***
Nasib menjadi seorang tour guide membuat Eliz harus berkeliling sesuai dengan job-nya. Sekarang ia sedang berada di Jerman dan tinggal dua hari lagi ia akan kembali ke tanah kelahirannya.
Meski berada jauh dari keluarga dan para sahabat, Eliz masih terus memantau keadaan mereka. Sebab, Eliz sedang gelisah setiap malam karena memikirkan cerita dari Valen maupun Gezra. Ya, dalam diam, Gezra menceritakan semua tentang Kyra pada gadis itu. Awalnya Gezra hanya disuruh Zevia kebanyakan kabar Eliz lewat ponsel milik Zevia. Namun, melihat keadaan Eliz yang jauh dan kemungkinan besar tidak akan keceplosan saaat bercerita di depan Zevia, maka Gezra memilih Eliz untuk menjadi tempat bercerita.
Walau begitu, Eliz sangat ingin memberitahu Zevia agar menjaga Gezra lebih ketat. Memberi sedikit bumbu protect yang membuat Gezra lebih aman dari godaan para mantan atau pelakor. Sebab, Eliz melihat jika Zevia memang terlalu santai menghadapi masa lalu Gezra dan Kyra. Mungkin karena gadis itu berpikir bahwa Gezra memang sudah mengabaikan Kyra atau sebaliknya.
"Liz, abis ini lo temenin klien keliling kota, ya. Karena besok, kita berangkat ke Swiss." Seorang rekan sekaligus atasannya itu membuyarkan lamunan Eliz.
"Swiss? Bukannya lusa kita balik ke Indo?" Eliz was-was dengan jawaban sangat atasan. Karena ia sudah merencanakan banyak hal saat mendengar hasil diskusi jika lusa mereka akan pulang ke Indonesia.
"Nggak jadi. Kita harus ke Swiss karena kantor pusat udah kasih surat perintah."
Eliz mendesah panjang. "Astaga, gagal lagi deh ketemu para unyil gue!"
Rey—atasannya itu hanya terkekeh pelan. Karena sudah tiga kali—tiga kali ya! Bukan cuma satu kali—si Eliz harus ter-PHP oleh keadaan.
"Santai aja. Keliling dunia kan impian lo sejak dulu."
Eliz hanya melengos kesal. "Iya-iya!"
***
"Nih, Bola-bola mie sama kentang goreng nya udah siap, Nyonya Adelardo."
Zevia menjulurkan lidahnya sembari mencomot satu bola-bola mie yang khas buatan suaminya. Tiada tanding dan lezat tiada tara. Ia bersyukur karena Tuhan memberinya seorang suami yang pandai memasak. Ya, karena dia sadar diri, masakannya selalu di rasa standar kadang ... mending nggak usah dimakan.
Gezra duduk di samping sangat istri. Melihat acara yang sedang menarik perhatian Zevia dengan penuh intens. Sepertinya sosok yang tengah asyik nyemil sambil nonton TV itu sangat antusias menyaksikan perjalanan kisah cinta sangat Sutradara dan Model yang baru naik daun.
"Emang mereka hebatnya apa sih?" Tanya Gezra sembari mencomot kentang goreng lalu mencocolnya ke saus pedas di piring kecil.
"Serasi." Satu kata itu hampir membuat Gezra tersedak. Ia menatap Zevia aneh dan langsung mengusap pucuk kepala sangat istri dengan gemas. "Ih, tangan kamu abis ambil kentang, Gez. Kok main elus-elus kepalaku sih. Ntar rambutku bau kentang."
Gezra terkekeh mendengar ocehan itu. "Yaelah, kamu aja jarang keramas, kan? Makanya aku kotorin biar kamu keramas, Sayang."
"Dih, aku rajin keramaa tau! Nih, cium, nih!" Zevia menyodorkan rambutnya pada Gezra dan membuat Gezra gemas dengan itu. Hingga ia pun merangkul pundak Zevia dan mencium sekilas bibir sangat istri. Hal itu jelas membuat Zevia tersipu seketika. "Ish! Gezra!"
"Apa?" Tanpa rasa bersalah, Gezra melepas rangkulan itu dan kembali mencomot bola-bola mie buatannya.
Zevia tak merespon. Ia sudah biasa mendapat perlakuan seperti tadi. Tapi entah mengapa setiap kali Gezra melakukannya, Zevia selalu merasa bersemu merah. Malu.
"Zev, lihat deh."
"Hm? Apa?" tanya Zevia yang masih berusaha menetralkan detak jantungnya.
"Bukannya itu si Valen?" Zevia mengangkat alisnya sebelah lalu mengikuti arah pandang Gezra ke acara televisi yang ia saksikan. Dengan mata tahunnya, Zevia memicingkan matanya. Memperjelas perngelihatannya ke sebuah layar. Saat menyadari hal yang sama, kedua netra itu membulat seketika. "Si Valen ngapain nyempil di sana?"
***
Satu jam sebelumnya. . .
"Len, gimana?"
Valen hanya mengetuk-ketuk dagunya sembari terus melihat Dileon dari bawah ke atas.
"Cocok, sih. Pakaian lo keren. Cuma tampangnya aja yang kurang masuk."
Ucapan Valen membuat Dileon melayangkan satu jitakan ke pucuk kepala gadis itu. Membuat sangat empu merintih kesal. "Sakit, Bos!"
"Lo ke rumah dulu apa mau langsung ke butik aja? Gue beliin dress sesuka lo deh. Asal lo dandan yang cakep. Jangan kayak gadis galau penuh air mata."
"Halah. Nggak, anterin gue pulang aja. Gue mau pake dress favorit gue."
Dileon terkekeh. "Oke, Pacar Pura-Pura gue."
"Heh, itu kesepakatan yang nggak jadi ya. Jadi jangan ngaku-ngaku."
Dileon kembali tertawa. "Lihat aja nanti."
"Dileon!"
Setelah perdebatan singkat di ruang kantor Dileon, mereka pun langsung menuju ke rumah Valen. Hanya membutuhkan waktu beberapa menit, mereka akhirnya sampai. Selama di perjalanan pun mereka hanya saling ejek dan membuat Valen semakin kesal.
"Tunggu di sini, gue ganti baju nggak ada satu jam." Dengan ketus, Valen menyuruh Dileon duduk di ruang tamu.
Dileon hanya mengangguk. Ia melihat-lihat foto keluarga yang terpasang di dinding. Untuk pertama kali, Dileon melihat isi rumah Valen. Karena selama beberapa tahun bekerja sama dan sering mengantar pulang Valen saat lembur, Dileon pertama kali diajak masuk dan menikmati ruang tamu kediaman gadis itu.
"Jadi, dia anak tunggal. Pantes manjanya nggak ketulungan."
"Eh, ada tamu?" Dileon sempat terlonjak kaget saat seseorang muncul dari pintu utama. Seorang wanita paruh baya namun penampilannya masih sangat modis dan cantik. Meski ada kerutan di sekitar wajah, namun wanita itu masih tampak segar dan muda. Sepertinya wanita itu adalah ibu dari Valentine. Karena hidung dan bibir mereka tampak hampir mirip. Begitulah persepsi Dileon.
"Ah, Hai, Tante. Saya temannya Valen."
Wanita itu hanya tersenyum dan menanggapi uluran tangan Dileon. "Saya, ibunya Valen. Jadi, kalian mau pergi?"
"Iya, saya mau ajak Valen ke pernikahan teman. Emh, bolehkan, Tante?" tanya Dileon sedikit ragu.
Beberapa saat Mella—ibu Valen—terdia. Hingga akhirnya Valen keluar dari kamarnya dengan pakaian rapi dan modis elegan. Anak gadisnya itu memang sangat cantik meski tampil dengan make up minimalis.
"Eh, Mama udah pulang? Kok cepet banget? Katanya lagi arisan ibu-ibu komplek? Biasanya kan—"
"Udah, udah. Sana kamu berangkat. Keburu malem, nih."
"Ish, baru juga jam berapa, Ma."
Dileon hanya diam melihat anak dan ibu itu berdebat ringan. Setelahnya, Valen pun berpamitan dan pergi bersama Dileon ke tempat yang akan membuat Dileon merasakan patah hati terhebat.
Sebelum Dileon menginjak gas, sosok itu terdengar menghela napas berat.
"Santai, santai. Kuatkan hati lo dulu. Kalau nggak kuat, mending kita jalan-jalan aja."
"Itu, sih, elo yang pengen."
Tanpa basa-basi lagi, Dileon pun menginjak gas dan meluncur ke sebuah hotel dimana pernikahan seorang Model cantik yang sedang naik daun dengan seorang sutradara film layar lebar. Sherlyn dan Frendo.
Tak membutuhkan waktu lama, mereka pun sampai di sana. Acara akad sudah terlewatkan. Karena tujuan Dileon memang menghindari prosesi sakral itu. Ia mungkin tak sanggup jika harus melihat gadis yang sangat ia cintai telah dimiliki oleh orang lain. Namun, takdir memang mengharuskannya untuk tegar.
"Dil? Ngapain bengong?" tanya Valen sembari menyenggol lengan Dileon. Sosok itu tampak melihat karangan bunga yang mengucapkan selamat atas pernikahan Sherlyn dan Frendo. Tersirat luka dari kedua netra itu. "Udahlah, gue tau ini berat. Tapi lo harus move on."
Dileon menyunggingkan senyumannya. Menatap kedua netra Valen dan menjulurkan lidah. "Iyalah, gue udah move on. Emangnya lo? Bertahun-tahun gagal move on mulu."
"Dih! Nggak usah ngajakin ribut. Buruan masuk atau gue pulang nih!"
Sontak Dileon pun menggandeng tangan Valen dan menariknya masuk ke lobby. Mereka dipersilakan naik ke lantai tujuh untuk acara pernikahan megah itu. Namun, saat pintu lift mereka hampir tertutup, Valen menangkap bayangan seseorang yang ia kenal. Meski akhirnya, ia harus menelan rasa penasaran itu karena pintu lift sudah tertutup rapat.
***
Vranda tersenyum tipis. Saat ia menatap ponsel yang muncul sebuah notif balasan dari seseorang. Seseorang yang telah menyelamatkan hidupnya karena presentasinya hari ini berjalan dengan lancar. Jika sosok itu tak ada, mungkin dia akan gagal dalam presentasi hari ini.
Drrtt
Ponselnya mendadak berdering. Memperlihatkan nama seseorang yang sangat ia kenal. "Emma?"
Ia pun segera mengangkat panggilan dari sang sahabat. "Halo, Em?"
"Woi, Vran. Malam ini sibuk nggak?"
Vranda melihat ke arah jam yang melingkar di tangannya. "Nanti malam jam tujuh gue ada janji sama orang sih."
"Siapa? Tumben banget. Biasanya jam segitu lo ngajakin gue ngopi."
Vranda tersenyum tanpa sepengetahuan sang sahabat. "Ada deh. Kepo banget sih."
"Dih, main rahasia-rahasian, ntar juga gue bakal tahu. Lo kan nggak bisa jaga rahasia."
Mendengar cemooh Emma, Vranda justru tertawa. "Tau aja sih lo. Udah ah, gue mau siap-siap."
"Yaelah, masih jam berapa sih ini! Temenin gue telponan dulu lah."
"Kenapa lagi? Lo lagi diribetin lagi sama nyokap bokap lo?"
Terdengar hembusan napas berat dari Emma. "Lama-lama gue bakal frustasi nih, Vran. Gue harus gimana?"
Vranda terdiam sesaat. Masalah keluarga adalah masalah yang sangat sensitive. Jadi sebagai status sahabat yang lebih menjurus ke orang lain, Vranda tak memiliki hak apapun dalam urusan keluarga Emma. Namun, melihat sahabatnya selalu merasa gelisah, Vranda tak tega jika harus mengabaikan itu.
"Em, kayaknya kedua orang tua lo emang harus ketemu deh. Ngomongin yang terbaik. Dan lo juga harus ikut. Lo kan bisa tegas ke mereka kalau lo nggak mau direbutin kayak gini gitu."
"Susah. Mereka terlalu banyak alasan."
Jawaban itu membuat Vranda hampir menyerah. Ia tak tahu lagi harus bagaimana. Karena keluarga Emma memang keluarga yang rumit sejak Emma berhasil menjadi penulis ternama.
"Zevia. Coba tanya Zevia. Pasti dia punya pemikiran yang sama kayak gue."
"Nggak. Zevia lagi sinting. Abis sembuh dari sakit, otaknya makin oleng. Ya udah kalau gitu, gue mau tidur aja. Pusing gue mikirin mereka yang narik gue sana-sini."
Vranda terkekeh pelan. "Oke, oke. Sorry ya, Em. Belum bisa nemenin lo dulu."
"It's okay. No problem."
***
"Bentar, tadi Valen sama siapa? Kok gandengan?"
Zevia dan Gezra terlalu teliti hingga mampu menyadari bahwa ada Valen dan seseorang yang tertangkap kamera di acara resepsi pernikahan Sherlyn dan Frendo. Namun, Zevia tak mengenali sosok yang menggenggam tangan Valen karena wajahnya hanya terlihat dari samping. Selain itu, yang terkena zoom hanya wajah cantik Valen. Mungkin kameramennya adalah seorang lelaki yang mengerti mana yang pantas ditonton dan mana yang kurang pantas ditayangkan. Hmm? Sepertinya benar kata Vranda, Zevia sedang mode sinting setelah sembuh dari sakitnya.
"Mungkin itu cowok yang dimaksud Ansel?" tanya Gezra penasaran. "Kayaknya mereka mesra banget. Baju aja sampai couple serasi gitu. Beneran Valen nggak cerita apa-apa ke kamu?"
Zevia menggeleng. Matanya masih fokus ke acara televisi yang sudah mengalihkan camera angle-nya. "Ish, kenapa nggak nge-shoot Valen lagi sih. Bikin penasaran aja."
"Telepon aja si Valen. Tanyain dia sama siapa."
Zevia menatap Gezra seketika. "Bener juga ya? Kenapa nggak kepikiran daritadi?"
Sosok itupun langsung mengambil ponsel yang ada di atas meja dan mencari sebuah kontak nama. Valentine.
Panggilannya terhubung. Namun, belum ada jawaban dari sosok yang ia telepon. Sepertinya Valen sedang asyik di acara itu. Sehingga gadis itu tak menyadari ada panggilan masuk.
"Nggak dijawab."
"Ya udah nanti aja. Ini nih, cemilannya dihabisin dulu."
Zevia mengerucutkan bibirnya. Lalu bersandar di pundak Gezra dengan manja. "Ya udah, deh. Manja-manjaan sama kamu dulu aja."
Gezra tersenyum sembari terus menepuk lembut pipi chubby sang istri.
***
Di lain sisi, setelah pertemuan penting dengan klien besarnya, Ansel menyempatkan diri untuk pergi memenuhi undangan ke acara pernikahan rekannya. Awalnya ia mengajak sekretarisnya untuk ikut, namun sekretarisnya menolak karena ada pertemuan keluarga. Jadi, Ansel terpaksa harus pergi seorang diri.
Perjalanan dari kantor ke tempat pernikahan rekan karibnya itu memang tak terlalu jauh. Jadi, ia pergi dengan santai dengan mobil sport yang sudah lama tak ia jamah. Ia selalu bepergian dengan mobil kantornya dengan sopir. Tapi sekarang ia memilih untuk menyetir sendiri karena ia pikir acara ini hanyalah acara santai dan tak perlu pengawalan.
Hingga ia sampai di tempat tujuan, Ansel dengan santai menuju ke lobby. Ia tak menyadari jika ada seorang gadis yang sangat ia kenal sudah berlarian ditarik oleh orang lain.
Sesampainya di depan lift yang mulai tertutup, Ansel memainkan ponselnya. Ia mengecek adakah pesan dari klien atau tidak. Hanya sekadar itu. Tak ada yang ia lakukan saat membuka ponsel selain melihat kabar dari klien maupun rekan kerjanya.
TING!
Akhirnya lift sebelah pun terbuka. Dengan cepat Ansel memasuki lift itu dan menekan tombol tujuh setelah penumpang lain menekan lantai tujuan masing-masing.
Beberapa saat menunggu untuk lift berhenti di tempat tujuan. Akhirnya, Ansel sampai di lantai yang ia tuju. Saat lift terbuka, suasana sudah tampak ramai. Para tamu undangan sibuk mengikuti acara standing party. Ansel celingukan mencari sang pengantin. Ia ingin segera memberi ucapan selamat sekaligus berpamitan. Karena tak ada waktu lagi untuk berlama-lama sendirian di acara kondangan. Ia merasa canggung karena para tamu datang membawa gandengan kecuali dirinya.
"Bro!" Ansel menoleh. Ia mendengar suara sosok yang ia cari. Akhirnya, Ansel bertemu dengan si pengantin pria.
***
"Harus banget nemuin si Sherlyn? Ntar lo patah hati." Entah sudah berapa kali, Valen menyindir Dileon yang masih setia menggenggam tangannya. Melewati beberapa tamu yang asyik menikmati standing party.
"Harus. Gue mau buktiin ke dia kalau gue berani dateng. Waktu dia kasih undangan ke gue, dia bilang kalau gue nggak dateng berarti gue lemah. Gue nggak mau dianggep lemah sama dia."
Valen hanya terdiam. Mengikuti langkah Dileon yang terus menarik tangannya.
Akhirnya, langkah itu terhenti. Valen menatap sosok gadis yang sangat cantik dan anggun. Dengan mata lebar, bulu mata lentik alami, bibir kecil dan imut, dan hidungruncing yang cantik. Sempurna. Pantas saja, Dileon mati-matian mempertahankan Sherlyn di sisinya. Namun, takdir membuat harapan sirna. Dan Dileon harus tegar lapang d**a.
"Lyn." Gadis yang sedang asyik mengobrol dengan para tamu lain itu pun melirik Dileon.
"Leon, kukira kamu nggak dateng." Entah itu menyindir atau apa, Valen merasa bahwa kalimat itu adalah sindiran untuk Dileon.
"Aku dateng. Dan aku mau kamu tahu, dia—"
"Sayang, ini temenku yang mau kukenalin ke kamu."
Seseorang menyambar dari arah lain. Membuat Dileon, Sherlyn, bahkan Valen menoleh bersamaan. Saat itupun, Valen membulatkan matanya.
"Oh, Hai." Dengan ramah, Sherlyn menyapa sosok yang menegang melihat kedua netra Valen. "Oh, ya, Sayang. Ini juga temenku, namanya Dileon." Sherlyn ikut memperkenalkan Dileon pada sosok yang baru saja sah menjadi suaminya.
"Ya, saya Dileon. Dan gadis ini ..." Dileon mengangkat tangan Valen yang berada di genggamannya. "... Calon tunangan saya."
***