Pak Hulk

1031 Kata
Hari-hari berlalu Sebagai seorang sekretaris baru, Elvina hampir tidak pernah mendapatkan masalah di kantor ia bekerja. Ia sangat teliti mengerjakan pekerjaannya, tak ingin melakukan kesalahan apapun. Pun, Dafa yang merupakan bosnya selalu memastikan kenyamanan Elvina bekerja tanpa terbebani masalah. Hal itu Dafa lakukan karena berbagai hal. Selain Elvina adalah istri seorang pemimpin perusahaan itu sendiri, ia juga adalah menantu kesayangan Abizard. Jika Mehmed mengetahui Elvina bekerja di kantor Abizard Group dan Dafa mempersulitnya, maka sudah dipastikan Dafa akan dalam masalah besar. Di sisi lain, ia ingin William sendiri yang bertindak atas perkerjaan Elvina. Dafa yakin, Elvina tak meminta izin terlebih dahulu kepada William perihal dirinya yang ingin bekerja. “Lo tau ada artis baru di sini?” tanya Dafa ketika baru saja memasuki ruangan William. “Artis apaan?” William balik bertanya tanpa berniat menatap ke arah Dafa dan tetap fokus pada berkas yang sedang ia periksa. “Gue punya sekretaris baru. Dia cewek dan .... ” Dafa menggantung ucapannya, menatap wajah William dalam-dalam. Dafa tak ingin melewatkan kesempatan untuk melihat ekpresi sahabatnya itu ketika mengetahui jika istrinya bekerja sebagai sekretarisnya. Dafa memang tidak memberitahu William saat Elvina melamar pekerjaan. Saat itu, Dafa tak banyak berpikir untuk menerima Elvina. Selain ia membutuhkan sekretaris baru pengganti sekretarisnya yang ia berhentikan, kebetulan Elvina memang lulusan di bidang itu dan Dafa tidak perlu meminta izin kepada William jika ingin melakukan sesuatu. “Kalo lo mau bilang ceweknya cantik lah, manis lah, bohay lah, teteknya gede lah, mending lo keluar. Gue lagi sibuk.” Perintahnya penuh penekanan dan lagi ia tak berniat menatap Dafa walau sedetik. “Masalahnya Boy, cantiknya itu bikin satu gedung ini heboh. Mendadak jadi artis tuh sekretaris baru gue,” ungkap Dafa dan lagi-lagi William acuh, ia bahkan tidak menjawab apapun untuk kali ini. “Lo serius, gak mau tau ceweknya kayak gimana?” tanya Dafa memastikan. William menggeleng pelan dan tetap fokus membubuhkan tanda tangan di atas kertas yang ia periksa. Mendapat respon yang tidak memuaskan, akhirnya Dafa memutuskan untuk keluar dari ruangan William. Dafa berharap bosnya itu dapat melihat Elvina secara langsung suatu hari nanti. William memang dingin terhadap wanita. Ia berpikir, satu wanita saja tidak dapat ia kendalikan seperti istri keduanya, Ranty. Bagaimana ia bisa mengendalikan wanita-wanita di luar sana yang tergila-gila padanya? Yang sudah jelas William tidak mengenalnya. William, “Hm ... kenapa?” Ranty, “Aku udah di Bandara, mau ke Hongkong, Will. Kayaknya 2 mingguan. Gak apa-apa, 'kan?” William, “Terserah.” Ranty, “Jangan marah gitu dong.” Tut ... William menutup teleponnya secara sepihak. Rasanya ia bosan dengan alasan Ranty yang itu-itu saja. Ranty sudah tidak berkerja sebagai model setelah menikah atas permintaan William. William ingin Ranty ada di apartemen dan menyapanya saat ia pulang. Namun ternyata, permintaannya itu salah, hasilnya sama saja. Ranty yang hidup glamor dengan segala kemewahan, jarang sekali ada di apartemen. Ia akan menghabiskan waktunya berkeliling dunia bersama ibunya dan membeli barang-barang mewah. Ranty bahkan jarang mengabari William. Ia akan menghubungi William jika uangnya sudah habis dan meminta lagi dan lagi. Bagaimana bisa wanita itu menghabiskan waktunya di dalam pesawat? Hari ini di Hongkong, esok lusa bisa di Jerman. “s**t baru juga pulang, udah mau terbang lagi.” William bicara sendiri, merasa frustasi. Elvina, Sandra dan Tania sedang berjalan memasuki gedung perkantoran setelah selesai makan siang. Mereka sesekali menghentikan langkah kakinya karena ada saja yang mengajak Elvina berkenalan yang pastinya dari divisi lain walau ia sudah bekerja selama beberapa hari. “Eh, liat tuh si Mister Triplek,” ucap Sandra antusias menunjuk ke arah William dan beberapa orang di belakangnya. “Eh iya anjir ... gagahnya dosen sekaligus CEO kita, Vin.” Tania terkagum-kagum tanpa berkedip. Elvina segera menggeser tubuhnya ke belakang Sandra dan Tania yang sedang berdiri tegak, menyaksikan William yang hendak melewatinya. Dafa yang melihat Elvina segera menyikut tangan William, berharap temannya itu melirik ke arah tiga wanita yang sedang berdiri tak jauh darinya. Namun seperti biasanya, William tak akan merespon sedikitpun bahkan tak pernah membalas sapaan saat masih menjadi dosen pun seperti itu. Alhasil, William tidak melihat Elvina berada di kantornya. Dafa mendengus sebal dengan sikap William yang sedingin es. Sedangkan Elvina mendesah lega, hingga detik ini ia masih aman. “Cakep, 'kan CEO kita?” tanya Sandra dengan senyum penuh arti. Elvina memutar kedua bola matanya dengan malas. “Kemarin-kemarin gue bilang apa? Dia tuh gak normal, Dra. CEO kita itu musuh bebuyutannya si Vina,” sewot Tania dengan nada ketus. “Kok bisa? Gue masih bingung.” Sandra tak mengerti, tak percaya lebih tepatnya. “Tanya aja sendiri. Kalo mereka ketemu, pasti berantem. Yang gue heran, ada aja yang diributin,” jawab Tania sedangkan Elvina hanya diam, bibirnya mengatup sebal. “Lo katarak apa gimana? Masa makhluk sesempurna itu lo musuhin? Gue yang udah punya laki aja masih terpesona sama Pak William,” cibir Sandra merasa aneh. “Lo kalo ketemu sama Pak Hulk lo di sini, gimana dah? Masih mau berantem?” tanya Tania kepada Elvina yang sejak tadi hanya diam membeo. “Kayaknya nggak sih. Gue takut juga kalo dipecat. Please lah, gue baru 5 hari kerja masa. Do'a in ya, biar ga ketemu spesies itu lagi?” Elvina memohon dengan tulus tapi malah mendapat jitakan sebagai jawaban. “Sembarangan lo! Cowok haluan gue masa lo bilang spesies!” sewot Tania dan Sandra sekarang hanya menggelengkan kepalanya. “Lo kenapa sih? Jangan bilang lo gak tertarik sama CEO macho kita,” desak Sandra. “Emang kagak,” jawab Elvina singkat nan acuh. Sekarang, Sandra percaya jika Elvina memang tidak suka kepada William yang menjadi sosok paling sempurna di muka bumi bagi para kaum hawa. Hari ini, Elvina ditugaskan untuk mengerjakan pekerjaan di kantor seperti biasanya. Ia akan mengatur agenda Dafa, menjawab telepon dan lainnya sedangkan Sandra menemani Dafa untuk pertemuan di sebuah Hotel. William dan sekretarisnya tentu ikut serta. William memang jarang sekali keluar dari ruangannya, sehingga ia tak tahu siapa saja yang berada di koridor menuju ruangannya yang terdapat Sandra dan Elvina. Ia bahkan tak pernah memasuki ruangan Dafa selama menjabat. Jika Sandra akan membungkuk hormat saat William dan para pengawalnya lewat, tidak dengan Elvina yang malah menunduk, khawatir jika salah satu pengawal William mengetahui Elvina berada di sana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN