Bangun dari tidur panjang selama tiga hari membuat Sari harus melepaskan mimpi indahnya. Dia harus kembali dihadapkan kenyataan yang berlawanan dengan mimpinya kala tidak sadarkan diri. Dan ia juga harus menerima kalau laki-laki yang ia cintai jijik pada dirinya. Hati yang terkoyak tidak mungkin bisa diperbaiki. Kesakitan karena kenyataan kejam harus ia terima. Sudah tidak ada gunanya lagi ia menangis atau menyiksa diri. "Bayiku..." Sari mengelus perutnya. Tidak ada lagi perut buncit yang biasa Sari lihat kala bangun tidur. Yang tersisa hanya perut rata karena bayinya sudah lahir. "Di mana anakku Bibi?" tanya Sari. Walau saat ia tidak sadarkan diri, Sari mendengar semua yang Liza katakan, tetap saja ia ingin mendengar langsung dari keluarganya. Benarkan Alexi setega itu padanya. Pert

