Elvina banyak belajar hal-hal penting yang tak ia ketahui dari Sandra. Betapa leganya saat ia tahu, bahwa Sandra yang akan menemani Dafa jika ada meeting di luar kantor dan bukan dirinya.
Hari pertama bekerja, Elvina merasa kesulitan. Tentu saja, ini pertama kali Elvina bekerja di perkantoran sebagai sekretaris. Yang menjadi bosnya adalah orang terpenting setelah suaminya, William. Tentu pekerjaannya pun tidak main-main.
Namun, Elvina tidak tahu bahwa sebenarnya yang bekerja sangat banyak itu adalah Sandra. Ya, Dafa mengatakan bahwa Elvina belum memiliki pengalaman yang cukup, hingga ia meminta Sandra untuk menangani sebagian pekerjaan yang biasa ditangani sekretarisnya yang sudah berhenti bekerja.
“Lo udah beres?” Sandra berjalan menghampiri Elvina.
Elvina menggeleng pelan tanpa mengatakan apapun dari mulutnya, pandangannya tetap fokus pada layar komputer di hadapannya. Jari jemarinya yang lentik juga cantik, menari-nari di atas keyboard.
“Gue tunggu,” ujar Sandra, lalu duduk di kursi menunggu Elvina untuk menyelesaikan pekerjaannya.
“Eh, lo duluan aja sih. Gue mau ketemu temen gue,” pinta Elvina tanpa menatap Sandra.
“Siapa? Si Adit?” tebak Sandra. Yang ia ketahui hanya Aditya yang menjadi teman Elvina. Mana mungkin Elvina akan menemui temannya yang di luar kantor, bukan?
“Sama Tania. Katanya dia jadi sekretaris direktur personalia tapi gue belum ketemu sih,” jawab Elvina seadanya.
“Lo kenal ama tu anak?” Sandra membelalakkan matanya tak percaya sambil menatap Elvina yang tak menatapnya.
Elvina menjawab dengan tenang, “Teman satu kampus, sama kayak Kak Adit.”
“Serius? Gue kenal deket juga sama si Tania,” ujar Sandra membuat Elvina menghentikan aktivitas jarinya, lalu menatapnya tak percaya.
“Demi apa? Serius, Dra?” Tak kalah, Elvina juga kaget mendengar penuturan Sandra dan teman barunya itu manggut-manggut mengiyakan.
“Kok bisa kebetulan sih? Gue udah selesai, kita temui cewek jadi-jadian itu,” ucap Elvina segera bangkit berdiri dan mematikan komputernya.
Sandra pamit kepada Dafa terlebih dahulu untuk makan siang bersama Elvina. Di sini lah Elvina berkenalan dengan dua sekretaris William yang juga sama-sama keluar dari ruangannya untuk makan siang. Walaupun sempat kaget karena takut bertemu William, tetapi ia mendengar kabar bahwa suaminya itu sedang berada di luar Kota bersama satu sekretarisnya.
Sandra kemudian membawa Elvina menuju ruangan Tania yang berada di lantai bawah. Elvina dan Tania langsung berpelukan layaknya anak kecil yang sudah lama tak bertemu. Ia juga berkenalan dengan banyak sekretaris lainnya yang dimiliki deretan direktur di sana dan beberapa orang penting lainnya.
“Ehem.” Seseorang berdeham di belakang tubuh Elvina, Tania, dan Sandra.
Sontak mereka berhenti melangkah dan menoleh ke asal suara. “Pak Adit,” sapa Sandra dan Tania bersamaan.
Tania merubah panggilannya dari 'Kak' menjadi 'Bapak' karena Aditya adalah seorang manager pemasaran , begitupun Sandra yang biasanya bicara non formal kepada Aditya tetapi ia akan bicara formal jika di luar ruangan.
“Mau makan?” tanya Aditya mengarahkan pandangannya kepada Elvina dan Elvina mengangguk singkat.
“Oke, ayo.” Tanpa sungkan, Aditya merangkul bahu Elvina untuk berjalan keluar. Sudah kebiasan Aditya yang petakilan seperti ini.
“Ck! Vina mau ikut makan sama mereka,” jawab Elvina acuh, melepaskan rangkulan Aditya.
Aditya menipiskan bibirnya dengan sebal. “Iya, tau. Ya udah sana, keburu pingsan 'kan bingung ngangkatnya,” celetuknya tanpa merasa bersalah lalu pergi. Ketiga wanita itu hanya menggeleng geli.
Mereka melanjutkan langkahnya menuju parkiran dan mengunjungi rumah makan yang tak jauh dari kantor. Sandra sudah tahu jika Elvina, Tania dan Aditya adalah teman kampus. Sandra juga menceritakan bahwa Aditya adalah seorang playboy yang sering berkencan dengan wanita mana saja. Elvina tidak kaget mendengarnya, karena memang Aditya juga seorang playboy di kampus.
Setelah jam istirahat hampir habis, mereka bergegas kembali ke kantor untuk kembali bekerja. Elvina melanjutkan pekerjaannya menyortir dokumen, sedangkan Sandra sibuk berbicara di telepon dengan klien dan mitra bisnis. Sempat membuat Elvina mual dan pusing ketika harus berhadapan dengan setumpukan berkas, tetapi wanita acuh itu mencoba untuk membiasakan diri akan hal itu.
Jam pulang
Sandra dan Tania mengajak Elvina untuk berjalan-jalan, tapi Elvina menolaknya. Ia malah menawari mereka untuk berkunjung saja ke apartemennya dan kedua temannya itu mengangguk setuju. Akhirnya, Elvina menumpangi mobil Sandra menuju apartemennya, sementara Tania mengendarai mobilnya sendiri.
Tak jauh dari kantor, mereka sudah sampai di parkiran apartemen. Tania yang mengetahui bahwa Elvina tinggal di sebuah kostan, dibuat terkejut. Pasalnya, apartemen yang Elvina huni adalah apartemen mewah walaupun Elvina menempati apartemen yang berukuran kecil.
“Vin, lo sejak kapan punya apartemen sebagus ini? Bukannya lo ngekost?” tanya Tania yang sedang melihat-lihat isi apartemen Elvina.
“Baru kok, baru satu bulanan,” jawab Elvina sambil berjalan ke ruang TV.
Elvina membawa nampan berisi minuman untuk kedua temannya, tak lupa juga snack-snack yang ia bawa dari dapur. Kemudian, duduk di hadapan Sandra diikuti Tania yang berjalan di belakang Elvina.
“Wah ... berarti kali-kali gue bisa nginep di sini dong?” sahut Sandra sambil meraih gelas yang baru saja mendarat di atas meja.
Bram, suami Sandra yang merupakan saudara Dafa dan Aditya, bekerja di kantor cabang Abizard Group yang bertempat di luar Kota sehingga Sandra dapat bebas jika ingin menginap di apartemen Elvina. Pun, Sandra belum memiliki anak karena usia pernikahannya juga baru beberapa bulan.
“Boleh dong.” Elvina mengangguk antusias, lalu menatap Tania dan berkata, “tapi lo, Tan, jangan pernah bawa cowok lo ke sini apalagi nginep.” Elvina mengeluarkan aturannya penuh penekanan. Kedua temannya manggut-manggut tanda mengerti.
“Oh ya, lo udah punya pacar?” tanya Sandra seraya membuka bungkusan makanan ringan.
Di sini lah Elvina bingung untuk menjawab, harus manggut atau menggeleng? Suami ia punya, kekasih hati juga ia punya. Namun, sebaiknya Elvina tidak menjawab apapun.
“Gimana hubungan lo sama duda ganteng itu?” timpal Tania ikut memberi pertanyaan, wajahnya terlihat penasaran.
“Masih kok, tapi gue gak tau sih. Mungkin udah putus juga,” lirih Elvina mengingat saat kejadian Natalia dan teman-temannya yang menghakimi tanpa ampun.
Setelah William menjemput Elvina di rumah Rafael, hubungan Elvina dan Rafael semakin dekat walaupun hanya melalui pesan. Elvina belum siap jika harus bertemu lagi, akan tetapi ia juga tidak bisa mengabaikan chat dan panggilan dari Rafael. Ia menjawab 'mungkin sudah putus' karena memang hubungannya dengan Rafael tanpa status meskipun keduanya saling mencintai.
“Gue sama Melia waktu itu langsung lari loh ke arah lo, cuma susah buat liat lo soalnya banyak orang-orang yang kerumunin lo. Trus, tau-tau udah dibawa Kak Adit, eh Pak Adit kalo sekarang.” Tania menceritakan alasannya tidak dapat membantu saat Elvina dihakimi oleh Natalia dan teman-temannya.
“Lo sedeket itu emang sama si Adit?” tanya Sandra kepada Elvina, merasa penasaran karena Aditya pun terlihat tak segan kepada wanita itu.
“Mereka udah kayak perangko, Dra. Nempel terus ke mana-mana,” sewot Tania menyela Elvina yang hendak menjawab.
“Ye ... Kak Adit-nya aja yang petakilan, gue mana ada nyamperin dia duluan.” Elvina membela diri dengan angkuhnya.
“Eh, lo tau 'kan kalo CEO kita itu musuh bebuyutan lo?” tanya Tania. Elvina mengangguk dengan malas, wajahnya terlihat tak berdaya.
“Maksud lo?” Sandra terlihat bingung.
Kemudian, Tania menceritakan tentang William dan Elvina yang sudah seperti tikus dan kucing selama di kampus. Sementara Elvina mendadak bisu, tak sudi untuk membahasnya meski sekadar untuk membela dirinya.
Sandra tak percaya itu, ia akan percaya jika ia melihatnya sendiri. Baginya, tidak mungkin ada wanita yang tidak tergila-gila kepada sosok William yang sangat sempurna di mata wanita manapun. Jangankan wanita, tapi banyak pria juga yang mengagumi kecerdasan dan ketegasan seorang William.
“Gue sayang aja sama nasib lo kalo lo putus sama duda keren itu. Lo 'kan gak normal anjir. Putus dari duda ganteng, ntar lo susah lagi klepek-klepek sama cowok,” ejek Tania prihatin.
Tania tahu sendiri, Elvina tak pernah berpacaran selain dengan Rafael. Walaupun sebenarnya, Elvina dan Rafael juga tidak berpacaran. Lebih tepatnya, hubungan mereka tanpa status.
Pletak!
Elvina menjitak kepala Tania sambil berkata, “Enak aja bilang gue gak normal!”
Sandra dan Tania tertawa renyah mendengar ocehan Elvina. “Malam minggu kita nginep di sini lah, kita nonton drakor ampe subuh,” ajak Sandra dengan matanya yang berbinar.
“Nah, bener tuh. Biar seru kita gak ada yang ngomelin, Dra.” Tania merespon dengan antusias setuju. Mereka berdua memang maniak drama korea, sama seperti Elvina.
“Pacar lo gimana? Malam minggu 'kan lo gak pernah ada waktu,” cibir Elvina mengingat Tania sudah seperti Aditya, sering berganti pasangan hingga setiap minggunya Tania akan bertemu dengan beda pria.
“Gue lagi pengen nonton Drakor pokoknya! Bodo amat ama cowok gue,” jawab Tania tak peduli.
“Trus, laki lo gimana? Masih di luar Kota?” tanya Tania kepada Sandra dan yang ditanya manggut-manggut.
“Tuh, Sandra aja udah nikah. Si Mel juga bentar lagi nikah. Nah, lo kapan?” ejek Elvina pada Tania.
“Lo sendiri perawan tua!” bentak Tania tak terima.
“Lah, elo juga belum kawin.” Elvina tak ingin kalah. Ingin ia mengatakan, “Gue udah nikah sebenarnya.” Namun, itu hanya bisa Elvina katakan dalam hati.
“Dia udah ngajak sih, tapi gue belum siap. Gue mau nyobain kerja dulu lah. Lagian, gue gak yakin sama dia.” Curhat Tania.
Obrolan pun terus berlanjut, entah mengapa rasanya tidak ada jeda dan selalu saja ada bahan untuk diceritakan.