"Aku bilang kamu pergi Kei. Kamu masih bisa denger omongan aku kan? Pergi!"
-Reihan Aldric-
----
Plak.
Riska menampar Keira dengan sangat keras. Bahkan suara tanganya saat menampar pipi Keira terdengar di ruangan itu.
Dengan refleks Keira memegang pipinya. Dia menatap Riska yang masih memancarkan kemarahan kepadanya.
"Lo.. Berani sekali lo nampar gue. Gue akan bilang semuanya sama Reihan. Biar dia tau sahabatnya yang selama ini memasang wajah lugu didepannya, ternyata seorang iblis!"
Keira berjalan melewati Riska, tapi Riska memegang tangannya dan menjambak rambutnya kuat. Keira berusaha untuk melepaskan jambakan itu..
Tapi bukan hanya rambut yang dijambak oleh Riska, bahkan dress yang dipakai Keira menjadi sasarannya. Dress lengan panjang itu robek di bagian lengannya.
"Lo gila Ris. Lepasin gue bilang!"
Tapi bukannya melepaskan Keira, Riska semakin memperkuat tarikan di rambut keira.
Keira akhirnya mengumpulkan kekuatan yang dia punya untuk mendorong Riska. Riska terjatuh di lantai ruangan itu. Keira berjalan mendekati Riska yang terduduk, tapi sebelum dia hendak membalas perbuatan riska, pintu ruangan itu terbuka.
Keira melihat siapa yang memuka pintu itu. Dia terkejut melihat Reihan berdiri dengan pandangan tajamnya.
Reihan berjalan melewati Keira dan membantu Riska berdiri.
"Rei.. kamu tau di-"
"Kamu boleh pergi Kei." Keira tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Reihan mengusirnya? Bahkan tanpa tau apa yang terjadi.
"Rei sahabat kamu itu yang duluan cari perkara sama aku Rei.. aku bahkan enggak nyentuh dia, aku hanya dorong dan kamu datang. Kamu haru-" Reihan kembali menatap Keira tajam.
"Aku bilang kamu pergi Kei. Kamu masih bisa denger omongan aku kan? Pergi!"
Tanpa sadar air mata Keira turun. Dia tidak dapat percaya jika Reihan, membela sahabatnya. Tanpa tau kebenaran.Keira dapat melihat Riska tersenyum. Tersenyum kemenangan.
"Akan aku pastiin kamu nyesel udah ngusir aku dari sini Rei!"
Keira berjalan mengambil tasnya dan keluar dari ruangan itu. Reihan yang Keira harapkan untuk membelanya, malah sebaliknya. Reihan bahkan mengusir dirinya didepan Riska.
Keira berjalan dengan menundukkan kepalanya. Dia bahkan tidak sanggup untuk menganggat kepalanya sekarang. Ingin sekali Keira berteriak dan melampiaskan semua kekesalannya sekarang.
Keira berjalan dengan cepat. Tapi langkahnya berhenti ketika seseorang menahan lengannya. Dan ketika Keira melihat siapa orang yang menghentikan langkahnya itu, Keira langsung memeluk erat orang itu.
Menyembunyikan wajahnya kedalam d**a bidang pria yang ada didepannya ini.
"Bawa gue pergi dari sini Lex!"
---
"Aaakkhhhhhh..."
Keira berteriak dengan sangat kuat. Melampiaskan semua kekesalannya tadi. Dan untungnya hanya ada dia dan Alex di sini. Disebuah danau buatan. Danau yang sangat sering Keira dan Alex kunjungi.
Sedangkan Alex dia hanya diam menatap Keira. Dia tau jika saat ini berani Alex hanya untuk menemani Keira dan mendengar semua curhatan yang akan Keira keluarkan nantinya.
Sebenarnya ingin sekali Alex untuk memeluk wanita yang ada disampingnya ini. Menghapus air mata dan kekesalan wanita ini. Tapi Alex hanyalah teman. Teman yang harus mengingat di mana posisinya. Dia tidak mungkin untuk melakukan itu semua. Karena posisi yang selalu dia harapkan, sudah diambil oleh sahabatnya sendiri.
"Gue salah apa sih Lex sama dia? Kenapa dia selalu ngangep gue ini musuhnya? Dan bahkan pria yang selalu gue banggakan, pria itu bahkan enggak bela gue Lex, jangankan bela bahkan untuk dengerin penjelasan gue dia enggak mau. Gue ini apa Lex? Gue tau dia sayang banget sama sahabatnya tapi dia harus denger penjelasan gue kan Lex? Iyakan??"
Alex menghapus air mata Keira. Mengelus pipi lembut Keira dengan sayang.
"Gue enggak tau ceritanya gimana. Tapi yang gue tau, Reihan, pria bodoh itu terlalu takut untuk memilih kalian berdua. Memilih sahabatnya atau cintanya. Dia terlalu takut untuk menyakiti hati salah satu diantara kalian Kei. Dan yang gue tau tentang dia, dia akan membela orang yang menurut dia terlalu rapuh. Dan jika dia menyuruh lo untuk pergi, berarti menurut dia lo itu kuat Kei. Lo bisa mengalah. Mengalah bukan berarti kalah kan Kei?"
Keira menganggukkan kepalanya dan memeluk Alex.
"Gue belum bisa untuk maafin dia Lex. Gue cinta sama dia."
"Gue juga cinta sama lo Kei." Ingin sekali Alex mengatakan. Itu. Tapi bukan itu yang keluar dari mulutnya. Melainkan..
"Dan dia pasti tau itu!"
Tanpa mereka berdua sadari, Reihan mendengar dan melihat apa saja yang sedang mereka lakukan. Tapi dia hanya diam dan bersembunyi di tempatnya. Tanpa mau menggangu kedua orang itu.
----