiba banget? Kupikir cewek ini cuma temen kamu. Ternyata calon tunangan ya? Bagus deh." Sherlyn dengan senyuman lebarnya menyahuti ucapan bangga dari Dileon. Padahal, ucapan itu hanya omong kosong. "Sel? Kenapa diem melototin calonnya Dileon?" senggol Frendo. Membuat Ansel langsung mengalihkan pandangannya pada sosok itu. "Gue udah kirim kado pernikahan terbaik buat kalian. Sekarang gue pamit. Mau ada rapat." Tanpa mengatakan apapun, Ansel berlalu dari tempatnya. Membawa luka yang menyerang di d**a. Ia merasa ada sesuatu yang retak bahkan terasa hancur berkeping-keping. Di lain sisi, Valen berusaha melepaskan rangkulan Dileon dan menatapnya tajam. "Kita harus bicara." Valen pun pergi meninggalkan ruangan. Menjauhi keramaian dan melihat Ansel menghilang lewat tangga darurat. Ia sangat ingin mengejarnya. Namun, ia masih ragu untuk mengatakan bahwa dirinya bukan calon tunangan Dileon. Akan tetapi, jika dengan pernyataan tadi bisa membuat Ansel berhenti mengejarnya dan membuat Ansel bahagia dengan pilihan yang lain, Valen akan menerima itu. "Sorry." Suara itu membuyarkan lamunan Valen. "Maksud lo apa, Dil? Lo sengaja bilang gitu di depan Ansel?" Dileon terdiam. Hingga Valen menatapnya karena merasa tak ada respon. "Dil?" "Sorry. Gue bilang gitu, karena gue pengen bikin Sherlyn percaya kalau gue emang udah move on." Valen menghela napas berat. "Bukannya gue udah bilang kalau gue nggak mau jadi pacar pura-pura lo?" "Kan tadi gue bilangnya calon tunangan. Bukan pacar." Valen kembali menggersah kesal. "Itu lebih parah, Dileon!" "Ya terus mau gimana lagi? Kalau gue bilang lo cuma temen, pasti dia nggak bakal percaya kalau gue udah move on." Bantahan Dileon benar-benar terdengar menyebalkan. "Lo marah ke gue karena gue bilang calon tunangan di depan Ansel, kan?" tebak Dileon yang memang tepat sasaran. "Nggak. Gue capek. Gue mau pulang." Tanpa menunggu ucapan Dileon selanjutnya, Valen sudah berjalan menuju ke arah lift. Dileon mengikuti gadis itu dari belakang. Hanya ada mereka berdua di dalam lift. Hingga lift itu turun ke lobby, mereka masih berdua di sana. Suasana canggung tiba-tiba menyelimuti hati Dileon. Ia merasa bersalah. "Bukannya lo harusnya seneng? Sekarang Ansel nggak gangguin hidup lo lagi, kan?" celetuk Dileon saat pintu lift terbuka. Valen tak merespon apapun. Gadis itu melangkah ke luar lift dan meninggalkan Dileon di belakang. "Val." Tiba-tiba ada sebuah tangan kekar menahan pergelangan tangannya. Suara yang tak asing itu membuat Valen menoleh cepat. "Semua tadi nggak bener, kan?" tanya Ansel—sosok itu. Valen terdiam sesaat. Kedua netranya menatap ke arah Dileon yang berdiri tak jauh di belakang Ansel. Tak lama kemudian, sosok itu berjalan mendekati Valen dan Ansel dimana tangan Ansel masih menggenggam tangan kiri Valen. Dileon pun melepas genggaman itu dan menarik Valen ke sisi belakang tubuhnya. "Mulai sekarang ... Valen milik gue." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN