“Masuk,” sahut Dafa seraya menyesuaikan wajahnya agar tetap tenang tanpa terlihat seperti menahan tawa saat Elvina masuk kembali dengan membawa satu gelas kopi untuk William. “Kopi yang Anda minta, Pak,” ucap Elvina lemah lembut, sadar ia sedang berada di ruangan Dafa. “Tumben manis banget. Kenapa gak daritadi?” desis William yang berhasil mendapat tatapan sadis dari Elvina. “Saya permisi, Pak,” ucap Elvina kepada Dafa tanpa berniat berdebat kembali dengan suaminya yang sialnya juga bos besarnya. “Pake sianida?” William sepertinya gemar untuk memancing emosi Elvina. “Kebetulan belum sempat beli, jadi Anda masih bisa hidup,” jawab Elvina enteng sambil tersenyum manis serta dengan nada lemah lembut. Ia sudah terlanjur bersikap seperti itu kepada William dihadapan Dafa, tidak peduli a

