***
Zevia menepuk bahu Emma. Memberi kekuatan pada sang sahabat yang lagi-lagi terjatuh dalam hal keharmonisan keluarga. Menjadi anak dari keluarga broken home terkadang membuat Emma merasa frustasi. Ibunya sering keluar negeri sedangkan ayahnya sibuk dengan perusahaan. Sebab itulah perceraian terjadi.
"Dulu mereka menelantarkan gue. Sekarang ... setelah mereka tau kalau gue famous karena nulis, mereka jadi rebutan. Gue, kan, jadi males, Zev. Gue tau kalau bokap sakit-sakitan. Tapi nyokap juga seolah-olah butuhin gue banget buat berada di sisinya."
"I know. Pasti berat banget kalau berada di antara kedua orang tua sendiri. Atau ... Emh, gini aja. Lo ngomong baik-baik ke nyokap sama bokap lo dulu coba. Bilang ke mereka kalau—"
"Percuma, Zev. Lo tau kan kedua orang tua gue pisah karena apa? Karena mereka sama-sama egois."
Zevia terdiam. Sebenarnya, ia tak terlalu bisa memahami betapa pedihnya di posisi Emma. Keadaan keluarganya terasa lebih baik dari Emma. Terkadang, ia berpikir bahwa Emma memandang iri keharmonisan keluarganya. Tapi, sebenarnya setiap keluarga memiliki masalahnya masing-masing. Dan mungkin Emma tak menyadari itu.
"Gue paham. Nyokap gue juga orangnya egois dan keras kepala. Tapi yang namanya batu aja bisa lunak kalau kena air terus-menerus. Apalagi hati manusia?"
"Iya, gue tahu. Tapi masalahnya, udah bertahun-tahun mereka tetap kayak gini. Mempertahankan egonya masing-masing. Gue capek, Zev."
KLING
Sebuah notifikasi masuk ke ponsel Emma. Membuat keduanya langsung melihat nama yang tertera.
*Papa : Em, papa butuh kamu. Bisa ke sini sekarang?*
"See? Hampir tiap hari gue dapet pesan kayak gitu entah dari nyokap atau bokap. Tapi gue sama sekali nggak respon. Berasa anak durhaka banget tapi gue juga bingung harus gimana."
"Ah, gue ada ide. Gimana kalau nyokap sama bokap lo suruh rujuk aja?"
PLUK
Sebuah jitakan kecil melayang ringan ke pucuk kepala Zevia. Emma benar-benar gemas dengan sikap Zevia yang entah polos atau terlalu ceplas-ceplos.
"Hal paling mustahil! Nyokap sama bokap gue itu talak tiga. Mereka nggak bisa rujuk kalau salah satu belum pernah nikah sama yang lain, Zev!"
Zevia tersenyum kikuk dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia tak tahu-menahu tentang perceraian kedua orang tua Emma secara detail.
Drrtt
Kali ini gantian ponsel Zevia yang bergetar. Sepertinya ada panggilan masuk dan Zevia berhatap panggilan itu berasal dari sang suami tercinta. Namun, ternyata dugaannya salah.
"Siapa?" tanya Emma penasaran.
"Eliz."
"What? Cepet angkat!"
Zevia pun langsung mengangkat panggilan dan mengalihkannya ke video call. Terpampang nyatalah wajah seorang Eliz yang sekian lama tanpa kabar.
"Claretta! Emma! Lama tak jumpa!"
***
"Jadi pacar gue."
"Hah?!" Kedua netra indah milik Valen terbelalak lebar. Ia tak menyangka jika kalimat itu akan terlontar dari mulut seorang Dileon. Namun, ia berpikir bahwa ucapan itu ada karena keputusasaan. Valen pun menghela napas pelan. Menenangkan dirinya dan mencoba berpikir jernih. "Bos, gini ... mending Bos pulang aja. Tenangin pikiran biar besok bisa fresh lagi dan nggak macem-macem pikirannya. Terus, makan yang bergizi biar ada energi buat bahagia."
"Gue serius, Len. Jadi pacar gue buat sehari aja. Cuma pas gue pergi ke nikahannya dia, abia itu kita putus."
Valen memijat keningnya. Kelakuan bosnya memang tak masuk akal kali ini. Benar-benar sudah di luar batas. "Nggak. Gue nggak mau," tolak Valen mentah-mentah. Ia punya alasan tersendiri untuk penolakannya. "Kalau gue nemenin lo ke acara kondangan nikahan mantan, gue masih mau. Tapi ... kalau sampai jadi pacar pura-pura, gue nggak mau. Resikonya terlalu berat buat gue, Bos."
Dileon mendengus kesal. "Ya udah. Janji ya, lo harus temenin gue ke acara nikahannya dia." Jari kelingkingnya mengacung ke arah Valen. Gadis itu hanya memutar bola matanya malas.
"Cih, pakai ginian segala. Kayak anak kecil aja lo." Meski sambil menggerutu, Valen menanggapi acungan jari kelingking Dileon dan menautkan jemarinya dengan jemari Dileon. "Puas?"
Dileon tersenyum. "Sip. Bulan depan lo naik gaji."
"Yes!"
***
Sepucuk undangan berwarna putih elegan dengan pita kupu-kupu warna pink melekat di pojok kanan atas. Kedua nama tertera di cover undangan dan hanya menuai seulas senyuman.
"Selamat ya, Bro. Akhirnya lo nikah juga."
Seseorang dengan gaya kasual terkekeh sekilas. "Lo kapan nyusul? Gimana cewek yang lo kejar terus itu? Ada perkembangan?" tanyanya.
Air mukanya mendadak berubah. Ia menaruh kembali undangan itu di atas meja kerja dan berdiri dari kursi kebesadannya. Setelah itu mendekati rekan kerjanya yang duduk di sofa sambil menikmati secangkir kopi hangat untuk malam yang dingin. "Masih belum. Mungkin bentar lagi."
"Bro, kenapa nggak sama cewek yang gue kenalin kemarin aja? Cakep juga, kan. Nggak kalah cakepnya sama cewek yang lo bucinin itu."
Gelengan menjadi jawaban. "Nggak ada yang seistimewa dia."
"Cih, bucin lo kebangetan."
"Nggak peduli. Gue tetep perjuangin dia sampai gue dapetin dia lagi." Ansel—sosok yang tengah mendaratkan tubuhnya ke sofa—memaku senyuman yakin. Seyakin hatinya akan kembali diterima oleh Valen.
Frendo—sosok yang tengah bersama dengan Ansel—hanya menggeleng pelan. Melihat rekannya terlalu percaya diri meski sudah bertahun-tahun mendapat penolakan.
"Terserah lo. Yang penting, besok lo harus dateng ke acara pernikahan gue. Oke?"
***
Denting jam terus berjalan. Menggiring malam untuk semakin larut. Dalam hening, Zevia masih asyik menatap layar laptop dan mencurahkan segala imajinasinya. Tak ada yang akan menyangka, jika dirinya seorang penulis platform digital dengan nama pena Zetta.
Ada beberapa karya yang sudah dikontrak oleh platform digital tersebut, menuai penghasilan yang bisa digunakan untuk kebutuhan rumah tangga.
"Sayang?" Terdengar suara serak seseorang menganggu konsentrasinya. Jemarinya terus menekan tombol-tombol tipis sebuah laptop. Sebelum akhirnya menoleh ke sosok yang memanggil.
"Eum? Kenapa bangun?" tanyanya tanpa berlama-lama menolehkan kepala. Ia kembali fokus menatap layar dan kembali melanjutkan torehan katanya.
"Sini dong. Ayo, tidur. Kamu, kan, harus jaga kesehatan." Gezra—sosok itu—terus menguap dan memaksa kedua matanya untuk terbuka menatap sang istri di meja belajar. "Sayang," rengeknya lagi.
"Iya, iya. Astaga ... kenapa kamu jadi bawel banget sih sekarang?" Alhasil, Zevia pun menyerah dan mengakhiri ketikannya. Ia menutup laptop kemudian berbating di sebelah sang suami. "Udah, kan? Sana tidur lagi."
"Tium dulu dong." Dengan manja, Gezra memanyunkan bibirnya. Melihat kelakuan suami yang mendadak manja itu, membuat Zevia mencubit bibir Gezra yang tengah manyun.
"Nggak usah genit. Udah malem dan besok kamu kan harus beberes rumah. Jadi, nggak ada manja-manjaan."
"Cuma tium doang, kan? Masa nggak dikasih? Nanti aku minta yang lain loh."
Zevia menatapnya tajam. "Berani? Nggak usah balik lagi ke rumah."
Gezra terkekeh pelan. "Bercanda, Sayang. Sini donh. Tium dulu."
Pada akhirnya, Gezra pun langsung memeluk Zevia dan mendaratkan sebuah kecupan singkat di bibir manis itu. Setelahnya, Gezra menenggelamkan Zevia ke dalam pelukan hingga mereka pun tertidur bersamaan.
KLING
Sebuah suara notifikasi terdengar dalam keheningan. Awalnya Gezra dan Zevia tak mempedulikan itu. Namun, dalam beberapa saat, suara notifikasi kembali terdengar.
KLING
"Eurgh, Gez, coba cek dulu deh. Kayaknya penting." Zevia yang awalnya berada di pelukan Gezra pun berpaling. Ia memiringkan tubuhnya dengan membelakangi sang suami dan kembali tidur.
Sedangkan Gezra berusaha meraih ponsel dan mengecek siapa yang tega mengganggu tidurnya di malam hari.
*+62 813-xxxx-xxxx : Udah tidur?*
*+62 813-xxxx-xxxx : Have a nice dream. Semoga besok, kamu mau balas chatku ya, Gez.*
Antara sadar dan tak sadar, Gezra langsung menghapus pesan itu. "Sampai kapan lo mau ganggu gue terus, Ra?" gumamnya hampir tak terdengar di keheningan malam.
"Siapa, Gez?" Tiba-tiba saja Zevia kembali memiringkan tubuh ke arahnya. Matanya masih sayup-sayup dan tampak menggemaskan bagi Gezra.
"Operator."
"Suka banget operator gangguin kamu. Kemarin malam juga kirim pesan nggak penting."
Tanpa sadar, Zevia membongkar aksinya kemarin malam—diam-diam mengintip isi ponsel sang suami.
"Udah biarin aja. Kita lanjut tidur lagi. Good night, My Little World."
Zevia hanya tersenyum dan kembali hanyut dalam hangatnya pelukan Gezra.
***
"Kayaknya gue lupa bawa dompet, deh. Coba cek dulu ah." Gadis berambut sedikit pirang kecokelatan dengan gaya kasualnya itu terhenti setelah sampai di halte. Ia menggeledah tasnya dan berusaha menemukan dompet yang ia pikir tertinggal di rumah. "Ah, ternyata bawa. Terselip di paling bawah."
SRET
"Heh?!" Gadis itu terkejut bukan main saat tasnya disambar oleh seseorang. "Copet! Tolong! Copet!" teriaknya.
Beberapa orang yang mendengar langsung berhambur mengejar sang pencopet. Ia pun tak hanya diam di tempat, dengan sepatu kets yang memudahkannya berlari, gadis itu mengikuti warga yang berusaha mengejar sang pencopet.
"Bisa gawat kalau nggak ketangkep. Di sana ada flashdisk penting!" Dalam napas yang tersengal-sengal, ia bermonolog memikirkan flashdisk presentasinya di depan klien.
"Woi! Pencopetnya ketangkep!" teriak salah satu warga yang mengejar sang pencopet.
Gadis itu pun langsung mempercepat langkah dan sampailah ia di tempat tertangkapnya si pencopet. "Mana tas saya?"
Seseorang menyodorkan tasnya. Sosok dengan pakaian rapi tanpa dasi itu tersenyum dengan luka di sudut bibir kanan. Sepertinya sempat terjadi adu tonjok antara si pencopet dan si penolong.
"Ah, makasih, Mas," ucapnya sembari menerima tas.
"Ayo, kita bawa pencopetnya ke kantor polisi."
"Makasih, Pak, Mas, sudah bantu saya kejar pencopetnya."
"Sama-sama, Mbak."
Setelah beberapa warga membawa si pencopet ke kantor polisi terdekat, gadis itu kembali melihat sosok yang telah menyelamatkan tasnya. "Maaf, itu luka karena tadi nolongin saya, kan? Biar saya bantu obati gimana?"
"Ah, nggak perlu. Cuma luka kecil, lagipula saya sedang buru-buru." Sosok itu tersenyum meski sang gadis yakin jika rasanya pasti amat perih.
"Ta—tapi, saya harus berterima kasih sama kamu karena kamu sudah menyelamatkan tas saya."
Sosok itu menyodorkan sebuah kartu nama pada sang gadis. "Jimmy Carveno. Siapa namamu?" ucapnya sembari memperkenalkan diri.
Sang gadis menerima kartu itu dan membaca sederet nama yang tertera. Sesuai dengan nama yang terucap dari sang lelaki. "Vranda Shina."
"Oke, Vranda. Kita atur waktu untuk bertemu lagi, ya. Sampai jumpa." Jimmy —Sosok itu—langsung kembali berlari ke sebuah mobil dan melajukan mobilnya kembali.
Vranda—sang gadis—tersenyum tipis sambil terus menatap kartu nama yang ada di tangannya. "Oke, Jimmy."
***
"Len, ke ruangan gue."
Ollin menyenggol bahu Valen yang masih asyik membaca naskah di laptop. Hingga akhirnya, gadis itu pun tersadar dan langsung bergegas masuk ke ruangan si Bos.
Saat dirinya masuk ke dalam ruangan, Dileon tampak sibuk dengan sesuatu. Ia berdiri di depan meja dan melihat sesuatu dengan serius.
"Ada apa, Bos?"
"Pilihin gue jas yang cocok buat gue pakai nanti."
Valen mendesah pelan dan menepuk jidatnya. Ia terganggu saat mengoreksi naskah hanya untuk memilihkan jasnyang cocok untuk dipakai saat kondangan nanti.
"Astaga, Bos. Kenapa harus sekarang sih? Kan bisa nanti. Lagipula resepsinya juga masih dua jam lagi," ocehnya sembari melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
"Kalau bisa sekarang, kenapa harus nunggu nanti?" bantah Dileon. "Nggak usah banyak protes, pilihin aja apa susahnya?"
Valen hanya mendelik kesal lalu melirik dua jas yang berada di atas meja. Salah satu jas berwarna biru dongker dengan kemeja polos warna putih. Sedangkan satu jas lain berwarna hitam dengan kemeja maroon. Ia mengingat dress yang akan dipakainya saat acara nanti. Lalu memilih jas kedua—jas hitam dengan kemeja maroon. "Ini aja. Cocok sama dress yang mau gue pakai."
"Lo pengen kita tampil serasi? Katanya nggak mau jadi pacar pura-pura gue?"
Valen terdiam. Ia pun baru terpikir hal yang sama. "Nggak masalah. Yang penting kita, kan, nggak ada apa-apa. Udah dulu, ya, Bos. Gue mau lanjut revisi naskah lagi. Para penulis gue udah pada ngomel tuh."
"Oke. Jangan lupa dandan yang cantik."
"Cih!"
***
Semua urusan rumah tangga telah usai. Mencuci piring, memasak, hingga menyapu dan mengeoel telah diselesaikan oleh Gezra. Masa cuti yang ia ambil selama seminggu akan membuatnya menjadi bapak rumah tangga untuk sementara. Semua ia lakukan agar Zevia fokus dalam pemulihan dan bisa segera menjalani program hamil.
"Gez, emangnya kamu nggak kecapekan ngurusin semua sendiri?" tanya Zevia yang sedang asyik rebahan di sofa pada Gezra yang baru saja usai menyegarkan diri.
"Emangnya kenapa?"
"Ih, selalu gitu deh. Aku nanya, kamu balik nanya."
Gezra terkekeh pelan kemudian mendudukkan diri di sofa. Ia mengangkat kepala Zevia dan menjadikan pahanya sebagai bantal sang istri.
"Kamu fokus pemulihan aja. Kan kita mau ikutan program hamil. Mama sama papa udah pengen nimang cucu."
"Iya. Tapi kan program hamil itu bukan cuma aku yang berperan penting. Kamu juga, Gez."
Jemarinya yang asyik memainkan poni Zevia pun beralih menoel hidung sang istri. "Iya, iya, Sayang. Aku juga bakal jaga kesehatan kok."
"Oh ya, kemarin kamu sama Ansel ngobrolin apa? Betah banget sampai berjam-jam."
"Valen. Katanya dia pernah lihat Valen bareng sama cowok dan cowoknya ini kayaknya protect si Valen banget gitu. Jadi, dia penasaran."
Mendengar penjelasan Gezra, Zevia membulatkan mulutnya. "Valen nggak pernah cerita kalau dia ada pacar baru."
"Ya, aku juga bilang gitu ke Ansel. Tapi dia kayaknya mau cari tahu sendiri."
"Coba nanti aku tanyain ke Valen, deh."
Gezra mengangguk. Jemarinya meraih remote TV dan menyalakannya. Meski sebenarnya sangat malas menonton TV di pagi hari karena acatanya sudah pasti acara rumpi.
"Pernikahan yang megah antara Sutradara dengan Model memang menjadi berita hangat dan sedap untuk diikuti. Simak kisahnya dalam acara Rumpi Bareng Hani."
Mendengar acara TV yang baru saja muncul, Zevia beranjak bangun dari tidur. Ia menyambar remote yang ada di genggaman Gezra dan mengalihkannya ke channel lain—channel yang disewa khusus untuk pernikahan Sherlyn dan Frendo.
"Seru, nih. Pernikahan Sutradara sama Model cantik terkenal."
"Seru darimananya sih? Nikah ya cuma gitu doang."
Tanpa mempedulikan cemoohan Gezra, Zevia tetap fokus melihat akad nikah dari pasangan yang tengah berbahagia itu. Tak bisa dipungkiri, Zevia sangat mengagumi seorang Sherlyn dengan wajah cantik dan hatinya yang baik.
"Kira-kira, pernikahan mereka bikin orang lain patah hati nggak ya?"
"Bukan urusan kamu, Zev. Nggak usah mikie aneh-aneh."
"Cuma kira-kira doang kali. Ih, ngegas mulu deh."
"Udah, ah. Aku bikinin cemilan biar kamu nggak kurang gizi lagi."
"Aku udah kegemukan, Sayang."
"Mau cemilan apa?"
"Eumh, nggak mau ah," tolak Zevia.
"Mau cemilan apa?" tanya Gezra untuk kedua kali. Dirinya sudah siap memakai celemek pink favoritnya.
"Yang kayak kemarin aja. Bola-bola mie sama kentang goreng."
Gezra terkekeh mendengar request itu. "Katanya mau diet, tapi mintanya yang berlemak. Dasar, Mak Lampir kesayangan."
***