“Buka pintunya!” Langit menggedor keras pintu rumah yang dia datangi bersama sang papa. Rumah pribadi Morgan itu sepi seperti tidak ada tanda kehidupan. Dilihat dari luar rumah itu terlihat usang karena tidak dirawat namun di dalamnya cukup mewah. Morgan sengaja membiarkan rumahnya terlihat tak berpenghuni agar tidak menarik perhatian orang lain. Dia juga jarang menggunakan mobil dan hanya menaiki motor setiap kali pulang ke rumah. Walau motor itu bukan motor biasa. “Kayaknya nggak ada orang,” ujar Lingga melirik sekitar. Berkali-kali sang putra berteriak agar siapa pun yang ada di dalam segera membuka pintu. “Kita dobrak aja gimana, Pa?” Seperti ini karakter Langit. Saat sesuatu yang tengah dikejarnya tidak didapat. Dia akan terus memaksa. “Kalau kepergok warga gimana?” “Aku nggak yak

