▪️5▪️

2008 Kata
*** Suasana kantin perusahaan terasa penuh dengan gosip masing-masing. Mereka sibuk mengoceh sekaligus mengunyah yang menjadikan pemandangan menjadi kurang sedap dinikmati. Namun, Valen tak mempedulikan hal itu. Perasaan kesal mendominasi pikirannya. "Sial, sial, sial. Kenapa lo nggak kena? Sedangkan gue yang kena?" gerutu Valen kesal. Vanila latte favoritnya harus terabaikan karena rasa jengkelnya dengan seseorang berhasil membuat semua rasa terasa pahit. Ollin tertawa renyah. Raut wajah kesal Valen membuat perutnya tergelitik gemas. Ada rasa bersalah juga bersarang di hati, namun ia juga lega karena hukuman tak menimpa padanya. Tapi ia berpikir bahwa hukuman itu hanya sebuah alibi dan Dileon memiliki maksud lain dari hukuman yang menimpa Valen. "Lin?" "Hm?" Ollin hanya berdeham menanggapi panggilan gadis yang sedang sibuk menatap ponsel itu. Valen seperti sedang mendapat sebuah tontonan luar biasa menakjubkan. Membuat Ollin ikut penasaran. "Lihat deh." Valen menyodorkan sebuah postingan StoryGram. Di postingan itu ada sebuah foto seorang gadis bergaun putih selutut dan berpose dengan anggun. Ada sebuah buket mawar merah di tangan kanannya. Caption yang tertera hanya menampilkan sebuah cincin. Valen dan Ollin yang awalnya saling beradu tatap, tiba-tiba saja mereka menajamkan kedua telinga mereka sehingga gosip-gosip yang sedari tadi terdengar sebagai dengungan kini menjadi semakin jelas. Beberapa saat, mereka terdiam dan fokus dengan pembicaraan di sekitar. Setelah memahami topik yang ternyata menjadi buah bibir orang sekota, Valen dan Ollin kembali memandang satu sama lain. "Kita harus cari si Bos!" Ollin mengangguk setuju. Mereka punya firasat buruk soal itu. "Gue jadi takut kalau si Bos bunuh diri." "Amit-amit, Val. Jangan sampai. Nanti dia gentayangan di kantor! Gue nggak mau!" "Ih, amit-amit. Jangan sampai deh!" Alhasil, mereka langsung mempercepat langkahnya untuk menemukan keberadaan Dileon. *** "Kyra?" Gadis berambut hitam legam itu tersenyum hingga menampilkan lesung pipi yang manis. Siapapun akan terpesona jika melihatnya. Tapi ... tidak untuk Gezra—lagi. Di depan pintu lift yang masih terbuka karena menunggu beberapa orang bersesalan untuk masuk, Zevia dan Kyra asyik bercakap ringan. Sedangkan Gezra hanya diam dan melihat sang istri yang sangat antusias berbincang dengan sang mantan. "Jadi, sekarang lo sibuk thesis. Semoga cepet kelar deh." Zevia tampak tersenyum begitu lebar. Seperti tak ada cemburu seperti dulu. Melihat hal itu, Gezra mendengus kesal. Seolah berpikir bahwa Zevia memang sudah sangat yakin jika Kyra benar-benar melepaskan masa lalu mereka. Padahal kenyataannya, ah, Gezra berharap Kyra akan segera mengakhiri aksi gilanya. "Semoga. Oh ya, kamu sama Gezra ngapain bawa banyak barang ke rumah sakit? Ada yang dirawat di sini ya?" tanya Kyra setelah menyadari jika bawaan kedua orang itu terlaly mencolok. "Ah, gue abis dirawat di sini. Tapi udah baikan sih sekarang." Zevia menjelaskan tentang keberadaannya di rumah sakit. Kyra sedikit terkejut. Matanya hampir membulat total saat mendengar jawaban Zevia. "Kamu? Kamu sakit apa, Zev?" tanya Kyra tak menyangka. "Ra," sela Gezra sebelum Zevia menjawab pertanyaan Kyra. "Sorry. Zevia masih butuh istirahat. Jadi, gue sama Zevia balik duluan ya." Tanpa menunggu jawaban dari Kyra, Gezra langsung mengenggam tangan Zevia di antara genggaman tas-tasnya yang lain. "Emh,sorry ya, Ra. Gezra emang sekarang agak posesif. Gue duluan ya! Bye, Ra! Kapan-kapan ketemu lagi ya!" Zevia melambaikan tangannya pada Kyra sembari terburu mengikuti langkah Gezra yang sulit diimbangi. Langkah mereka pun tertuju ke parkiran di mana mobil Gezra berada. Terik mentari yang mulai meninggi membuat Zevia menyipitkan kedua matanya saat memandang sang suami heran. Sikap Gezra yang tiba-tiba berubah membuat Zevia sedikit merasa penasaran akan apa yang sudah terjadi. Ia yakin, ada sesuatu yang ia tak ketahui. "Gez." Sembari terus melangkah menyusuri parkiran, Gezra hanya berdeham membalas panggilan Zevia. "Kamu kenapa? Kayaknya tadi pas ketemu sama Kyra, kamu jadi aneh. Ada yang kamu sembunyiin?" Langkah Gezra mendadak terhenti. Membuat Zevia mengikutinya. Sosok itu berbalik dan menatap Zevia yang sudah menatapnya sejak tadi. "Nggak ada apa-apa. Aku cuma nggak mau aja kalau kamu kecapekan gegara ngobrol sambil berdiri kayak tadi." Alisnya terangkat sebelah. Heran. "Hah? Alasanmu aneh banget tau nggak sih." Tanpa mengatakan apapun, Gezra kembali menggandeng Zevia dan akhirnya sampai di tempat tujuan—mobil. Gezra tampak sibuk dengan segala macam bawaan mereka dan memasukkannya ke bagasi. Sedangkan Zevia asyik dengan kaca jendela mobil dan memasang beberapa ekspresi aneh seperti biasa. "Gez, aku penasaran deh. Kira-kira Kyra udah punya calon apa belum ya? Dia kan udah lama banget nggak ngabarin aku. Jadi, aku nggak tau dia udah ada calon apa belum. Masa dia betah banget ngejomblo setelah putus sama kamu sih. Atau jangan-jangan dia masih gagal move on dari kamu?" Setelah memasukkan semua barang ke bagasi, Gezra pun menutupnya. Keringat yang bercucuran karena teriknya mentari membuat Zevia dengan sigap mengelap peluh dengan sapu tangan yang terselip di tas kecil. Gezra tersenyum tipis melihat sikap itu. Meski sudah menjadi hal yang biasa, namun baginya selalu menjadi hal yang istimewa. "Kamu nggak perlu mikirin orang lain. Yang perlu kamu pikirin cuma satu." Kening Zevia mengerut heran. "Apa? Kamu?" "Kalau mikirin aku itu udah kewajiban. Nggak boleh diabaikan. Ini hal lain yang perlu kamu pikirin." "Apa?" "Kesehatan kamu. Jadi, masalah Kyra udah punya calon atau belum, nggak usah kamu pikirin terlalu berat. Lagipula juga bukan urusan kita lagi, kan?" Zevia hanya mengangguk pelan. Sebenarnya ia memang penasaran dengan hubungan Kyra. Sebab, gadis itu adalah mantan kekasih suaminya. Ia hanya mengkhawatirkan satu hal, yaitu gagalnya move on sang mantan. *** "Vran, gue bosen. Lo ada waktu nggak? Kita jalan, yuk." Sembari menatap langit-langit kamar, Emma bercakap dengan Vranda via telepon. "Gue lembur, nih. Jadi nggak hisa hari ini. Kalau besok gimana? Gue ambil libur sehari abis lembur hari ini." Terdengar suara Vranda dari arah sana. Suara kertas dan ketikan keyboard terdengar hingga ke telinga Emma. "Oke, deh. Lagipula gue udah ada stok buat daily update. Jadi, besok gue bisa nyantai dulu." "Udah dulu, ya, Em. Gue ribet, nih." PIP Panggilan antara keduanya pun berakhir. Emma yang semula bosan, semakin bosan setelah teman-temannya sibuk dengan dunia mereka masing-masing. "Kira-kira Zevia sibuk nggak ya? Apa dia udah balik dari rumah sakit? Gue telepon aja deh." Kegabutannya pun terlampiaskan dengan menelepon seorang istri rumah tangga yang baru saja bernotabene sebagai pengangguran. Beberapa saat panggilan dalam posisi terhubung, akhirnya seseorang pun mengangkatnya. "Halo? Gimana, Em?" tanya Zevia saat mengangkat panggilan darinya. "Lo di mana, Zev? Udah pulang apa masih di rumah sakit? Gue gabut banget nih." "Gue udah balik, nih. Baru aja sampai di rumah. Sini main ke rumah aja." Emma terdiam sejenak. "Oke, deh. Daripada gue gabut seharian." "Bawain makanan, ya. Gue nggak masak." "Mau makan apa?" "Emh, bawain ayam goreng krispi aja." "Lo sama Gezra?" "Gue aja. Katanya Gezra mau pergi ketemuan sama si Ansel." "Oke, gue segera ke sana." *** Beberapa saat sebelum Emma menelepon. . . Setelah beberapa saat berlalu, perjalanan mereka pun berakhir. Dengan sigap Gezra langsung membawa semua barang masuk ke dalam rumah dan membereskannya dengan segera. Sedangkan Zevia hanya duduk di ranjang sembari mengamati sang suami yang asyik beberes dan melarangnya untuk ikut campur dalam urusan bersih-bersih pasca sembuh dari sakit. "Gez, aku udah sehat, kok. Aku bantuin aja ya." Gezra menggeleng. Ia yang sedang asyik melipat baju dan memasukkannya ke dalam lemari pun menoleh untuk sesaat. "Seminggu ke depan, aku yang bersih-bersih rumah. Setelah itu, baru kita bagi tugas lagi." "Tapi kamu, 'kan, kerja. Nanti kamu yang kecapekan terus sakit, gimana? Kalau kamu sakit, yang nyakitin aku siapa ntar?" PLUK Alhasil sebuah baju melayang dan mengenai wajah imut Zevia. Membuat sosok itu memanyunkan bibirnya kesal. Sedangkan Gezra hanya menjulurkan lidahnya mengejek. "Rese banget." "Suruh siapa ngoceh yang aneh-aneh." Gezra kembalu fokus melipat pakaian dan membereskannya segera. "Zev, abis ini aku mau ketemu sama Ansel bentar nggak apa-apa, kan?" "Mau ngapain?" "Katanya dia mau curhat masalah Valen." Zevia membulatkan mulutnya dan ber'oh'ria. "Oke, tapi jangan pulang kemaleman ya." "Siap, Istriku." Drrtt Getar ponsel membuatnya mengalihkan perhatian. Ia pun melihat nama yang tertera di layar dan langsung mengangkatnya. "Halo? Gimana, Em?" *** Emma hanya menggeleng pelan dan tersenyum tipis melihat sang sahabat makan dengan lahap. Dua porsi ayam krispi dengan nasi dan segelas thai tea hampir terlahap habis tanpa sisa. Zevia benar-benar terlihat kelaparan. Padahal ia yakin jika Gezra takkan membiarkan kelaparan menyerang istri tercintanya. "Lo kayak nggak makan dua bulan tau nggak sih?" Zevia terkekeh. Ia merasa sangat kenyang sekarang. Setelah makan makanan rumah sakit yang hanya terasa hambar dan manis. Bahkan tekstur lembut membuatnya mual sebelum menikmati. "Makanan rumah sakit itu nggak ada nikmatnya sama sekali. Lo paham lah." "Yeah, i know." "Bye the way, tumben banget lo gabut? Biasanya juga asyik nulis mulu dari pagi, siang, malem." Emma mendesah pelan. Tampak kegelisahan di raut wajah blasterannya. Seperti ada yang sedang singgah di pikiran dan sudah pasti meresahkan. "Cerita aja kalau lo lagi ada masalah." Zevia bangkit dari meja makan dan membawa kotak nasi yang sudah habis terlahap. Dibuangnya kotak nasi itu dan ia pun mengambil dua kaleng minuman dari kulkas. Lalu kembali ke meja makan di mana Emma sedang galau di sana. "Nih, santai dulu. Abis itu ceritain apa yang bikin lo resah gelisah kayak gini." Sebelum memulai menceritakan apa yang membuat hatinya terasa gundah, Emma meneguk sekaleng minuman yang diberikan oleh tuan rumah. "Bokap sama nyokap gue ... mereka mulai rebutin gue lagi." *** Senja kembali hadir. Menghiasi langit sore yang indah setiap kali menyambut rembulan tiba. Lalu lalang kendaraan kota membuat riuh suasana. Namun, tak menghalangi para burung untuk berkicau bahagia menyambut malam yang tenang. Secangkir Americano hampir terseruput habis. Menyisakan pahit yang mengambang di mulut. Entah sudah berapa kali Gezra terkekeh melihat keresahan yang menggelayuti seorang CEO mantan saingannya itu. Meski tampang oke dan kekayaan melimpah, seorang CEO yang ada di hadapannya kini hanya tergila-gila oleh satu gadis. Gadis yang bahkan berusaha untuk terus menghindar dari kejarannya. Mengenaskan. "Zevia nggak pernah cerita kalau Valen udah dapet pengganti gue?" Pertanyaan yang sama kembali terucap. Jawaban yang sama pun kembali terlontar dari mulut Gezra. "Nggak pernah." "Kalau cowok itu bukan pacarnya, terus kenapa dia campur tangan urusan gue sama Valen?" tanyanya entah kepada diri sendiri atau pada sosok yang sekarang asyik menyuruput Coffe Latte-nya. "Kali aja bukan pacar. Tapi calon." Ansel tersentak. Ia menatap Gezra yang menyeruput kopinya dengan santai setelah mengatakan hal yang menyebalkan. "Anjirr, lo nggak bikin gue tenang malah nambahin pikiran." "Itu perkiraan doang. Lagipula kalau Valen udah ada pengganti lo, dia pasti cerita ke Zevia." Ansel menggersah kasar. Entah mengapa hatinya hanya terpaku pada satu cinta. Cinta yang bahkan sulit untuk kembali menerima kembali hadirnya. Namun, ia takkan pernah berhenti untuk mengambil kembali hati seorang Valen. Sebab, hanya Valen yang mencintainya tanpa memandang siapa dirinya. Selain itu, ada satu keyakinan jika Valen masih belum mampu melupakan kenangan mereka di masa lalu. "Gez, boleh gue minta tolong satu hal sama lo?" "Apa?" *** Saat semua karyawan telah bersiap untuk pulang setelah menyelesaikan pekerjaan, Valen masih sibuk merevisi kerjaan tambahan untuk lembur. Perusahaan tempatnya bekerja memberlakukan jam kerja hanya tujuh jam untuk karyawan di luar divisi Editorial dan memiliki dua shift bagi mereka. Sedangkan untuk divisi Editorial memiliki jam kerja sepuluh jam dalam sehari dengan waktu istirahat tiga jam untuk makan siang dan aktivitas lainnya. Saat ini Valen akan menjalani hukuman dengan bekerja lembur. Arti lembur untuk perusahaan hanyalah memperpanjang waktu bekerja dengan tambahan tiga jam setelah waktu jam kerja usai. Sehingga Valen harus tetap berada di perusahaan hingga tiga jam kerjanya usai. "Setelah revisi daftar naskah yang udah gue kirim ke spreadsheets, lo boleh pulang." Sepuluh daftar naskah terpampang nyata di spreadsheets khusus revisi. "Gila. Sepuluh naskah dalam waktu tiga jam?" gumamnya. Matanya melirik sekilas ke arah sang Bos yang duduk termenung menatap kaca jendela yang mengarah ke perkotaan di malam hari. "Bos, lagi galau gegara mantan nikah ya?" celetuk Valen asal. Tapi tepat sasaran. Dileon tersenyum getir. Teringat janji manis yang pernah ia terima dan jaga dengan baik. Namun, pada akhirnya terkhianati oleh kepahitan. "Besok dia nikah dan gue diminta untuk datang." Valen terdiam dan masih memaku tatap pada sosok yang berbicara padanya namun pandangannya kosong entah ke mana. "Len." Tiba-tiba kedua mata setajam elang itu melempar pandang ke arah Valen. "Gue butuh bantuan lo." "Bantuan apa?" Rasa khawatir mulai menyerang pikirannya. Ia tahu maksud dari tatapan Dileon dan itu membuatnya sangat tak nyaman. "Jadi pacar gue." "Hah?!" ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN