Bagian 10

826 Kata
"Akh lebih tepatnya gue jatuh cinta sama lo." -Alex- --- "Sayang Reihan mau ketemu sama kamu dibawah. Sana jumpai!" Bunda Keira berjalan mendekati kasur Keira. "Bilang Keira lagi males ketemu sama dia Bun." Bunda tersenyum dan mengelus puncak kepala Keira. "Kalau ada masalah itu dibicarain baik-baik sayang. Jangan emosi. Kalian itu udah dewasa." Keira duduk dan memeluk Bunda. "Keira kesal Bun. Reihan enggak pernah ngerti perasaan Keira." "Kalau dia enggak ngerti perasaan kamu, untuk apa dia kesini sayang? Udah sana bicara baik-baik sama Reihan." --- Dan mau tidak mau, Keira menemui Reihan dengan mood yang kurang bagus. Keira bahkan tidak mau melihat ke arah Reihan. Dia mengedarkan pandangannya ke segala arah. "Keira aku rasa tadi ada kesalahpahaman. Aku tau tadi aku terlalu kasar sama kamu. Maaf." Keira masih saja memandang kesegala arah. "Kei.. maaf." Keira akhirnya menatap Reihan. Ada linangan air dimatanya. Padahal Keira sudah menahannya agar air matanya tidak jatuh. "Aku ini.. kamu anggap apa sih Rei?" "Kei--" "Kamu selalu aja belain sahabat kamu itu. Oke aku tau kalau kamu enggak mau bikin dia sakit hati atau apalah itu. Tapi aku juga punya hati Rei! Kamu bahkan enggak mau denger penjelasan aku. Aku ini kamu anggap apa?" Keira tidak perduli lagi dengan air matanya yang akan jatuh atau tidak. Dia hanya ingin mengungkapkan segalanya. Reihan mendekat kearah Keira. Dia berpindah duduk tepat disampingnya Keira. Mengusap pipi Keira sekaligus menghapus air matanya. Reihan menatap mata Keira dengan penuh penyesalan. Dia tau dia yang salah disini. Dia terlalu membela Riska saat itu. "Jangan nangis Kei. Aku enggak bisa lihat kamu kaya gini. Aku tau aku salah. Tapi tolong jangan buang air mata kamu karena aku." "Kalau kamu gak mau aku buang air mata aku karena kamu, kamu jangan seperti ini Reihan. Aku mohon.. jahui Riska." "Itu mustahil Keira. Aku enggak mungkin jahui sahabat aku sendiri." "Sahabat kamu bilang? Enggak ada antara pria dan wanita yang namanya sahabat Rei, gak ada!" "Kamu ini kenapa Kei? Kenapa setiap kita bertengkar kamu selalu aja bawa nama Riska?" Keira menghela nafas panjang. Dia menatap Reihan dalam dan menengah tangan hangat milik Reihan. Keira tersenyum menatap Reihan. "Kita udahan aja ya Rei." "Maksud kamu, kamu mau kita putus? Kei aku enggak tau kenapa kamu tiba-tiba ngambil keputusan kaya gini. Kita sering bertengkar seperti ini kan?" "Karena itu Rei. Aku bosan kita bertengkar terus dan alasannya selalu itu-itu aja. Aku gak tau lagi mau gimana sama kamu. Aku bosan ngalah terus Rei. Aku mau kamu ngebelain aku sekali aja. Tapi apa yang aku dapat? Jadi aku pikir kita udahin aja hubungan kita ini. Aku masuk ke kamar dulu." Keira akhirnya meninggalkan Reihan sendiri di ruang tamu rumahnya. Sedangkan Reihan dia hanya bisa menatap kepergian Keira, tanpa melakukan apapun. --- Keira menatap sekeliling restoran yang lumayan mewah tersebut. Mencari seorang pria yang sudah menunggunya beberapa menit yang lalu. Keira tersenyum ketika mendapatkan seorang pria yang melambangkan tangannya kearahnya. Keira segera berjalan kearah pria tersebut dan duduk di depannya. "Maaf lama." Keira membuka  percakapan mereka dengan meminta maaf terlebih dahulu. Dia sadar betul, padahal dia yang mengajak pria tersebut untuk jumpa, tetapi malah dia yang terlambat. "Santai aja kali Kei. Gue udah biasa kok nunggu." Keira menaikkan satu alisnya. Tersenyum geli mendengar jawaban dari pria yang ada didepannya ini. "Memang sih. Terlihat jelas dari wajah Lo itu Lex. Nunggu yang tidak pasti. Makannya nih gue saranin ya, kalo itu cewek gak mau sama lo udah gak usah ditungguin, lepasin aja. Kalo kata orang-orang mah, masih banyak ikan di laut." "Iya sih Kei. Tapi gimana dia aja enggak tau perasaan gue ke dia." "Ckckck... Lo ini memang pengecut ya. Nih ya Lex kalo lo suka sama orang yang Lo nyatian. Urusan dia bales ya itu belakangan. Yang penting lo udah ngasih tau ke dia perasaan Lo. Jadi nanti lo harus ngasih tau dia, oke?" "Tapi dia udah ada yang punya, udah mau tunangan, udah mau nikah lagi. Gimana dong?" Keira menggeleng-gelengkan kepalanya. Menatap kasihan kepada Alex. Keira memengang tangan Alex. "Lex.. ikhlasin aja ya itu cewek. Gak bagus.. udah nanti gue bantu cariin aja tenang aja Lo. Kasih tau gue gimana tipe ideal Lo?" Alex nampak sedang memikirkan tipe idealnya. Dia menatap Keira dan tersenyum. "Dia pintar dan cerdas, pastinya sabar, rambut panjang, kalau senyum itu manisnya minta ampun, tutur katanya lembut. Segitu aja dulu deh. Soalnya kalau di bilang lagi panjang nantinya." "Panjang ya tipe ideal Lo itu. Gak ada simpel gitu atau spesifiknya aja deh kasih tau gue." Lagi Alex nampak berpikir keras. Dia menatap serius kerah Keira. Bahkan Keira saat itu sedikit terkejut melihat tatapan serius dari Alex. Untuk yang pertama kalinya Alex menatapnya seperti itu. Keira kembali terkejut setelah mendengar Alex mengucapkan tipe idealnya itu . "Oke.. spesifiknya yaaa kaya elo." Keira hanya bisa diam sesaat. Tidak ada yang yang bicara diantara mereka. "Gue?" Keira kembali memastikan. "Iya kaya elo. Gue suka sama lo Kei." Satu fakta lagi yang Keira ketahui dari Alex. "Akh lebih tepatnya gue jatuh cinta sama lo." ---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN