bc

Maaf Gus, aku gak cinta!

book_age18+
5
IKUTI
1K
BACA
billionaire
BE
age gap
opposites attract
stepfather
bxg
witty
campus
multiple personality
like
intro-logo
Uraian

Dinikahkan secara paksa, masih berusia amat muda. Sikap kekanak-kanakan Zahra tidak lantas membuat Gus Yusuf patah semangat dalam menaklukkan hati gadis tersebut.Ia akan berjuang. Setelah dihalalkan.Ia akan berusaha, setelah Arsy diguncang oleh ijabnya."Maaf Gus, aku gak cinta!""Nanti akan kubuat cinta. Siapa suruh kamu menggoda!""Siapa yang menggoda? Gus saja yang m***m! Masa nikahin aku cuma karena melihat rok yang tersingkap? Tidak masuk akal!""Cinta dan jodoh memang kadang di luar nalar, Zahra. Tapi jika takdir, mau bilang apa? Buktinya sebentar lagi kita duduk di kursi pelaminan yang sama."*Gus Yusuf — Zahra.*

chap-preview
Pratinjau gratis
Kedatangan Tamu
“f**k you and your mom and your sister and your job And your broke-ass car and that s**t you call art Fuck you and your friends that I’ll never see again Everybody but your dog, you can all f**k off.” Seorang gadis berseragam putih abu yang rok abunya telah berubah bentuk dan warna, tak lagi berbentuk rok. Melainkan telah berubah menjadi celana. Berjalan penuh ceria memasuki halaman rumah sederhana yang ia tinggali. Tatapannya sedikit terganggu, terpaku pada dua pasang sandal bagus yang berjajar di depan pintu. Ada juga satu pasang sepatu. "Ada tamu di rumah? Siapa?" tanya gadis itu di dalam hati. Senandung lagu di bibirnya jadi terhenti. Pada akhirnya gadis tersebut memilih untuk cuek, tidak memikirkan dan tidak ingin terbebani. "Paling juga tamu Bapak. Atau tamu Ibu." Ia lanjut membuka sepatu miliknya sendiri, meletakkannya di rak samping pintu. Lanjut masuk ke dalam rumah sambil terus bersenandung kecil seraya terus berdendang kaki. Sesekali siulan terlepas dari bibir yang ia manyunkan. “Nah, nah, nah, nah, nah, nah, nah, nah A-B-C-D-E, F-U And your mom and your sister and your job And your broke-ass car and that s**t you call art Fuck yo—uuuu..., and..., your—,” Lantunan lagu terhenti setelah direm paksa. Banyak mata terbelalak. Mata kedua orang tua Zahra, juga mata para tamu. Mata Zahra tidak ketinggalan. Apalagi saat mengatakan ‘f**k you’, pandangan dan tangannya secara tidak sengaja menembak, menunjuk ke arah salah satu pemuda yang juga menjadi tamu Bapak dan Ibu saat itu. “Astagfirullah, Zahra! Bicara apa kamu barusan?! Ya Allah, Pak. Anak gadismu, Pak!” Halimah bangkit langsung memukuli putrinya yang bertingkah tidak beradab di depan tamu agung mereka. “Aduh, aduh. Sakit Ibu!” “Sudah berapa kali Ibu bilang, utamakan salam kalau masuk rumah. Bukan nyanyi-nyanyi gak jelas kayak barusan. Pake nunjuk-nunjuk tamu sambil ngumpat kayak gitu.” “Aduh, Ibu. Sakit. Ampun.” Zahra berlari mencari perlindungan di balik tubuh Bapaknya. Ramlan menghela nafas panjang, menekan rasa malu saat tubuhnya dibuat menjadi tameng pertempuran anak dan isterinya. “Hush, sudah sudah, Bu! Ibu juga berhenti. Malu dilihat Pak Kiyai sama Bu Nyai. Maasyaa Allah. Maafin keluarga saya ya Pak Kiyai, Bu Nyai, Gus juga.” “Ibu tuh, Pak. Sakiit!” rengek Zahra. Masih meminta perlindungan kepada Ramlan. Para tamu di depan mereka mengulum senyum, menahan diri untuk tidak tertawa. “Ibu, berhenti! Zahra juga, ulangi dari awal. Masuk rumah ucapkan salam.” “Ii–iya Pak!” Dengan gerak kikuk, Zahra berjalan mundur untuk menjalankan hukuman. Selalu seperti itu, kalau ia masuk rumah tapi tidak mengucapkan salam. Kalau kata Halimah, “Kayak kucing saja! Masuk tidak mengucap salam”. Pedahal kucing itu kalau masuk suka ‘ngeong-ngeong’. Artinya dia mencari Zahra, minta dielus dan digendong. Kalau kata Ramlan, “Bala dan Syetan yang terbawa dari luar akan ikut masuk ke dalam rumah. Dengan mengucapkan salam, semua yang buruk itu akan tertinggal di luar rumah”. Nah kalau alasan yang ini masih bisa Zahra terima. Rasanya memang beda sih, kalau masuk rumah pake salam sama enggak. Kerasa banget perbedaannya waktu ninggalin mereka di depan pintu atau ikut membawa mereka masuk. Bawaannya adem tentrem di rumah. Halimah juga jadi jarang ngomel dan menghukum. Beda kalau Zahra lupa baca salam. Seperti barusan. Lihat sendiri kan, barusan? Zahra langsung dapat pukulan. Ih, Ibu malu-maluin Zahra saja. Masa mukul sama marahnya di depan banyak orang. Zahra kan malu. Masa anak perawan di gituin. Bisa menurunkan nilai jual tauuu! “Assalamualaikum, Bapak, Ibu. Zahra pulang. Eh, ada tamu. Assalamualaikum!” Zahra mengulang semua dari awal. Pergi ke luar rumah untuk bisa melewati pintu dan mengucap salam di sana. Sedangkan Ramlan dan Halimah di dalam, berkali-kali meminta maaf kepada tamu mereka. “Gak apa-apa. Ketawa saja, Pak Kiyai, Bu Nyai. Gus juga gak apa-apa, ketawa. Zahra memang lucu-lucu gemesin anaknya. He he. Aduh Pak!” Halimah meringis. Satu cubitan mulus mendarat di pinggangnya secara tersembunyi. Itu artinya sang suami meminta dirinya untuk diam juga. “Walaikumussalam. Eh, ini dia anaknya sudah datang. Masuk, masuk sini Nak! Sini duduk yuk!” Halimah bangkit dari duduk. Menyambut kedatangan putrinya. Seolah kekonyolan tadi tidak pernah benar-benar terjadi. “Assalamualaikum, Ibu.” Zahra mendekat, meraih punggung tangan Halimah. Saat mengecup takzim, ia memiringkan kepala. Matanya memicing tajam menatap salah seorang tamu di depan Ramlan. Langsung saja Zahra mendekatkan wajahnya ke telinga sang ibu dan berbisik, “Ada apa, Bu? Kenapa mereka...,” Belum sempat Zahra melanjutkan pertanyaan, Halimah menepuk bahu putrinya. Wanita usia matang itu melempar senyum segan kepada tamu-tamunya yang masih setia duduk bersila dan menekuk lutut di atas karpet butut milik mereka. Rumah itu baru ditempati. Belum sempat di isi perabot rumah tangga yang tidak terlalu penting. Halimah dan suami memilih untuk fokus melengkapi peralatan kamar dan dapur terlebih dahulu dibandingkan hal lain yang masih bisa ditunda pembeliannya. “Kita kedatangan Pak Kiyai, Bu Nyai, sama putranya, Gus Yusuf. Ayo Zahra, salim!” terang Halimah. Ia meminta putrinya menyambut tamu mereka dengan baik dan sopan. Zahra menghembuskan nafas panjang. Mata tajamnya masih menyoroti tamu muda di antara mereka. Senyum manis yang terasa amat dipaksakan berusaha ia jaga untuk tetap nangkring di wajahnya. Karena tamu Bapak dan Ibunya Zahra bukan orang sembarangan. Mereka pemimpin pondok pesantren tempat Ramlan bekerja. Pak Kiyai, Bu Nyai, Dan..., Oh, jadi dia putra pemilik pesantren. Rahang Zahra kian bergerak-gerak menahan geram. "Ayo, Zahra!" kata Halimah lagi. Zahra mengangguk. Tidak mungkin membatah Halimah di depan orang yang membuat kedua orangtuanya tersebut sedikit menunduk-nunduk saat berbicara. Ia mulai menyalami tangan bapaknya terlebih dahulu, dilanjut menyalami Bu Nyai. Wanita berjilbab panjang itu tersenyum ramah. Balutan pakaian syar’i yang dikenakan membuatnya terlihat begitu anggun. Tangan Bu Nyai menyapu lembut kepala Zahra. Kemudian terkekeh pelan melihat jilbab gadis itu sudah separuh terbuka. Ujung kain di kedua sisinya terselip di telinga. Bahkan rok seragam gadis itu telah berubah menjadi celana panjang bermotif batik agak gombrong, bukan lagi rok anak SMA. “Cantik.” Tangan Bu Nyai membingkai wajah Zahra. Terdapat gradasi bergaris di sekitar wajah gadis itu di sekitar batas jilbabnya. “Tapi...," Bu Nyai bergumam di dalam hati. Tak berani melanjutkan asumsi pribadi. Saat Zahra hendak menyalami Pak Kiyai. Lelaki penuh wibawa tersebut langsung menangkup tangan di d**a. Tak ingin tangan gadis itu terulur jauh. Lalu membuatnya salah tingkah, merasa ditolak. Zahra bersikap manis dan sopan di depan Pak Kiyai dan Bu Nyai. Tapi tidak kepada lelaki muda yang ikut bersama mereka. Jangankan uluran tangan. Senyum pun tidak Zahra berikan. Ia kembali mundur ke sisi orang tuanya. Ingin meminta izin untuk berlalu dari sana. Zahra bukan sosok yang gila urusan pada orang lain. Ia tidak pernah kepo atas tamu-tamu yang datang ke rumahnya. "Bu, penampilan anakmu diperbaiki," tegur Ramlan, bapaknya Zahra. Lelaki berumur hampir kepala lima itu sedikit terganggu dengan tampilan aneh Zahra. Merasa tidak enak hati di depan tamu-tamunya. "Ya Allah, Zahra. Kenapa suka sekali seperti ini? Berapa kali ibu bilang, jilbab jangan dibeginikan. Pakai saja jilbab yang instan supaya tidak ribet merapikan. Rok sekolahnya juga ke mana? Kenapa jadi celana seperti ini? Duh kamu ini, Nak. Malu loh Ibu sama Bapak di depan Kiayi dan Bu Nyai." Halimah menarik tangan putrinya masuk ke dalam kamar. Diikuti senyum tertahan dari para tamunya.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

TERNODA

read
199.5K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
15.7K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.7K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.4K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
190.1K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
72.8K
bc

My Secret Little Wife

read
132.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook