Tiga minggu yang lalu, Aditya kembali menawarkan Elvina pekerjaan dan tentu Elvina langsung tertarik karena memang itulah tujuannya kembali ke Jakarta. Walaupun sudah lulus, ia tak mungkin kembali ke rumah orangtuanya.
Setelah bicara panjang lebar bersama Aditya mengenai pekerjaan, Elvina sempat dilema karena Aditya bekerja di perusahaan Abizard Group yang dipimpin suaminya sendiri yaitu William. Aditya yang tidak tahu jika Elvina adalah istri William, terus menyemangati dan memberikan motivasi.
Awalnya Elvina enggan, tetapi ia putuskan untuk bekerja di kantor William. Berhubung identitasnya belum memakai embel-embel 'Abizard', membuatnya berani mengambil keputusan itu. Bagaimana ia bisa mendapatkan marga 'Abizard' jika William saja tak peduli dan tak berniat mengganti identitas wanita yang sudah menjadi istrinya?
Elvina diterima bekerja sebagai sekretaris direktur utama. Ia hanya tidak tahu, jika bosnya itu adalah sahabat William yaitu Dafa Pratama. Elvina sudah siap jika suatu saat nanti ia akan bertemu dengan suaminya itu, tapi tetap saja ia berharap tak akan pernah bertemu dengan William.
Esok paginya, Elvina sudah berkutat dengan aktivitas barunya. Memakai kemeja berwarna putih yang dipadukan dengan rok selutut berwarna abu tua yang membentuk pinggulnya dengan ketat. Tak lupa dengan kebiasaan rambutnya yang panjang, ia biarkan terurai dengan meng-curly bagian bawahnya. Poin penting lainnya, yaitu heels yang senada dengan warna roknya. Sentuhan make up yang tipis dan lipstik berwarna nude menghiasi wajahnya yang cantik.
Setelah semua persiapannya selesai, Elvina memesan taksi online untuk pergi ke kantor Abizard Group. Tibanya di depan gedung besar, Elvina sedikit gugup tapi ia memberanikan diri untuk terus melangkahkan kakinya dan ia sangat lega saat melihat Aditya menunggunya di lobby.
“Selamat datang di—” sapa Aditya saat Elvina sudah tepat di hadapannya yang hanya berjarak beberapa meter.
“Bacot lo, Kak! Anter ketemu bos gue dulu,” sela Elvina lalu merengek dan Aditya menatap sebal.
“Ya udah ayok. Gak usah pegangan,” ajak Aditya seraya merangkul bahu Elvina dan mulai melangkahkan kakinya menuju lift.
“Gak usah pegangan tapi main rangkul. Sarap lo, Kak,” protes Elvina risih, Aditya malah cengengesan.
Aditya membawa Elvina memasuki lift, menekan tombol 47, yang artinya Aditya akan membawa Elvina ke lantai 47. Lantai yang hanya dihuni oleh ruangan direksi, direktur utama, ruang meeting utama, ruang khusus deretan sekretaris William dan Dafa, ruang bersantai khusus dan ruangan khusus para pengawal William dan Dafa. Sedangkan di lantai 46 adalah ruangan 6 direktur, wakil direktur, manager dan yang lainnya.
“Kenalin, temen baru lo, Elvina.” Aditya memperkenalkan Elvina kepada sekretaris Dafa yang lainnya, Sandra.
Elvina terdiam bingung karena Aditya berbicara non formal, tetapi Aditya segera meminta Elvina untuk mengulurkan tangannya.
“Elvina.” Elvina mengulurkan tangan untuk berkenalan dengan wanita yang berusia 26 tahun itu.
“Sandra,” balas Sandra sambil tersenyum ramah.
“Silakan masuk. Pak Dafa sudah menunggu,” sambung Sandra mengadahkan tangannya ke arah pintu ruangan Dafa.
Aditya menyikut tangan Elvina dan mengarahkan dagunya ke arah pintu William yang berada di ujung, di samping ruangan Dafa. “Ruangan musuh lo tuh,” bisiknya lalu mengajak Elvina untuk masuk, “ayo masuk.”
Aditya segera masuk ke dalam ruangan Dafa setelah pemilik ruangan tersebut memberi izin untuk masuk. Saat itu, Dafa sedang sibuk dengan laptopnya. Pandangannya teralih kepada sosok dua manusia yang memasuki ruangannya.
“Sekretaris baru lo, Bang. Awas lo macem-macem,” ancam Aditya saat sudah di depan meja Dafa.
Elvina melotot tak percaya dengan ucapan Aditya. Dirinya memang tidak tahu, jika Dafa dan Aditya adalah adik dan kakak, ia juga tak tahu jika Dafa yang pernah menyelamatkan dirinya saat kejadian di club malam bersama empat teman-teman Aditya.
“Biasa aja, Vin. Gak usah bengong gitu. Gue mah di sini bebas. Semua orang takut sama gue, termasuk bos lo ini.” Aditya mengeluarkan sarkasnya dengan percaya diri.
Dafa menatap kesal pada adiknya, sedangkan Elvina ingin menempelkan lakban di bibir Aditya yang nyablak.
“Silakan duduk,” pinta Dafa sopan.
Dengan langkah anggun, Elvina mendekati Dafa lalu duduk tepat di hadapannya sedangkan Aditya duduk di sofa santai yang ada di ruangan tersebut.
“Jangan galak-galak, kasihan dia jauh dari keluarganya.” Aditya kembali memperingati, sedangkan Dafa belum mengatakan apapun.
Elvina menipiskan bibirnya, menatap pedas ke arah Aditya. Kembali ia ingin melakukan sesuatu kepada temannya itu. Bagaimana bisa ia mengatakan itu kepada pria yang merupakan calon bosnya?
Dafa tahu Elvina kesal pada Aditya, begitupun dirinya. Dafa berkata, “Jangan kaget. Dia memang perempuan sebelumya. Jadi, jangan heran—”
“Buset dah, lo malah ngajak perang,” serobot Aditya berteriak tak santai ke arah Dafa.
Elvina semakin tidak mengerti. Mengapa Aditya begitu tidak sopannya kepada seseorang yang menjabat sebagai orang kedua di perusahaan tersebut?
“Potong gaji? Dengan senang hati,” ancam Dafa dan Aditya segera berdiri, mendekati kakaknya yang sepertinya sudah kehilangan kesabarannya.
“Janganlah, aduh. Cewek gua banyak, Bang. Lo tanya dia kalo gak percaya. Gue mah cakep, makanya direbutin cewek.” rajuk Aditya, kemudian kembali mengeluarkan sarkasnya.
“Kak? Demi apa?” bisik Elvina mengerang menahan makian yang sudah di ujung bibirnya. Jika saja bukan di hadapan bosnya, ia ingin sekali membenturkan kepala Aditya.
“Iya udah, gue cabut.”Aditya mengalah dengan nada lemah.
“Eh, awas lo macem-macem! Gue laporin kakak ipar, biar lo disunat pake gergaji. Baru tau rasa lo!” Aditya mengutuk sambil meninggalkan ruangan.
Kakak ipar? Artinya orang ini kakaknya Aditya? Batin Elvina sebal karena Aditya tak memberi tahunya sejak awal.
Dafa menggelengkan kepalanya melihat punggung Aditya yang menjauh pergi. Dafa mengambil beberapa berkas di mejanya, menyerahkannya kepada Elvina untuk diperiksa dan berbincang perihal pekerjaannya. Setelah berbincang secukupnya, Elvina pamit pergi ke ruangannya yang juga ruangan Sandra.
Diketahui, Dafa memang memiliki dua sekretaris dan William memiliki 3 sekretaris. Sedangkan Tania yang juga bekerja di sana, menjadi sekretaris seorang direktur personalia tetapi Elvina belum bertemu dengan teman satu kampusnya itu.
Sandra yang merupakan teman satu ruangan dan sesama sekretaris Dafa, sangat mudah akrab. Sama seperti Elvina yang banyak bicara, juga nyablak jika sedang berada di ruangannya. Ternyata Sandra adalah istri dari saudara Dafa dan Aditya, yaitu Bram.
Masih ingat dengan makhluk bernama Bram itu? Ya, Sandra ini istrinya. Bram pernah akan melakukan sesuatu yang tak pantas kepada Elvina, bahkan Aditya dan Dafa juga mengetahui hal itu. Namun, Elvina tak tertarik untuk mengatakannya kepada Sandra. Yang lalu, biarlah berlalu. Toh Bram sudah meminta maaf, ia juga baik-baik saja, tidak sampai dijamah oleh keempat teman Aditya.